Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Andai Saja


__ADS_3

Reyhan datang berdua dengan Helga. Ayah Helga, Fredi Bobic adalah salah satu rekan kerja Fahri. Jadi wajar saja gadis itu datang ke pesta pernikahan sebagai wakil sang ayah.


Ayunda memindai penampilan Helga dari atas sampai bawah. Wanita berdarah campuran Indo-Jerman itu memang cantik. Tubuh tinggi langsingnya terbalut gaun panjang tanpa lengan berwarna maroon, sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Rambut coklat panjangnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai begitu saja. Sialnya dia terlihat begitu serasi bersanding dengan Reyhan.


“Widih bang Rey dateng sama siapa tuh? Bening bener... bisa aja bang Rey cari pendamping, biar ngga disangka jomblo terus kali ya.”


Dada Ayunda bergemuruh hebat mendengar komen Azriel. Ingin rasanya dia mencekoki mulut sahabatnya itu dengan cengek jablai satu ton.


Reyhan dan Helga menuju pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Mereka juga sempat foto bersama dengan pasangan pengantin membuat hati Ayunda bertambah panas.


Mata Ayunda terus mengikuti pergerakan Reyhan dan Helga. Kini keduanya menghampiri Regan. Dada Ayunda bertambah sesak melihat keakraban Helga dan Regan. Tangannya terkepal keras di bawah meja. Sudah tak dipedulikannya lagi suara merdu Elang menyanyikan salah satu lagu kesukaannya. Kini pikiran dan seluruh panca indranya hanya tertuju pada Reyhan dan Helga.


Setelah berbincang dengan Regan, Reyhan mengajak Helga mencicipi hidangan. Mereka berjalan menyusuri deretan stall yang menyajikan aneka menu baik nusantara ataupun manca negara. Helga memilih lasagna sedang Reyhan memilih kambing guling. Mereka kemudian menuju meja yang letaknya tak jauh dari meja Ayunda. Mata Ayunda terus saja mengawasi kedua orang itu.


“Kok belum makan?”


Pertanyaan Firlan sukses mengejutkan Ayunda. Mengalihkan perhatian Ayunda dari dua orang yang membuat hatinya panas.


“Aku males jalan. Bang Ilan aja yang ambilin.”


“Kamu mau apa?”


“Hmm.. aku mau mie kocok sama dimsum.”


“Udah itu aja? Ngga mau tambah yang lain?”


“Ish bang Ilan, emangnya perut Yunda gentong apa.”


Firlan tergelak, dia mengusap puncak kepala Ayunda kemudian berlalu menuju stall untuk mengambilkan pesanan kekasih hatinya. Tak butuh waktu lama bagi Firlan untuk mendapatkan pesanan Ayunda. Diletakkannya pesanan Ayunda di atas meja.


“Loh buat bang Ilan mana?”


“Nanti aja. Tanganku kan cuma dua Yun. Udah dipake buat bawa pesanan kamu.”


Ayunda hanya nyengir kuda mendengar jawaban calon imamnya ini. Ada rasa bersalah menyusup dalam hatinya.


“Kita makan bareng aja ya.”


Firlan mengangguk lalu duduk di sebelah kanan Ayunda. Firlan sengaja duduk di sebelah kanan demi menghalangi Azriel yang memang duduk di sisi kanan gadis itu. Azriel berdecih sebal melihat sikap posesif Firlan. Dia bertambah sebal melihat adegan suap-suapan kakak dan sahabatnya itu. Tak ingin menjadi obat nyamuk tak berasap, Azriel bergegas meninggalkan tempat tersebut.


Firlan menyuapi Ayunda mie kocok bergantian dengan dirinya. Tentu saja hati Firlan berbunga-bunga jadinya. Berbeda dengan Ayunda yang berharap adegan suap-suapannya terlihat oleh Reyhan. Dan ternyata harapannya menjadi kenyataan. Reyhan tanpa sengaja melihat ke arah Ayunda ketika sedang menerima suapan dari Firlan. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci.


“Aku senang kamu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan TUM university.”


