
Pesta resepsi telah usai, semua yang hadir telah kembali ke tempat masing-masing, termasuk pasangan pengantin. Filrlan langsung membawa Hanin ke apartemen. Dia memang ingin langsung tinggal terpisah dengan orang tua dengan alasan ingin mandiri.
Firlan masuk ke dalam apartemen disusul Hanin di belakang. Ini bukan pertama kali Hanin datang ke unit Firlan, namun bukan berarti dia tak merasa gugup. Mengetahui akan tinggal berdua saja dengan Firlan membuat jantungnya berdegup kencang.
“Mulai sekarang kita akan tinggal di sini. Kamu boleh pilih kamar yang ingin kamu tempati.”
“Kita tidur terpisah?”
“Iya. Kita sepakat menikah demi orang tua, tapi hubungan di antara kita tidak ada yang berubah. Kita tidur terpisah, aku membebaskanmu melakukan apapun, jangan campuri kehidupanku.”
“Kita mungkin menikah demi orang tua tapi bukan berarti kita menjalani pernikahan seperti ini. Pernikahan bukan main-main bang.”
“Kamu yang menjadikan pernikahan ini mainan. Sejak awal aku sudah mengatakan belum ada keinginan menikah. Kita juga sepakat untuk menolak pernikahan, tapi kamu yang keras kepala meneruskan pernikahan ini. Jadi hadapi saja konsekuensinya.”
“Aku ngga nyangka abang sepicik ini.”
“Terserah!”
Firlan tak ingin melanjutkan perdebatan, dia bergegas masuk ke kamarnya. Hanin menatap koper yang berada di dekat sofa. Dengan langkah lunglai, dia menggeret koper lalu masuk ke kamar yang dulu pernah ditempati Irzal.
Hanin membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Sebesar apapun penyesalan yang dirasakannya sekarang, sudah tak berarti lagi. pernikahan telah terjadi, mau tak mau dia harus menjalani apa yang sudah menjadi keputusannya. Hanin teringat kembali nasehat Rain padanya.
Kakak tahu kalau Firlan ngga mencintaimu, tapi bukan berarti dia tidak bisa mencintaimu. Bertahanlah Han, buatlah dia jatuh cinta padamu. Kakak tahu ini berat, tapi kakak yakin kamu bisa. Kakak pernah mengalami apa yang kamu alami. Tapi kamu lebih beruntung, wanita yang dicintai Firlan adalah Yunda. Dia tidak akan mengganggu kebahagian pernikahanmu. Tidak seperti kakak dulu.
Hanin menghembuskan nafas panjang. Entah harus merasa beruntung atau justru buntung. Ayunda memang wanita yang baik, tapi itu justru akan membuat Firlan semakin sulit melupakannya. Tak ada alasan Firlan untuk membencinya. Memikirkan ini membuat Hanin frustrasi. Gadis itu terus saja berkelana dengan pikirannya, hingga akhirnya jatuh tertidur.
Sementara itu, setelah mengganti pakaiannya Firlan bergegas keluar dari unit apartemen. Dia sudah ada janji bertemu dengan teman-teman kuliahnya dulu. Firlan lebih memilih menghabiskan malam bersama teman-teman dibandingkan terjebak di apartemen berdua saja dengan Hanin.
🍁🍁🍁
Hanin terbangun ketika merasakan gerah di tubuhnya. Gadis itu terduduk di sisi ranjang, kemudian melihat tubuhnya. Pantas saja merasa gerah, ternyata dia belum melepas gaun pengantinnya. Hanin berdiri lalu berusaha membuka resleting gaun yang ada di belakang. Beberapa menit dia berkutat membuka resleting namun usaha sia-sia. Tangannya tidak dapat menjangkau kepala resleting.
Hanin menatap frustrasi dirinya di cermin. Setelah dipikirkan sejenak, akhirnya dia bermaksud meminta tolong Firlan. Masa bodoh jika pria itu menyangka dirinya modus. Yang dipikirkannya segera bebas dari gaun yang membuatnya tidak nyaman.
