
“Kamu mengancam saya? Dasar anak bau kencur. Kejadian pelecehan itu sudah tiga tahun berlalu dan tidak ada bukti atau saksi akan itu.”
“Bagaimana kalau saya punya buktinya? Bukti dia melakukan pelecehan seksual terekam jelas, baik Fandy atau saya memiliki rekaman videonya. Itu adalah bukti kuat untuk menjebloskan Fandy ke dalam penjara.”
“Baik lakukan saja, saya akan membela anak saya bagaimana pun caranya. Tapi kamu, apa kamu sanggup jika video itu diputar di ruang persidangan?”
“Hidup saya sudah hancur karena anak bapak. Mengalami kehancuran sekali lagi tidak ada bedanya untuk saya. Asalkan bisa menyeretnya ke penjara, apapun akan saya lakukan.”
Azkia sudah tidak bisa berpikir jernih, ketakutannya akan kebebasan Elang membuatnya nekad melakukan itu semua. Ayah Fandy geram mendengar ucapan gadis di hadapannya. Dengan wajah penuh amarah dia mendekati Azkia. Belum sampai pada gadis itu, Elang sudah menghalangi jalannya.
“Urusan bapak dengan saya, bukan dia. Sepertinya pengacara bapak sudah datang, mari kita bicara apa yang perlu dibicarakan.”
Tak lama setelahnya seorang pria berusia empat puluhan datang. Dia memperkenalkan dirinya sebagai pengacara dari pihak Fandy.
“Melihat dari luka-luka yang diderita oleh Fandy, saya akan mengajukan tuntutan percobaan pembunuhan pada anda.”
Bukannya gentar, Elang malah terbahak mendengar ancaman sang pengacara. Dia mengeluarkan ponselnya lalu memutar video berupa rekaman cctv di taman.
“Percobaan pembunuhan? Coba lihat baik-baik rekaman tersebut. Fandy datang untuk mengganggu Azkia, bahkan dia melakukan kekerasan pada gadis itu. Dia juga menyerang saya yang coba membantu. Apa yang saya lakukan adalah pembelaan diri.”
“Dilihat dari video jelas anda bukan lawan yang sepadan untuk Fandy. Anda sengaja membuatnya memukul lebih dulu demi keuntungan anda.”
“Katakan saja iya, tapi apa anda bisa membuktikannya? Dengar.. dari pada anda mengurusi urusan perkelahian ini. Lebih baik anda pikirkan bagaimana caranya membebaskan klien anda dari tuntutan prostitusi dan pinjaman ilegal. Laporan untuknya sudah masuk ke kantor polisi, sebentar lagi dia akan menjadi tersangka.”
Baru saja Elang menyelesaikan kalimatnya, ponsel ayah Fandy berdering. Pria paruh baya itu nampak pucat setelah menerima panggilan. Salah satu koleganya di kepolisian mengatakan kalau sebuah laporan akan Fandy baru saja masuk. Anaknya itu dilaporkan telah melakukan prostitusi dan pinjaman ilegal. Bukti-bukti dan saksi semuanya telah ada di kantor polisi.
“Kita ke kantor polisi sekarang.”
Ayah Fandy bergegas meninggalkan rumah sakit ditemani oleh pengacaranya. Kini hanya tinggal Elang dan Azkia. Elang membalikkan tubuhnya menghadap pada Azkia.
“Apa yang kamu lakukan tadi hah?”
“A.. aku hanya ingin membantu mas. Aku takut mereka akan menjebloskan mas ke dalam penjara.”
“Apa kamu tidak percaya padaku? Aku sudah memikirkan soal ini baik-baik. Video apa yang Fandy kirimkan padamu? Apa video saat dia melecehkanmu? Itu yang mau jadikan bukti di pengadilan?”
Azkia menundukkan kepalanya. Tangannya menggenggam ponselnya erat. Elang mengambil ponsel tersebut. Tanpa melihat isinya dia segera menghapus video tersebut.
“Dengan atau tanpa video itu, aku akan menjebloskannya ke penjara. Kamu jangan pikirkan apapun, mengerti?”
“Iya mas.”
“Ayo pulang.”