Ucapan Helga membuat Reyhan memalingkan pandangan ke wanita di sebelahnya. dan itu sukses membuat Ayunda dongkol. Dia menolak suapan dari Firlan dengan alasan kenyang. Kenyang karena rasa cemburu maksudnya.


“Kamu mau apa lagi?”


“Es krim.”


“Siap tuan putri.”


Firlan berdiri kemudian menuju stall es krim. Ayunda memang membutuhkan camilan dingin itu untuk menurunkan suhu otaknya yang sudah sampai di titik didih. Sekali lagi dia melirik ke arah Reyhan yang asik berbicara dengan Helga. Dengan kesal diambilnya ponsel dari dalam tasnya lalu mengetikkan sebuah pesan.


Ponsel Reyhan bergetar. Pria itu merogoh saku celananya lalu mengambil ponsel tersebut. Keningnya berkerut melihat sebuah pesan dari Ayunda masuk.


From Ay..ang :


Cantik.

__ADS_1


To Ay..ang :


Siapa?


From Ay..ang :


Yang di sebelah kak Rey.


To Ay..ang :


Cantikan kamu.


From Ay..ang :


Cih gombal. Bagusan si blacan kemana-mana lah.


To Ay..ang :


Blacan???


From Ay..ang :


Blasteran Cantik.


Reyhan hampir saja tergelak membaca pesan dari Ayunda. Dia menutup mulutnya dengan tangannya yang terkepal.


To Ay..ang :


Jealous?


From Ay..ang :


Ngga.. cuma kaget aja, ternyata kak Rey cepet juga ya move on-nya. Pinter juga cari pengganti yang cantik, sexy bin bohay. Apalah arti diriku ini yang seperti butiran debu kalau disandingkan sama si blacan.


To Ay..ang :


Aku mau nyanyi Ay... simak liriknya baik-baik. Itu lagu khusus buat kamu.


Reyhan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Setelah berpamitan dengan Helga, dia berjalan menuju panggung tempat pengisi acara. Dia berbicara sebentar dengan band pengiring kemudian menarik sebuah kursi di depan stand mic. Mengatur posisi mic kemudian duduk di kursi tersebut.


“Selamat siang semua.”


Suara Reyhan terdengar ke seluruh ruangan, membuat tamu yang hadir melayangkan pandangan ke arahnya, tak terkecuali Ayunda. Firlan yang baru saja datang membawakan es krim untuk Ayunda ikut melihat ke arah dokter bedah itu.


“Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan saya menyanyikan sebuah lagu. Mohon maaf sebelumnya kalau suara saya tidak sebagus vocalis Soul Castle karena saya bukan vocalis.”


Terdengar tawa dari beberapa tamu yang hadir. Rain yang tengah berada di tempat penerima tamu bergegas menuju ke dekat panggung begitu mendengar suara sang adik. Dia cukup terkejut melihat Reyhan mau bernyanyi di depan umum.


“Saya hanya ingin menghibur pasangan pengantin yang juga sahabat saya. Namun tanpa mengurangi rasa hormat pada kalian berdua, lagu yang saya nyanyikan bukan untuk kalian. Tapi untuk gadis yang sangat saya cintai. Lewat lagu ini, saya ingin menyampaikan suara hati saya saat ini.”


Band pengiring mulai memainkan musik. Sebuah alunan lagu berirama sedang mulai terdengar ke seantero ruangan. Reyhan pun bersiap di depan mic.


Andai saja kau masih sendiri


Ku akan jadi bagian hidupmu


Karena aku pun kini sendiri... sendiri


Yang sesungguhnya kau telah berdua

__ADS_1


Bahagia dengan dirinya


Aku hanya bisa bersedih... bersedih


Andai saja aku jadi milikmu


Andai saja kau pun mencintaiku


Ku’kan akhiri kesendirianku ini


Yang sesungguhnya kau telah berdua


Bahagia dengan dirinya


Aku hanya bisa bersedih... bersedih


Reyhan menjeda nyanyiaannya, hanya alunan musik saja yang terdengar. Semua tamu cukup menikmati penampilannya, walau suaranya tak semerdu Elang namun masih enak didengar telinga.


