Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Wanita Terindah


__ADS_3

WARNING!!!


Sebelum membaca, siapkan hati dan tisu. Cerita banyak mengandung boncabe, bawang dan kopi tubruk😜


Happy Reading🤗


*********************************************


Reyhan tampak termenung di depan meja kerjanya. Ucapan Bilqis tempo hari terus terngiang-ngiang di telinganya. Hatinya menimbang-nimbang apakah dia harus kembali mengejar Ayunda atau menyerah saja, melihat hubungan gadis itu dengan Firlan yang semakin dekat saja.


Maju aja lagi Rey.. toh mereka belum menikah. Bahkan bang Ilan belum melamar Yunda. Jadi dia masih bebas untuk dimiliki siapa pun.


Ayunda tidak mencintaimu Rey. Lebih baik kamu merelakannya dan cepat move on. Jangan mengharapkannya lagi. Masih banyak gadis di luar sana yang mungkin lebih baik dari dia.


Reyhan meremat rambutnya kasar. Suara hatinya saling bersahutan antara terus mengejar atau menerima semuanya dengan ikhlas. Dia mengambil ponsel lalu melihat foto-foto kebersamaannya dengan Ayunda. Jarinya bergerak mengusap gambar wajah gadis itu yang sedang tersenyum.


“I miss you Ay... apa masih ada kesempatan untukku?” gumamnya pelan.


Reyhan bangun dari duduknya lalu menuju kamar mandi. Tak lama dia keluar dengan beberapa anggota tubuhnya yang basah tersiram air. Dokter itu baru saja mengambil wudhu. Dia lalu mengambil sajadah di dalam lemari lalu menggelarnya di sudut ruangan yang biasa digunakan untuk shalat. Tak lama dia mulai khusyu’ menunaikan ibadah shalat ashar.


Seusai shalat, hatinya sedikit tenang. Dia merenung sebentar di atas sajadah. Kemudian bangkit, membereskan peralatan shalatnya lalu keluar dari ruangan. Jam kerjanya memang sudah usai, Reyhan bermaksud untuk pulang. Tapi sebelumnya dia mampir ke toko kue langganannya. Reyhan memilihkan beberapa kue yang akan dia berikan pada Ayunda. Pemuda itu sudah bertekad untuk terus mengejar Ayunda.


🍁🍁🍁


Poppy cukup kelimpungan begitu tahu kalau nanti malam Ega sekeluarga akan datang untuk melamar Ayunda. Setelah berbelanja dengan diantar Farel, Poppy langsung berkutat di dapur dengan bantuan bi Diah dan Neni. Sarah yang mendengar kabar dari Alea kalau akan melamar Ayunda, bergegas ke rumah Poppy. Wanita itu tahu pasti Poppy cukup kerepotan untuk menyambut keluarga calon besannya.


Empat orang wanita berkutat di dapur menyiapkan berbagai macam hidangan. Ayunda yang baru pulang kuliah pun dibuat heran dengan kesibukan mereka. Dia melangkahkan kakinya ke dapur. Wangi aroma masakan langsung menyapa indra penciumannya.


“Wah lagi pada masak-masak nih. Emang mau ada acara apaan sih bun?”


“Nanti malem mau ada tamu penting.”


“Siapa?”


“Kepo bener. Udah sana ganti baju terus bantu bunda.”


Ayunda hanya memanyunkan bibirnya kemudian berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Poppy memang sengaja tidak memberitahukan perihal rencana lamaran Firlan. Sesuai amanat Ega, calon besannya itu ingin memberikan kejutan pada Ayunda. Sarah tersenyum tipis, ada kesedihan di hatinya. Gadis yang dicintai anaknya akan dilamar oleh Firlan malam ini.


Acara masak-masak pun selesai. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Sarah pamit pulang karena sebentar lagi anak dan suaminya pulang. Baru saja Sarah sampai di halaman rumah, terlihat motor yang dikendarai Reyhan memasuki halaman.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, baru pulang Rey.”


