Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Pembalasan Rain


__ADS_3

“Sejauh apa mas berpacaran dengan kak Lissa? Apa sampai....”


“Ngga sayang, kalau maksudmu sampai tidur bersama ngga pernah. Cuma mas memang pernah melakukan kesalahan yang sampai saat ini mas sesali.”


Akhtar menjeda ucapannya. Dia sudah memantapkan hati untuk menceritakan semuanya pada Rain. Karena tak ingin terus menerus berada dalam ancaman Chalissa. Akhtar menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum mengakui perbuatannya.


“Aku pernah membantu Lissa pelepasan.”


Rain cukup terkejut dengan pengakuan suaminya. Kecewa, itu yang dirasakannya kini. Dia tak menyangka Akhtar sejauh itu ketika berhubungan dengan Chalissa. Refleks Rain membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya. Ditariknya selimut sampai menutupi ke batas leher. Akhtar ikut masuk ke dalam selimut lalu memeluk istrinya.


“Rain, kamu marah? Maafkan mas.”


“Kapan mas melakukan itu? Berapa kali?”


“Hanya sekali Rain, waktu itu mas benar-benar khilaf karena dia terus saja memancing mas. Itu terjadi sehari sebelum papanya membatalkan pernikahannya.”


Rain memejamkan matanya. Bayang-bayang Akhtar menyentuh bagian intim Chalissa menari-nari di pelupuk matanya. Akhtar menyurukkan wajahnya ke punggung istrinya. Dikecupnya beberapa kali punggung polos itu sambil bibirnya tak henti mengucapkan kata maaf.


Tiba-tiba ponsel Akhtar bergetar. Posisi ponsel yang berada di nakas dekat Rain berbaring, membuat wanita itu bisa melihat siapa yang menelpon. Seketika darah Rain mendidih melihat nama yang terpampang. Dengan cepat dia mematikan sambungan. Tak berapa lama ponsel kembali bergetar, sepertinya Chalissa masih belum menyerah.


Sesaat setelah memutuskan panggilan, Rain mendapat ide. Dia menaruh ponsel di tempat yang dapat menjangkau mereka berdua. Lalu membalikkan tubuhnya menjadi telentang.


“Bagaimana cara mas membuatnya pelepasan?”


“Maksudnya?”


“Tunjukkan padaku apa yang mas lakukan saat itu.”


“Kamu yakin?”


Rain mengangguk dengan yakin. Akhtar pun mengubah posisi berbaring berada di atas istrinya lalu mulai mencumbu dari mulai leher hingga ke bukit kembarnya. Tangan Rain menggapai ponsel lalu menekan panggilan video pada Chalissa. Dengan cepat panggilan langsung terjawab. Wajah Chalissa memenuhi layar ponsel. Wajah cerianya berubah menjadi kemarahan ketika melihat adegan di depannya. Akhtar terus menciumi istrinya, tangannya mulai bergerak ke arah bawah Rain lalu bermain di sana.


“Aaahh maassss,” sebisa mungkin Rain membuat suaranya seerotis mungkin.


Tangan Chalissa mengepal keras melihatnya. Kemudian Rain menyentuh senjata pusaka sang suami dari balik selimut, hingga Akhtar mengerang. Suasana keduanya menjadi semakin panas.


“Rain... oh kamu membuatku gila sayang... Rain... aahh.. I love you, love you so much.”


Tak tahan dengan tontonan di layar ponselnya Chalissa mengakhiri panggilan. Rain tersenyum, usahanya membalas Chalissa berhasil. Dia terpekik ketika Akhtar mempercepat gerakannya hingga akhirnya merasakan pelepasan. Akhtar mencium bibir Rain dengan lembut. Bermain dengan istrinya benar-benar nikmat luar biasa.


🍁🍁🍁


Entah Rain harus merasa senang atau menyesal telah meminta Nino memberikan cuti untuk suaminya. Karena sedari pagi Akhtar tak mengijinkannya turun dari ranjang. Aktivitas ranjang mereka benar-benar berakhir saat menjelang maghrib. Mungkin saja setelah ini mereka berdua akan terkena flu karena harus mandi berkali-kali.


Malam harinya Akhtar mengajak Rain berjalan-jalan seputar kota Bandung. Dia benar-benar ingin mengganti waktu yang telah disia-siakan sebelumnya. Pasangan muda ini berjalan menyusuri jalan Asia Afrika sambil bergandengan tangan. Jari jemari mereka saling bertautan erat. Sesekali Rain merapat padanya ketika ada pekerja seni jalanan yang berdandan ala hantu mendekatinya.


