
Firly berlari ke dalam kamarnya begitu memasuki unit apartemen. Ega yang sedang menonton televisi di ruang tengah terkejut melihat anaknya yang bersimbah airmata. Dia baru saja akan mengetuk pintu kamar Firly ketika terdengar suara bel. Lagi-lagi dia melihat Dimas berdiri di depan pintu unitnya.
“Ada apa dengan Firly? Apa kamu yang sudah membuatnya menangis?”
Ega mencengkeram kerah kemeja Dimas. Tak rela rasanya melihat anak gadisnya menangis seperti itu.
“Aku hanya melakukan permintaan abang dan kak Alea untuk melepasnya.”
Cengekeraman tangan Ega mengendur kemudian terlepas. Tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku sudah penuhi permintaan abang. Tolong penuhi permintaanku. Jaga Ily bang, jangan biarkan dia menangis sendirian. Mungkin awalnya akan sulit untuknya tapi seperti yang abang bilang, umurnya masih muda dan jalannya masih panjang. Aku percaya seiring berjalannya waktu Ily akan melupakan perasaannya padaku.
Jangan biarkan Ily bersama Radja, karena dia bukan lelaki baik-baik. Aku ikhlas melepasnya dan aku percaya abang akan menemukan jodoh yang baik untuknya. Dan satu lagi, pulanglah bang. Kak Alea sedang sakit dan dia membutuhkan abang dan anak-anak. Maafkan aku yang sudah menjadi duri dalam keluarga kalian.”
Dimas mengeluarkan kalung dan gelang dari saku celananya kemudian memberikannya pada Ega.
“Tolong berikan ini pada Ily. Kalau dia tidak mau memakainya lagi, dia boleh memberikannya pada orang yang membutuhkan. Aku pamit bang, sampaikan salamku untuk Ilan dan Ziel.”
Dimas meninggalkan Ega yang masih terpaku. Hatinya seperti terhantam batu besar, hancur berkeping-keping. Melepaskan wanita yang dicintai bukanlah hal mudah. Akhirnya dia kembali merasakan sakitnya kehilangan orang yang dicintai. Dulu Sissy yang meninggalkannya, kini dia yang harus pergi.
Sementara itu di dalam kamar Firly masih terus menangis, Firlan dan Azriel sedari tadi terus mencoba menghiburnya namun tangis gadis itu tak kunjung reda. Ega masuk ke dalam kamar kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang. Dibelainya puncak kepala Firly yang masih menangkupkan wajahnya ke bantal sambil menangis. Firly mengangkat kepalanya, lalu menghambur ke dalam pelukan Ega.
“Papi hiks.. hiks.. om Dimas jahat pi. Papi benar harusnya aku ngga menjalin hubungan dengannya hiks.. hiks.. dia jahat pi.. Ily benci om Dimas hiks.. hiks..”
Kerongkongan Ega serasa tercekat. Ega membelai kepala Firly, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Jujur hatinya mencelos melihat begitu terlukanya Firly. Seharusnya dia senang karena Dimas mengabulkan permintaannya untuk meninggalkan Firly. Tapi ternyata hanya sakit yang dirasakannya.
“Ily.”
Semua yang ada di kamar menoleh ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya. Alea berdiri di depan pintu. Firly melepaskan diri dari Ega lalu menghambur ke dalam pelukan Alea.
“Mami maafin Ily mi hiks.. maafin Ily hiks.. hiks.. Ily udah jadi anak durhaka ngga mau denger apa kata mami hiks.. hiks.. mami benar, om Dimas jahat, dia ngga pantes untuk Ily.. Ily benci dia mi hiks.. hiks..”
Alea tertegun, dipandanginya Ega yang hanya diam menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada segurat senyum tipis menyungging di bibirnya. Ternyata Dimas benar-benar mengabulkan keinginannya.
🍁🍁🍁
“Kamu bercanda kan Dim?”
Poppy terkejut mendengar penuturan Dimas tentang rencananya kepindahannya juga Ara ke Milan. Bukan hanya Poppy, semua yang ada di rumah Poppy terkejut mendengarnya.
“Kenapa mendadak Dim? Terus perusahaan kamu di sini gimana?”
“Perusahaan sementara Ringgo dan Arini yang handle kak. Aku mau fokus sama restoran yang di Milan sama yang di London.”
“Terus Ara?”
“Ara ikut aku teh. Aku juga udah urus kepindahannya. Mungkin di sana home schooling dulu. Kalau Ara udah bisa adaptasi, baru aku masukin ke sekolah reguler.”
“Lalu Ily?” suara Poppy terdengar lirih. Dimas menelan ludahnya kelat, untuk hal ini dia tak bisa membohongi kakaknya.
