Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : FAREL & ARA Janda Perawan


__ADS_3

“Ra..”


“Hmm..”


Ara terus menatap ke layar televisi. Farel menyentuh dagunya kemudian mengarahkan wajah Ara menghadapnya. Farel mendekatkan wajahnya kemudian me,**mat bibir Ara. Gadis itu hanya terdiam merasakan sentuhan bibir suaminya. Farel terus memagut bibir Ara dengan lembut.


“Ra..” Farel melambaikan tangannya ke depan wajah Ara.


BYARR


Seketika lamunan Ara tentang ciumannya dengan Farel ambyar. Wajah Ara merona, malu rasanya kalau Farel sampai tahu dia membayangkan adegan mesum.


“Ra..”


“Apa?”


“Itu filmya udah abis.”


“Ya udah matiin aja tivinya. Ara mau tidur, ngantuk.”


Ara bergegas naik ke lantai atas. Farel meraih remote televisi kemudian mematikannya. Dia berjalan menuju pintu untuk menguncinya. Setelah mematikan lampu di ruang tengah juga ruang makan, dia masuk ke dalam kamar.


Baru saja Farel membaringkan tubuhnya ketika pintu kamar terbuka. Ara masuk ke dalam kamar lalu merangkak naik ke atas ranjang.


“Ara mau tidur di sini. Takutnya tar malem hujan kaya kemarin.”


Farel menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk Ara. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di samping Farel dengan posisi tidur membelakangi suaminya.


Baru saja Farel akan memejamkan matanya ketika merasakan tendangan kaki Ara di bokongnya. Dengan kesal Farel menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Tapi lagi-lagi Ara mendendangnya, bahkan kini tangannya juga menimpa dadanya beberapa kali. Farel bangun dari tidurnya lalu duduk bersila.


“Ara! Kamu sengaja kan!”


Ara membuka matanya lalu menatap Farel dengan garang. Dia mengangkat tubuhnya. Kini keduanya duduk berhadapan di atas kasur.


“Bang Farel tuh nyebelin tau ngga! Nyebelin.. nyebelin.. Nyebelin..”


Ara memukuli tubuh Farel dengan guling. Farel merebut guling dari tangan Ara lalu melemparkannya asal.


“Kamu kenapa sih?”


“Aku benci sama bang Farel!!”


“Kamu boleh benci abang sepuasnya. Tapi sampai papa kamu pulang, kamu tetap tanggung jawab abang. Setelah papa pulang, abang akan kembaliin kamu ke papa. Jadi bersabar saja untuk beberapa bulan lagi.”


Farel beranjak dari kasur. Hatinya sakit mendengar Ara begitu membencinya. Baru saja dia akan keluar kamar, sebuah bantal mengenai belakang kepalanya. Farel mencoba tak mempedulikannya. Tangannya meraih gagang pintu, namun lagi-lagi sebuah bantal mengenai kepalanya. Dengan kesal dia berbalik menghadap Ara kemudian mendekati gadis itu.

__ADS_1


“Apa masalah kamu hah?”


“Masalahku itu bang Farel!! Kenapa bang Farel jadiin aku istri!!”


“Itu keinginan papa kamu! Abang udah bilang bertahan sebentar lagi. Abang akan bebasin kamu dari ikatan ini!!”


“Bang Farel mau bikin aku jadi janda, iya??!!


“Itu kan mau kamu??!!”


Farel sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Sudah cukup dia bersabar dengan istri labilnya ini. Dan sekarang stok kesabarannya sudah semakin menipis. Farel menjauh dari Ara. Sebelum dia kehilangan kendali, lebih baik dia menyingkir. Namun langkahnya tertahan mendengar isak tangis Ara disertai ucapannya.


“Abang tahu kenapa Ara setuju dengan pernikahan ini? Selain karena menyesal, Ara juga ngga mau menambah beban pikiran papa. Ara sadar sudah melakukan kesalahan, ini bentuk penyesalan Ara. Ara juga sudah menyakiti hati bang Farel. Ara mau ngelakuin semua yang abang suruh karena Ara mau nunjukin kalau Ara benar-benar menyesal dan berusaha memperbaiki diri.”


Ara terdiam sebentar, berusaha menghentikan tangisnya sebelum melanjutkan ucapannya. Farel berbalik lalu berjalan mendekati Ara. Dia duduk di sisi ranjang kemudian menghapus airmata yang membasahi pipi istrinya.


“Ngga ada laki-laki yang mencintaiku. Dulu Yama mengejarku karena taruhan dan cuma ingin tidur denganku. Lalu bang Farel menikahiku karena papa. Bang Farel mengorbankan diri demi aku. Aku cuma beban di hidup abang.”


“Ngga sayang.. ngga gitu.”


“Iya, di mata abang, aku ngga lebih seperti beban. Makanya pas nanti papa pulang, abang mau lepasin Ara. Kalau abang mau lepasin Ara, lepas aja sekarang. Ara janji ngga akan macem-macem. Ara takut kalau harus menunggu papa pulang, Ara semakin ngga bisa lepas dari abang.”


“Maksud kamu?”


“Ara ngga mau sakit hati. Ara ngga ngerti apa yang Ara rasain. Tapi Ara ngga suka lihat ada cewek yang deket-deket abang. Abang itu suami Ara, milik Ara, ngga ada perempuan lain yang boleh deketin abang.”


“Ara tahu abang mau lepasin Ara karena abang mau nikah sama Diandra kan?”


