
Mata Akhtar menyipit melihat sosok mencurigakan yang berjalan menuju istrinya. Sekilas dia menangkap kilatan dari tangan pria tersebut. Menyadari bahaya yang akan menimpa Rain, Akhtar berlari. Jarak Rain dengan Didi semakin dekat, dengan satu gerakan cepat Didi mengarahkan pisau ke arah perut Rain.
JLEB
“Aaaghhh..”
Regan yang hendak menjemput sang putri terhenyak melihat kejadian di depannya. Wajah Rain memucat melihat darah yang keluar dari sela-sela pisau yang menancap di bagian perut. Secepat kilat Didi menarik pisaunya, membuat darah menyembur keluar dari luka tusukan. Saat dia akan menusukkan kembali pisaunya, pengawal yang bertugas menjaga Rain segera meringkusnya.
Suasana tiba-tiba menjadi heboh. Pejalan kaki yang melihat penusukan itu secara langsung berteriak dan berlari meninggalkan TKP. Dua orang security restoran bergegas mendekat untuk membantu.
Regan berlari seraya melepas jasnya. Dia seperti mengalami dejavu akan peristiwa yang baru saja terjadi. Tubuh Rain hampir saja jatuh kalau Regan tidak menahannya. Perlahan Regan membaringkan tubuh Akhtar di trotoar lalu meletakkan jasnya yang sudah dilipat ke atas luka tusukan.
“Tekan lukanya Rain, jangan sampai darahnya banyak keluar.”
“I.. iya pa.”
Sarah datang menghampiri dan membantu Rain menekan luka Akhtar. Regan bergegas menuju mobilnya. Dengan bantuan security, Rain dan Sarah memasukkan Akhtar ke dalam mobil. Tanpa menunggu lama, Regan langsung tancap gas.
Nyawa Chalissa serasa melayang ketika melihat korban penusukan bukanlah Rain seperti instruksinya, tapi justru Akhtar. Chalissa berusaha menenangkan dirinya lalu menjalankan mobilnya menuju rumah sakit yang dituju Regan.
Rain terus saja menangis melihat kondisi Akhtar. Tangannya sudah berlumuran darah. Sarah menelpon rumah sakit sesuai arahan Regan. Melihat istrinya terus menangis, Akhtar mengangkat tangannya, jarinya menghapus buliran bening yang terus saja keluar dari mata indahnya.
“Ja.. ngan me.. nangis.. sa...yang.”
“Mas, maafin aku. Maafin aku, bertahanlah mas.”
Tangan Akhtar terkulai, matanya mulai terpejam. Sarah menepuk-nepuk pelan pipi menantunya, mencoba membuatnya tetap tersadar. Usaha Sarah membuahkan hasil, mata Akhtar kembali terbuka.
Mobil yang dikendarai Regan sampai di rumah sakit. Regan menghentikan kendaraan tepat di depan pintu masuk UGD. Dua orang perawat yang bersiap di depan pintu masuk segera membantu mengeluarkan Akhtar dari dalam mobil lalu meletakkannya ke atas blankar. Secepat kilat mereka mendorong masuk menuju UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Reyhan yang sedang bertugas di UGD terkejut melihat kakak iparnya datang bersimbah darah. Dia segera membantu dokter Fajri untuk menghentikan pendarahan. Regan menghampiri suster yang bertugas.
“Suster, apa ruangan operasi sudah siap?”
“Sudah dok.”
“Bagaimana dengan darah yang saya minta?”
“Maaf dok, stok darah AB rhesus negatif hanya tinggal satu labu. Saya sudah menghubungi PMI, tapi di sana juga kosong.”
Regan mengusap wajahnya dengan kasar. Satu kantung darah tidak akan cukup, mengingat Akhtar kehilangan cukup banyak darah. Dia menghampiri Sarah yang masih menenangkan putrinya.
__ADS_1
“Hubungi Nino, minta dia mencari donor untuk Akhtar. Hubungi juga Ega dan Irzal, minta mereka membantu mencarikan darah golongan AB rhesus negatif. Mas butuh darah itu secepatnya.”
“Iya mas.”
Selesai melakukan intubasi, dokter Fajri segera melakukan tindakan untuk menghentikan pendarahan. Regan masuk dan membantunya. Setelah pendarahan berhasil dihentikan, Akhtar langsung dibawa ke ruang operasi. Rain juga Sarah mengikuti sampai ke depan pintu masuk, begitu pula dengan Reyhan.
Beberapa menit kemudian, Kalila beserta Bilqis dan Fikry datang. Mereka menghampiri Rain yang terus saja menangis dalam pelukan Reyhan. Sarah menyambut kedatangan mereka. Tangis Kalila pecah dalam pelukan Sarah.
“Kenapa dengan Akhtar kak? Kenapa Akhtar sampai terkena tusukan.”
“Kejadiannya begitu cepat La. Sepertinya Akhtar mencoba menyelamatkan Rain. Maafin aku.”
Kedua wanita itu kembali menangis. Kalila menghampiri Rain yang belum berhenti menangis. Dia berjongkok di depan Rain lalu menggenggam erat tangannya.
“Maafin aku ma, semuanya salahku. Mas Akhtar terluka karena menyelamatkanku.”
