Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : IRZAL & POPPY Menunggumu Menjemputku


__ADS_3

Sepulang dari vila, kondisi Poppy terus menurun. Irzal menyarankan untuk ke rumah sakit, namun Poppy menolak. Dia lebih senang dirawat di rumah bersama suami, anak, menantu dan cucu-cucunya. Setiap hari Rakan dan Aqeel datang ke rumah. Aslan dan Yumna juga lebih sering berada di kamar sang nenek akhir-akhir ini. kebawelan Yumna cukup menghibur Poppy dan Irzal. Walau terkadang ujung-ujungnya Yumna menangis karena diledek Aslan dan Aqeel. Rakan selalu jadi kakak yang baik dan menenangkannya.


Azkia mengetuk pintu kamar metuanya untuk membawakan sarapan yang sudah disiapkan Dimas tadi. Setelah terdengar suara Irzal dari dalam, Azkia membuka pintu kamar. Nampak Poppy terbaring lemah di kasur, dengan Irzal terus setia berada di sisinya. Azkia berjalan menghampiri kemudian menaruh nampan di atas nakas.


“Sarapan dulu bun.”


“Suamimu mana Kia?”


“Sudah berangkat kerja bun. Tadi mas El mau pamit tapi bundanya masih tidur.”


“Yumna mana?”


“Yumna lagi main sama Aqeel di rumah mama Sarah.”


“Aslan belum pulang sekolah?”


“Belum bun, kenapa?”


“Bunda kangen, tolong suruh Rakan, Aqeel sama Yumna ke sini ya. Aslan juga kalau bisa suruh pulang sekolah sekarang aja.”


Azkia terdiam mendengar permintaan aneh mertuanya. Dia melihat pada Irzal dan hanya dijawab dengan anggukan saja. Azkia keluar dari kamar, dia bermaksud menjemput Yumna. Tak lupa untuk menghubungi Elang juga Hanin. Mendadak perasaannya tak enak.


Tak butuh waktu lama, semua anak dan cucu Poppy sudah datang. Sarah, Ega, Adit, Debby dan Kalila. Rena dan Fahri juga langsung meluncur ke kediaman Irzal begitu mendapat kabar dari Elang. Dimas terduduk di lantai memegangi tangan sang kakak. Irzal duduk di samping sang istri. Poppy bersandar pada tubuh Irzal. Suaminya itu memeluknya erat sambil tak henti menciumi keningnya.


Para cucu duduk di atas kasur mengelilingi sang nenek. Yumna bahkan sudah menangis melihat nenek yang terbaring lemah. Aslan juga beberapa kali mengusap airmatanya. Ayunda, Elang juga Farel ikut duduk di kasur berukuran king size itu. Hanin mendampingi Azkia yang berusaha menahan tangis. Dia mendudukkan sang kakak di kursi dekat Dimas.


“Teh.. kita ke rumah sakit ya.”


Poppy menggeleng dengan sisa-sisa tenaganya. Wanita itu tahu waktunya tak akan lama lagi. Matanya menatap sayu pada keluarga dan para sahabatnya. Airmatanya mengalir, melihat wajah-wajah sendu di depannya. Dia mendongakkan kepalanya melihat ke arah sang suami yang sudah bersimbah airmata. Dengan gerakan pelan, Poppy mengangkat tangannya lalu menghapus airmata Irzal.


“Bunda...” suara Ayunda diiringi isak tangis terdengar membuat Poppy menoleh ke arahnya.


“Sayangnya bunda, jangan menangis. Bunda minta maaf ya kalau ada salah sama kamu. Kamu anak bunda yang paling cantik, bunda bahagia memilikimu.”


“El... memilikimu adalah anugerah terindah dalam hidup bunda. Tolong jaga anak dan istrimu dengan baik. Farel... kamu datang dan melengkapi kebahagiaan bunda. Titip adik-adikmu. Bunda sayang kalian semua.”


“Aslan.. Yumna, Rakan.. Aqeel.. Najwa.. cucu-cucu nenek. Nenek doakan kalian tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah. Kalian harus berbakti pada orang, saling menyayangi sesama saudara. Maaf nenek sudah tidak bermain bersama kalian lagi.”


Kelima anak itu menangis, walau belum sepenuhnya mengerti tapi mereka bisa merasakan kalau sang nenek sepertinya akan pergi jauh. Elang memeluk Yumna. Aqeel juga menghambur ke pangkuan Ayunda. Rakan menangis dalam gendongan Reyhan.


