
Reyhan tak langsung mengantarkan Ayunda pulang. Dia membawa gadis itu ke suatu tempat, di mana mereka bisa memandangi kelap-kelip kota dari ketinggian. Keduanya duduk di atas kap mobil menikmati pemandangan Bandung di malam hari. Reyhan mengambil jas dari dalam mobil lalu memakaikannya ke tubuh Ayunda.
“Makasih kak.”
Reyhan kembali mendudukkan dirinya di sisi Ayunda. Gadis itu nampak serius melihat pemandangan di depannya. Hatinya yang tadi sempat panas melihat kebersamaan Firlan dan Salsa, kini sudah lebih baik. Sikap dan kata-kata Reyhan mampu menyejukkan hati Ayunda.
“Kak.. apa sih yang kak Rey suka dari Yunda?”
“Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang?”
“Hmm.. ngga juga sih. Cuma aku penasaran aja, apa sih yang bikin kak Rey suka sama aku. Padahal kak Rey tahu gimana aku. Aku tuh manja, cengeng, jahil kadang nyebelin juga.”
“Hmm.. bisa jadi itu yang bikin aku jatuh cinta sama kamu. Aku senang dengan manjanya kamu, jahilnya kamu, sikap nyebelinnya kamu. Dan saat kamu nangis, aku ingin jadi bahu buatmu bersandar.”
Ayunda membuang wajahnya ke samping. Dia tak ingin Reyhan melihat perubahan warna pipinya. Diam-diam gadis itu tersenyum.
“Sejak kapan kak Rey suka sama aku?”
“Hmm.. sejak kamu umur 17 tahun. Berarti udah empat tahun.”
Ayunda menoleh pada Reyhan, menatap lekat wajah tampan dokter bedah itu. Bagaimana bisa lelaki itu memendam perasaannya selama empat tahun. Sedangkan dirinya yang menyukai Firlan diam-diam selama dua tahun sudah merasa sesak. Tapi Reyhan mampu menahannya selama empat tahun.
“Kenapa kak Rey ngga pernah bilang?”
“Karena waktu itu kamu masih sekolah, masih belum bisa berpikir dewasa dan matamu selalu tertuju pada bang Ilan.”
“Terus alasan kak Rey bilang sekarang?”
“Karena aku ngga mau menyesal. Aku ngga mau jadi orang yang kalah sebelum bertanding, makanya aku tetap bilang perasaanku padamu walaupun aku tahu kamu masih mengharapkan bang Ilan.”
“Aku berhenti berharap sama bang Ilan. Dia kayanya mau balikan sama tuh sambel Salsa. Kak Rey lihat sendiri kan tadi? Bang Ilan kayanya seneng banget digandeng sama Salsa.”
“Aku ngga tahu gimana perasaan bang Ilan. Tapi mungkin aja dia terpaksa melakukan itu. Ngga mungkin juga kan dia menolak Salsa dengan kasar. Dilihat dari sifat Salsa yang keras kepala, dia pasti akan tetap bersama bang Ilan. Kalau bang Ilan menolak pasti akan ada keributan.”
Ayunda terdiam merenungkan semua ucapan Reyhan. Semua yang dikatakan lelaki itu cukup masuk akal. Tapi tetap saja Ayunda kesal setiap mengingat bagaimana Salsa selalu menempel bak permen karet pada Firlan.
“Kenapa kak Rey malah belain bang Ilan? Harusnya kak Rey seneng dong kalau aku kecewa dan menyerah sama bang Ilan.”
“Karena aku ingin bersaing secara fair. Makanya aku minta kamu jangan menghindariku. Tolong berikan aku kesempatan yang sama untuk mengejarmu, membuktikan rasa sayangku dan berusaha memenangkan hatimu. Kalau kamu memang mencintai bang Ilan, maka berusahalah untuk mendapatkan dia. Aku juga akan berusaha mendapatkanmu, membuatmu mencintaiku. Kita lihat nanti siapa yang akan memenangkan pertarungan. Apakah kamu yang berhasil mendapatkan bang Ilan atau aku yang berhasil membuatmu jatuh cinta padaku.”
