
Firly terus memandangi kaca jendela mobil yang membawanya ke bandara. Semua urusan Ega sudah selesai dan kini mereka harus kembali ke tanah air. Ingatan Firly terus melayang pada pertemuannya dengan Ara siang tadi. Perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bahagia bisa melihat orang yang dia cintai sekaligus sedih karena hanya menatapnya dari kejauhan tanpa berani untuk memanggil apalagi berbicara dengannya.
Tanpa sadar Firly menghela nafasnya beberapa kali, menarik perhatian Ega yang duduk di sampingnya. Hatinya sadar betul apa yang tengah melanda putrinya ini namun entah mengapa dirinya masih terus berpikir kalau ini yang terbaik untuk Firly dan anaknya akan baik-baik saja.
Setelah melalui sedikit kemacetan, mereka tiba di bandara. Tanpa menunggu lama mereka langsung melakukan check in. Tanpa mereka sadari, di bagian lain Dimas dan Ara pun sedang check in untuk kembali ke Milan. Sepasang kekasih yang terhalang restu orang tua itu berjalan berlainan arah, menuju ke pesawat yang akan membawa mereka kembali ke tempat masing-masing.
Firly melepaskan seat beltnya ketika pesawat sudah berada di udara. Dia kembali melamun sambil memandangi deretan awan putih dari jendela pesawat.
“Ly,” tak ada respon dari Firly. Sepertinya gadis itu tenggelam dalam lamunannya.
“Ily,” Ega menyentuh punggung tangan anaknya. Menarik kesadaran Firly.
“Eh kenapa pi?”
“Apa selama ini papi kurang memberi perhatian padamu? Apa papi belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu?”
“Ng... maksud papi apa?”
“Papi hanya penasaran. Biasanya para gadis yang jatuh cinta pada pria yang berusia matang karena dia tidak mendapatkan cukup kasih sayang dari ayahnya. Apa papi seperti itu sampai kamu jatuh cinta pada om Dimas?” Firly terjengit, tak menyangka sang papi akan menanyakan hal seperti itu.
“Ng.. ngga kok pi. Sejauh ini papi sudah menjadi ayah terbaik untuk Ily. Papi juga mencurahkan banyak kasih sayang dan perhatian sama Ily. Ily minta maaf kalau apa yang Ily lakukan kemarin membuat papi marah atau kecewa. Mungkin papi dan mami benar kalau apa yang Ily rasakan ke om Dimas hanya kekaguman sesaat.
Sejak kecil Ily dekat dengan om Dimas. Waktu om Dimas menjauh setelah kehilangan tante Sissy, Ily juga kehilangan om Dimas. Ketika kita kembali dekat, Ily salah mengartikan perasaan Ily sendiri. Maaf pi, Ily janji akan memperbaiki kesalahan Ily dan akan menjadi anak yang berbakti pada mami dan papi. Ily akan turuti apapun keinginan mami dan papi.”
Hati Firly menjerit ketika mengatakan itu semua. Entah bagaimana dia bisa mengatakan rangkaian kalimat yang bertolak belakang dengan isi hatinya. Ega tertegun, hatinya kembali kacau setelah mendengar jawaban sang anak. Tak ada tanggapan yang mampu dia berikan. Ucapan Firly seperti sindiran halus yang menampar hatinya. Terlebih saat dia melihat Firly meremas kedua tangannya saat berbicara. Seakan tengah menekan perasaannya.
“Papi ke toilet dulu ya.”
Firly hanya mengangguk. Sepeninggal Ega, airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh juga. Dima yang duduk tak jauh dari kursi Firly, memejamkan matanya. Berpura-pura tak mendengar isak kecil yang keluar dari mulut anak atasannya itu. Sebagai seorang ayah hatinya ikut tercubit melihat kesedihan Firly. Ega yang hanya berasalan ke toilet, memandangi anaknya yang tengah berusaha menahan tangisnya.
Apakah yang kulakukan ini salah ma? Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Tapi ternyata ini menyakiti hatinya. Apa yang harus kulakukan?
🍁🍁🍁
Ega duduk termenung di kursi kebesarannya. Tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya belum tersentuh sama sekali. Ingatannya melayang pada kejadian di pesawat saat dirinya kembali dari London bersama Firly. Kemudian loncat pada pembicaraan dirinya dengan Alea kemarin malam.
Flashback On
__ADS_1
Ega dan Alea tengah duduk di atas ranjang dengan punggung menyandar pada head board. Alea menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Moment seperti ini sudah jarang mereka ciptakan karena ketegangan yang terjadi dalam keluarga mereka akhir-akhir ini.
“Sayang, apa keputusan kita memisahkan Ily dengan Dimas sudah benar?” Ega membuka pembicaraan.
“Apa kamu yakin kalau Ily baik-baik saja?” sambungnya lagi.
“Ily itu anak yang kuat bi. Aku percaya dia akan baik-baik aja. Mungkin awalnya agak sulit tapi seperti kamu lihat sendiri, sekarang dia baik-baik saja kan?”
“Entahlah. Aku ngerasa kalau Ily sedang menutupi perasaannya. Dia berpura-pura bahagia di depan kita, padahal hatinya menangis.”
Alea mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah suaminya. Ada rasa tak suka dengan apa yang barusan didengarnya.
“Maksud kamu apa bi?”