“Aku dan Ily sudah berpisah teh.”
Semua terdiam, suasana hening sejenak. Hati Poppy mencelos melihat duka di mata adiknya. Tiba-tiba suara Ara yang baru saja datang bersama Ayunda memecah kesunyian.
“Papa kapan dateng?” Ara langsung meloncat ke tubuh Dimas.
__ADS_1
“Baru aja sayang.”
“Ara beneran mau ikut papa ke Milan?” Poppy ingin mendengar keputusan Ara soal rencana Dimas.
“Iya bunda, Ara mau ikut papa. Kasihan papa kalau Ara ngga ikut. Nanti papa sendirian di sana.”
“Kalau begitu ayo kita belanja. Sebentar lagi di sana musim gugur sama musim dingin, kita beli jaket dan baju tebal buat Ara ya,” Irzal mengambil Ara dari pangkuan Dimas lalu menggendongnya.
“Anak-anak, ayo kalian ikut juga.”
Irzal memberi kode pada anak-anaknya agar ikut bersamanya untuk memberi waktu bundanya bersama sang adik. Elang, Farel dan Yunda segera bersiap-siap. Tak lama kemudian mereka siap lalu pergi untuk berbelanja. Tinggalah Poppy dan Dimas di sana.
“Apa kamu serius dengan keputusanmu Dim?”
“In Syaa Allah, doakan saja ini yang terbaik buatku juga Ara.”
“Tapi kenapa harus ke Milan? Apa ngga bisa kamu tetap tinggal di Bandung? Kalau untuk menghindari Ily ngga harus pergi sejauh itu.”
“Kalau aku tetap di sini bagaimana aku bisa melupakannya teh?”
“Apa dengan tinggal di sana kamu yakin bisa melupakannya?” Poppy menatap lekat wajah adiknya.
“Aku ngga tahu teh, ngga tahu.”
Dimas berbaring lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Poppy. Matanya berkaca-kaca, kesedihan yang beberapa hari ini coba ditahannya akhirnya pecah juga. Poppy mengusap pelan kepala adiknya ini.
“Kenapa harus selalu kamu yang mengalah Dim? Kenapa harus selalu kamu yang berkorban? Tidak bisakah kamu egois sekali ini saja. Baru saja teteh melihatmu tersenyum, baru saja teteh melihat cinta di matamu lagi. Teteh tahu ketika kamu mencintai seseorang, maka tidak akan mudah bagimu untuk melupakannya begitu saja. Apa kamu yakin akan baik-baik saja? Jangan pergi Dim, kejar terus cintamu.”
“Aku ngga mau bahagia di atas penderitaan orang lain. Aku tidak mau menjadi jurang pemisah hubungan anak dengan orang tuanya. Ily juga tidak akan bahagia kalau seperti itu. Aku yakin Ily akan baik-baik saja, dia gadis yang kuat. Cepat atau lambat dia akan menemukan laki-laki yang baik.”
“Maka kuatkan aku dengan doamu teh.”
Dimas menggenggam erat tangan Poppy seakan meminta kekuatan dari genggaman tersebut. Airmata Poppy jatuh berderai. Sekali lagi dia harus terpisah jarak dan waktu dengan adiknya.
“Dulu juga teteh pergi untuk menyembuhkan luka. Sekarang biarkan aku pergi untuk menutup luka dan menguatkan hati. Kalau aku sudah pulih, aku janji akan kembali secepatnya.”
“Setelah papa dan mama pergi, cuma kamu yang teteh punya.”
“Kata siapa? Teteh masih punya kak Irzal yang sangat mencintai teteh, masih ada Elang, Yunda, Farel dan Rena. Semua sahabat teteh juga akan berada di samping teteh.”
Dimas bangun lalu memeluk kakaknya. Tangis Poppy pecah dalam pelukan Dimas. Dia sungguh tak rela harus berpisah lagi dengan adik kesayangannya itu.
🍁🍁🍁
Sabtu pagi semua sudah berkumpul di kediaman Dimas untuk melepas kepergiannya. Regan beserta keluarga juga datang, ditambah keluarga Adit dan Nino. Nampak wajah-wajah sedih para keponakannya yang tak rela ditinggal oleh Dimas. Rena yang baru datang bersama anak dan suaminya langsung menghampiri Dimas.
“Rese! Rese! Rese! Kenapa lo harus pergi hah?” Rena memukuli lengan Dimas dengan kesal. Lelaki itu mencoba menghindar dengan bersembunyi dibalik Poppy.
“Sakit Ren. Lo ngga nyadar apa pukulan lo tuh kaya samsonwati?”
“Rese lo! Kenapa baru bilang kalau mau pergi?”
