Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE I Want You


__ADS_3

Akhtar baru saja keluar dari kamar mandi. Sepanjang hari dia hanya berbaring di atas kasur. Peristiwa dua hari yang lalu cukup membuatnya shock hingga berpengaruh pada kesehatannya. Terlebih Chalissa masih belum bisa dihubungi. Entah menghilang kemana kekasihnya itu. Setelah menunaikan shalat isya, Akhtar bermaksud mengisi perutnya yang terasa lapar. Tapi sebuah panggilan masuk menahan keinginannya. Matanya berbinar ketika mengetahui panggilan masuk dari Chalissa.


“Halo Lissa.”


“Halo Akhtar...” suara Chalissa terdengar mendesah.


“Kamu di mana?”


“Tolong temui aku sekarang sayang.”


“Kamu di mana?”


“Aku di Magnum Hotel kamar 607. Hurry honey.”


Panggilan terputus. Akhtar segera mengganti pakaiannya lalu meyambar kunci mobilnya. Dengan langkah cepat dia berjalan keluar rumah, takut terjadi sesuatu pada kekasihnya. Kalila yang melihatnya segera menegurnya.


“Akhtar, kamu mau kemana?”


“Keluar sebentar ma.”


Dengan kecepatan tinggi Akhtar memacu kendaraannya menuju Magnum Hotel yang berada di kawasan Pasteur. Beberapa kali dia menekan klakson demi menghalau mobil yang menghalagi jalannya. Setelah berputar arah di lampu merah, Mitsubshi Lancer miliknya memasuki pelataran hotel bintang empat tersebut. Dia menghentikan kendaraannya tepat di depan pintu masuk, tanpa berbicara dia melemparkan kunci ke petugas valet parking.


Mata Akhtar tak henti melihat layar yang terpasang di bagian pinggir pintu lift. Begitu layar menunjukkan angka enam, Akhtar langsung menghambur keluar sesaat setelah pintu lift terbuka. Dengan tak sabar Akhtar menekan bel di dekat pintu, tak lama muncul Andrea dari baliknya.


“Mana Lissa?”


“Silahkan masuk.”


Akhtar masuk ke dalam, lalu melihat sang kekasih sedang duduk di sisi ranjang sambil memegang sebuah gelas berisi minuman berwarna merah. Dengan isyarat mata dia memerintahkan asistennya itu untuk keluar. Tanpa berpamitan, Andrea keluar dari kamar. Chalissa menaruh gelas di atas nakas lalu menghampiri Akhtar. Tangannya bertengger di leher Akhtar.


“Kamu mabuk Lis?”


“No.. no... honey. Aku cuma minum dikit, cuma sedikit aja.”


Chalissa menarik Akhtar menuju ranjang lalu mendudukkan pria itu di sana. Kemudian dia naik ke pangkuan Akhtar dengan posisi berhadapan. Wajah Chalissa nampak kemerahan, efek dari wine yang diminumnya. Dia menatap intens wajah kekasihnya lalu menabrakan bibirnya ke bibir Akhtar.


Dengan ganas Chalissa ******* bibir calon suaminya itu. Selama berpacaran, mereka memang kerap berciuman, namun tidak lebih dari itu. Chalissa Semakin mendekatkan dirinya pada Akhtar hingga tubuh keduanya tak berjarak. Akhtar terbawa suasana, ditekannya tengkuk Chalissa untuk memperdalam ciuman mereka.


Tangan Chalissa bergerak melepaskan kaos yang dikenakan Akhtar, kemudian membuka dressnya. Dada Akhtar berdesir melihat pemandangan di depan matanya. Sebagai lelaki normal, wajar saja kalau hasratnya terbangun melihat tubuh hampir telanjang di depannya. Tubuh Chalissa hanya terbungkus segitiga pengaman saja.


Bibir mereka kembali bertautan, saling *******, memagut dan mencecep. Bahkan mereka sudah saling bertukar saliva. Bukit kembar Chalissa sudah menempel ke dada bidang Akhtar.


