Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : RAMADHAN'S FAMILY Irzal Habibi Ramadhan


__ADS_3

Para tetangga kembali dibuat terkejut dengan kepergian Irzal. Baru tadi pagi mereka mengantar Poppy ke pemakaman. Kini Irzal menyusul kepergian sang istri tak kurang dari enam jam lamanya. Fahri yang baru saja tiba di rumahnya beberapa saat yang lalu harus kembali ke kediaman Irzal. Dia juga ingin melepas kepergian sahabatnya itu.


Untuk kedua kalinya, Elang, Farel, Dimas dan Reyhan menggotong keranda menuju pemakaman. Setelah di pagi hari mereka mengantar Poppy, di sore harinya Irzal menyusul. Sepertinya doa keduanya dikabulkan Allah. Hanya selang beberapa jam, Irzal menyusul kepergian belahan jiwanya.


Sebuah lubang disiapkan di samping makam Poppy yang masih basah. Bahkan bunga yang tadi ditebar di atas makamnya masih terlihat segar. Rena memeluk Ayunda yang terus menangis menyaksikan om, kakak dan suaminya membaringkan jenazah sang ayah di tanah merah.


Aslan menangis sesenggukkan melihat jenazah sang kakek. Deski bersama Erik terus saja mendampinginya. Ega, Adit dan Fahri juga turut membantu memakamkan jenazah Irzal. Airmata tak henti mengalir di pipi Ega. Dua orang kakak yang sangat dia sayangi dan hormati meninggalkannya bersamaan.


Pak Aswan, RT yang bertugas di mana tanah pemakaman berada menghampiri Elang. Pria itu mengucapkan bela sungkawa sekaligus dukungan untuk keluarga yang ditinggalkan.


“Saya turut berduka cita pak Elang. Atas nama pribadi dan semua warga di RT 11, saya mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang pak Irzal dan bu Poppy lakukan semasa hidup. Mudah-mudahan bapak dan ibu diterima semua amal ibadahnya, diterangkan kuburnya dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.”


“Aamiin.. terima kasih pak Aswan. Kalau saya boleh minta tolong, sampaikan undangan saya untuk warga di sini untuk datang saat pengajian 7 hari orang tua kami. Tolong didata juga anak yatim dan para janda yang membutuhkan.”


“Baik pak Elang.”


Aswan menepuk pelan pundak Elang kemudian melangkah pergi. Farel menghampiri Elang. Dirangkulnya bahu sang adik, lalu keduanya berjalan menuju mobil.


🍁🍁🍁


Seusai pengajian bada isya tadi, Ayunda meminta ijin pada Sarah menginap di rumah orang tuanya. Tentu saja Sarah mengabulkannya. Rain dan Akhtar kebetulan akan menginap di rumah, jadi mertuanya itu tidak akan kesepian.


Ayunda membuka pintu kamar orang tuanya. Airmatanya kembali mengalir mengingat secara berturut orang tuanya meninggalkan dirinya. Di kamar ini keduanya mengucapkan kata perpisahan. Ayunda duduk di sisi ranjang. Dipeluknya bantal yang masih terdapat aroma ayah dan bundanya.


Elang datang menghampiri Ayunda. Biasanya lelaki ini tampak tegar, tapi tidak kali ini. Dia duduk di sisi Ayunda lalu menarik adiknya itu ke dalam pelukannya. Tangis Elang juga pecah. Dalam sehari mereka telah mendapat gelar baru sebagai anak yatim piatu. Elang mengeratkan pelukannya saat tangisnya semakin kencang.


Farel masuk ke dalam kamar. dia berdiri sejenak melihat kedua adiknya yang tengah menangis. Tak lama dia menghampiri lalu berjongkok di depan keduanya. Elang mengurai pelukannya lalu menatap ke arah Farel.


“Jangan menangis El, Yun. Ayah dan bunda sudah berbahagia di sana. Sekarang kita hanya perlu mendoakannya dan meneruskan perjuangan mereka. Abang janji akan berusaha menjadi kakak yang lebih baik lagi untuk kalian. Abang akan berusaha agar kalian tidak akan kekurangan kasih ayah dan bunda setelah kepergian mereka. Karena abang akan menjadi pengganti mereka untuk kalian.”


Tangis Ayunda kembali pecah. Farel mendekat lalu menarik Ayunda dan Elang ke dalam pelukannya. Ketiga saudara itu saling berpelukan. Saling melepaskan kesedihan dan saling menguatkan. Seperti pesan terakhir ayah dan bundanya, jika mereka harus terus saling menyayangi dan menjaga sampai akhir hayat. Azkia, Ara dan Reyhan hanya melihat dari dekat pintu, tak ingin mengganggu momen kebersamaan mereka.


Ega menepuk bahu Reyhan, membuatnya menoleh ke belakang. Reyhan beringsut ke pinggir memberikan akses kepada pria itu masuk ke dalam kamar. Ega mengusap satu per satu puncak kepala Elang, Farel dan Ayunda, membuat ketiga orang itu melepaskan pelukannya.


“Mulai sekarang.. kalian tanggung jawab papi. Papi akan menjadi pengganti untuk orang tuamu.”


“Kami juga orang tuamu,” sela Adit, dia masuk disusul oleh Debby juga Sarah.


“Jangan lupakan kami juga sayang,” cetus Rena bersama Dimas dan Fahri.

__ADS_1


“Begitu juga kami. Jangan bersedih lagi, kami semua orang tuamu. Walau kami tidak bisa menggantikan posisi orang tua di hati kalian. Tapi setidaknya kami ada untuk kalian. datanglah kepada kami jika kalian membutuhkan sesuatu,” Fahri yang masuk bersama Putri turut menyambung pembicaraan.


