
Rasa pusing mendera kepala Firly setelah mengikuti perkuliahan pak Deka sesi pertama. Sesuai janjinya, hari ini dia melakukan pertemuan kuliah dobel untuk mengganti ketidakhadirannya minggu kemarin. Ini adalah pertemuan terakhir sebelum minggu tenang menjelang UAS. Firly meraih ponselnya lalu mengirim pesan pada suaminya.
To My Honey :
Mas, bisa jemput aku di kampus? Kepalaku pusing banget.
From My Honey :
Jemput jam berapa sayang?
To My Honey :
Sekarang bisa?
From My Honey :
Ok.
Firly memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mencoba untuk menghalau pusingnya yang tak kunjung mereda. Firly memejamkan matanya sejenak.
“Ly, lo kenapa?” tanya Weni, teman sekelas Firly.
“Pala gue pusing.”
“Sama pala gue juga pusing denger materi SKI yang makin gue ngga ngerti. Untung pak Deka ganteng, jadi rada seger dikit lah.”
“Eh lo ngeh ngga tadi kalau pak Deka ngeliatin lo mulu. Kayanya doi naksir ama elo. Duh Ily, beruntung banget sih lo ditaksir pak Deka,” sambungnya lagi.
“Gantengan juga laki gue,” jawab Firly masih memejamkan matanya.
“Ya jangan dibandingin ama laki lo dong, tapi pak Deka ngga kalah ganteng kok. By the way busway dia ngga tau ya kalau lo udah married? Cara dia ngelihat elo tuh beda tau, kaya ada manis-manisnya gitu. Tatapan penuh mendamba. Oh andai aja gue yang ditatap seperti itu, ngga bakal nolak gue.”
Weni terus saja nyerocos tanpa menyadari kalau Firly sudah tidak mendengar ucapannya lagi. Suara Weni bagaikan lagu pengantar tidur yang menina bobokan dirinya. Beberapa mahasiswa masuk ke dalam kelas, tanda sang dosen sudah akan kembali untuk melanjutkan materinya. Weni langsung bersiap-siap.
Setelah break selama sepuluh menit, Deka kembali ke kelas. Usia Deka masih 25 tahun tapi sudah menyelesaikan studi sampai jenjang S3. Baru tiga bulan lamanya dia mengajar di kampus ini, menggantikan dosen mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia yang pensiun dini.
Deka langsung menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa. Bukan hanya wajah tampannya, tapi juga terkenal dengan ketegasannya. Dia bukan tipe dosen yang murah hati, perlu kerja keras untuk mendapatkan nilai tinggi darinya. Namun tetap saja banyak mahasiswi yang tergila-gila padanya.
Tubuh tinggi Deka memasuki kelas. Dengan langkah tegap dia berjalan menuju mejanya. Dibukanya kembali laptop untuk menyampaikan materinya. Baru saja akan menyampaikan materinya, matanya melihat Firly yang sedang memejamkan matanya. Diambilnya sebuah buku lalu berjalan menuju meja Firly. Weni mencoba membangunkannya tapi Firly bergeming. Hingga Deka sudah berdiri di depannya, dengan keras Deka membanting buku di meja Firly.
BRUK
Firly yang terkejut sontak membuka matanya. Betapa terkejutnya dia melihat Deka sudah berdiri di hadapannya dengan matanya yang menatap tajam.
“Kalau mau tidur, sana pulang ke rumah!”
“Maaf pak, kepala saya pusing.”
Deka mendekatkan tubuhnya ke arah Firly dengan kedua tangannya bertumpu pada meja. Aroma parfum Deka menguar lalu masuk ke indra penciuman Firly. Seketika Firly merasakan perutnya bergejolak. Refleks dia menutup mulutnya menahan sesuatu yang mendesak hendak keluar.
“Saya tidak suka mahasiswa yang banyak alasan. Kalau kamu tidak mau mengikuti mata kuliah saya, silahkan keluar.”
“Maaf pak, kepala saya benar-benar pusing. Saya hoek...”
