
“Maksud lo apa kak? Salah gue apa?”
“Salah lo apa? Semua yang terjadi karena elo!! Karena impian elo!! Waktu lo bilang sama mami kalau ingin jadi atlit bulu tangkis, semuanya berubah. Dan semenjak elo jadi juara untuk pertama kalinya, mami mulai berubah. Mami mulai haus dengan pujian, mami menginginkan semua anaknya bisa membanggakannya dan mami mulai bersikap otoriter mengatur semua sesuai keinginannya. Semua gara-gara elo!!
Apa lo tahu kalau mami memaksa Ilan buat belajar lebih giat supaya apa? Supaya dia menjadi juara umum dan jadi lulusan terbaik! Itu semua demi gengsi mami. Dan gue, hubungan gue dan om Dimas ngga mendapat restu karena di mata mami status dan umur om Dimas itu sebuah aib!! Itu semua karena elo!! Karena elo!! Puas lo sekarang hah??!!”
“Ily!!”
“Apa?!! Lo ngga usah belain dia, karena dia hidup lo juga susah kan? Biar dia tahu kalau impiannya udah ngerusak hidup kita!!”
“Ily cukup!!”
Firlan segera menarik Firly masuk ke dalam kamarnya. Azriel terhenyak mendengar semua penuturan kakaknya. Dengan pikiran yang entah berhamburan kemana, dia berjalan menuruni tangga. Beberapa kali dia hampir terjatuh karena kakinya tidak memijak tangga dengan benar.
Azriel terus berjalan keluar rumah. Langkahnya tertuju ke arah rumah Irzal. Matanya mencari keberadaan tunggangan Elang yang tidak nampak di pekarangan rumahnya. Berarti pemuda itu belum kembali. Azriel memutar badannya lalu berjalan melewati rumahnya terus melintasi rumah Regan.
“Ziel,” Azriel terus berjalan, tak mendengar ada orang yang memanggilnya.
“Ziel!” Azriel tersentak, dia menoleh ke arah datangnya suara. Sarah berdiri tak jauh darinya.
“Kamu lagi ngelamunin apa? Tadi mama panggil kamu ngga denger.”
“Maaf ma.”
“Kamu mau kemana?”
“Hmm.. jalan-jalan aja.”
“Mending ikut mama. Mama buat puding kesukaan kamu loh, ayo sayang.”
Sarah menggamit tangan Azriel kemudian mengajaknya masuk. Mereka menuju ruang tengah. Di sana Regan, Rain dan Reyhan sedang bercengkerama sambil menikmati camilan. Hati Azriel mencelos, dulu keluarganya juga seperti ini, tapi sekarang. Azriel mengesah panjang.
“Hei atlit kita apa kabarnya? Sibuk ya, papa jarang lihat kamu.”
Azriel mengulas senyum tipis. Dihampirinya Regan kemudian mencium punggung tangannya. Lalu dia duduk di samping Reyhan. Percakapan yang sempat terhenti karena kedatangannya kembali berlanjut, derai tawa Rain dan Regan terdengar saat Reyhan menceritakan pengalamannya di kampus yang disangka sebagai mahasiswa kere oleh teman-temannya.
“Hei kenapa diem aja, sakit gigi lo?” tegur Reyhan.
“Bukan, gusi gue bisulan,” Azriel tergelak mendengar jawabannya sendiri. Sarah datang membawakan puding untuk Azriel. Mata Azriel berbinar melihat puding kesukaannya, sudah cukup lama dia tak memakan makanan favoritnya ini. Dengan cepat dia melahapnya.
“Pelan-pelan Ziel makannya, ngga akan ada yang minta juga,” goda Reyhan.
“Huuh lo kaya belum makan seminggu aja,” sembur Rain.
“Berisik!” Azriel menghabiskan puding miliknya, Sarah dan Regan hanya geleng-geleng saja melihat kelakuannya.
“Hmm.. ma, mama kan deket sama mami. Bisa ngga mama nasehatin mami.”
“Emangnya mami kamu kenapa Ziel?”
“Mami akhir-akhir ini nyebelin. Kerjaannya ngatur mulu, harus inilah itulah. Kalau ngga nurut bakal kena ceramah panjang atau kena hukum, pokoknya nyebelin abis,” Sarah terkekeh mendengar curhatan Azriel.
“Namanya juga emak-emak Ziel, ngga aneh kalau cerewet dan suka ngatur. Kamu pikir mama kamu ngga kaya gitu apa? Papa aja pusing kalau denger mama kamu ngoceh terus,” Sarah mencubit perut suaminya yang berbicara seenaknya menjatuhkan harkat dan martabat dirinya sebagai emak-emak.
“Tapi mama kan ngga pernah memaksakan kehendaknya sama kak Rain dan kak Rey,” ada kesenduan dalam nada bicaranya.
“Kamu ada masalah Ziel?”
__ADS_1
“Ngga pa, cuma lagi bete aja hehe..”