“Bagaimana kalau ternyata aku lebih memilih bang Ilan? Apa kak Rey ngga nyesel ngelewatin peluang buat nikung? Secara malam ini aku kan lagi gedeg banget sama bang Ilan.”
__ADS_1
“Aku memang mencintai kamu Ay, tapi kebahagiaan kamu itu prioritasku. Kamu tahu kenapa mas El merelakan kak Rain untuk bang Akhtar? Karena mas El tahu kebahagiaan kak Rain bersama dengan bang Akhtar bukan dengan dirinya. Begitu juga aku, kalau memang kebahagiaanmu bersama dengan bang Ilan, aku ngga akan menghalangi. Aku yakin akan ada perempuan lain yang disiapkan Allah sebagai pengganti dirimu.”
Ayunda memandangi wajah Reyhan cukup lama. Mata keduanya saling menatap dan mengunci. Jujur saja, hati Ayunda menghangat mendengar penuturan Reyhan walaupun dia belum tahu pasti tentang perasaannya pada lelaki ini. Tapi hati kecilnya bahagia dicintai begitu besar oleh lelaki seperti Reyhan.
Aku memang mencintai bang Ilan, tapi aku ngga rela kalau sampai kak Rey dimiliki perempuan lain. Aku juga ngga rela kak Rey berhenti mencintaiku. Ya Tuhan ada apa dengan diriku.
🍁🍁🍁
Setelah berkendara hampir dua jam lebih, Firlan menghentikan mobilnya di depan vila mewah di daerah Lembang. Suasana hening sejenak, Salsa menghela nafas panjang melihat vila di depannya. Dia lalu melihat Firlan yang masih terdiam di belakang kemudi.
“Lan..”
“Berhentilah menggangguku Sa. Hubungan kita sudah berakhir setahun yang lalu.”
“Tapi aku tidak pernah menganggap hubungan kita berakhir. Kata putus yang kamu ucapkan itu hanya sepihak. Aku bahkan belum menyetujuinya.”
“Kamu belum menyetujuinya tapi kamu tetap menjalin hubungan dengan lelaki lain.”
Salsa terdiam, jawaban Firlan menohok perasaannya. Otak Salsa berpikir keras bagaimana cara menaklukkan lelaki di sebelahnya ini.
“Maafkan aku Lan. Aku tahu aku salah. Aku selalu bersikap egois dan menyakiti hatimu. Tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku.”
Kamu salah Sa. Kalau kamu pikir aku akan tetap menunggu dan menerimamu setelah semuanya, maka kamu salah besar. Di hati ini sudah tidak ada namamu lagi. sejak kamu memilih untuk pergi sejak saat itu juga aku memutuskan untuk membuangmu dari hatiku. Aku memang tidak bisa melupakanmu dengan cepat tapi bukan berarti aku tidak bisa membuangmu dari hidupku.”
“Kamu bohong Lan. Coba kamu pikir berapa lama hubungan kita terjalin? Aku rasa ngga semudah itu kamu menghilangkan perasaanmu dan menggantinya dengan cinta yang lain.”
“Jika kamu terus menyia-nyiakan cinta yang kuberikan, maka itu bukan hal yang sulit untuk berpaling darimu. Dan itulah yang terjadi pada kita. Selagi aku memintanya dengan baik, pergilah, jauhi diriku dan lupakan aku seperti aku melakukan itu semua padamu.”
“Lan...”
Salsa meletakkan tangannya di paha Firlan kemudian mengusapnya dengan gerakan lembut. Tangan Salsa terus bergerak di atas paha Firlan dan berusaha menuju ke bawah, tapi dengan cepat Firlan menangkap tangan Salsa lalu menghempaskannya.
“Jangan jatuhkan harga dirimu dengan melakukan itu. Turunlah.”
