
Agus tak dapat menahan dirinya lagi, entah setan apa yang tengah merasukinya. Tanpa ampun dia menendangi tubuh Azkia, punggung, perut dan pinggangnya tak luput dari tendangannya. Hanin berteriak meminta Agus untuk berhenti begitu pula dengan Daniar namun tak dipedulikannya.
Tiba-tiba pintu terbuka, seorang pria berkepala plontos masuk ke dalam lalu menghajar Agus hingga jatuh terjengkang. Beberapa tetangga yang mendengar keributan segera masuk ke dalam. Mereka terkejut melihat Azkia yang tak sadarkan diri. Tak lama seorang pria kembali masuk, dia menghampiri pria botak tadi.
“Bawa nona Azkia ke rumah sakit lalu hubungi pak Irzal. Cecunguk ini biar aku yang urus.”
Pria kedua segera membopong tubuh Azkia, Daniar dan Hanin bergegas mengikuti dari belakang. Sebuah mobil sudah menunggu di depan gang. Setelah memasukkan tubuh Azkia ke dalam mobil diikuti oleh Daniar dan Hanin, pria itu segera menjalankan mobilnya.
Agus yang sudah tak berdaya dibawa paksa keluar dari rumah. Pria botak itu menelpon seseorang dan tak lama sebuah kendaraan berhenti di depan gang. Pria itu mendorong Agus masuk ke dalam mobil, tak lama dia menyusul masuk. Kereta besi itu segera melaju pergi.
🍁🍁🍁
Begitu mendapat laporan dari anak buahnya, Irzal dan Poppy datang ke rumah sakit ditemani oleh Farel. Mereka langsung menuju blankar Azkia. Daniar dan Hanin yang sedang menungguinya terkejut melihat kedatangan tiga orang yang tak dikenalnya.
“Azkia.. ya Allah.”
Poppy segera mendekati Azkia yang masih belum sadar. Wajahnya tampak pucat, pipinya bengkak dan sudut bibirnya terluka. Airmatanya mengalir melihat keadaan calon menantunya. Irzal merangkul istrinya, hatinya pun tak kalah nyeri melihat keadaan Azkia. Seperti membayangkan Ayunda yang ada di sana.
“Maaf, kalian siapa?”
“Oh ibu Daniar. Kenalkan saya Poppy dan ini suami saya Irzal, kami orang tua Elang.”
“Oh orang tua nak Elang. Saya Daniar, ibu dari Azkia.”
Kedua wanita itu saling bersalaman. Poppy memeluk Daniar, wanita itu tak dapat menahan harunya. Tak menyangka sambutan orang tua Elang akan sehangat ini padanya. Dokter yang menangani Azkia masuk, Irzal langsung menghampirinya.
“Bagaimana keadaannya dok?”
“Lukanya tidak ada yang serius, tapi dia mengalami shock. Kami sudah memberikan obat pereda nyeri. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruangan perawatan.”
“Berikan perawatan terbaik untuknya. Masukkan dia ke ruang VVIP.”
“Baik pak Irzal.”
“Sayang, kamu tunggu di sini. Aa harus mengurus sesuatu dulu.”
Poppy mengangguk saja, dia masih belum mau beranjak dari blankar Azkia. Irzal mengusap punggung Poppy seraya mendaratkan kecupan di puncak kepalanya lalu bersama Farel menuju ruang administrasi. Daniar tersenyum membayangkan rumah tangga Azkia kelak akan seperti mereka.
“Di mana Elang?”
“Hmm.. ngga tahu yah.”
“Kamu bilang atau ayah cari tahu sendiri.”
“Elang ada di rumah Rain.”
Irzal menghentikan langkahnya, matanya menatap tajam ke arah Farel. Pemuda itu meneguk ludahnya kasar. Jika sudah begini berarti sang ayah menuntut penjelasan lebih dan terperinci.
“Tadi El bilang kalau Rain minta tolong, bang Akhtar ngga ada kabarnya dari kemarin. Di tempatnya ninjau proyek juga ada bencana gempa bumi. Elang menghubungi beberapa kolega yang ada di sana untuk mencari keberadaan bang Akhtar.”
“Dia bisa menyerahkannya pada Jayden dan Virza. Terus kenapa dia masih ada di sana? Anak itu...”
Irzal benar-benar kesal dengan sikap Elang. Diam-diam Farel mencoba menghubungi adiknya itu namun diketahui oleh sang ayah.