Hanin mengetuk pintu kamar Firlan, tak ada jawaban dari dalam. Dia kembali mengetuk seraya memanggil Firlan, masih tidak ada jawaban. Akhirnya Hanin memberanikan diri membuka pintu. Keadaan kamar nampak lengang, tak ada tanda keberadaan Firlan di sana. Hanya satu set tuxedo yang teronggok di atas kasur.
Hanin mencari ke kamar mandi, namun Firlan juga tak ada di sana. Hanin menghempaskan bokongnya di sisi ranjang. Tangannya bergerak mengambil tuxedo lalu merapihkannya. Dengan langkah lunglai dia keluar dari kamar. Hanin berjalan menuju dapur. Diambilnya air untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
__ADS_1
Jam dinding yang tergantung di ruang tengah menunjukkan pukul setengah satu malam. Hanin duduk di ruang tengah. Dia bermaksud menunggu Firlan pulang sambil menonton televisi. Didorong rasa lelah, Hanin menonton sambil membaringkan tubuh di sofa. Hanya lima belas menit matanya bertahan menonton film lepas yang tayang di salah satu televisi swasta. Setelahnya dia kembali tertidur.
🍁🍁🍁
Bunyi akses pintu dibuka terdengar. Firlan masuk ke dalam apartemen tak lama setelah pintu terbuka. Keadaan masih sama seperti tadi ditinggalkan. Namun saat melintasi ruang tengah, keningnya berkerut melihat Hanin yang berbaring di sofa dengan layar televisi yang menyala.
Firlan mendekat ke arah Hanin lalu mengambil remote televisi yang ada di dekat istrinya itu. Setelah mematikan televisi dan lampu, Firlan beranjak menuju kamarnya. Hanin terbangun ketika mendengar suata pintu tertutup. Layar datar di hadapannya telah padam, begitu juga dengan lampu di ruang tengah. Dia pun bangun lalu menuju kamar Firlan.
TOK
TOK
TOK
“Bang Ilan...”
Pintu kamar terbuka, muncul Firlan dengan wajah datarnya menatap malas ke arah Hanin.
“Ada apa?”
“Kamu lagi ngga godain aku kan dengan modus minta bukain resleting.”
“Kalau ngga mau bantu bilang aja, ngga usah ngomong yang aneh-aneh. Dasar halu!”
Hanin segera berlalu dari hadapan Firlan dengan perasaan dongkol. Sudah tersiksa dengan gaun yang dikenakannya, orang yang ditunggu dan diharapkan akan membantu malah membuatnya kesal.
Hanin membuka pintu kamar dengan kasar. Saat hendak masuk ke dalam kamar, Firlan menarik lengan gaunnya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Tanpa banyak bicara Firlan menurunkan tali resleting. Entah ide siapa, tali resleting dibuat panjang hingga ke pinggul. Firlan menelan ludahnya kelat melihat punggung mulus Hanin. Lekukan tubuh istrinya itu juga terlihat jelas di hadapannya.
“Makasih bang.”
Tanpa menoleh ke arah Firlan, Hanin segera masuk ke dalam kamar. Bunyi pintu berdebam mengagetkan Firlan. Lelaki itu tersadar dari lamunannya. Firlan mengusap wajahnya kasar. Bisa-bisanya dia tadi berkhayal mencium punggung Hanin. Dengan kesal dia kembali ke kamarnya.
🍁🍁🍁
Rasanya baru saja lima menit lalu Hanin memejamkan matanya ketika alarm di ponselnya berbunyi. Dengan malas diraihnya ponsel di atas nakas. Jam digital di ponsel menunjukkan pukul lima shubuh. Walau tubuhnya masih lelah dan matanya mengantuk, Hanin memaksakan diri bangun untuk menunaikan kewajibannya.
Selesai shalat shubuh Hanin keluar dari kamar. Dia berhenti di depan pintu kamar Firlan. Agak sedikit ragu untuk mengetuk, tapi dia juga takut Firlan ketiduran hingga meninggalkan ibadah shalat shubuh. Setelah mengumpulkan keberanian, Hanin mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari dalam, tangan Hanin kembali mengetuk pintu berwarna coklat tersebut.