“Aku khawatir kalau kita melakukan kesalahan. Keinginan kita memberikan yang terbaik untuknya takutnya justru membuatnya menderita.”
“Jangan bilang kalau kamu mulai goyah bi. Ingat berapa umur Dimas. Apa dia sanggup mendampingi anak kita dalam waktu lama? Lalu bagaimana dengan tanggapan para rekan bisnismu kalau tahu anak gadis satu-satunya Graha Prakarsa ternyata dinikahi duda beranak satu yang usianya jauh lebih matang.”
“Jujur itu bukan alasanku sebenarnya menentang hubungan mereka. Usia Ily yang masih muda yang menjadi pertimbanganku. Tapi kalau anak kita sudah siap apa salahnya kan?”
“Ngga salah bi. Yang salah itu kalau dia menikah dengan orang yang tidak tepat.”
“Tapi bukan berarti Radja lebih buruk dari Dimas. Dia itu anak Airlangga, salah satu kolega kamu dan kita sudah mengenalnya dengan baik. Aku yakin Radja sama baiknya seperti kedua orang tuanya.”
“Tapi Ily tidak mencintainya.”
“Cinta itu datang karena terbiasa. Udah deh bi, aku males ngomongin ini. Pokoknya keputusanku sudah jelas, sampai kapan pun aku ngga setuju Ily dengan Dimas. Kalau kamu lebih memilih Dimas, maka ceraikan aku. Ilan dan Ziel ikut denganku.”
Alea turun dari ranjang dengan kesal lalu keluar dari kamar sambil membanting pintu. Ega menghembuskan nafas panjang. Alea benar-benar keras kepala.
Flashback Off
Lamunan Ega buyar ketika pintu ruangannya terbuka. Adit masuk diikuti Rain dari arah belakangnya. Rain mendekati meja Ega lalu menyerahkan berkas yang dititipkan Regan padanya.
“Ini titipan dari papa.”
“Makasih Rain. Duduk dulu, ada yang mau papi tanyain.”
__ADS_1
Rain mengangguk kemudian duduk di sofa tepat di sebelah Adit. Tak lama Ega menyusul duduk di sana.
“Papi mau nanya apa?”
“Soal Ily. Apa dia baik-baik aja selama ini?”
Rain terdiam sebentar, sebenarnya ini pertanyaan yang selalu ditunggu olehnya. Dia mengambil botol air mineral dari dalam tasnya.
“Ini Ily dari luar pi. Utuh, bening dan tanpa cacat.”
Rain menunjukkan botol mineral di tangannya pada Ega. Kemudian dia meneguk habis isi air di dalamnya yang tingga seperempat lalu meremas botol kemasan itu sampai tidak berbentuk.
“Dan ini kondisi Ily di dalam pi. Hatinya hancur ngga berbentuk kaya botol ini. Rain kecewa sama papi. Papi tega hancurin perasaan Ily.”
Rain bangun duduknya, dia memilih untuk secepatnya pergi dari ruangan itu. Namun baru saja akan menggerakkan handle pintu, Rain kembali pada Ega.
“Apa papi tahu kalau dua bulan belakangan ini Ily menderita insomnia?” baik Ega maupun Adit terkejut dengan perkataan Rain.
“Dan apa papi tahu kalau Ily mengkonsumsi obat tidur untuk mengatasi insomnianya?” Ega semakin terhenyak.
“Jangan tanya Rain apa penyebab Ily seperti itu karena papi tahu sendiri jawabannya. Rain pulang pi, pa, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ega seperti mendapat pukulan bertubi-tubi dari Rain. Mendapati kenyataan kalau putri semata wayangnya tidak dalam keadaan baik benar-benar membuatnya terpukul. Tangannya mencengkeram sandaran sofa.
“Gue kecewa sama elo Ga. Elo dan Alea tahu betul bagaimana rasanya ngga direstui, tapi kalian melakukan hal yang sama dan parahnya sama anak lo sendiri. Setidaknya dulu orang tua kalian ngga merestui kalian dengan alasan yang lebih masuk akal. Tapi kalian? Alasan kalian benar-benar lucu.
Apa lo pikir Dimas mau jadi duda? Kalau dia boleh milih, dia pasti milih Sissy tetap berada di sampingnya dalam waktu lama. Dan soal umur dia. Bukan salah dia yang lahir lebih dulu dari Ily. Sekarang apa kalian bisa jamin kalau Ily menikah dengan yang lebih muda dan berstatus single dia akan bahagia?
Kalau gue jadi elo, lebih baik gue mempercayakan anak gadis gue sama orang yang udah gue tahu kepribadiannya seperti apa, dibanding orang lain yang masih abu-abu. Jangan menunggu sampai Ily benar-benar hancur Ga, karena kalau itu sampai terjadi, lo nyesel juga ngga ada gunanya.”
Adit menepuk pundak Ega pelan lalu pergi meninggalkannya. Perasaan Ega semakin tak menentu. Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya. Dia mengambil ponsel lalu menelpon Firly namun terhubung pada kotak suara.
🍁🍁🍁
**Dengerin apa kata Rain dan Adit. Jangan keras kepala ya Ga.
__ADS_1
Hari Senin nih, jangan lupa ya kalau berkenan kasih vote ke sini. Terus like and comment nya jangan sampai ketinggalan.
Happy Monday all😎**