
Di salah satu ruang VIP Marigold restoran seorang wanita berpakaian seksi tengah duduk menikmati secangkir kopi. Dia adalah Tamara Handoyo, mantan istri Andika, kakak pertama Alea. Walau usianya sudah 56 tahun, tapi perempuan ini masih terlihat seksi. Sepadan dengan uang yang dia keluarkan untuk perawatan dan operasi plastik.
Seorang pelayan membukakan pintu lalu masuklah seorang wanita anggun berhijab yang tak lain adalah Poppy. Hari ini dia memilih bertemu langsung dengan Tamara. Sesuai instruksi Irzal, Bara mengawal Poppy dan menunggu di lantai bawah. Poppy duduk berhadapan dengan Tamara. Keduanya saling melayangkan tatapan tajam, seperti ada setrum di kedua mata mereka.
“Apa yang membuat nyonya Irzal Ramadhan ingin bertemu denganku?”
“Tentu saja menyelesaikan urusan kita.”
“Maaf tapi saya tidak punya urusan denganmu.”
“Oh ya? Lalu bagaimana dengan Dimas Saputra? Apa kamu juga tidak punya urusan dengannya? Apa perlu saya ingatkan siapa Dimas dan siapa saya?”
Tamara tertawa keras, dia cukup kagum dengan ketenangan Poppy saat ini yang tidak terintimidasi dengan nama besar Thomas Yudhistira, kekasih gelapnya.
“Apa kamu yakin mau berurusan dengan saya? Hanya dengan satu panggilan saya bisa membuat Thomas melenyapkanmu.”
“Oh ya? Sebelum kamu menyombongkan diri bagaimana kalau kamu mengecek dulu keadaan kekasih gelapmu? Sepertinya dia baru disingkirkan oleh kakak iparnya dalam perebutan kursi kepemimpinan perusahaan. Jangankan untuk membantumu, untuk membantu dirinya sendiri dia tak mampu.”
Tamara yang tak percaya apa yang diucapkan Poppy segera mengambil ponselnya kemudian menelpon asisten Thomas. Wajahnya tampak tegang mendengar penjelasan orang di seberang sana. Thomas Yudhistira diturunkan secara tidak hormat sebagai CEO karena terlibat skandal dan kasus korupsi. Tangan Tamara memegang erat ponselnya, pendukung terkuatnya sudah tak ada lagi dan kini harus berhadapan dengan istri CEO Humanity.
“Apa kamu punya bukti kalau aku yang melakukan semua itu?”
“Kamu memang melakukannya secara tidak langsung. Kamu meminjam tangan Alea untuk menghancurkan adikku. Apa salah Dimas padamu sampai kamu berusaha menghancurkannya?”
“Adikmu hanyalah korban tidak terduga. Dia ibarat kelinci yang masuk dalam perkelahian singa dan buaya. Kehadiran adikmu mempermudah diriku untuk menghancurkan Alea.”
“Kenapa kamu mau menghancurkan Alea? Apa salahnya?”
“Apa salahnya?? Karena dia keluargaku berantakan. Andika menceraikanku, anak-anakku meninggalkanku. Dia harus merasakan apa yang kurasakan, kehilangan suami, ditinggalkan anak-anaknya dan dimusuhi para sahabatnya. Dan sepertinya usahaku akan membuahkan hasil sebentar lagi hahahaha.”
Tamara tertawa puas, pembalasan dendamnya pada Alea membuahkan hasil. Sejauh ini tujuannya hampir mengenai sasarannya. Poppy terdiam menatap perempuan di hadapannya yang masih terbahak. Tanpa disadari Poppy merekam semua ucapannya.
“Kenapa kamu menyalahkan Alea? Justru dia adalah korban. Korban keserakahan suamimu yang ingin menguasai jaringan bisnis Gala Corp.”
“Tapi gara-gara Alea, Andika kehilangan jabatannya. Dia juga menceraikanku dan memilih wanita murahan itu!”
“Bukankah kamu yang lebih dulu berselingkuh hingga akhirnya suamimu mencari kepuasan di luar rumah? Apa yang terjadi dalam rumah tanggamu bukanlah kesalahan Alea tapi murni kesalahanmu. Aku tidak peduli peperanganmu dengan Alea, tapi jangan sentuh adikku! Bersiaplah mendekam di dalam penjara bersama dengan Alea.”
Poppy bangun dari duduknya, sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan wanita licik ini. Saat kakinya akan melangkah keluar, pintu ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya masuk ke dalamnya. Tamara terkejut melihat kedatangan pria tersebut. Pria yang datang atas desakan dari Andra.
__ADS_1
“Kak Stefan.”
“Pulanglah ke rumah Tamara, sudah cukup sepak terjangmu selama ini. Jangan lagi memalukan nama keluarga kita. Aku janji akan mempertemukanmu dengan anak-anakmu. Bu Poppy, saya mohon lepaskan adik saya. Saya akan mengganti semua kerugian yang diderita oleh adik anda. Saya juga akan mengawasi adik saya dengan baik dan menjamin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Atas nama adik saya, tolong maafkan kami.”
“Mama.”
Seorang perempuan masuk sambil menggandeng seorang anak perempuan. Tamara terpaku melihat anak perempuannya yang sudah terpisah 14 tahun lamanya. Lalu pandangannya tertuju pada anak kecil di sampingnya. Anak kecil yang begitu cantik dan menggemaskan.
“Ini Alika, cucu mama.”