“Jangan coba-coba hubungi anak itu! Kejadian hari ini dia tidak boleh tahu sampai waktu yang ayah tentukan, mengerti?”
“Iya yah.”
Irzal melanjutkan langkahnya menuju ruangan administrasi. Di sana dia meminta keberadaan Azkia disembunyikan dari siapa pun. Tak ada yang boleh mengakses keberadaan gadis tersebut. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk ke ruang perawatannya. Irzal juga hanya memperbolehkan Regan, Reyhan dan dokter Ambar beserta dua orang perawat kepercayaan yang boleh memasuki ruangan Azkia. Dia juga meminta cctv yang merekam keberadaan gadis itu dihapus.
__ADS_1
Sekembalinya dari kantor administrasi, anak buah Irzal yang menangani Agus datang. pria berkepala plontos itu segera melaporkan tentang Agus.
“Di mana dia sekarang?”
“Ada di markas pak.”
“Serahkan ke kantor polisi. Masukkan laporan perjudian, kdrt, pemerasan sekaligus prostitusi. Dia adalah kaki tangan Fandy. Pastikan dia mendekam lama di dalam penjara tapi sebelum itu berikan pelajaran padanya. Biar dia merasakan sakit yang sama bahkan lebih dari yang dirasakan gadis itu.”
“Baik pak.”
“Farel..”
“Iya yah.”
“Katakan pada Jayden untuk menutup mulutnya. Jangan berikan informasi apapun pada Elang. Begitu juga dengan Virza. Tutup semua akses Elang untuk mencari keberadaan Azkia. Anak itu harus diberi pelajaran.”
“Baik yah.”
Farel hanya bisa pasrah mengikuti perintah sang ayah. Dia yakin sekali jika hukuman untuk Elang tidak berhenti di sini. Ayahnya itu pasti sudah menyiapkan hal lain yang akan membuat Elang menyesal. Ingin rasanya Farel membenturkan kepala adiknya itu supaya sadar untuk tidak terus terpaku pada Rain.
🍁🍁🍁
Elang terbangun ketika merasakan bahunya diguncang. Matanya memicing menatap seseorang yang berdiri di dekatnya. Dia terlonjak dari tidurnya ketika menyadari yang membangunkannya adalah Akhtar.
“Bang... kapan datang?” Elang mengucek matanya.
“Baru aja. Lo ngapain di sini?”
“Rain tadi telpon gue nangis-nangis katanya ngga ada kabar dari elo. Dia takut lo jadi salah satu korban gempa bumi.”
“Ada masalah waktu perjalanan pulang. Hp gue juga hilang,” Akhtar mendudukkan diri di samping Elang. Gurat kelelahan nampak di wajahnya.
“Gue balik dulu ya bang.”
“Iya El, thanks.”
Elang berdiri lalu berjalan keluar. Lelah mencari kabar tentang Akhtar, tanpa sadar dia tertidur. Elang menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri sebelum masuk ke dalam mobilnya. Di tengah perjalanan dia baru ingat tentang Azkia, serta merta kakinya menginjak pedal rem. Elang mengambil ponselnya lalu menghubungi Azkia namun hanya terhubung pada kotak suara. Dia memutuskan segera pulang dan menemui gadis itu keesokan harinya untuk meminta maaf.
Wajah Poppy tampak tegang begitu mendengar suara mobil Elang memasuki garasi. Elang masuk ke dalam rumah dan mendapati Poppy masih duduk di ruang tengah bersama dengan Farel. Dia menghampiri Poppy lalu mencium punggung tangannya. Baru saja akan duduk Farel sudah berbicara lebih dulu.
“Lo ditunggu ayah di ruang kerja.”
Elang langsung menuju ruang kerja Irzal. Poppy dan Farel menyusul di belakangnya. Namun keduanya hanya menunggu di luar saja. Elang masuk dan mendapati sang ayah sedang berdiri membelakanginya sambil bertolak pinggang.
“Yah..”
Irzal membalikkan badannya begitu mendengar suara Elang. Matanya menatap tajam ke arah Elang. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan.
“Dari mana kamu?”
“Dari rumah Rain, yah.”
“Ada kepentingan apa kamu ke sana?”
“Tadi Rain telpon, minta tolong soal bang Akhtar.”
“Rain masih mempunyai orang tua, mertua dan adik yang bisa membantunya. Kenapa harus kamu? Kenapa?!!”