“Kak Sarah, kak Debby... terima kasih sudah menjadi teman baikku selama ini. Kalila, maaf aku tidak bisa bersamamu lagi. Kang Adit, aku titip Ega... terima kasih sudah kalian menjadi bagian hidupku, keluargaku. Ega.. aku menyayangimu.”


Ega mulai nangis sesenggukan. Teringat kembali kebersamaan mereka selama ini. Poppy berhenti sejenak, berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak. Kemudian pandangannya beralih pada Rena yang menangis dalam pelukan Fahri.


“Rena... maaf kalau kakak harus pergi sekali lagi dari hidupmu. Terima kasih sudah menjadi adik yang baik untukku. Berkatmu, aku dan kak Irzal bisa bersama sampai sejauh ini. Aku titip Dimas.”


Tangis Rena bertambah kencang. Sulit rasanya merelakan kepergian kakaknya kali ini. Kehadiran Poppy melengkapi dirinya yang memang ingin memiliki kakak perempuan.


“Dimas... jangan menangis.. apa kamu ngga malu sama anak dan cucumu?”


“Biarin..”


Poppy tersenyum, adiknya ini walau usia sudah tidak muda tapi terkadang masih bersikap kekanakan jika di depannya. Poppy membelai puncak kepala sang adik. Airmata Dimas semakin deras saja.


“Teteh titip anak-anak ya. jangan lupa sesekali tengok kakakmu. Jangan biarkan dia sedih sendirian. Kia.. ke sini nak.”


Dibantu Hanin, Azkia berdiri kemudian menghampiri Poppy. Dimas menggeser duduknya sedikit demi memberi ruang pada keponakannya itu. Azkia duduk di sisi ranjang. Poppy mengusap perut buncit menantunya ini.


“Sayang... maafkan nenek ngga bisa menyambutmu datang ke dunia ini. Nenek doakan kamu tumbuh menjadi anak yang soleh. Nenek harap kamu akan sehebat kakek dan ayahmu. Jangan menyulitkan bundamu ya nak.”


Azkia meraih tangan Poppy lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Sepeninggal Daniar, Poppy menerimanya dengan tangan terbuka. Mencurahkan banyak kasih sayang untuknya juga Hanin. Poppy kembali mendongakkan kepalanya melihat ke arah sang suami.


“A.. terima kasih sudah menemaniku selama ini. Maafkan aku kalau belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Aa adalah anugerah terindah dalam hidupku, terima kasih atas semua cinta dan kasih sayangmu padaku. I love you..”

__ADS_1


“Love you more..”


“I love you most..”


“Love you forever..”


“Tolong ijinkan aku pergi a. Biarkan aku pergi membawa semua kenangan indah kita. Aku akan menunggumu membawaku menuju Jannah-Nya.”


“Aku mengijinkanmu sayang... pergilah... aku akan secepatnya menyusulmu.”


Irzal mencium kening Poppy kemudian mulai membisikkan dua kalimat syahadat di telinga sang istri. Dengan suara pelan, Poppy mengikuti bimbingan sang suami. Poppy tersenyum ke arah suaminya. Tak lama tubuhnya terkulai, rohnya sudah meninggalkan raganya untuk selamanya.


Terdengar tangisan dari semua yang ada di kamar. Istri, ibu, nenek, kakak, tante, sahabat dan sebutan yang melekat pada wanita itu kini hanya tinggal kenangan. Kenangan indah yang tak akan mereka lupakan. Dengan berderai airmata Irzal mengecup kening, mata, hidung, pipi dan bibir sang istri.


“Selamat jalan sayang. Terima kasih sudah menjadi tulang rusukku selama ini.”


🍁🍁🍁


Pemakaman keluarga yang digagas Irzal kembali dipenuhi keluarga, kerabat dan tetangga untuk mengantar kepergian wanita cantik yang bernama Poppy Anggraeni, istri dari Irzal Ramadhan. Karyawan di yayasan Qutota’ayyun juga turut datang mengantar dan memberikan salam perpisahan.


Irzal, Dimas, Elang dan Farel turun ke lubang berukuran 1x2 itu. Mereka menyambut jenazah Poppy yang diserahkan oleh Ega, Adit dan Reyhan. Sebisa mungkin Irzal menahan airmatanya tatkala membaringkan tubuh sang istri. Mereka naik ke atas setelah jenazah Poppy berada di posisi yang benar dan tertutup papan.


Reyhan kembali ke sisi Ayunda yang terus saja menangis. Azkia tidak ikut ke makam, tak lama setelah Poppy menghembuskan nafas terakhirnya, ibu hamil itu jatuh pingsan. Ustadz yang mengantar jenazah terus memanjatkan doa agar almarhumah diampuni semua dosanya, dilapangkan kuburnya serta keluarga yang dtinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran.


