
Ega mengetuk pintu kamar anaknya dan tak lama kemudian masuk ke dalam. Nampak Firly sedang asik memainkan ponselnya sambil berbaring. Ega duduk di sisi ranjang. Melihat kedatangan Ega, Firly bangun dan duduk di samping papinya.
“Tumben hari Minggu diem di rumah.”
“Lagi males keluar pi. Tapi nanti sore janjian mau naik sepeda keliling kompleks sama Ara.”
“Hmm.. Ly, kamu tahu siapa cewe yang lagi disukai Ilan?”
“Tahu pi, emangnya kenapa?”
“Ngga apa-apa, papi kepo aja hehehe. Kalau kamu gimana? Apa udah ada cowo yang kamu suka belum? Kalau belum papi mau jodohin kamu sama Elang aja deh.”
GLEK
Firly menelan kasar ludahnya. Sepertinya sudah saatnya Firly menceritakan tentang hubungannya dengan Dimas. Terlebih seminggu lagi kelulusannya akan diumumkan yang artinya Dimas akan segera menemui kedua orang tuanya.
“Hmm.. sebenernya udah ada cowo yang Ily suka pi.”
“Siapa?”
Firly mengubah posisi duduk papi dan dirinya. Mereka duduk saling membelakangi dengan punggung yang saling menempel. Firly sengaja mengambil posisi seperti ini karena takut melihat reaksi sang papi.
“Kamu kenapa sih mau curhat aja sampe atur posisi duduk gini,” protes Ega.
“Biar kaya adegan film India itu loh pi yang fenomenal. Kucek-kucek hota hai,” Firly memelesetkan nama sebuah judul film India yang sangat terkenal.
“Wah kamu tahu film itu dari mana? Waktu film itu rilis aja papi masih kecil.”
“Dari mbah google. Udah ah mau bahas film apa bahas Ily?”
“Iya-iya, makanya cepetan cerita jangan bikin papi penasaran.”
“Tapi papi janji jangan nyela, jangan marah, tunggu sampe Ily selesai cerita.”
“Iya.. dasar bawel.”
__ADS_1
Firly menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Dadanya sedikit berdebar, takut dengan reaksi yang akan diberikan papinya nanti.
“Ily lagi suka sama seseorang pi. Dia baik, bertanggung jawab dan sayang sama Ily. Ily juga ngga tahu kapan persisnya Ily mulai suka sama dia. Yang Ily tahu, setiap Ily lihat dia dengan perempuan lain, Ily marah, cemburu dan ngga rela dia bersama perempuan lain.
Awalnya Ily ragu kalau dia punya perasaan yang sama ke Ily. Tapi seiring berjalannya waktu dan kedekatan kita, akhirnya dia mengakui kalau mempunyai perasaan yang sama. Ily beneran jatuh cinta sama dia pi, cuma dia yang Ily mau buat jadi pendamping hidup Ily.”
“Siapa dia? Apa papi kenal?”
“Papi kenal kok sama dia. Kenal banget malah.”
DEG
Perasaan Ega mulai tak enak. Kecurigaannya beberapa waktu lalu saat melihat kedekatan anaknya dengan Dimas kembali terbayang.
“Siapa Ly?”
“Hmm... dia.. dia.. om Dimas pi.”
DUARR
Tebakannya ternyata benar, kecurigaannya menjadi kenyataan. Ega tak tahu harus bersikap seperti apa. Apakah harus senang, marah, kesal, dia benar-benar bingung. Menghadapi kenyataan kalau putri kecilnya jatuh cinta pada Dimas. Lelaki yang sudah dianggap adiknya sendiri. Bahkan lelaki itu juga sering mengasuh anaknya ini sedari kecil.
“Ily, apa oma Santi sudah tahu soal kamu dan om Dimas?”
“Iya pi.”
Ega memejamkan matanya. Seseorang yang dibicarakan mamanya waktu itu adalah Dimas. Ega kembali terngiang pesan terakhir mamanya yang memintanya untuk merestui siapapun pilihan putrinya nanti. Dan ternyata pilihannya jatuh pada Dimas. Pria berstatus duda anak satu dan usianya 20 tahun lebih tua dari anaknya. Kepalanya mulai berdenyut, entah apa yang akan dikatakan istrinya nanti.