“Jangan berkata begitu sayang. Kamu harus kuat, jangan menyalahkan dirimu. Yakinlah kalau Akhtar akan baik-baik saja.”
“Mama Kalila bener kak. Ada papa di dalam sana. Pasti papa akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan bang Akhtar.”
Kalila berdiri lalu duduk di samping Rain. Dengan penuh kelembutan dia mengusap lengan menantunya. Rain semakin mengeratkan pelukannya pada Reyhan begitu mengingat pembicaraannya dulu dengan sang adik.
“Mas Akhtar bakal baik-baik aja kan Rey. Dia ngga akan ninggalin aku kan? Aku takut Rey. Aku takut dia ninggalin aku,” Rain mencengkeram kemeja Reyhan.
Perasaan Rain sedikit tenang mendengarnya, terlebih ada sang papa di dalam sana yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa suaminya.
Satu jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda operasi akan berakhir. Semua sudah berkumpul di ruang tunggu operasi. Irzal dan Ega sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari golongan darah yang dibutuhkan. Nino meremat rambutnya frustrasi, sebagai seorang ayah dia merasa tak berguna. Di saat genting seperti ini, dia tak bisa melakukan apa-apa. Irzal merangkul bahu sahabat sekaligus iparnya ini.
“Andai aku orang tua kandungnya Zal.”
“Berbaik sangka saja pada Allah No. In Syaa Allah pertolongan-Nya akan datang di saat yang tepat.”
Pintu ruangan terbuka, semua yang menunggu langsung melayangkan pandangannya ke arah pintu. Seorang suster keluar, Nino bergegas menghampirinya.
“Bagaimana keadaan anak saya sus”
“Apa darah yang dibutuhkan sudah ada pak?”
“Belum sus, kami masih terus mencarinya.”
“Kami sangat membutuhkan darah itu pak. Pasien sulit bertahan tanpa transfusi darah.”
__ADS_1
Tubuh Nino hampir saja terjatuh, kalau Irzal dan Ega tak segera menangkapnya. Reyhan terpaksa menutup telinga Rain, takut kakaknya yang sudah tenang akan kembali histeris.
“Biar saya yang menjadi donornya sus. Suster boleh mengambil berapa banyak darah yang dibutuhkan!”
Semua orang termasuk suster menoleh ke arah datangnya suara. Nampak seorang pria setengah baya mengenakan pakaian tahanan berdiri tak jauh dari mereka. Di belakangnya berdiri dua orang berseragam. Dia adalah Rano, ayah kandung Akhtar. Di sampingnya berdiri Disty, ibu dari Akhtar. Nino bergegas menghampiri Rano.
“Apa benar kamu mau mendonorkan darah untuk Akhtar?”
“Iya, sebagai seorang ayah, setidaknya sekali saja aku melakukan hal yang berguna untuk anakku. Ambil saja darah saya sus.”
“Tapi bukannya pecandu narkoba tidak bisa mendonorkan darah?” sela Ega.
“Aku pengedar, bukan pecandu. Aku memang menjual barang haram tapi tidak pernah memakai barang itu untuk diriku sendiri.”
Nino yang sempat khawatir dapat bernafas lega mendengarnya. Sang suster segera membawa Rano untuk diambil darahnya. Kalila menghampiri Disty. Dia yakin dibalik kedatangan Rano ada peran Disty di baliknya.
“Terima kasih mba... terima kasih.”
“Akhtar adalah anakku. Terima kasih kamu mengabariku tentang Akhtar.”
Kedua wanita itu saling berpelukan. Nino menatap haru ke arah mereka. Dua orang wanita yang begitu menyayangi anaknya, Akhtar. Adit menghampiri Nino lalu berbisik di telinganya.
“Mereka akur bener No. Ada niatan nikahin Disty lagi buat dijadiin yang kedua?”
Nino menyikut perut Adit dengan kesal. Bisa-bisanya sahabat sablengnya itu berbicara tentang hal gila di saat seperti ini. Dibalik ringisannya Adit tersenyum, setidaknya Nino tidak terlalu tegang lagi dengan candaan absurdnya.
Ketegangan berakhir sudah ketika Regan keluar dari ruang operasi. Melihat sang papa, Rain segera menghambur ke arahnya.
“Pa, gimana keadaan mas Akhtar?”
“Alhamdulillah operasinya lancar. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang ICU. Mudah-mudahan dia bisa melewati masa kritisnya malam ini.”
“Hiks.. hiks.. mas Akhtar bisa bertahan kan pa?”
“In Syaa Allah nak. Suamimu adalah orang yang kuat, dia pasti bisa melewati masa kritisnya. Jangan putus untuk berdoa.”
Sarah menghampiri lalu memeluk Rain yang masih terlihat rapuh. Tak lama blankar yang membawa Akhtar keluar. Airmata Rain kembali mengalir melihat wajah pucat suaminya. dua orang perawat terus mendorong blankar yang membawa Akhtar menuju ruang ICU.
🍁🍁🍁
**Nah kan nyesel kan Rain. Jadi gimana mau tetep cerai aja nih mereka?
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya, seperti biasa like, comment and vote nya. Mamake usahakan up dua episode hari ini, asal dukungan buat mamake banyak ya😘😘😘**