__ADS_1
Setelah tiga kali mengetuk, akhirnya pintu kamar terbuka. Hanin terpaku melihat Firlan dalam balutan baju koko dan sarung. Walau ekspresinya masih datar seperti biasanya, namun Firlan terlihat tampan saat ini.
“Ada apa?”
“Bangunin abang buat shalat.”
“Ngga usah repot-repot, aku tahu kewajibanku.”
Ucapan Hanin menggantung di udara ketika Firlan langsung menutup pintu kamarnya. Sambil mendengus kesal, Hanin berjalan menuju dapur. Dibukanya lemari es untuk mencari bahan makanan untuk sarapan. Karena minimnya bahan, Hanin hanya membuat egg sandwich untuk sarapan.
Dengan tenang dia memakan sarapannya. Walaupun waktu masih pukul enam, Hanin memilih makan lebih awal. Setelah itu dia ingin kembali membaringkan tubuhnya. Beres sarapan Hanin mencuci peralatan yang digunakannya. Kemudian membuatkan kopi hitam dengan sedikit gula untuk Firlan.
Dua potong sandwich, secangkir kopi hitam dan segelas air putih hangat sudah tersedia di meja makan. Kemudian Hanin beranjak menuju kamarnya. Diambilnya ponsel dari atas nakas lalu mengirimkan pesan untuk Firlan. Dia lebih memilih menggunakan ponsel untuk memberitahu sarapan yang sudah disiapkan dari pada harus mengetuk pintu suaminya lagi.
To Bang Ilan :
Aku udah siapin sarapan di meja makan.
Centang abu telah berubah menjadi biru, pertanda lelaki itu telah membaca pesannya. Hanin meletakkan kembali ponsel ke atas nakas lalu membaringkan tubuh ke kasur. Dia perlu tidur, mengistirahatkan tubuhnya agar tenaganya kembali pulih. Menghadapi sikap jutek Firlan pastinya membutuhkan tenaga tambahan.
Setelah menerima pesan Hanin, Firlan keluar dari kamarnya. Sebenarnya dia ingin mengabaikannya namun apa daya cacing di perutnya sudah meronta minta diisi. Firlan menarik kursi makan lalu mendaratkan bokongnya. Seulas senyum tercetak di bibirnya, Hanin memang tahu apa yang disukainya.
Firlan menyesap sedikit kopi yang masih terasa panas, kemudian mengambil sepotong sandwich. Dua potong roti lapis masuk cepat ke dalam perutnya, ditambah air putih dan kopi. Kini perutnya sudah terasa kenyang, Firlan pun kembali masuk ke kamar.
Firlan duduk menyandar di atas ranjang. Pikirannya tertuju pada Hanin. Sebenarnya dia tak tega bersikap seperti itu pada Hanin. Namun dirinya masih kesal karena Hanin melanggar kesepakatan yang telah mereka buat. Ditambah hatinya yang masih belum sepenuhnya melupakan Ayunda, membuat Firlan harus menjaga jarak dari Hanin.
Firlan tidak membenci Hanin. Gadis itu memiliki kriteria untuk dicintai siapa pun termasuk dirinya. Namun dia kecewa, kenapa pernikahan harus terjadi dengan cara seperti ini. Harusnya mereka memberikan waktu untuknya menghapus nama Ayunda dari hatinya lebih dulu. Baru kemudian melangkah menuju awal yang baru. Firlan hanya tak ingin menjalani pernikahan dengan hati masih tertuju pada wanita lain seperti sekarang.
Maafin abang Han. Tolong beri abang waktu untuk melupakan Ayunda. Walau belum ada rasa cinta untukmu, namun abang ngga akan menutup hati untukmu. Bagaimana pun juga kamu istri abang saat ini. Just give me time...
🍁🍁🍁
**Jangan kelamaan move on nya bang. Walau kalian udah nikah ngga menutup kemungkinan Hanin lelah terus ninggalin abang🙊
Mamake nongol lagi dengan membawa bonchap. Mudah²an kalian suka ya dengan episode bonchap yang akan mamake suguhkan.
Terima buat komen kalian di last episode season 4. Komentar kalian selalu menjadi semangat mamake buat nulis😘😘😘**
__ADS_1