Sebelum pergi, Elang meminta Doni tetap berada di rumah sakit untuk mengawasi perkembangan Fandy yang masih belum sadarkan diri. Elang dan Azkia berjalan beriringan menuju pintu keluar. Saat di dekat pintu keluar mereka bertemu dengan Syifa.
“Syifa.”
“El..”
“Kamu ngapain di sini? Siapa yang sakit?”
“Adikku tadi kecelakaan.”
Mendengar adik Syifa kecelakaan, Elang memutar tubuhnya kembali menuju IGD. Mau tak mau Azkia mengikuti langkah Elang. Dia berjalan di belakang Elang dan Syifa yang berjalan bersisian.
Azkia memilih menunggu dari jarak yang tidak terlalu dekat. Elang tampak sedang berbicara dengan adik Syifa. Pemuda itu tidak terluka parah, hanya mengalami cedera ringan saja. Raut Syifa terlihat begitu bahagia, dia terus menempel pada Elang. Saat Elang pamit pulang, Syifa menahannya.
“El, kamu mau kan temenin aku di sini? Rado belum boleh pulang dan aku ngga tega ninggalin dia sendiri. Please temenin aku ya.”
Sebelum Elang menjawabnya Azkia memilih untuk pergi. Rasanya tak sanggup jika Elang menyanggupi permintaan gadis itu. Azkia terdiam di depan pintu masuk IGD. Tangannya mulai bergerak mengusap layar ponsel, dia bermaksud memesan taksi online. Tiba-tiba dia merasakan bahunya ditutupi sesuatu. Azkia menoleh, Elang baru saja menaruh jaket ke tubuhnya.
__ADS_1
“Kamu mau kemana? Kenapa ngga nunggu aku hmm?”
“Aku kira mas mau nemenin mba Syifa.”
“Di sini ada dokter dan suster yang bisa membantunya. Tapi kalau sesuatu terjadi sama kamu di jalan, siapa yang akan menolongmu? Ayo pulang.”
Senyum Azkia mengembang, ternyata Elang lebih memilih mengantar dirinya pulang daripada menemani Syifa.
🍁🍁🍁
Poppy mondar-mandir menunggu kepulangan anaknya. Setengah jam yang lalu Andri melaporkan kalau Elang terlibat masalah dan kemungkinan akan terkena tuntutan hukum. Irzal keluar dari ruang kerjanya. Melihat istrinya gelisah, dia pun segera menghampiri. Dipeluknya Poppy dari belakang seraya memberikan kecupan di bahunya.
“Kamu kenapa sayang?”
“El, mas. Kata Andri dia terlibat masalah.”
“Heh.. Andri tuh bocor banget mulutnya.”
Irzal melepaskan pelukannya lalu mengajak Poppy duduk di sofa. Dirangkulnya tubuh istrinya untuk memberikan ketenangan.
“Elang itu habis nolong Azkia.”
“Azkia?”
Irzal mengangguk, lalu mulai menceritakan semuanya pada Poppy. Tentang Fandy, tentang orang suruhan dirinya untuk mengawasi Elang serta kejadian malam ini lengkap tanpa bersisa.
“Terus kalau sampai El dituntut gimana? Kok aa tenang-tenang aja sih.”
“Sayang.. El itu sudah memperhitungkan semuanya. Begitu tahu soal Azkia, dia langsung menyelidiki Fandy. Sekarang laporan dan bukti-bukti kejahatan Fandy sudah masuk ke kantor polisi. Sebenarnya kalau dia mau dari minggu kemarin dia sudah bisa jeblosin Fandy ke penjara. Tapi dia sengaja nunggu Fandy muncul di depan Azkia, supaya dia bisa puas kasih pelajaran.”
“Ya ampun bapak sama anak sama-sama suka bikin senewen.”
Farel muncul dari balik pintu seraya melemparkan cengiran kuda. Dia mengusap tengkuknya, malu ketahuan menguping oleh orang tuanya. Farel duduk berhadapan dengan Irzal dan Poppy.
“Sejak kapan anak bunda suka kepo urusan orang?”
“Maaf bunda, kalau menyangkut El dan Azkia jiwa kepoku meronta,” Farel terkekeh.
“Rel, apa yang kamu dengar tadi cukup kamu simpan sendiri. Jangan beri tahu Elang kalau ayah menyuruh orang mengawasinya. Juga soal ayah sama bunda yang sudah tahu soal Azkia.”