Firly tak dapat menahan gejolak di perutnya. Sesuatu yang mendesak itu akhirnya keluar. Cairan bening kekuningan sukses mengenai kemeja Deka. Weni menutup mulutnya melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
“Firly kamu..”
“Hoek..”
Firly kembali memuntahkan isi perutnya, lagi-lagi cairan bening kekuningan itu keluar membasahi kemeja Deka. Sedari pagi memang Firly belum makan apapun karena tidak nafsu makan, jadi hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Suasana kelas menjadi riuh, Firly bangun dari duduknya kemudian berlari keluar kelas menuju toilet. Begitu pula dengan Deka.
Setelah mengganti kemejanya, Deka kembali ke kelas namun tak melihat keberadaan Firly. Dia memutar tubuhnya menuju toilet wanita. Di sana terlihat Firly baru saja keluar dari toilet dengan wajah pucat. Dia berjalan dengan tangan bertumpu pada dinding. Deka bergegas menghampirinya.
“Firly, kamu kenapa? Apa kamu sakit?” cecar Deka. Mencium aroma parfum Deka, perut Firly kembali mual.
“Hoek..” tak ada yang keluar dari mulutnya hanya saja mual di perutnya tak kunjung reda bahkan menjadi-jadi.
“Firly..”
“Pak please... jangan dekat-dekat... saya mual dekat bapak.”
“Apa maksud kamu?”
“Saya...”
Pandangan Firly menggelap lalu tubuhnya terjatuh. Dengan sigap Deka menahan tubuh Firly lalu membawa ke ruangannya. Dia membaringkan Firly di atas sofa kemudian menghubungi dokter kenalannya yang juga menjadi dosen di kampus ini. Tak lama dokter Irma datang lalu segera memeriksa Firly.
“Dia kenapa kak? Tadi dia muntah-muntah.”
“Ngga apa-apa itu biasa di trimester pertama wanita hamil.”
“Hamil? Dia hamil?”
“Iya. Sebentar lagi dia sadar dan minta untuk periksa ke dokter kandungan. Sorry aku ada kelas, aku tinggal dulu ya.”
Kelopak mata Firly bergerak, tak lama kemudian matanya membuka. Dipandanginya sekeliling ruangan, lalu matanya terhenti pada sosok Deka yang duduk di sofa tunggal sedikit jauh darinya. Firly bangun lalu duduk menyender di sandaran sofa. Kepalanya masih terasa pusing.
“Firly, tadi dokter Irma memeriksa keadaanmu. Katanya kamu hamil, benar itu?”
“Ha.. hamil pak?”
“Hmm.. hamil. Katakan kenapa kamu melakukannya? Kamu masih mudah Firly, kenapa kamu merusak dirimu dengan pergaulan bebas seperti itu?”
“Maksud bapak?”
“Katakan siapa laki-laki yang telah menghamilimu? Apa dia mau bertanggung jawab? Kalau dia mengelak, biar saya yang bertanggung jawab.”
Kesadaran Firly masih belum sepenuhnya terkumpul. Dia masih mencoba mencerna informasi yang masuk ke gendang telinganya. Hamil, pergaulan bebas, bertanggung jawab. Firly mencoba menyatukan keping demi keping apa yang baru saja didengarnya.
BRAKK
Pintu terbuka dengan kasar. Dimas yang baru sampai di kampus mendapat kabar dari Weni kalau Firly pingsan dan dibawa ke ruangan Deka. Bergegas dia menghampiri Firly.
“Sayang, kamu ngga apa-apa?”
Wajah Dimas nampak panik, ditelitinya satu per satu anggota tubuh istrinya. Deka yang tak suka dengan kehadiran Dimas segera berdehem keras. Dimas menoleh ke arah Deka, keningnya mengkerut melihat dosen muda itu menatapnya dengan wajah sangar.