“Kalau gue bilang dari kemaren pasti gue batal pergi. Lo kan punya banyak akal bulus buat ngegagalin rencana gue,” Dimas terkekeh.
“Lo tega Dim. Sissy udah pergi ninggalin gue selamanya, sekarang lo juga pergi ninggalin gue,” Rena mulai menangis.
__ADS_1
Dimas tertegun melihat kekecewaan dan kesedihan di mata sahabatnya. Ditariknya Rena dalam pelukannya. Untuk sesaat kedua sahabat itu saling berpelukan dan mencurahkan kesedihannya. Sudut mata Dimas membasah. Tak dipungkiri Rena adalah salah seorang yang penting dalam hidupnya. Dirinya selalu setia mendampingi saat Dimas kehilangan belahan jiwanya.
“Lo beneran mau pergi? Kalau lo pergi gue curhat ke siapa kalau lagi sebel ama laki gue? Terus kalau anak-anak gue susah makan, gue mau minta masakin sama siapa.”
“Dasar sahabat durjana lo! Butuh gue pas susahnya aja,” Dimas menoyor kepala Rena.
“Woi kepala gue difitrahin nih ma laki gue,” Rena balas memukul lengan Dimas.
“Sakit pea! Ngga nyadar punya tenaga kuli.”
Rena menarik lengan kemeja Dimas lalu mengelap cairan bening yang berasal dari hidungnya di sana.
'
“Rena!!! Kebiasaan lo ngelapin ingus di baju gue.”
“Biarin. Itu kenang-kenangan dari gue. Awas tuh baju jangan dicuci, pajang di lemari.”
“Najis!”
Suasana yang tadi mengharu biru ambyar sudah. Begitulah kelakuan kedua sahabat itu. Suasana yang awalnya sedih atau serius akan berakhir kacau dengan ke-absurd-an mereka.
Dimas menyalami satu per satu orang yang sudah menjadi bagian hidupnya selama ini. Ayunda menangis, tak rela berpisah dengan omnya juga Ara. Rain juga tak kalah sedih, sesekali gadis itu menyeka airmatanya. Terlebih Dimas memaksanya berjanji untuk tidak mengatakan pada Firly perihal kepergiannya.
“Dim, gue ikut nganter ke Jakarta ya.”
“Kaga boleh. Tar lo buat keributan yang bikin gue ditendang dari bandara. Gue udah khatam semua akal bulus lo Ren.”
Rena mencebikkan bibirnya. Fahri merangkul istrinya ini, mengusap lengannya dengan lembut. Dia tahu pasti Rena sangat sedih berpisah jauh dengan sang sahabat.
Dimas masuk ke dalam mobil setelah Poppy dan Ara. Poppy dan Irzal akan mengantarnya ke Jakarta. Irzal sendiri sudah duduk di samping kursi pengemudi. Dia membiarkan istrinya menghabiskan waktu lebih banyak dengan adik juga keponakannya. Pak Tono menyalakan mesin mobil, tak lama kendaraan itu melaju. Sepanjang perjalanan Poppy tak melepaskan Dimas dan Ara dari pelukannya.
Drama kembali terjadi ketika Poppy melepas Dimas dan Ara untuk terakhir kalinya. Lagi-lagi wanita itu menangis tersedu. Terlebih ini pertama kalinya dia berjauhan dengan Ara. Poppy tetap berdiri melihat adik dan keponakannya masuk ke ruang tunggu penumpang. Setelah tubuh keduanya menghilang, barulah dia melangkah pergi.
Irzal memeluk tubuh Poppy yang kembali menangis saat perjalanan pulang. Beberapa kali diciumnya puncak kepala sang istri.
“Jangan menanggis lagi sayang.”
“Kenapa Dimas harus pergi a hiks..”
“Biarkan dia menenangkan diri dulu. Kalau dia sudah tenang, aa janji akan membawanya pulang.”
“Aa janji?”
“Hmm.. aa pasti akan membawa Ara dan Dimas pulang sayang.”
Poppy memeluk pinggang suaminya. Kepalanya masih tenggelam di dada bidangnya. Beberapa menit kemudian dia sudah tertidur.
🍁🍁🍁
Sedih banget kalau harus berpisah sama orang yang kita sayang ya🤧
Ditunggu aja ya like, comment and vote nya biar mamake ngga sedih lagi😁
Buat readers tercinta mohon maaf untuk beberapa hari ke depan mamake ngga bisa up sesering mungkin tapi akan diusahakan up satu episode setiap hari. Mohon maaf sebelumnya karena ada kesibukan di dunia nyata yang ngga bisa ditinggalkan🙏🙏🙏
__ADS_1