“Berapa kali ayah harus bilang kalau dia bukan tanggung jawabmu!! Sadarkan diri kamu El, dia itu istri orang!!!”
__ADS_1
“Tapi aku cuma membantunya saja.”
“Kamu bisa menyerahkannya pada Jayden atau Virza dan tidak perlu kamu berada di rumahnya saat suaminya tidak ada di rumah.”
“Maaf yah, tapi tadi Rain tidak mau kutinggal.”
“ELANG DIAULHAQ RAMADHAN!!!”
Elang tersentak, jika Irzal sudah memanggil dengan nama lengkapnya itu pertanda sang ayah benar-benar marah padanya. Poppy yang berada di luar pun tak kalah terkejutnya. Khawatir dengan keadaan sang anak, dia bermaksud untuk masuk tapi Farel menahannya. Farel merangkul Poppy dan mencoba menenangkannya.
“Berhenti mengkhawatirkan Rain, dia bukan tanggung jawabmu. BUKAN TANGGUNG JAWABMU!! Mengerti?”
“Iya yah. Maaf, aku ngga akan mengulanginya.”
“Ayah tidak butuh janjimu, tapi buktikan dengan tindakanmu!!”
“Baik yah.”
“Besok kamu berangkat ke Munich dengan Virza. Urus semua pekerjaan di sana. Jangan pulang sebelum kamu menyelesaikan pekerjaan di sana. Farel yang akan mengurus semua pekerjaanmu di sini.”
“Aku minta waktu sebentar yah untuk bertemu seseorang.”
“Ngga bisa. Pesawat akan berangkat jam enam pagi. Sekarang istirahat.”
Dengan langkah gontai Elang keluar dari ruang kerja ayahnya. Di depan ruangan dia mendapati Poppy dan Farel berdiri menunggunya. Elang menghampiri Poppy lalu memeluknya. Setiap Irzal memarahinya, Elang pasti langsung menghampiri Poppy untuk bersandar dan meminta kekuatan. Poppy mengusap punggung anaknya.
“Terimalah hukumanmu. Jujur bunda juga kecewa padamu. Bunda harap kamu bisa belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya. Lupakan Rain, dia sudah menjadi milik orang lain. Sudah saatnya kamu terus berjalan dan tidak lagi menengok ke belakang. Apa kamu bisa melakukannya?”
“Iya bunda.”
“Bunda pegang janjimu.”
Poppy mengurai pelukannya, mengusap rahang anaknya lalu mengecup keningnya. Poppy meminta Farel membawa Elang ke kamarnya. Farel merangkul bahu adiknya lalu berjalan bersama menuju lantai atas. Di depan kamar Ayunda sedang menunggu mereka. Dia juga sempat mendengar teriakan sang ayah tadi.
“Mas El yang sabar ya.”
Ayunda memeluk Elang. Dia memang sangat menyayangi kakaknya ini dan tidak tega kalau melihatnya terkena amarah sang ayah. Ayunda melepaskan pelukannya, Elang tersenyum melihat adiknya menangis.
“Mas yang dimarahi ayah kenapa kamu yang nangis.”
“Aku takut mas El dipukul ayah. Apalagi kayanya ayah marah banget sama mas El.”
“Ayah memang keras, tapi dia tidak akan melakukan kekerasan pada anaknya. Masa kamu ngga paham. Ayah seperti itu karena mas memang salah. Udah, sekarang kamu tidur ya.”
“Mas El sama bang Farel juga.”
Sebelum pergi Ayunda menghampiri Farel lalu mengelap ingusnya pada lengan kaos Farel. Setelah itu berlari masuk ke kamarnya.
“Astaga nih anak kelakuannya masih ngga rubah. Yunda!!”
Farel segera mengejar Ayunda namun gadis itu telah menutup pintu dan menguncinya. Farel menggedor beberapa kali namun tak digubrisnya. Elang hanya menggelengkan kepala lalu masuk ke dalam kamarnya.
🍁🍁🍁
**Hmm.. terimalah hukumanmu mas El dan berharap aja Az masih mau menerimamu.
Dan bang Farel.. yg sabar ya punya adik perempuan ngga ada akhlaknya😂
Pagi gaessss.. Sabtu pagi mamake sempetin nih buat up demi kalian semua. Jadi jangan males buat tinggalin jejak ya. Bukan cuma like dan vote aja, tapi commentnya juga ya, mamake butuh feedback dari kalian juga loh biar tambah semangat nulisnya😘😘😘**
__ADS_1