“Kenapa kamu mengantarku ke sini?”
“Lalu aku harus mengantarmu kemana? Ke rumah orang tuamu atau apartemenmu? Di sana tidak orang. Seluruh keluargamu berada di sini.”
“Apa kamu mengkhawatirkanku? Itu sebabnya kamu mengantarku ke sini?”
“Ya, aku khawatir kamu berbuat sesuatu yang mencelakakan dirimu.”
__ADS_1
Senyum mengembang di wajah Salsa. Ternyata Firlan masih mencemaskan dirinya. Bukankah cemas merupakan salah satu bentuk lain dari rasa sayang dan cinta? Salsa tersenyum penuh kemenangan. Hati pria ini masih miliknya. Firlan yang menyadari arah pikiran Salsa, menoleh ke arah gadis itu. Dipandangnya lekat-lekat netra Salsa.
“Aku khawatir kamu mencelakakan dirimu dan membuatku merasa bersalah dan harus bertanggung jawab padamu hingga harus terus berada di sisimu.”
Senyum Salsa menghilang. Tangannya terkepal kencang. Tak ada lagi kelembutan dari tatapannya hanya pancaran penuh amarah dan kekecewaan. Namun Firlan tak mempedulikannya. Dia keluar dari mobil, mengitari badan mobil kemudian membukakan pintu untuk Salsa.
“Turunlah. Aku harus segera pulang,” ucapnya dingin.
Dengan dada berkecamuk Salsa turun dari mobil. Keduanya kemudian berjalan memasuki halaman vila. Firlan memencet bel yang terletak di dekat pintu. Tak lama pintu terbuka, muncul wajah ayah Salsa dari balik pintu. Pria paruh baya itu terkejut melihat kedatangan Firlan bersama putrinya. Setahunya, hubungan keduanya sudah berakhir.
“Selamat malam om.”
“Firlan, apa kabar? Ayo masuk dulu.”
“Terima kasih om. Saya cuma mengantarkan Salsa. Maaf saya tidak bisa lama karena ditunggu oleh papi,” tolak Firlan sopan.
“Hmm.. baiklah. Terima kasih sudah mengantarkan Salsa. Apa anak ini yang memaksamu untuk mengantarnya atau kalian kembali bersama?”
“Saya yang berinisiatif mengantarnya ke sini. Mungkin ini terakhir kalinya saya mengantarkannya pulang. Saya permisi dulu om, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Firlan membalikkan badanya kemudian berjalan menuju kendaraannya. Mata Salsa terus saja melihat ke arah Firlan sampai lelaki masuk ke dalam mobil dan kendaraannya melaju meninggalkan area vila kemudian hilang ditembus malam.
“Lihatlah Sa, kamu sudah melepaskan lelaki baik karena keegoisanmu.”
“Papa tenang saja. Aku akan mendapatkannya kembali.”
“Papa juga seorang laki-laki dan sudah merasakan manis pahitnya kehidupan. Dari sekali lihat papa sudah tahu kalau tidak ada cinta lagi di matanya untukmu. Berhentilah nak, jangan mempermalukan dirimu. Lebih baik kamu kembali ke LA secepatnya.”
Papa Salsa menempuk bahu anaknya pelan kemudian berjalan meninggalkannya. Hati Salsa meradang, bahkan ayahnya sendiri menentang keinginannya.
Lihat saja Lan, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Aku akan mendapatkanmu kembali apapun caranya. Kamu adalah milikku selamanya.
🍁🍁🍁
**Salut nih sama kak Rey, mau bersaing secara fair dengan bang Ilan.
Salut juga sama bang Ilan yang gentle nganterin Salsa ke depan ayahnya langsung dan mengakhiri hubungan.
Salut juga buat para readersku yang terus setia mengikuti kehaluan mamake. Terima kasih buat semua yang udah kasih dukungan sama mamake selama ini. Hari Senin waktunya vote, jangan lupa ya sekalian like and comment nya juga😉😘**
__ADS_1