“Iya ma,” Reyhan mencium punggung tangan Sarah.


“Mama habis dari mana?”


“Dari rumah bunda Poppy, bantuin masak.”


“Ooh, emang ada acara apa ma?”


Reyhan merangkul sang mama lalu berjalan memasuki rumah. Sarah melirik bungkusan yang dibawa Reyhan. Dia sudah bisa menebak kalau itu diperuntukkan untuk Ayunda.


“Rey.. bagaimana perasaanmu pada Yunda?”


“Masih sama ma. Karena kasus Bilqis, hubungan kita memang merenggang. Tapi aku sudah bertekad untuk terus mengejarnya.”


Sarah menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Reyhan. Sejenak dipandanginya wajah sang anak. Rasanya tak tega untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Tapi Sarah harus melakukannya, dia tak ingin Reyhan terus bergelung dengan harapan semunya.

__ADS_1


“Rey.. lupakan Yunda.”


“Kenapa ma? Mama ngga setuju kalau aku sama Yunda?”


“Mama setuju, bahkan mama sangat berharap dia adalah jodohmu. Tapi kadang semua yang kita inginkan tidak bisa menjadi kenyataan. Malam ini, Firlan akan melamar Yunda.”


Reyhan seperti tersambar petir mendengar ucapan Sarah. Seketika bungkusan di tangannya terjatuh. Hatinya seperti tertusuk sembilu, harapannya hancur berkeping-keping. Untuk beberapa saat dia berdiri mematung tanpa bereaksi apa-apa. Seakan mengerti apa yang dirasakan anaknya, Sarah segera menarik Reyhan dalam pelukannya.


“Sabar nak.. mama yakin Allah sudah menyiapkan jodoh yang lain untukmu.”


Airmata Sarah mengalir ketika mengatakan itu semua. Ibu mana yang tak hancur hatinya melihat anaknya terpukul kehilangan orang yang dicintainya. Selama empat tahun Reyhan memendam perasaannya pada Ayunda. Hanya kepada gadis itu saja Reyhan melabuhkan hatinya.


Reyhan membalas pelukan Sarah, bahkan dia mengeratkan pelukannya seakan meminta kekuatan dari sang mama. Jika sebelumnya Reyhan masih bisa menahan diri, tapi tidak kali ini. Dunianya benar-benar hancur. Ternyata sesakit ini kehilangan wanita yang begitu dicintainya. Reyhan menangis dalam pelukan Sarah.


🍁🍁🍁


Tepat pukul setengah delapan, Ega beserta seluruh keluarganya datang ke kediaman Irzal. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Irzal dan Poppy. Mereka mempersilahkan para tamu menuju ruang tengah yang sudah ditata untuk menerima kunjungan calon besannya itu.


Atas perintah sang bunda, Elang naik ke lantai dua untuk menjemput adiknya. Azkia yang sedari tadi membantu Ayunda berdandan, membukakan pintu ketika mendengar suara ketukan. Elang memandangi Ayunda yang terlihat cantik dalam balutan gamis berwarna pink dusty lengkap dengan hijabnya yang berwarna senada.


“Ayo Ay.. tamunya sudah datang.”


Ayunda hanya mengangguk, dia mengikuti langkah Elang keluar kamar. Sebenarnya dia penasaran siapa yang berkunjung ke rumah hingga dia harus didandani seperti ini. Satu demi satu, gadis ini menuruni anak tangga. Ayunda menuju ruang tengah dengan diapit oleh Elang dan Azkia.


Ayunda terkejut melihat Ega sekeluarga ada di sana. Bahkan om Dimasnya pun ikut datang sebagai bagian dari keluarga Ega. Poppy meraih tangan Ayunda kemudian mendudukkannya di tengah-tengah dirinya juga Irzal.


