Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Heartbeat


__ADS_3

Hai readers kecehku... season 2 udh berakhir kemarin ya, sekarang kita masuk ke season 3, ke kisahnya mas El. Buat pecinta mas El siap2 ya..


********************************************


Kediaman Irzal tampak ramai. Keluarga ini tengah menggelas syukuran atas kelulusan Elang dan Farel. Poppy tampak sibuk menyiapkan makanan kesukaan kedua anak lelakinya dibantu oleh Sarah dan Debby. Elang dan Farel yang baru saja tiba tadi malam masih bersiap di kamarnya.


Kepulangan Elang dua bulan lebih cepat dari yang diperkirakan. Mereka memutuskan pulang setelah menemukan orang yang tepat untuk mengurus restoran Dimas di London. Selain itu, Irzal memang meminta pulang lebih cepat karena Humanity tengah kebanjiran proyek. Kehadiran Elang dan Farel diharapkan dapat membantunya di perusahaan.


Regan, Nino dan Irzal baru saja turun dari lantai tiga. Irzal menambah bangunan rumahnya satu lantai. Di lantai tiga terdapat dua buah kamar tidur, satu ruang kerja, dapur mini serta sebuah ruangan yang difungsikan sebagai ruangan bersantai yang telah dilengkapi dengan sofa berikut televisi LED. Rencananya lantai tiga nanti akan ditempati Elang jika sudah menikah. Poppy memang menginginkan anaknya itu tetap tinggal bersamanya setelah menikah.


“Tempat tinggal buat Elang udah siap, apa calonnya sudah ada?” celetuk Regan.


“Belum mas,” Irzal tergelak mendengar jawabannya sendiri. Dia juga tidak terlalu yakin Elang akan menikah dalam waktu dekat mengingat anaknya itu masih belum sepenuhnya move on dari Rain.


Ketiga lelaki paruh baya itu menuju ruang makan, memilih menunggu sang pemilik acara keluar dari kamarnya. Sahabat Elang dan Farel sudah mulai berdatangan, tak terkecuali Rain dan Akhtar serta jangan lupakan baby Naz.


Akhirnya bintang utama yang ditunggu-tunggu muncul juga, Elang dan Farel menuruni tangga lalu bergabung dengan para sahabatnya di ruang tengah. Pembawaan Elang nampak lebih dewasa dan wajahnya pun terlihat makin tampan. Dia segera menghampiri wanita yang namanya masih bersemayam di hatinya.


Sejenak Elang tertegun melihat penampilan Rain. Rambut hitamnya kini sudah terbalut hijab. Pakaian yang dikenakan juga sudah tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Nanaz yang ada dalam gendongan sang mama menjulurkan tangannya ke arah Elang. Kini usia Nanaz menginjak 10 bulan dan sedang belajar berjalan.


“Nanaz, sini sayang,” Elang mengambil alih Nanaz dari Rain lalu mengajaknya duduk di sofa.


Suasana di ruang tengah semakin riuh setelah kehadiran Elang dan Farel. Mereka bercengkerama dan saling bertukar cerita. Tak jarang terdengar gelak tawa mengiringi perbincangan mereka.


“Bang, gimana mini marketnya?”


“Alhamdulillah ramai terus El. Rencananya aku mau buka cabang di tempat lain.”


“Roti bakarnya di mini marketnya kak Akhtar juara loh mas,” sambung Yunda.


“Masa?”


“Iya, favoritnya bunda itu.”


“Ly... lo lagi isi lagi?” kini Elang beralih pada Firly yang tengah mengandung 5 bulan.


“Disuntik mulu ama om Dimas, ya pasti lah tekdung lagi hahaha,” sela Gara. Firly sontak mendaratkan toyorannya ke kepala Gara.


“Anak lo yang sekarang laki apa perempuan?”


“Tau, belum kelihatan.”

__ADS_1


“Gue nyumbang nama buat anak lo, Ly. Yang pertama kan Gemma, nah yang kedua gue kasih nama Gaung.”