Irzal masih duduk di samping makam sang istri sambil memegang pusaranya. Kebersamaan mereka harus berakhir hari ini. Airmatanya kembali mengalir. Elang dan Farel mendekati sang ayah kemudian memapahnya untuk berdiri. Diapit kedua anaknya, Irzal berjalan menuju mobil.


🍁🍁🍁


Tamu terus berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa sampai lewat tengah hari. Adit, Debby, Ega, Sarah dan Kalila terus berada di rumah mendiang untuk menyambut tamu. Dimas memilih beristirahat di kamar tamu karena masih shock dengan kepergian Poppy. Begitu juga dengan Rena, dia berdiam diri di taman belakang. Tempatnya sering menghabiskan waktu bersama Poppy jika sedang berkunjung ke rumah ini.


Setelah shalat dzuhur, Irzal memilih beristirahat di kamarnya. Dia duduk bersandar di head board ranjang dengan tangan memeluk figura berisikan foto sang istri. Pintu kamar terbuka, Ayunda masuk membawakan makanan dan minuman untuk sang ayah. Sejak pagi Irzal belum makan apapun.


“Ayah makan dulu.”


“Nanti saja, sini nak.”


“Ayah jangan sedih terus.”


“Kamu mirip sekali dengan bundamu nak. Ayah seperti melihat bundamu saja. Kamu juga jangan menangis lagi. Bunda juga ayah sangat menyayangimu. Seandainya bisa, kami tidak ingin meninggalkan kalian. Tapi sudah menjadi fitrahnya kalau setiap yang bernyawa pasti akan mati. Jika ayah pergi, kamu harus tetap kuat. Ada suami dan anak-anak yang akan tetap menemanimu.”


“Tapi aku mau lebih lama bersama ayah.”


Ayunda memeluk pinggang Irzal. Rasanya tak sanggup kalau harus ditinggalkan sang ayah dalam waktu dekat.


“Tolong panggil suamimu, El, Kia, Farel dan Ara, sayang.”


Ayunda beranjak dari kasur. Dia keluar memanggil suami, kakak dan kakak iparnya. Tak lama keenam orang tersebut masuk ke dalam kamar. Irzal melambaikan tangannya pada mereka. Semua duduk di dekat Irzal.


“Ada apa yah? Apa ayah ingin sesuatu?” tanya Elang.


Irzal menggeleng pelan. Dia menoleh ke arah Azkia yang duduk di samping Elang. Tangannya mengusap perut menantunya. Cucu kelimanya diprediksi akan lahir dua minggu lagi.


“Semoga persalinanmu lancar Kia. Ayah yakin dia akan tumbuh seperti kedua orang tua dan kakaknya. Farel, Ara.. kalian tambah momongan lagi ya, biar keluarga ini tambah ramai.”


“Iya yah.. ngga usah disuruh juga udah usaha tiap hari,” Farel berseloroh.


Ara menepuk lengan sang suami yang selalu berbicara seenaknya. Irzal terkekeh melihat pasangan yang sering terlihat seperti Tom & Jerry. Dia lalu menoleh pada Elang.


“El.. jaga perusahaan dengan baik. Tapi jangan lupa sempatkan waktu untuk keluargamu. Mereka itu lebih utama.”


“Iya yah.. tenang aja. Ada bang Farel ini buat ban serep di perusahaan.”


“Sembarangan!”

__ADS_1


Farel menoyor kepala Elang, ayah dua anak itu hanya terkekeh saja. Irzal lagi-lagi tersenyum melihat interaksi keduanya. Dia bersyukur menemukan Farel di jalanan dan membawanya pulang ke rumah. Walau dia harus berhadapan dulu dengan preman yang menguasai para anak jalanan. Keberadaan Farel membuat suasana di rumah lebih semarak.


“Yun.. kamu ngga mau nambah momongan? Kamu kan belum punya anak perempuan.”


“Maunya sih yah. Tapi kalau dapetnya batangan lagi gimana yah.”


“Usaha lagi sampe dapet apem,” celetuk Reyhan.


“Boleh... tapi mas yang hamil ya.”


Irzal tergelak, diusapnya puncak kepala sang anak. Wajah Ayunda memang lebih mirip foto copy sang istri.


“El, tolong panggil om dan tantemu. Nanti mereka ngambek ngga diajak ngobrol di sini.”