“Rencananya setelah kelulusan Ily, om Dimas akan datang untuk melamar Ily.”
Kepala Ega semakin berdenyut mendengar penuturan Firly. Dia mengusap kasar wajahnya. Firly tak berani menatap wajah sang papi, dia terus saja menundukkan kepalanya. Tanpa berkomentar, Ega berjalan keluar kamar. Firly memandangi kepergian Ega dengan perasaan tak menentu.
🍁🍁🍁
Sejak pembicaraannya dengan Firly tadi pagi, hati Ega jadi tak tenang. Di satu sisi dia mengakui kalau Dimas adalah sosok lelaki yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Pastinya Firly akan berbahagia hidup dengannya. Namun di sisi lain, perbedaan usia dan status Dimas yang menjadi ganjalannya. Terlebih dia sudah menganggap Dimas seperti adiknya sendiri. Membayangkan Dimas memanggilnya papi mertua, membuatnya sedikit bergidik.
__ADS_1
Satu-satunya jalan untuk menghilangkan keresahannya adalah melakukan kegiatan panas dengan sang istri. Sehabis makan malam, Ega menggiring Alea masuk ke kamar. tanpa banyak bicara, dia langsung meminta jatahnya yang telah seminggu dipending karena istrinya kedatangan tamu bulanan.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Ega masih belum puas bergumul dengan sang istri. Alea benar-benar kewalahan menghadapi hasrat Ega yang tak seperti biasanya. Leher, bahu, dada bahkan perutnya sudah penuh dengan tanda kepemilikan suaminya.
“Bi, aahh.. aku cape bi,” Alea mulai merengek. Tenaganya memang sudah terkuras habis.
“Please beb, sebentar lagi ya sayang.”
Alea hanya pasrah. Setelah melakukan pelepasan, Ega kembali memulai sedari awal. Mencumbu istrinya dengan sentuhan-sentuhannya. Dia tahu benar di mana titik yang dapat membangkitkan gairah istrinya lagi. Pertempuran pun kembali terjadi. Beberapa kali terdengar desahan dan erangan Alea memenuhi seisi kamar. Akhirnya menjelang tengah malam, Ega mengakhiri pergulatan panasnya.
Alea terbaring dengan nafas tersengal, dadanya naik turun mengikuti deru nafasnya setelah percintaan mereka berakhir. Di sampingnya Ega pun tak kalah lemasnya. Dia mengubah posisi tidurnya menyamping kemudian menarik Alea ke dalam pelukannya.
“Bi, kamu kenapa? Apa ada yang kamu pikirin?” Alea tahu setiap ada masalah yang mengganggu pikiran suaminya, maka dirinya yang akan menjadi pelampiasannya.
“Hmm.. biasa masalah di kantor.”
“Apa ada masalah dengan pembangunan resort di Palembang?”
“Ngga ada. Cuma masalah biasa kok, dan udah diatasi juga sama kang Adit.”
Alea memilih diam, sepertinya Ega masih belum ingin membicarakan masalah yang mengganggunya. Dia merapatkan tubuhnya pada Ega dan membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya yang tak terbungkus pakaian. Tak lama dengkuran halus terdengar. Ega melirik istrinya yang telah tertidur pulas. Perlahan dilepaskannya Alea kemudian berjalan ke arah teras kamarnya.
Ega duduk di kursi santainya, tubuh bagian atasnya sengaja dibiarkan polos membiarkan angin malam menerpa kulitnya. Pikirannya menerawang jauh, mencoba mencari jalan keluar terbaik dari kegundahan yang dirasakannya. Berulang kali dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kepalanya mendongak ke arah langit malam yang berkilauan ditaburi jutaan bintang.
Aku harus bagaimana ma. Kalau menuruti kata hatiku, aku ingin sekali mengabulkan permintaanmu. Tapi jika menuruti akalku, rasanya tidak mungkin aku merestui mereka. Bagaimana pun juga Ily adalah anak perempuanku satu-satunya. Apa salah kalau aku ingin yang terbaik untuknya.
🍁🍁🍁
**Waduh papi Ega galau nih, terus kira2 nanti reaksi mami Alea seperti apa ya???
Ayo ah terus dukung karya mamake ini ya dengan
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Thanks a lot😘😘😘**