
Ringgo menghempaskan lembaran kertas di tangannya hingga berhamburan sampai ke lantai. Dia menjatuhkan diri di kursi kerjanya, kepalanya menyandar sementara jarinya memijat pangkal hidungnya. Gara-gara Dimas menerima tawaran Ega menjamu klien pentingnya. Kondisi perusahaan bertambah kacau.
Dimas terpaksa memundurkan semua jadwal termasuk kepergiaannya ke Menado dan pencarian pelaku yang telah menyebabkan kerugian pada cafenya. Baru saja Ringgo menerima laporan kalau cafe Millenial kembali mengalami kerugian. Bukan hanya lima, tapi tujuh cabang cafe itu menderita kerugian. Belum lagi restoran yang berada di Singapura, Bali dan Jakarta juga mengalami kerugian. Total kerugian yang dialami saat ini mencapai 8 milyar.
“Gila!!!” Ringgo menjambak rambutnya frustrasi. Dia bangun dari duduknya lalu memunguti kertas yang berserakan. Dengan gusar dia keluar dari ruangannya menuju ruangan Dimas.
Tanpa mengetuk pintu, Ringgo langsung masuk ke dalam ruangan. Arini yang tengah berada di sana terkejut dengan kedatangan Ringgo yang tiba-tiba. Dengan keras Ringgo meletakkan berkas yang tadi dibacanya ke atas meja.
“Lihat Dim, gara-gara keputusan elo kemarin lihat apa yang terjadi pada kita? Sekarang bukan cuma cafe Millenial yang mengalami kerugian, tapi restoran yang ada di Singapura, Jakarta dan Bali juga mengalami kerugian. Lo tahu berapa total kerugian saat ini? 8 milyar Dim, 8 milyar! Dalam waktu seminggu kerugian bertambah empat kali lipat!!”
Arini terkejut mendengar penuturan Ringgo. Diambilnya berkas yang tadi dibawa oleh Ringgo. Matanya membelalak membaca isi dari berkas tersebut.
“Jelas-jelas ada yang main-main dengan kita Dim. Ini ngga bisa dibiarin,” ucap Arini.
“Kasih tahu temen lo. Gue udah ngga tahu harus bilang apa lagi sama nih orang. Udah ada kabar belum dari Bimo?”
“Belum,” jawab Dimas singkat.
“Sekarang gimana mau bayar pegawai di cafe dan resto? Barang habis tapi uang ngga ada, gimana mau bayar gaji mereka akhir bulan ini?”
“Ambil aja dari uang pribadi gue.”
“Kalau begini terus lo bisa bangkrut Dim. Investasi di Menado dan Milan belum balik modal, belum lagi modal awal yang lo keluarin buat membangun sekolah cukup besar. Ditambah kerugian ini, kita harus cari solusinya Dim.”
“Biar itu jadi urusan gue. Sekarang tolong lo handle dulu urusan cafe and resto yang mengalami kerugian. Suntikan lagi modal ke sana berikut untuk menggaji para karyawan.”
“Gimana kalau minta tolong mas Irzal....”
“Jangan dulu. Biar gue coba atasi ini sendiri dulu.”
Ringgo mengangkat kedua tangannya lalu keluar ruangan dengan kesal. Arini menatap Dimas sejenak, kemudian mengikuti langkah Ringgo keluar. Dimas termenung di kursi kebesarannya. Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Bimo kemarin malam.
Flashback On
Begitu mendapat telepon dari Bimo, Dimas langsung meluncur. Bimo meminta bertemu di rumahnya. Kedatangan Dimas sudah ditunggu oleh Bimo dan Katrina. Wajah pasangan suami istri ini sedikit tegang. Setelah mempersilahkan Dimas duduk, Bimo mulai mengatakan hasil penyelidikannya.
“Sejauh hasil penelusuran aku dan Katrina, semua kerugian yang kamu alami itu didalangi oleh seseorang. Ini masih harus aku konfirmasi dulu, tapi kemungkinan 90 persen memang dia pelakunya,” Bimo menyerahkan beberapa lembar kertas di tangannya. Dimas terhenyak, pandangannya beralih pada Bimo dan Katrina.
“Ini beneran mas?”
“Seperti yang aku bilang, masih harus dikonfirmasi lagi tapi kemungkinan besar memang dia dalangnya.”
__ADS_1
“Apa mas sudah laporan ke kak Irzal?”
“Belum Dim. Aku sengaja ketemu kamu dulu. Gimana? Apa harus aku laporin ke pak Irzal?”
“Apa dia sendirian atau ada yang membantu?”
“Sudah pasti ada yang membantunya. Pekerjaan mereka mulus, hampir tanpa jejak. Sepertinya yang menyewa tenaga profesional itu orang lain. Apa kamu kenal dengan Tamara Handoyo? Dia yang menyewa orang-orang untuk melakukan pekerjaan itu.”
“Dia mantan kakak ipar dari kak Al.”
“Sebenernya kamu ada masalah apa sama Alea? Kenapa dia sampai melakukan hal seperti ini? Bukannya hubungan kalian dekat? Apa suaminya tahu apa yang sudah istrinya lakukan?”
“Aku ngga tahu bang Ega tahu atau ngga. Aku akan bicara langsung dengan kak Al. Tolong jangan katakan apapun pada kak Irzal. Aku yang akan menyelesaikannya. Sekali lagi makasih ya mas, mba.”
“Sama-sama Dim. Kalau kamu butuh bantuan bilang aja ya,” Katrina mengusap punggung Dimas. Dia turut prihatin dengan masalah yang menimpa lelaki ini.