Elang segera beranjak dari duduknya. Rena langsung menuju kamar sang kakak, sedang Firly harus membangunkan Dimas yang ketiduran. Setelah mencuci muka, Dimas melangkah menuju kamar Irzal.


“Ada apa kak?”


“Ngga ada apa-apa. Kakak pengen ngobrol-ngobrol aja sama kalian. Oh iya coba kamu ceritain gimana cara kamu waktu itu nyatuin kakak sama kak Poppy.”


“Iya gimana tan? Aku kan kepo.”


Rena mulai menceritakan kejahilannya di masa remaja dulu untuk mengerjai kedua kakaknya. Semua anak-anak Irzal tergelak mendengar, sesekali terdengar ledekan mereka pada Irzal. Dimas juga tak mau kalah, dia ikut menceritakan usahanya dalam proses penyatuan kakak dan kakak iparnya untuk rujuk.


“Ayah mau tidur?” tanya Ayunda.


“Iya tapi ayah mau wudhu dulu. Rel, tolong panggilin cucu ayah ke sini ya.”


Farel mengangguk lalu bergegas keluar kamar. Elang membantu Irzal menuju kamar mandi. Tak lama Irzal keluar dengan rambut dan wajah yang basah terkena air wudhu. Kelima cucu Irzal juga sudah ada di dalam kamar. Pria itu duduk di sisi ranjang lalu melambaikan tangan pada para cucu.


Aslan yang pertama datang. Irzal mengusap puncak kepala Aslan lalu memeluknya erat. Dia berbisik di telinga cucu sulungnya itu. Aslan mengangguk, kemudian mencium punggung tangan dan pipi sang kakek. Setelah Aslan, Rakan menyusul. Ritual yang sama terjadi juga pada Rakan.


Kini Yumna datang, dipangkunya cucu perempuannya itu lalu mencium keningnya dan membisikkan beberapa kalimat di telinga anak itu. Menyusul setelahnya Aqeel, dia juga ikut menyusul duduk di pangkuan Irzal. Kepalanya mengangguk-angguk mendengar ucapan kakeknya. Terakhir Najwa yang mendekat. Irzal memeluknya lalu membawa ke pangkuannya, lagi beberapa kalimat dibisikkan ke telinga anak itu.


Selesai dengan para cucu, Irzal berbaring di atas ranjang. Ega dan Adit yang curiga melihat anggota keluarga masuk ke kamar Irzal segera masuk ke dalam kamar. Demikian pula dengan Sarah, Debby dan Kalila. Irzal tersenyum ke arah mereka semua.


“El.. di laci situ ada USB. Di dalamnya ada video, nanti malam kalian putar dan tonton sama-sama.”


Elang mengangguk, namun perasaannya mulai tidak enak. Irzal berbaring di atas kasur, matanya menatap ke arah pintu masuk dengan senyum mengembang.


“Bunda kalian sepertinya tidak bisa jauh dari ayah. Dia sudah datang menjemput ayah.”


Sontak semua yang mendengar langsung terkejut. Ayunda menggelengkan kepalanya, dia mulai menangis lagi.


“Ayah..” panggil Elang dengan suara tercekat.


“Ayah pergi dulu. Kasihan bundamu sudah menunggu. Terima kasih sudah hadir dalam hidup ayah. Maafkan ayah kalau belum bisa menjadi ayah sempurna untuk kalian. Kalian harus hidup rukun selamanya, saling menyayangi dan melindungi.”


“Ayah jangan pergi, siapa yang akan mendoakan aku kalau aku akan melahirkan nanti.”


“Sudah ada suamimu nak. Ayah yakin, dia akan menjagamu dengan baik, bahkan lebih baik dari ayah.”


“Aku juga sayang kalian semua. Aku titip anak-anak.”


Irzal memejamkan matanya, kedua tangan diletakkan di atas perutnya dengan tangan kenan berada di atas tangan kiri. Terdengar gumamannya mengucap dua kalimat syahadat. Tak lama dia menghembuskan nafas terakhir dengan senyum tersungging di bibirnya.


“Ayah!!”


**🍁🍁🍁


Huaaaa... mamake mewek lagi😭


Selamat jalan Poppy.. Irzal. Khususon buat Irzal, cinta pertama mamake di tokoh novel yang mamake buat setelah bertahun-tahun Hiatus bikin novel.

__ADS_1


Semakin mendekati ending, semakin berat nulis part² akhir. Terima kasih buat dukungan kalian semua ya.


Jangan lupa mampir juga ke novel mamake yang baru ya. Habis ini mamake up bab 3 Kepentok Perawat Antik. Jadi abis melow di sini, silahkan senyum di sana😉**


__ADS_2