Beberapa kali mereka mengabadikan kebersamaannya. Kemudian mencicipi jajanan pinggir jalan yang menyajikan beraneka macam menu. Sesekali Akhtar mencuri ciuman di pipi atau puncak kepala istrinya. Lelah berjalan, mereka memutuskan beristirahat sambil mengisi perut di salah satu cafe.


Akhtar bahagia melihat wajah istrinya yang tak berhenti tersenyum. Ditariknya tangan Rain lalu memberikan kecupan di punggung tangannya. Lama Rain memandangi wajah suaminya. Perlakuan manis nan romantis darinya membuatnya benar-benar bahagia. Lamunannya terhenti ketika pelayan membawakan pesanan mereka. Akhtar memotongi steak di piringnya kemudian memberikan pada istrinya.


“Makasih mas.”


“Anything for you honey.”


“Mas emang aslinya gombal banget ya.”

__ADS_1


“Gombal sama istri sendiri halal kan?”


Rain tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya membuat Akhtar gemas. Kalau bukan di tempat umum, mungkin sudah dilumatnya bibir itu tanpa bersisa. Selama makan malam, Akhtar tak lepas menggenggam tangan Rain. Terlalu cepat bucin? Entahlah, mungkin itu karma baginya.


Puas berjalan-jalan dan menikmati makan malam, mereka memutuskan pulang karena waktu juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Selama dalam perjalanan Akhtar tak juga melepaskan genggamannya. Hati Rain seperti dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan. Mungkin ini adalah buah dari kesabarannya selama ini.


Saking asiknya dengan pikirannya sendiri, Rain tak menyadari kalau mobil mereka sudah memasuki basement apartemen. Akhtar menyentil pelan dahi istrinya, menyadarkannya dari lamunan.


“Mikirin apa hem?”


“Ngga. Mas, ini beneran mas Akhtar yang aku nikahi tiga minggu lalu? Mas Akhtar mantannya kak Lissa, anaknya papa Nino?”


“Bukan, mas itu penunggu pohon gede yang ada di depan gedung apartemen,” kesal Akhtar.


“Ish.. jangan ngomongin begituan malem-malem.”


“Lagian kamu nanya aneh-aneh aja deh.”


“Aku penasaran aja. Apa benar semua ini nyata, mimpi atau khayalanku aja.”


Akhtar yang tahu arah pembicaraan istrinya segera melepaskan tali sabuk pengaman miliknya juga Rain. Kemudian mendekatkan tubuhnya. Akhtar menarik tengkuk Rain kemudian memagut bibir ranum yang sedari tadi menggodanya.


“Masih belum percaya kalau ini nyata?”


Tak ada jawaban dari Rain. Dia hanya mengerjap-ngerjapkan matanya saja. Akhtar mengangkat tubuh Rain lalu mendudukkan di pangkuannya. Pandangan keduanya bertemu dan saling mengunci. Lagi, Akhtar memagut bibir indah itu. Kini Rain mulai membalasnya. Di basement yang sepi, kedua insan itu asik bercumbu.


🍁🍁🍁


Rumah tangga Rain berjalan layaknya pasangan normal lainnya. Akhtar bersungguh-sungguh dengan janjinya kali ini, ingin menjadi suami seutuhnya bagi Rain. Berpuluh pesan dan panggilan dari Chalissa tak pernah dihiraukannya. Bahkan berbagai ancaman sudah wanita itu lontarkan pula, namun Akhtar bergeming. Baginya, kehilangan istri lebih menakutkan dibanding ancaman Chalissa.


“Akhtar... aku ingin bertemu, siang ini di tempat biasa. Kalau kamu masih belum mau datang maka video berikutnya adalah rekaman diriku meregang nyawa karena pisau ini.”


Akhtar menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Belum tuntas masalah pekerjaan yang menunggunya kini Chalissa sudah mengganggunya dengan ancaman bunuh diri. Akhtar tahu Chalissa orang yang cukup nekad. Dulu waktu mereka sempat break, Chalissa hampir sempat bunuh diri kalau Akhtar tak ingin kembali padanya.


Lamunan Akhtar terhenti ketika pintu ruangannya terbuka. Wajah cantik Rain terlihat dan seketika membuat hatinya galau kembali membaik. Akhtar melambaikan tangannya meminta Rain mendekat padanya. Dengan sekali tarikan, tubuh Rain jatuh ke pangkuannya. Akhtar memeluk erat istrinya, menghidu aromanya yang selalu dapat menenangkannya.


“Kenapa mas?”