Elang, Farel dan Ayunda menatap haru pada semua sahabat orang tuanya. Kehadiran mereka sedikit mengurangi kesedihan yang sedari tadi menggelayut di hati ketiganya. Sarah langsung memeluk Ayunda. Dimas memeluk Elang dan Ega memeluk Farel. Tangis ketiganya kembali pecah.


“Aaagghh..”


Keharuan mereka terhenti ketika mendengar erangan dari Azkia. Reyhan yang berdiri di sampingnya jelas terkejut. Dia segera memegangi Azkia yang sedang mengerang kesakitan. Elang menghambur ke arah sang istri.


“Sayang kamu kenapa?”


“Sakit mas...”


Reyhan terkejut melihat darah beserta cairan bening yang merembes dari sela-sela kaki Azkia.


“Mas.. sepertinya Kia mau melahirkan.”


“Apa??”


“Mas!!”


Reyhan berteriak pada Elang yang seperti orang linglung. Elang tersadar lalu segera membopong Azkia. Farel secepat kilat menyiapkan mobil untuk membawa Azkia. Reyhan segera menghubungi dokter yang menangani Azkia.


🍁🍁🍁


Ega sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Hatinya terus berdoa memohon agar tidak ada hal buruk menimpa keluarga ini lagi. Sudah cukup hari ini Elang kehilangan kedua orang tuanya. Jangan sampai dia kehilangan istri atau bayinya.


Setelah kurang lebih satu jam, operasi akhirnya selesai. Sang bayi langsung dibersihkan dan diberikan pada Elang untuk diadzani. Bayi mungil itu belum bisa mendapatkan inisiasi dini karena Azkia masih belum sadar. Azkia dipindahkan ke ruang ICU untuk memantau keadaannya.


Elang duduk di sisi bed sang istri. Tangannya terus menggenggam jemari Azkia. Beberapa ciuman didaratkan di punggung tangan istrinya itu.


“Mas mohon, bangun sayang. Anak kita membutuhkanmu, mas juga sangat membutuhkanmu. Mas bisa gila kalau kamu juga meninggalkan mas. Mas mohon bangun sayang.. bangun.”


Elang membenamkan wajah ke bed. bahunya bergetar tanda tangisnya sudah pecah. Entah sudah berapa banyak airmata yang dia keluarkan hari ini. Bukan hanya tubuh, tapi hatinya juga lelah.


TIIIT... TIIIT


Elang terkejut mendengar suara dari monitor yang menunjukkan alat-alat vital sang istri. Dengan cepat dia menekan tombol pemanggil di dekat bed. Tak berapa lama dokter dan suster muncul. Mereka bergerak cepat melihat tanda lurus di layar monitor. Elang mundur ke belakang, memberikan ruang untuk dokter menangani sang istri yang tiba-tiba mengalami henti jantung.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Rena terus saja memperhatikan bayi mungil yang tengah tertidur di dalam boks. Wajah anak itu mirip sekali dengan sang kakak.


“Kak.. ternyata kakak datang lagi dalam bentuk bayi mungil ini,” gumam Rena pelan.


Anak Elang sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP atas permintaan Reyhan. Di sana hampir semua keluarga masih berkumpul. Mereka masih menunggu kabar Azkia yang dirawat di ruang ICU. Tak lama pintu kamar terbuka, Elang masuk diikuti dua orang suster yang mendorong bed Azkia.


Setelah sempat mengalami henti jantung, Azkia berhasil diselamatkan. Bahkan tanda-tanda vitalnya semakin membaik. Setelah melalui perdebatan panjang, Azkia diperbolehkan dipindahkan ke ruang perawatan. Lagi-lagi Reyhan yang menjadi penjaminnya.


Tak lama setelah Azkia berada di dalam ruangan, tiba-tiba saja bayi itu menangis dengan kencang. Sepertinya anak itu tahu kalau sang bunda telah sadar. Elang meraih sang anak yang belum diumukan namanya lalu memberikannya pada Azkia. Ditariknya tirai pembatas untuk menutupi bed Azkia. Memberikan waktu untuk sang istri menyusui.


Selang beberapa menit Elang kembali membuka tirai setelah bayinya puas menyusu. Rena menghampiri lalu menggendong anak itu. Entah mengapa dia merasa begitu dekat dengan bayi mungil tersebut.


“Siapa namanya El?” tanya Rena.


“Irzal...”


Rena dan semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Elang. Ingin memastikan apa yang mereka dengar tadi.


“Aku mutusin kasih nama dia sama dengan kakeknya, Irzal. Irzal Habibi Ramadhan.”


Rena tersenyum haru, airmatanya kembali menetes. Kelahiran bayi tampan ini sedikit mengurangi kesedihannya ditinggal pergi oleh sang kakak.


“Yah.. kalau gitu gue ngga berani manggil nama anak lo, El,” celetuk Gara.


“Kenapa?”


“Ngga sopan manggil ayah namanya doang.”


Sontak saja celetukan Gara mendapat toyoran dari sahabat-sahabatnya. Elang tersenyum tipis. Senyum pertama yang diperlihatkannya di tengah hari kelabunya.


🍁🍁🍁


**Selamat ya El dan Az atas kelahiran anak ketiganya. Irzal senior sudah tiada, Irzal junior menggantikan.


OMG... sudah mendekati ending. Tenang aja, untuk ending ngga akan mamake kasih bawang lagi kok. Tapi sabar ya, masih ada lagi momen mengharu biru, setelah itu bahagia deh😁


Buat yang belum tahu karya baru mamake cus klik aja profil mamake, di sana udah ada tuh novel terbaru mamake. Yang kaya gini nih gambar covernya**


__ADS_1


__ADS_2