Ayunda memandangi satu per satu wajah di depannya. Semuanya kelihatan rapih, seperti akan menghadiri acara formal. Firlan juga terlihat tampan dalam balutan kemeja batik lengan pendek. Dimas memberikan kode pada Ega untuk memulai acara.


“Sebelumnya saya berterima kasih pada mas Irzal dan keluarga yang telah bersedia menerima kedatangan kami sekeluarga yang mendadak ini. Tujuan kami datang kemari dengan itikad baik, mengantarkan anak sulung kami, Firlan mengutarakan niat baiknya untuk melamar Ayunda.”


Ayunda tersentak, ternyata tamu penting yang dimaksud Poppy adalah Firlan yang akan melamar dirinya. Sungguh gadis itu tidak menyangka kalau Firlan akan melamarnya secepat ini. Tiba-tiba hatinya dilanda kegugupan, telapak tangannya terasa dingin.


Irzal menjeda sejenak ucapannya, lalu melihat ke arah sang anak yang sepertinya masih belum kembali kesadarannya. Wajah Ayunda masih terlihat kebingungan. Poppy mengusap punggung tangan anaknya yang masih diam membeku.


“Yunda, bagaimana tanggapanmu atas lamaran Firlan. Apa kamu mau menerimanya?”


Ayunda masih belum bereaksi. Gadis itu masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Irzal mengusap puncak kepala anak gadisnya ini, mengembalikan kesadaran Ayunda ke tempatnya.


“Apa jawabanmu nak?”


Ayunda melihat sekilas ke arah sang ayah kemudian melemparkan pandangannya ke arah depan. Wajah-wajah penuh harap terlihat di depannya. Ega dan Alea terlihat begitu bahagia, Azriel mengangkat jempolnya, Firly menatapnya penuh antusias dan Firlan tak melepaskan pandangannya sedetik pun darinya. Seakan terhipnotis dengan pemandangan di depannya, Ayunda menganggukkan kepalanya.


“Alhamdulillah,” terdengar suara Ega mengucapkan syukur disusul oleh yang lainnya.


Senyum Firlan merekah ketika melihat wanita pujaannya menganggukkan kepalanya. Ingin rasanya dia memeluk Ayunda saat itu juga. Poppy merangkul bahu Ayunda lalu mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.


“Kalau Ayunda sudah setuju, sekarang kita tinggal tentukan tanggal pernikahannya,” seru Ega. Dia yang paling bersemangat malam ini.


“Sebenarnya bulan ini, keluarga kami cukup sibuk karena dua sepupu Ayunda akan menikah. Akhir bulan ini, Bilqis akan menikah dengan Zahran. Dua minggu kemudian Nara dengan Gara. Jadi, bagaimana kalau pernikahan Yunda dan Ilan diadakan setelah pernikahan Nara dan Gara?” usul Poppy.


“Iya boleh kak, kami juga harus mempersiapkan banyak hal. Jadi, pernikahan akan diadakan dua bulan dari sekarang.”


Semua mengangguk tanda setuju, kecuali Elang yang hanya diam memandangi sang adik yang tak mengeluarkan suara sepatah pun.


“Apa Yunda mau menggelar pesta pertunangan?” tanya Alea.


“Ng.. ngga usah mi. Dan untuk resepsinya, aku juga ngga mau terlalu mewah.”


“Kamu mau mas kawin apa sayang?”

__ADS_1


“Seperangkat alat shalat aja mi.”


“Yakin cuma itu? Ngga ada yang lain?”


Ayunda hanya mengangguk saja. Dia juga cukup bingung dengan reaksinya sendiri. Padahal dulu dia pernah bercita-cita menggelar pesta pernikahan yang mewah. Mengundang semua teman-temannya, bahkan ingin mengundang boyband K-Pop idolanya sebagai pengisi acara. Tapi malam ini, semua keinginannya seakan menguap begitu saja.


Poppy mempersilahkan semua untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan. Semuanya segera menuju ruang makan. Ayunda bergeming, dia masih duduk di tempatnya semula. Azriel, sahabatnya langsung menghampiri.