“Lissa.”


“Kenapa Lissa?”


Akhtar mengambil ponselnya kemudian memutar video yang tadi diterimanya. Rain mengamati video tersebut baik-baik, video yang sudah dilihatnya juga melalui ponselnya.


“Apa kamu ijinin mas buat menemuinya?”


“Ngga.”


“Mas cuma takut kalau dia membuktikan ancamannya. Dulu waktu masih pacaran, mas sempat dua kali break. Dan waktu itu dia mengancam akan bunuh diri kalau mas benar-benar ingin putus, dan ternyata dia nekad dengan minum obat tidur. Mas takut kalau sekarang dia juga berbuat nekad. Lagi pula mas harus bertemu untuk menegaskan hubungan mas dengannya.”


“Biar aku yang bertemu dengannya.”


“Kamu ngga percaya sama mas?”


“Aku ngga percaya sama dia. Bisa aja dia masukkan sesuatu ke dalam minuman atau makanan mas, yang akhirnya kalian tidur bersama dan dia hamil anak mas.”

__ADS_1


Akhtar tertawa mendengarnya. Dirubahnya posisi duduk Rain di pangkuannya, yang awalnya menyamping menjadi berhadapan. Tangannya menarik pinggang istrinya hingga mereka tak berjarak.


“Kamu mikirnya kejauhan sayang.”


“Lebih baik kejauhan dari pada kedekatan. Aku berpikir jauh karena aku tahu Lissa perempuan licik. Dulu dia berhasil menggoda mas untuk membantunya pelepasan, bukan ngga mungkin sekarang kejadian yang sama akan terulang.”


“Jadi kamu maunya gimana?”


“Biar aku yang menemuinya. Aku akan berbicara dengannya sebagai sesama perempuan. Mas tidak usah berhubungan lagi dengannya. Itu juga kalau mas setuju.”


“Ok, asal kamu berhati-hati dengannya. Dia itu perempuan nekad dan mas ngga mau sesuatu terjadi padamu.”


“Mas tenang aja, aku ngga selemah itu.”


Akhtar menarik tengkuk Rain lalu mencium bibirnya dengan lembut. Posisi keduanya yang begitu intim membuat Akhtar tak puas hanya menciumnya. Tangannya mulai bergerak meraba tubuh istrinya. Ciumannya kini berpindah ke area leher.


“Maaasss, udah ih. Ini di kantor.”


“Eemmm... kamu membuat mas gila sayang. Main sebentar yuk.”


“Ngga.. nanti kalau papa Nino ke sini gimana.”


Rain buru-buru turun dari pangkuan suaminya. Wajah Akhtar memerah menahan sesuatu yang ingin dituntaskan. Rain mengulum senyumnya melihat wajah Akhtar yang begitu menghiba. Tapi mau bagaimana lagi, tak mungkin juga mereka bermain di sofa kantor. bisa berabe urusannya kalau sampai papa Nino, Halbi atau Agni memergoki mereka sedang bermain kuda-kudaan.


“Nanti malem double deh,” bujuk Rain yang tak tega melihat suaminya.


“Bener ya Yang, awas jangan PHP,” wajah Akhtar kembali sumringah.


“Beneran sayangku. Oh iya janjian sekarang aja sama Lissa. Kalian biasa ketemu di mana?”


“Restoran Magnolia.”


“Ok, hubungi dia sekarang.”


Akhtar segera mengirim pesan pada Chalissa yang tak butuh waktu lama langsung mendapat balasan dari wanita itu. Akhtar memperlihatkan isi pesannya pada Rain.


“Ya udah aku pergi sekarang.”


“Hati-hati sayang.”


“Iya mas, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Rain mencium punggung tangan Akhtar sebelum pergi. Akhtar balas dengan mencium kening dan bibir Rain sekilas. Tak menunggu lama Rain meninggalkan ruangan. Akhtar melepas kepergian istrinya dengan harapan semuanya akan baik-baik saja.


🍁🍁🍁


Alhamdulillah bisa menyapa raeders lagi. Mohon maaf karena kondisi mamake yang masih sakit, mamake baru bisa up hari ini. Buat yang nunggu2 kelanjutan kisah Rain n Akhtar sekali lagi mamake minta maaf. Sebagai manusia biasa yg tak luput dari rasa sakit, mamake ngga bisa melawan ketika Allah memberikan rejeki berupa sakit pada mamake. Mohon doanya nya ya readers, supaya kondisi mamake cepat fit dan bisa up seperti biasanya.


Like..


Comment..


Vote..

__ADS_1


__ADS_2