Itulah Azriel, dia pintar sekali menutupi perasaannya dengan tingkahnya yang tengil. Untuk menghilangkan kecurigaan Regan, Azriel membahas apa yang tadi diceritakan oleh Reyhan. Anak kedua Regan yang baru berusia 16 tahun adalah anak yang cerdas. Seperti Elang, dia juga mengikuti jenjang akselerasi saat sekolah. Kini dia sudah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran, mengikuti jejak sang papa.
“Ma, ceritain soal om Dimas dong. Ziel kan belum terlalu lama deket sama om Dimas.”
“Om Dimas itu adik mama yang paling manis,” Sarah tersenyum mengenang kelakuan Dimas dari Remaja sampai menikah.
“Dia itu paling bisa merubah suasana, apalagi kalau udah sama ganknya, tante Rena dan almarhum tante Sissy. Kita kasih julukan mereka trio kwek-kwek, karena kalau udah kumpul ngga berhenti ngoceh,” Sarah tertawa. Ziel masih menyimak ceritanya dengan serius.
“Kalau mama, mama Debby atau mami kamu nangis, dia orang pertama yang menyediakan bahunya untuk kita. Dia sering bilang gini kalau kita lagi nangis, ‘kalau kakak sedih kakak boleh nangis sepuasnya tapi cukup di depan aku ya kak, jangan di hadapan orang lain, biar aku aja yang tahu kesedihan kakak dan satu lagi please jangan lap ingus kakak ke baju aku’ hahaha. Kita yang tadinya nangis jadi ilfill dengar dia ngomong gitu.”
“Hahaha, aku baru tahu loh om Dimas kaya gitu. Yang aku lihat selama ini om tuh pendiam dan kaya yang serius.”
“Itu setelah dia kehilangan tante Sissy. Dia berubah jadi pendiam dan tertutup. Tapi akhir-akhir ini mama udah lihat dia senyum lagi. Apa jangan-jangan dia udah punya seseorang ya?”
Rain menepuk keningnya pelan, mama dan papanya memang kudet. Maklum saja, beberapa bulan terakhir ini keduanya jarang berada di rumah. Sarah sibuk mendampingi Regan keluar kota.
“Mama ketinggalan berita nih, sekarang kan om Dimas udah punya gandengan baru.”
“Oh ya? Siapa?”
“Masih laku juga si Dimas hahaha,” celetuk Regan.
“Ish papa nih meremehkan om Dimas. Denger ya pa, om Dimas tuh the most wanted man of the year. Banyak cewe-cewe yang ngantri pengen jadi pasangannya. Om Dimas kan ganteng, mapan, siapa juga yang ngga klepek-klepek sama om Dimas.”
“Tapi kan udah tua.”
“Justru sekarang cewe-cewe seumuran Rain lebih seneng sama pria matang kaya om Dimas, katanya sama yang udah pengalaman lebih asik hihihi,” Rain terkikik geli. Reyhan mendelik sebal, dengan kata lain pemuda seperti dirinya kalah kelas dibanding Dimas.
“Jangankan om Dimas yang masih di bawah 40 tahun. Yang seumuran papa aja banyak yang ngincer. Di kampusku banyak mahasiswi yang jadi sugar daddy.”
“Bener ma. Rain sih ngga ngejudge mereka jelek atau apa. Mereka lakukan itu pasti punya alasan sendiri. Ada yang terpaksa jadi sugar daddy karena butuh biaya untuk kuliah atau hidup sehari-hari, ada juga yang emang pengen dapet duit banyak dengan cara instan. Rain sih ngga peduli, yang penting mereka ngga ngegoda papa aja. Makanya mama harus ekstra ketat jagain papa. Pria seumuran papa, ayah Irzal, papi Ega dan om Dimas tuh lagi banyak diincer daun muda hahaha.”
“Kenapa jadi ngomongin papa? Kita kan lagi bahas om Dimas. Siapa pasangan om Dimas sekarang? Jangan-jangan kamu ya Rain,” Regan membalas ucapan anaknya barusan membuat Rain menyemburkan minuman yang baru saja disesapnya.
“Emang kalau pasangannya om Dimas itu kak Rain, mama sama papa setuju?” Azriel penasaran ingin tahu reaksi kedua orang di depannya apakah sama dengan orang tuanya.
“Kalau papa sih, selama Rain bahagia dan bertanggung jawab dengan pilihannya, ngga masalah. Seperti yang Rain bilang, Dimas itu ganteng, mapan dan selain itu dia pria yang baik, perhatian dan penuh kasih sayang. Dari pada Rain bersanding dengan laki-laki lain yang belum kita tahu seperti apa orangnya lebih baik dia bersama dengan Dimas.”
“Sama, mama juga setuju.”
“Tapi maaf ya mama dan papa harus membuat kalian kecewa, karena cewenya om Dimas bukan aku,” Rain cengar-cengir.
“Terus siapa?”
“Ily!!” jawab Rain dan Reyhan kompak.
“Oh Ily... APA???!!” Regan terkejut dengan jawaban anaknya, demikian juga dengan Sarah. Tapi kemudian keduanya tergelak.
“Dari bayi Ily tuh nempel terus sama Dimas ternyata sampai besarnya juga hahaha,” Regan tak dapat menyembunyikan kegeliannya. Azriel menatap Regan dan Sarah dengan pandangan sendu.