“Ngga sayang...”


“Sayang.. sayang... sayang abang cuma di bibir aja. Abang sayang sama Ara cuma sebagai adik aja. Hiks.. hiks.. Begitu papa pulang abang bakal kasih gelar baru buat Ara. Ara bakal jadi janda, janda perawan, jangankan ditidurin, dicium aja belum pernah. Hiks.. hiks.. sedih banget nasib Ara.. sedang abang bakal langsung nikah sama Diandra. Abang jahat... Ara sebel sama abang... abang mmpphh..”


Farel sudah tak sanggup mendengar ocehan Ara yang mulai melantur. Dia terpaksa membungkam bibir sang istri dengan ciuman di bibirnya. Mata Ara membelalak mendapat serangan dadakan dari Farel. Dia berusaha mendorong dada Farel namun sia-sia, suaminya itu malah menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman.


Farel terus memagut bibir Ara, gerakannya yang tadi sedikit tergesa mulai perlahan dan penuh kelembutan. Ara menutup matanya, menikmati ciuman pertamanya. Tangannya mencengkeram erat kaos Farel. Setelah beberapa saat Farel mengakhiri ciumannya kemudian menyatukan kening mereka.


“Abang sayang kamu Ara. Bukan sebagai adik, tapi sayang seorang laki-laki kepada wanita. I love you Ara.”


“Abang ngga bohong?”


“Ngga.. abang beneran cinta sama kamu. Keputusan abang menerima permintaan papa untuk menikahimu karena abang mencintaimu.”


“Tapi Ara kan ngga secantik dan seseksi Fitria atau Diandra. Kok abang bisa cinta?”


Farel menatap gemas istrinya ini. Dia meraih pinggang Ara kemudian membawa gadis itu ke pangkuannya. Ara mengalungkan tangannya ke leher Farel. Gadis itu semakin berani bersentuhan dengan Farel.

__ADS_1


“Abang ngga butuh perempuan cantik atau seksi buat bikin dada abang berdebar. Cukup sikap kamu yang kadang gemesin, nyebelin, bikin naik darah itu udah bikin abang berdebar.”


“Abang muji apa ngeledek Ara?”


Farel tergelak, lalu mendaratkan kecupan di bibir istrinya. Ara semakin mengeratkan pelukannya di leher Farel.


“Kalau abang beneran cinta sama Ara kenapa abang belum itu..”


“Belum apa?”


“Itu... yang suka ada di film dewasa yang suka keluar kata-kata oh no oh yes oh God.”


Farel kembali tergelak, dia sungguh bingung terbuat dari apa otak istrinya ini. Dengan gemas disentilnya kening Ara. Gadis itu mengusap keningnya seraya mengerucutkan bibirnya.


“Abang laki-laki normal Ara. Jujur abang mau banget ngelakuin itu. Tapi abang harus menahannya sampai kamu lulus sekolah. Abang ngga mau konsentrasi kamu terganggu menjelang ujian apalagi kalau kamu sampai hamil.”


“Jadi itu-itunya selesai Ara ujian nih? Terus sekarang kita ngapain aja?”


“Kita pacaran dulu aja ya.”


“Pacaran kaya di drakor-drakor ya bang. Jalan-jalan sambil pegangan tangan, nonton di bioskop, ciuman di bioskop, ciuman di mobil. Pokoknya yang mesra-mesra gitu. Kan selama ini abang tuh udah kaya kompeni, kerjanya merintah Ara sambil marah-marah.”


“Hahaha... iya sayang terserah kamu aja.”


“Abang..”


“Hmm..”


“Bobo yuk. Ara ngantuk, tapi cium dulu.”


Farel menautkan bibirnya, ku**man, l**atan dan pagutan kembali dia berikan. Sebisa mungkin Ara membalas ciuman suaminya. Disesapnya bibir bawah suaminya yang seksi. Farel menghentikan ciumannya sebelum dirinya kehilangan kendali. Direbahkan tubuh Ara ke atas kasur kemudian dia membaringkan diri di samping sang istri.


“Abang.. peluk..”


Farel menarik Ara dalam pelukannya. Beberapa kali puncak kepala Ara dikecupnya. Ara menelusupkan wajahnya ke dada sang suami. Aroma yang akhir-akhir ini begitu disukainya sudah memenuhi rongga hidungnya. Tangan mungilnya memeluk pinggang Farel. Tak butuh lama, dia sudah terlelap dalam tidurnya.


Senyum Farel mengembang melihat wajah damai sang istri ketika tertidur. Dalam hatinya bersyukur hubungannya dengan Ara sudah berkembang sejauh ini. Namun kini dia harus lebih kuat menahan diri. Berdekatan dengan Ara, membuat gairahnya mudah tersulut. Dia takut tak bisa menahan diri dan menerkam istrinya.


🍁🍁🍁


**Cieee bang Farel akhirnya bisa cium Ara juga. Emak² ketipeng tadi ya, dikira beneran Farel cium Ara, otaknya udah pada ngeres nih🤣🤣


Jangan ngarep bang Farel buka paket ya mak emak, mohon pahami Ara masih sekolah, apalagi papa Dimas udah wanti² anaknya jangan dibuat masuk angin dulu.


Harap bersabar nunggu 'itu-itu' nya bang Farel sama Ara ya😁

__ADS_1


Dukungannya jangan lupa ya..😉**


__ADS_2