“Lissa stop. Kita ngga bisa melakukan ini,” Akhtar masih menjaga akalnya agar tidak hilang kendali.


“Please honey, sekali ini saja. Aku sangat menginginkannya,” mata Lissa sudah menggelap. Disesapnya dada Akhtar hingga meninggalkan jejak kemerahan.


“Eeuughhh Lissa stop.”


Chalissa bergeming, dia terus memberikan rangsangan pada Akhtar hingga akhirnya lelaki itu tidak bisa mengontrol dirinya. Dengan cepat dia membaringkan tubuh Chalissa di atas kasur. Dengan kasar dilepaskannya segitiga pengaman dari tubuh sang kekasih hingga tubuhnya kini benar-benar polos. Akhtar merangkak naik ke atas kasur kemudian meraup bukit kembar yang sedari tadi menantangnya.

__ADS_1


Chalissa tersenyum senang karena berhasil memancing hasrat Akhtar. Dirematnya rambut kekasihnya itu ketikan merasakan sesapan yang begitu memabukkan. Tak lama desahan demi desahan keluar dari bibirnya. Makin lama desahan itu berubah menjadi lenguhan bernada erotis, sesekali dia meneriakkan nama Akhtar di sela-sela kenikmatan yang membuatnya melayang.


🍁🍁🍁


Chalissa membuka matanya saat merasakan sinar mentari menerpa melalui jendela kamar. Pandangannya langsung tertuju ke samping, namun tak ada sosok Akhtar di sana. Disibakkannya selimut yang menutupi tubuhnya. Tak ada sehelai benang pun di sana. Senyumnya merekah mengingat kejadian semalam.


“Apa kamu puas?”


Chalissa mengarahkan pandangannya pada Andrea yang berdiri di samping ranjang. Dia bangun lalu menyandarkan punggungnya ke head board. Tangannya bergerak meraih gelas berisi air putih yang diberikan oleh Andrea. Setelah meletakkan gelas, dia membuka laci nakas lalu mengambil rokok dan matches dari dalamnya. Sebatang rokok terselip di antara bibirnya, kemudian jarinya bergerak menyalakan pemantik. Chalissa menyesap benda bernikotin itu dalam-dalam kemudian menghembuskan asapnya ke langit-langit kamar. Andrea hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah atasannya.


“Apa tadi malam kalian tidur bersama?”


“Nope... kami hanya bersenang-senang. Just making out, dia membantuku pelepasan,” terdengar tawa kecil dari bibir Chalissa.


“Padahal aku benar-benar ingin merasakan miliknya, tapi dia hanya memuaskanku dengan jarinya,” Chalissa mengangkat jari tengahnya.


“Kamu gila Lis, seminggu lagi kalian akan menikah. Harusnya kamu tidak melakukan itu. Bagaimana kalau dia curiga? Untung saja waktu itu dia percaya kalau Jordy telah memberimu obat perangsang. Bagaimana kalau dia tahu kalau kalian melakukannya karena kamu penasaran bagaimana rasanya bercinta setelah kalian menonton film jahanam itu,” cerocos Andrea kesal.


“Dan rasanya sangat nikmat Andrea, bahkan membuatku ketagihan,” Chalissa kembali tertawa.


“Astaga Lissa. Apa kamu masih belum puas dua minggu kemarin kamu liburan bersama Jordy ke Hawaii. Dan aku tahu kalian lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Bagaimana kalau kamu hamil Lis.”


“Hahaha... oh my Andrea, kamu itu benar-benar polos. Aku ngga sebodoh itu sayang. Tentu saja aku selalu minum obat penunda kehamilan sebelum bercinta, jadi aman.”


“Ya Tuhan Lissa, aku benar-benar ngga tahu harus bicara apa lagi sama kamu. Lalu kalau kalian sudah menikah nanti apa kamu akan terus berhubungan dengan Jordy?”


“Tergantung, kalau permainan Akhtar sebaik Jordy, aku tidak akan menemuinya lagi. Tapi kalau tidak...”