Mata ibu hamil itu langsung melotot mendengar usulan aneh Gara yang disambut gelak tawa dari lainnya. Nanaz yang belum mengerti dengan percakapan orang dewasa hanya memperhatikan, sambil tangannya tak henti menyuapkan kue ke mulutnya. Dia masih anteng di pangkuan Elang.


“Si Nanaz anteng banget ama elo,” tukas Rain.


“Anak lo tahu siapa orang yang paling sering direpotin ama emaknya. Makanya dia anteng ama gue.”


“Dih... pulang dari London mulut nyebelin lo masih belum hilang aja El.”


Elang tergelak, namun sudut hatinya berdenyut ketika melihat Rain mengerucutkan bibirnya. Rasa cintanya pada wanita itu belum sepenuhnya hilang. Dengan cepat dialihkan pandangannya ke arah lain, mencoba menetralisir hatinya yang tak menentu.


Poppy datang lalu mengajak semuanya untuk mencicipi hidangan. Gara yang memang sudah keroncongan paling pertama menuju meja makan. Berbagai hidangan sudah tersedia di atas meja, dan semuanya adalah makanan kesukaan Elang dan Farel. Elang tersenyum senang melihat makanan kesukaannya. Dia memang sudah sangat merindukan masakan sang bunda.


Sehabis makan, Elang naik ke lantai tiga. Semenjak pulang dia belum menginjakkan kakinya di sana. Gara mengikutinya dari belakang. Mata Elang menyapu keseluruhan ruangan di lantai tiga. Satu per satu ruangan di sana dibukanya. Rupanya ayah dan bundanya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik untuknya. Di sudut sebelah kanan juga terdapat sebuah lift.


“Kira-kira siapa ya yang nemenin lo tidur di sini nanti,” celetuk Gara ketika berada di kamar utama.


“Yang pasti bukan elo.”


Gara terkekeh mendengar jawaban absurd sahabatnya. Keduanya kemudian melangkah menuju balkon kamar. Deretan rumah dengan latar belakang gunung Tangkuban Parahu terlihat jelas dari lantai tiga ini.


“Salah satunya, tapi yang jelas saat itu gue masih ragu dengan perasaan gue sendiri.”


“Tapi sekarang lo nyesel kan. Denger El, kalo waktu itu lo ngelamar Rain, gue ngga akan keberatan kok. Karena gue tahu lo pasti bakal bahagiain dia.”


“Lo masih belum ikhlas lihat Rain sama bang Akhtar?”


Elang terkekeh, kakinya melangkah menuju kursi yang tersedia di balkon. Gara mengikuti langkah Elang lalu duduk di kursi sebelahnya.


“Awalnya gue ngga rela. Tapi waktu gue lihat bagaimana bang Akhtar coba ngelindungin Rain dengan nyawanya sendiri, di situ gue mulai yakin kalau dia beneran cinta dan sayang sama Rain. Sejak itu gue udah ikhlasin Rain sama dia. Lo sendiri gimana?”


“Semenjak gue denger Rain mau nikah sama bang Akhtar, sejak saat itu gue coba kubur perasaan gue, yah walaupun sulit.”


“Sekarang perasaan lo gimana?”


“Belum hilang sepenuhnya tapi sedikit demi sedikit sudah mulai berkurang. Lo sendiri?”


“Gue berusaha move on. Sekarang gue lagi coba mengalihkan hati sama seseorang. Tapi sebelum terlanjur jauh, gue mau cari tahu dulu kira-kira dia udah punya pujaan hati belum. Kalau udah mending balik badan deh, dari pada amsyong gue patah hati dua kali.”


Gara tergelak mendengar ucapannya sendiri. Elang tersenyum tipis. Seandainya saja dia bisa secepat itu move on dari Rain, mungkin hatinya tidak akan sesakit ini menyaksikan kemesraan mereka berdua. Ditambah dengan kehadiran Nanaz, semakin menyadarkannya untuk menghilangkan perasaan cinta yang masih bersemayam di hatinya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Sore harinya Poppy meminta Elang membelikan roti bakar untuknya. Demi memenuhi permintaan sang bunda, Elang membelokkan kendaraannya ke arah mini market yang terletak di depan kompleks sepulangnya dari rumah Rain. Sahabatnya itu bersikeras meminta Elang mengunjungi rumah barunya. Elang turun dari mobil kemudian masuk ke dalam mini market. Dia menuju stand roti bakar yang terletak di sudut ruangan.