Flashback Off
Dimas memandangi lagi berkas yang didapatnya dari Bimo. Setelah menimbang-nimbang sebentar dia memutuskan untuk bertemu dengan Alea. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Dimas menyambar kunci mobilnya kemudian bergegas keluar ruangan. Tujuannya saat ini adalah butik milik Alea. Dia yakin wanita itu ada di sana.
🍁🍁🍁
Dimas turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam butik milik Alea. Sejak dibuka, butik ini mengalami kemajuan pesat. Saat ini Alea sudah memiliki enam cabang di enam kota berbeda. Seorang karyawan yang telah mengenal Dimas segera menyambutnya.
“Ibu Aleanya ada?”
“Ada, mari pak.”
Karyawan itu mengantar Dimas menuju ruangan Alea. Dimas menarik nafas panjang sebelum memasuki ruangan tersebut. Nampak Alea sedang duduk di belakang meja kerjanya. Dengan wajah datarnya dia mempersilahkan Dimas duduk.
“Ada apa?”
Dimas tak langsung menjawab. Dia menaruh berkas yang dibawanya ke atas meja kemudian mendudukkan dirinya di kursi. Alea mengambil berkas tersebut, hanya senyum tipis yang terlihat.
“Kenapa kak? Kenapa kakak lakukan itu?”
“Itu peringatan untukmu. Jauhi Ily! Kalau perlu kamu pergi jauh darinya. Milan, London terserah kemana saja, asal tidak di sini lagi.”
“Maaf kak, aku ngga bisa mengabulkan permintaan kakak. Keluargaku di sini dan wanita yang kucintai juga berada di sini. Aku ngga punya alasan untuk pindah.”
“Kalau begitu kamu harus bersiap kehilangan perusahaanmu. Akan kupastikan semua usaha yang kamu bangun dari nol akan hancur. Selagi aku masih berbaik hati, tinggalkan Ily dan putuskan hubunganmu dengan semua anak-anakku.”
__ADS_1
“Kenapa kamu berubah kak? Apa kakak sadar sikap kakak ini sudah menyakiti hati anak-anakmu? Aku mencintai Ily dengan tulus, apa yang harus kulakukan agar kakak mau merestui hubungan kami?”
“Cih cinta? Hei, berkacalah Dimas, apa kamu sebanding dengan anakku? Ingat umurmu! Ingat statusmu! Ily berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari dirimu. Firly Sakhi Prakarsa anak dari Graha Prakarsa, CEO Gala Corp menikahi duda tua beranak satu. Itu yang ingin kamu sematkan pada anakku?!”
Dimas memejamkan matanya, masih dengan alasan yang sama Alea menolaknya. Alea bangun dari duduknya, dia berjalan mengitari Dimas yang masih enggan beranjak dari duduknya. Kemudian dia berdiri di sisi kursi Dimas dengan tubuhnya menyandar ke meja kerjanya. Dia menatap pada Dimas seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya.
“Sekali lagi aku tegaskan, tinggalkan Ily atau aku akan membuat hidupmu hancur. Jangan bertindak gegabah, ingatlah Ara. Dia masih membutuhkan banyak biaya untuk sekolahnya. Kalau kamu jadi gelandangan, bagaimana kamu akan membiayai hidupnya?”
“Kakak ngga perlu mencemaskan itu. Aku masih punya kemampuan untuk menghasilkan uang. Dan Ara masih punya ayah yang bisa menjamin kehidupannya walaupun aku jatuh miskin.”
“Kamu pikir aku ngga bisa menghancurkan Humanity? Pikirkan baik-baik Dimas, jangan karena keegoisanmu, kakak dan keponakanmu terkena imbasnya.”
Dimas tersenyum getir, wanita di hadapannya ini benar-benar berubah. Entah apa yang sudah merasukinya hingga dia menjadi wanita kejam.
“Kakak jangan takabur, di atas langit masih ada langit. Ingat kak, semua yang kita miliki hanyalah titipan. Aku tidak peduli apa yang akan kakak lakukan. Tapi keputusanku tidak akan berubah. Aku akan menikahi Ily.”
“Jangan mimpi! Aku sudah menyiapkan jodoh terbaik untuknya.”
Dimas menggeram kesal, tangannya mengepal keras. Dia bangun dari duduknya, kini berdiri berhadapan dengan Alea.
“Jodoh terbaik? Radja maksud kakak? Dia itu pria brengsek yang sudah banyak merusak kehidupan para gadis.”
“Tahu apa kamu tentang dia hah??!! Dia itu lebih baik dari dirimu!”
“Aku akan melepaskan Ily kalau kakak menjodohkannya dengan lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Tapi kalau kakak masih bersikeras menjodohkan Ily dengan Radja, aku ngga akan segan-segan membawa Ily pergi. Kakak boleh menyakitiku, tapi jangan Ily. Aku tidak akan tinggal diam kalau kakak menyakiti Ily, camkan itu kak!”
Setelah melontarkan ancamannya Dimas segera berlalu tanpa mempedulikan teriakan Alea. Dimas menutup pintu ruangan dengan membantingnya cukup keras, mengagetkan beberapa karyawan dan pelanggan yang ada di sana. Alea membanting barang-barang di atas mejanya. Ucapan terakhir Dimas benar-benar membuatnya naik pitam. Diambil ponsel yang ada di atas meja.
“Hancurkan Dimas Saputra!! Hancurkan dia sampai ke akar-akarnya!!” teriak Alea pada orang di seberang sana.
🍁🍁🍁
**Alea benar2 berubah jadi jelmaan mama Fanny ya, hmm.. kira2 dia berhasil ngga ya bikin Dimas bangkrut?
Jangan lupa
Like..
Comment..
Vote..
__ADS_1
Thanks all😘**