“Saya diperintahkan pak Tombak untuk menjemput nona Chalissa.”


“Tunggu saja, Chalissa baru saja bangun. Beri kami waktu untuk bersiap.”


Pria itu hanya mengangguk, Andrea menutup pintu lalu berjalan menuju Chalissa yang sudah selesai dengan rokoknya.


“Ada utusan papa kamu. Mereka disuruh jemput kamu.”


“Ok.”


Chalissa turun dari ranjang kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Andrea menyiapkan pakaian untuk Chalissa kemudian membereskan barang-barang mereka.


🍁🍁🍁


“Apa pa?”


Akhtar seperti tersambar petir ketika Nino mengatakan perihal batalnya pernikahan dirinya dengan Chalissa. Wajahnya nampak panik, bagaimana bisa Tombak membatalkan pernikahan di saat tinggal menghitung hari.


“Papa bercanda kan? Ini ngga mungkin pa, ngga mungkin. Bagaimana dengan semua persiapan? Kemarin aku masih bertemu Lissa pa, dan dia ngga bilang apa-apa.”


“Sudahlah Akhtar, mungkin kalian memang tidak berjodoh.”

__ADS_1


“Sabar sayang.”


Kalila mengusap punggung Akhtar yang masih terkejut. Dua peristiwa beruntun terus menerpanya. Wajah Akhtar tampak frustrasi, beberapa kali dia meremas kasar rambutnya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Rain masuk ke dalam rumah lalu mencium punggung tangan Nino juga kalila. Nino mempersilahkan Rain duduk tak jauh darinya.


“Ada apa nih pa, pagi-pagi mau ketemu?”


“Begini Rain, papa mau membatalkan pernikahan Akhtar.”


“Apa??” Rain tak mempercayai apa yang barusan di dengarnya, dia menatap Nino, Kalila dan Akhtar bergantian.


“Papa bercanda kan?” sambungnya lagi.


“Ngga Rain, pernikahan ini memang batal.”


“Tapi kenapa pa? Semua persiapan sudah selesai, bahkan undangan tinggal dibagikan. Ini.. sebenarnya ada apa pa? Kak, tolong bilang ini semua cuma prank kan?”


Akhtar hanya menundukkan kepalanya. Rasanya malu menunjukkan wajahnya di hadapan gadis itu. Setelah kemarin dia mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Kini dirinya juga batal menikah. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah julukan yang cocok untuk dirinya.


“Keluarga Lissa membatalkan pernikahan ini dengan alasan latar belakang Akhtar,” masih terlihat sisa kegusaran di wajah Nino.


“Kok mereka picik gitu sih pa. Kita ngga bisa memilih siapa orang tua kita. Apa yang kurang dari kak Akhtar? Kak, apa kakak akan nyerah gitu aja? Ayo berjuang kak. Apa kak Lissa menyetujui pembatalan ini?”


“Kamu memang anak baik Rain. Walaupun masih muda, tapi kamu lebih bisa berpikir jernih dari pada si brengsek itu.”


Akhtar bangun dari duduknya lalu keluar dari rumah untuk menghilangkan kekalutannya. Melihat itu, Rain bergegas menyusulnya.


“Kak, kakak mau kemana?”


“Kamu ngga usah tau.”


“Kak, jangan pergi dalam keadaan emosi.”


“Aku mau menemui Lissa. Aku mau dengar dari mulutnya sendiri. Dia ingin meneruskan atau membatalkan pernikahan ini.”


Akhtar bergegas naik ke mobilnya. Berdasarkan informasi dari Andrea, Chalissa sudah pulang ke Jakarta. Kini satu-satunya cara untuk menyelamatkan acara pernikahan adalah menemui Chalissa.


🍁🍁🍁


**Buat nemenin readers yg diam di rumah di hari Minggu ini, mamake sempatin up lagi nih. Jangan lupa ya ritualnya sehabis baca biar mamake semangat juga.


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote**..


__ADS_2