Dari mulai lirik pertama, mata Reyhan terus menatap ke arah Ayunda. Dia benar-benar ingin mencurahkan isi hatinya lewat lagu yang dinyanyikannya. Dia bahkan tak peduli jika semua orang tahu tentang perasaannya pada gadis itu, termasuk Firlan.


Ayunda pun tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Reyhan. Dia tak mempedulikan suara Reyhan yang terkadang sumbang, hanya meresapi lirik demi lirik yang keluar dari bibir pria itu. Rasa bahagia sekaligus pedih menghantam hatinya.


Tanpa kedua orang itu sadari, Firlan memperhatikan mereka berdua. Bagaimana keduanya saling menatap, pandangan keduanya yang sarat akan makna yang tak dipahaminya. Ada rasa cemburu, marah sekaligus cemas di hatinya. Jangan-jangan pria yang Ayunda cintai itu Reyhan, bukan dirinya.


Andai saja aku jadi milikmu


Andai saja kau pun mencintaiku


Ku’kan akhiri kesendirianku ini


Andai saja kamu putus dengannya


Andai saja kau akhiri dengannya


Ku kan gantikan dirinya untukmu


Jadi kekasihmu oh


Nyanyian Reyhan berakhir diiringi tepukan tangan semua yang hadir. Rain yang sedari tadi berdiri di depan panggung menatap sang adik dengan mata berkaca-kaca. Reyhan turun dari panggung, berjalan ke arah Rain. Tanpa bicara Rain langsung memeluk Reyhan, airmatanya meleleh, seakan dia juga turut merasakan kesedihan sang adik. Reyhan mengurai pelukannya lalu menghapus airmata Rain.


“Kok lo yang nangis sih,” Reyhan terkekeh berusaha menyembunyikan gejolak hatinya.


“Gue masih berharap lo bisa bersamanya Rey.”


Rain kembali memeluk Reyhan, dia cukup paham bagaimana perasaan adiknya. Reyhan berusaha untuk tegar, menahan airmatanya yang mungkin saja akan keluar. Akhtar menghampiri mereka lalu menepuk bahu Reyhan pelan. Rain melepaskan pelukannya lalu beralih ke pelukan suaminya.


“Sabar Rey,” ucap Akhtar.


Orang-orang yang ada di ruangan, jika tidak mengetahui hubungan mereka bertiga bisa jadi mengira lagu itu untuk Rain.


Elang memandangi Reyhan dari kejauhan, seakan tahu apa yang dirasakan pria itu karena dia juga pernah berada di posisi itu. Irzal memperhatikan semua dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan. Regan dan Sarah hanya menatap sendu ke arah anaknya.


Sementara itu Ayunda juga merasakan rasa sesak yang sama. Matanya pun berkaca-kaca. Dengan cepat dia meninggalkan ruangan tanpa mempedulikan panggilan Firlan. Ayunda terus berlari menyusuri lobi hotel lalu berjalan menuju jalan penghubung ke arah apartemen. Langkahnya terhenti di kolam renang yang sepi. Di sana gadis itu menumpahkan tangisnya.


Firlan terus mengejar Ayunda. Beberapa kali dia hampir menabrak orang yang dilaluinya. Sampai akhirnya dia berhenti di depan kolam renang, menatap Ayunda yang sedang membelakanginya. Punggung gadis itu tampak bergetar, menandakan tengah menangis. Firlan berjalan mendekat lalu membalikkan tubuh Ayunda ke arahnya. Mata gadis itu sudah bersimbah airmata. Langsung saja Firlan menarik Ayunda ke dalam pelukannya. Kini Ayunda menangis dalam pelukan Filran. Hati Firlan mencelos mengetahui untuk siapa airmata itu berderai.


🍁🍁🍁


**Mamake speechless🤐

__ADS_1


Silahkan kalian saja yang berkomentar.


Ditunggu like, comment and vote nya. Doakan mamake bisa up lagi nanti malam😉**


__ADS_2