“Jadi kamu laki-laki brengsek itu? Hah! Kukira teman kuliahnya yang melakukan itu tapi ternyata... ck.. ck.. ck.. apa kamu tidak malu melampiaskan nafsumu padanya? Kamu itu lebih cocok jadi omnya dari pada kekasih gelapnya.”
Emosi Dimas seketika meluap. Tuduhan demi tuduhan tak berdasar keluar dari mulut Deka dan membuatnya meradang. Dihampirinya lelaki itu lalu dicengkeramnya kerah kemejanya dengan kasar.
__ADS_1
“Apa kamu bilang? Laki-laki brengsek? Kekasih gelap? Jaga mulutmu kalau kamu tidak tahu apa-apa!”
“Kenyataannya anda memang brengsek. Apa yang anda lakukan sampai membuatnya hamil hah?? Apa anda bisa bertanggung jawab padanya?”
Dimas melepaskan cengkeraman di kemeja Deka lalu memandang pada istrinya. Mata Firly tampak berkaca-kaca. Tanpa mempedulikan Deka, Dimas menghampiri Firly, menggenggam tangannya dengan erat membuat hati Deka panas.
“Kamu hamil sayang?”
“A.. aku ngga tahu mas. Tadi aku pingsan, pak Deka bilang aku hamil.”
“Apa kamu yakin kalau Firly hamil?” pandangan Dimas mengarah pada Deka.
“Tentu saja, temanku yang seorang dokter telah memeriksanya. Kenapa? Kamu takut? Kalau kamu ngga mau bertanggung jawab, biar saya yang melakukannya.”
Dimas menjadi geram, saat akan berdiri tangan Firly menahannya. Kepalanya menggeleng pelan, membuat Dimas mengurungkan niatnya.
“Ya udah kita ke dokter sekarang ya sayang.”
Dimas membantu Firly untuk berdiri kemudian merangkul bahunya. Tapi baru beberapa langkah, Deka menghalanginya.
“Kamu tidak berhak membawanya pergi. Saya akan menghubungi orang tuanya untuk menjemputnya.”
“Saya lebih berhak dari orang tuanya. Minggir!”
“Saya tidak bisa membiarkan kamu membawanya.”
“CUKUP!! Pak Deka tolong biarkan saya pergi.”
“Tapi Firly dia..”
“Dia suami saya pak. Bapak baru mengajar di sini jadi bapak tidak tahu kalau saya sudah menikah enam bulan lalu. Kehamilan saya ini bukan sebuah aib, dan suami saya orang yang bertanggung jawab. Jadi tolong hentikan kesalahpahaman ini dan biarkan kami pergi pak.”
Deka membeku mendengar penuturan Firly. Lamunannya terhenti ketika pintu ruangan terbuka, Weni masuk membawakan tas Firly. Dia memberikannya pada Dimas.
“Ly, lo ngga apa-apa?”
“Ngga Wen, makasih ya.”
“Weni, apa benar kalau laki-laki ini suami dari Firly?” Deka coba meyakinkan dirinya yang masih belum menerima kenyataan kalau wanita yang dicintainya sudah menikah.
“Iya. Emang bapak ngga tau suaminya Ily? Dia itu chef Dimas pak, chef yang terkenal itu. Mereka menikah enam bulan lalu dan pernikahannya kan heboh di medsos,” cerocos Weni.
“Maaf kami harus pergi. Weni, terima kasih ya.”
Dimas menuntun Firly keluar dari ruangan namun karena kondisinya sangat lemah, Dimas memutuskan membopongnya. Dengan langkah cepat Dimas berjalan menuju mobilnya. Deka memandangi keduanya dengan wajah sendu. Kisah cintanya berakhir sebelum sempat dimulai.
🍁🍁🍁
**Ampun pak dosen, tanya2 dulu Napa kan jadi malu tuh. Ingat pepatah pak, malu bertanya sesat di jalan😂
Morning readers.. mudah2an aktivitas kita pagi ini diberi kelancaran ya, aamiin..
Jangan lupa ya abis baca ritual jempolnya buat nge like, comment and vote..
Love you all😘😘😘**
__ADS_1