“Selamat ya Yun. Akhirnya cita-cita elo jadi nyonya Firlan terkabul juga. Ngga sia-sia lo dulu suka ngancem gue buat minta dicomblangin sama bang Ilan. Ternyata lo bener-bener bisa buat bang Ilan move on dari Salsa dan bucin ama elo,” Azriel tergelak.


Tawa Azriel terhenti ketika merasakan tepukan di belakang kepalanya. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah sang kakak, alias calon pengantin. Dengan gerakan kepala, Firlan meminta Azriel pergi. Sambil memanyunkan bibirnya, Azriel pergi meninggalkan calon pengantin. Firlan kemudian duduk di samping Ayunda.


“Bang Ilan kok ngga bilang-bilang sih mau ngelamar malam ini.”


“Biar surprise aja. Emang kenapa? Kamu ngga suka?”


“Bukannya gitu, kaget aja tau. Untung aku ngga punya riwayat penyakit jantung. Kan ngga lucu kalau Yunda kena serangan jantung gara-gara kaget dilamar dadakan sama bang Ilan.”


“Hush kamu tuh kalau ngomong,” Firlan terkekeh seraya mengusap puncak kepala Ayunda.


Ayunda memandangi lekat-lekat wajah Firlan. Biasanya kalau pria di sampingnya ini mengusap puncak kepalanya, tanpa dikomando jantungnya akan berdetak dengan kencang. Tapi kali ini biasa saja. Malah Firlan terlihat seperti Elang atau Farel di matanya.


“Lan, bisa bicara sebentar?”


Firlan menoleh ke arah samping, Elang berdiri tak jauh dari sofa tempatnya duduk. Tanpa menunggu jawaban Firlan, Elang melangkahkan kakinya menuju teras. Firlan pun segera menyusulnya.


“Ada apa El?”


“Gue titip Yunda. Tapi inget, kalian belum muhrim, jadi tolong jaga dia dengan baik sampai kalian menikah. Gue harap lo bisa menahan diri untuk ngga menyentuh dia dulu. Gue bisa percaya elo kan?”


“Iya El, tenang aja. Gue akan jaga Yunda sampai waktu pernikahan tiba. Gue ngga akan mengkhianati kepercayaan elo.”


“Thanks Lan.”


Elang menepuk pelan bahu sahabatnya ini yang dalam waktu dua bulan ke depan akan berganti status. Firlan tersenyum ke arah Elang. Dalam hatinya tak menyangka, sahabatnya ini akan menjadi kakak iparnya.


Keramaian dan kebahagiaan di rumah Irzal berbanding terbalik dengan kediaman Regan. Suasana sepi meliputi rumah tersebut. Regan dan Sarah memilih menghabiskan malam di kamar sambil menonton televisi. Demikian juga Reyhan, sedari sore dia tak keluar dari kamarnya.


Reyhan berdiri di balkon kamarnya memandangi langit malam yang terlihat begitu gelap, segelap hatinya saat ini. Kemudian dia menangkap sosok yang sangat dirindukannya. Ayunda nampak berjalan-jalan di teras rumahnya. Tak lama muncul Firlan mendekatinya. Keduanya terlihat bercakap-cakap sebentar kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


Reyhan memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Hatinya menjerit, hanya bisa melihat wanita yang dicintainya dari kejauhan di dalam pekatnya malam. Kepalanya mendongak ke atas, mencoba menahan genangan air yang sudah memenuhi kedua matanya.


Semoga kamu berbahagia dengan pilihanmu Ay. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Kamu adalah wanita terindah yang pernah hadir dalam hidupku. I love you, Ay..ang.


🍁🍁🍁


**Mamake nyesek nulis part ini🤧


Buat fans kak Rey, peace✌️


Mamake pergi dulu ya🏃🏃🏃🏃🏃


Jangan lupa loh..


Like..


Comment..


Vote**...

__ADS_1


__ADS_2