Airmata Tamara jatuh bercucuran. Dipeluknya anak juga cucunya sambil menangis tersedu. Kerinduan mendalam pada anak-anaknya telah membuat Tamara buta hingga terjerumus dalam dendam yang tak pada tempatnya.
“Poppy maafkan aku. Maaf karena keegoisanku, aku menyakiti adikmu. Semua uang yang kuambil dari Dimas tersimpan utuh di bank. Aku akan mengembalikan semuanya. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Dimas.”
“Baiklah, aku memberimu kesempatan. Secepatnya kembalikan semua uang yang telah kamu ambil dan jangan pernah mengganggu adikku lagi atau aku akan menghancurkanmu.”
“Jangan khawatir ibu Poppy. Saya yang akan mengurus semuanya.”
Poppy mengangguk pelan, kemudian melangkah keluar ruangan. Meninggalkan ibu, anak serta cucu yang sedang melepas rindu. Bara bangkit dari duduknya begitu melihat Poppy menuruni tangga. Keduanya kemudian keluar dari restoran. Saat akan masuk ke dalam mobil, Andra menghampirinya.
“Poppy, tolong maafkan sikap Alea pada Dimas. Jujur sebagai kakak, aku malu atas kelakuan adikku. Tapi kamu tahu sendiri kan Pop, apa yang terjadi pada Alea bukan murni kesalahannya.”
Orang yang dia hina itu adikku mas, aku merawatnya sejak dia masih remaja. Kalau aku boleh memilih aku menginginkan perempuan lain yang menjadi pendampingnya. Tapi ternyata kebahagian Dimas hanya pada Ily, apa aku salah kalau ingin melihat adikku yang sudah terpuruk bertahun-tahun bahagia?”
“Aku mengerti perasaanmu Pop. Aku akan coba bicara padanya.”
“Aku pergi mas. Maaf untuk saat ini aku tidak ingin berhubungan dulu dengan Alea ataupun Ega.”
Poppy masuk ke dalam mobil. Bara yang memang sudah sedari tadi menunggu di dalam mobil segera melajukan kendaraannya setelah Poppy masuk. Andra menghela nafasnya melihat kepergian Poppy. Dia tak menyangka permasalahan asmara bisa jadi sepelik ini.
🍁🍁🍁
Ara berlari masuk ke dalam mobil papanya begitu kakinya melangkah keluar gerbang sekolah. Dimas membantu memasangkan sabuk pengaman kemudian memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik ke arah anaknya yang matanya menatap lurus ke depan.
“Hmm.. Ara, kalau kita pindah ke Milan gimana?”
“Papa mau ke Milan.”
“Baru rencana sih. Papa rencananya mau ngurus restoran di sana.”
__ADS_1
“Kak Ily ikut pa?”
“Hmm.. sepertinya ngga sayang. Kan kak Ily harus kuliah.”
“Tapi kak Ily kan bisa pindah kuliah ke sana.”
“Repot ngurus pindah kuliah sayang, apalagi beda negara.”
“Kalau kak Ily ngga ikut Ara juga ngga mau ikut ah.”
Dimas tersenyum seraya mengusap kepala anaknya. Dia mengerti sikap Ara. Anaknya ini belum mengerti peliknya urusan orang dewasa. Seperti saat ini, bocah itu tak mengerti masalah yang dihadapi papanya terkait hubungannya dengan Firly.
Mobil yang mereka kendarai akhirnya sampai di depan rumah Poppy. Ara membuka seat beltnya, mencium punggung tangan papanya lalu turun dari mobil. Dia berlari masuk ke dalam rumah. Dimas baru saja akan melanjutkan perjalanan ketika melihat Alea. dia memutuskan untuk menemui Alea.
“Kak, bisa kita bicara?”
“Apalagi yang mau kamu bicarakan? Apa kamu mau mengemis investasi lagi?”
“Aku ingin membicarakan tentang Ily.”
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Keputusanku sudah bulat, sampai mati pun aku tidak akan merestui kalian. Kamu atau pun Ara jangan pernah menemui Ily lagi. Dan katakan pada kakakmu, jangan karena dia istri Irzal Ramadhan dia menjadi besar kepala. Tanpa nama besar Ramadhan di belakang namanya dia bukanlah apa-apa, termasuk kamu. Harusnya kalian bersyukur orang tua kak Irzal bersedia menerima kakakmu sebagai menantu sehingga bisa mengangkat derajat kalian.”
“Kak!! Kakak boleh menghinaku sepuas kakak tapi jangan pernah menghina kakakku apalagi orang tuaku. Mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku selama ini diam karena menghormati kakak. Tapi sekali saja kakak berani menghina atau menyakiti kakakku, maka aku tidak akan tidak akan tinggal diam. Sekalipun kakak adalah ibu dari perempuan yang kucintai.”
Dengan kesal Dimas masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya dengan kencang. Dia segera menjalankan mobilnya tanpa menyadari kalau Ara melihat dan mendengar pembicaraan mereka. Mata Ara berkaca-kaca, rasanya sakit melihat papa yang sangat disayanginya dihina oleh Alea. Ara masuk ke dalam rumah sambil menangis.
“Ara kamu kenapa sayang?” Ayunda terkejut melihat adik sepupunya masuk ke dalam rumah bersimbah airmata. Ara langsung memeluk Ayunda tanpa mengatakan apapun. Lidahnya serasa kelu menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya tadi.
🍁🍁🍁
**Ara pindah aja ke Milan sama papa yaa. Siapa yang setuju om Dimas pindah ke Milan?
Like..
Comment..
Vote..
Love you😘😘😘**
__ADS_1