Andai aja sikap mami dan papi seperti mama Sarah dan papa Regan pasti kak Ily bahagia dan gue ngga akan merasa bersalah seperti ini.
“Oh ya Ziel, apa kata papi kamu soal ini?”
“Papi cuma diem.”
__ADS_1
“Papi kamu pasti kaget. Dari dulu kan dia ngebet jodohin Elang sama Ily. Eh ternyata Ily nyangkutnya di Dimas hahaha.”
“Terus mami kamu gimana?”
Azriel tak langsung menjawab. Rain dan Reyhan menutup mulutnya rapat. Keduanya takut salah bicara dan menyinggung perasaan Azriel.
“Mami menentang keras hubungan kak Ily dan Om Dimas. Bahkan mami ngelarang kak Ily ketemu sama om Dimas dan Ara lagi,” wajah Azriel nampak sendu.
“Mungkin mami kamu masih shock aja Ziel. Mama yakin kok nanti juga mami bakalan setuju,” Azriel menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
“Mami sekarang udah berubah dan ini semua gara-gara Ziel.”
“Maksud kamu?”
“Ziel!!! Ziel!!!”
Belum sempat Azriel menjawab pertanyaan Sarah. Dari arah luar terdengar suara Alea memanggil namanya. Azriel bangun kemudian berpamitan, Sarah berinisiatif mengantarkannya ke depan.
“Dari mana kamu??!!” hardik Alea begitu melihat Azriel muncul di hadapannya. Sarah cukup terkejut melihat reaksi Alea.
“Dia tadi di rumahku Al. Aku sengaja mengajaknya ke rumah, aku baru aja buat puding kesukaan dia.”
“Lain kali ngga usah kak. Itu bikin dia tambah manja dan susah diatur. Masuk kamu Ziel dan jangan berani keluar rumah tanpa ijin mami!”
Sambil menghentakkan kaki, Azriel masuk ke dalam rumah. Di dalam dia berpapasan dengan Ily yang memilih membuang muka. Tanpa banyak bicara Azriel naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sementara itu di luar Sarah mencoba mengajak Alea berbicara setelah melihat interaksi ibu dan anak yang terlihat tegang.
“Al, bisa kita bicara sebentar?”
“Mau bicara apa kak? Aku sibuk!”
“Apa kamu tidak keterlaluan bersikap seperti tadi pada Ziel?”
“Dia anakku kak, bagaimana cara aku mendidiknya itu adalah kewenanganku,” Sarah mengambil nafas panjang, mencoba bersabar melihat tingkah Alea yang menyebalkan.
“Aku hanya mengingatkan, sebagai orang tua kita juga harus memahami perasaan anak-anak kita. Jangan sampai kita bersikap egois. Apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut mereka. Pilihlah cara yang baik untuk menyampaikan apa yang kita inginkan agar mereka mengerti dan dapat menerimanya dengan baik.
Aku juga sudah dengar soal Ily dan Dimas. Coba kamu bicarakan baik-baik dengan mereka berdua. Kita sudah mengenal Dimas dengan baik, aku yakin dia serius soal Ily dan bisa menjaganya dengan baik.”
“Kakak bisa bilang begitu karena bukan Rain yang dilamar olehnya. Apa kakak bisa berbicara seperti itu kalau perempuan yang diinginkan Dimas adalah Rain? Hanya karena dekat denganku dia bisa mendekati dan melamar Ily seenaknya? Kalau kakak bertemu dengannya tolong katakan untuk bercermin, apa pantas dia bersanding dengan Ily?”
“Astaghfirullahaladziim Al! Aku ngga nyangka kamu bakal berpikiran picik seperti itu. Dia itu Dimas, adik kita!”
“Dia bukan adikku. Aku tidak punya adik yang berpikiran kotor ingin menikahi keponakannya sendiri.”
“Tidak ada hubungan darah antara Dimas dengan Ily. Berhentilah bersikap egosi Al sebelum kamu kehilangan orang-orang di sekitarmu. Ingat teman yang baik adalah teman yang ada di saat kita dalam keadaan terpuruk bukan di saat kamu sedang senang saja. Ingat-ingatlah siapa orang yang tetap berada di sampingmu di saat terburukmu. Maaf kalau aku sudah lancang mencampuri urusanmu dan mengganggu waktu sibukmu!”
Sarah segera berlalu meninggalkan Alea dengan perasaan kesal. Tak dapat Sarah pungkiri, semenjak Alea sering kumpul dengan teman sosialitanya, pola pikirnya sedikit berubah dan tak jarang bersikap arogan. Sepeninggal Sarah, Alea bergegas masuk ke rumahnya. Perkataan Sarah hanya dianggapnya angin lalu saja.
🍁🍁🍁
**Wuih Alea udah mulai nabuh genderang perang sama Sarah nih. Sikap Alea murni berubah mengikuti maminya atau karena ada sesuatu ya🤔
Aku udah up 3 episode nih.. jangan lupa ya ritualnya abis baca
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Merci Beaucoup😘😘😘**