Elang menunggu pesanannya selesai dengan duduk santai di salah satu kursi yang disediakan seraya memainkan ponselnya. Lima belas menit kemudian pesanannya siap. Roti bakar rasa spicy tuna dan double chees telah terbungkus rapih.


“Bayarnya di kasir mas.”


Elang mengangguk lalu berjalan menuju kasir. Sebelumnya dia mengambil beberapa camilan pesanan Ayunda. Setelah menunggu sebentar, tiba gilirannya membayar. Elang meletakkan semua barang belanjaannya di meja kasir. Kasir wanita yang tak lain Azkia mulai menghitung belanjaan Elang.


“Semuanya jadi seratus dua puluh enam ribu pak.”


Elang mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu debit dari dalamnya. Pandangan keduanya bersiborok ketika Azkia mengambil kartu milik Elang. Sejenak Azkia terpaku menatap lelaki di hadapannya. Jantungnya langsung berdetak kencang melihat malaikat penolongnya berdiri di hadapannya. Lelaki yang juga menjadi cinta pertamanya dan yang begitu dirindukannya kini muncul juga.


Di lain pihak, Elang pun tercenung melihat Azkia. Penampilan Azkia yang tertutup gamis serta hijab yang terurai hingga ke dadanya membuatnya kagum. Keteduhan yang terpancar dari wajah cantiknya yang tak terpoles make up membuat dadanya berdesir. Untuk beberapa detik keduanya saling memandang, tapi kemudian Azkia segera menundukkan pandangannya dan Elang membuang wajahnya ke arah lain.


Dengan tangan sedikit bergetar Azkia memproses transaksi pembayaran. Tak butuh waktu lama baginya menyelesaikan pembayaran melalui kartu debit. Dikembalikannya benda pipih itu pada pemiliknya. Azkia hanya melihat sekilas, tak mampu terlalu lama beradu pandang dengan lelaki tampan itu. Elang mengambil barang belanjaannya kemudian berlalu pergi.


Seperginya Elang, Azkia meminta Gia menggantikannya sebentar. Azkia berjalan menuju ruang istirahat pegawai. Dia terduduk untuk menenangkan jantungnya yang tak henti berdegup.


Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukan hamba dengan malaikat penolong hamba. Hamba sadar kalau hamba tak sebanding untuknya, namun bisa melihatnya kembali adalah sebuah angerah tak terhingga.


Elang meletakkan barang belanjaan di jok sebelah. Untuk beberapa saat dia masih terdiam di belakang kemudinya. Pikirannya masih tertuju pada Azkia, dia seperti pernah bertemu dengan gadis itu entah di mana. Namun ketika mengingat wajah cantik dan penampilannya, dada Elang kembali berdesir.


Siapa gadis itu? Cantik dan mampu menentramkan hati orang yang melihatnya. Siapa pun lelaki yang akan menjadi pendampingnya pasti akan sangat beruntung mendapatkan istri yang mampu menjaga auratnya dengan baik.


Elang menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau sosok Azkia yang masih menari-nari di pikirannya. Kepedihannya menyaksikan kemesraan Rain dan Akhtar seolah menguap begitu saja ketika melihat wajah teduh Azkia. Dinyalakannya mesin kendaraan, tak berapa lama kereta besi itu mulai bergerak. Elang menolehkan pandangannya ke arah mini market sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut.


🍁🍁🍁


**Wah mas El ketemu lagi sama Azkia, tapi sayang mas El udah lupa sama Azkia. Tapi mas El udah mulai cenat cenut nih🤭


Jangan lupa ya tinggalin jejaknya kalau mau terus nikmati cerita mas El, jangan pelit buat like, comment and vote😉


Mas El, malaikat penolongnya Azkia**



Azkia, yang udah bikin hati mas El cenat cenut


__ADS_1


__ADS_2