“Beres yah,” Farel menggerakkan tangannya di depan mulut pertanda tutup mulut.
“Terus kamu? Kapan kamu mau bawa calon kamu ke bunda?”
“Ya ampun bunda itu lagi yang ditanya. Kan aku udah bilang, kalau El udah nikah baru aku nikah. Lagian sekarang juga belum ada calonnya.”
“Assalamu’alaikum...”
“Waalaikumsalam.”
Pembicaraan ketiganya terhenti ketiga terdengar suara Ara memasuki ruangan. Poppy cukup terkejut melihat keponakannya berkunjung malam-malam. Gadis cantik yang kini berusia empat belas tahun itu menghampiri Poppy dan Irzal lalu mencium punggung tangannya.
“Ara sama siapa ke sini?”
“Sama papa.”
“Mana papanya?”
“Papanya langsung pulang. Ara mau nginep di sini bunda, udah janjian sama kak Yunda.”
“Hilih nginep di sini pasti ada maunya,” sambar Farel.
__ADS_1
“Ih kak Farel tau aja, paranormal ya?”
“Ngga usah jadi paranormal kakak juga udah tahu maksud kamu nginep. Pasti kamu punya tugas prakarya buat di sekolah kan?”
“Ya ampun kak Farel emang yang paling ngerti aku. I lope.. lope.. deh sama kakak.”
“Ogah dapet lope dari anak yang masih suka ingusan sama ileran kaya kamu.”
“Bunda.. ayah.. kak Farel tuh.”
“Dih dasar aduan. Aku tidur dulu ya bun, yah.”
“Kakak... ini tugas prakaryaku gimana?”
“Bodo, emang gue pikirin.”
Farel segera ngacir meninggalkan Ara. Poppy hanya geleng-geleng melihat kelakuan Farel. Dia menyuruh Ara untuk menyusul Farel. Gadis itu segera berlari ke lantai atas. Tanpa permisi dia langsung membuka pintu kamar Farel.
“Kak.. ayo dong bantuin.”
“Ngagetin aja nih tuyul.”
“Ayo dong kakakku yang ganteng, baik hati, rajin menabung dan sangat menyayangi Ara,” Ara memainkan puppy eyes-nya.
Farel menghela nafasnya, kalau sudah begini dia tidak akan tega menolak permintaan adiknya itu. Melihat anggukan kepala Farel, Ara bersorak senang. Dia langsung duduk di lantai, mengeluarkan semua bahan-bahan prakaryanya.
Satu jam kemudian prakarya selesai dibuat. Ara tersenyum senang karena hasilnya sangat bagus. Tangan dingin Farel memang tidak perlu diragukan lagi ketika mengerjakan karya seni. Sudah berulang kali Ara mendapat nilai bagus berkat bantuan Farel.
“Kak, kita selfie yuk. Aku mau pajang di FB sama IG.”
“Wani piro?”
“Ayo dong kak. Biar aku ngga disangka jomblo ama temen-temen.”
“Dih masih kelas dua esempe aja udah ganjen.”
“Ayo dong kak. Kalau aku minta sama mas El yang ada aku diceramahin.”
Farel pasrah saja ketika Ara mengajaknya berselfie ria. Kalau gadis itu sudah punya keinginan, Farel bisa apa. Menolak sekeras apapun ujung-ujungnya pasti akan kalah juga.
Puas mengambil beberapa gambar, Ara langsung memposting foto tersebut ke laman FB dan IG-nya dengan caption My future imam. Melihat caption Ara, Farel menoyor kepala adiknya itu.
“Kamu mau bikin kakak ngga laku pasang caption kaya gitu?”
“Iya hahaha...”
Sebelum toyoran kembali mendarat di kepalanya, Ara bergegas kabur dari kamar Farel lalu masuk ke kamar Ayunda. Hasil prakarya serta sampah yang berserakan dibiarkan begitu saja. Sambil mendumel Farel membereskan itu semua lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
🍁🍁🍁
Mamake mah speechless deh kalau menyangkut mas El.. lope Somad lah mas El😍
**Ara ngga boleh julid ya, itu babang Farel kasian kalau sampe jomblo abadi😂
Ayo olahraga jempol dulu gaesss..
Like..
Comment..
Vote**..
__ADS_1