Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Love You


__ADS_3

Sambil berlari kecil, Ayunda menuruni tangga rumahnya. Harum masakan langsung tercium indra penciumannya. Langkah Ayunda langsung saja menuju dapur. Terlihat Poppy baru saja mengeluarkan sesuatu dari oven.


“Bunda bikin apa? Wangi banget.”


“Bunda lagi nyoba resep kue baru. Cobain nih.”


Poppy menyuapkan sepotong kue pada Ayunda. Mata gadis itu membelalak seraya mengacungkan kedua jempolnya.


“Enak banget bun. Nanti ajarin Yunda ya.”


“Iya, nanti bunda ajarin. Sekarang kamu anterin dulu kue ini buat mama Sarah.”


“Ok, buat mami Al ngga bun?”


“Udah tadi bunda yang antar.”


“Ok deh.”


Ayunda mengambil kotak kue dari atas meja makan lalu berjalan keluar rumah. Ayunda melintasi kediaman Ega yang tampak sepi. Kemudian dia menuju rumah Sarah. Keningnya mengkerut melihat motor yang biasa dikendarai Reyhan sudah terparkir di depan rumah. Setahunya tadi Reyhan bilang akan ke rumah sakit lagi sepulang menonton.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Ayunda melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Kedatangannya segera disambut Sarah. Gadis itu mencium punggung tangan Sarah.


“Ma, ini ada titipan dari bunda.”


“Apa ini?”


“Bunda abis coba resep baru, enak loh ma.”


“Bunda kamu emang ngga usah diragukan lagi kalau bikin kue. Ayo masuk dulu.”


“Papa mana ma?”


“Ada tuh di ruang tengah lagi nonton tv.”


Ayunda mengikuti langkah Sarah menuju ruang tengah. Tampak Regan sedang duduk sambil menonton televisi. Ayunda menghampiri Regan lalu mencium punggung tangannya. Regan meminta Ayunda duduk di sampingnya.


“Gimana bahu kamu, sudah sembuh?”


“Udah pa. Dokternya galak banget, dari pada kena semprot mendingan nurut aja.”


Regan terkekeh. Dia sudah mendengar bagaimana reaksi Reyhan saat Ayunda nekad magang dalam keadaan bahunya yang masih cedera.


“Kak Rey udah pulang pa?”


“Udah.”


“Cepet amat ke rumah sakitnya. Biasanya suka lama kalo ke rumah sakit.”


“Dia cuma ada operasi pagi. Mau ngapain lagi di rumah sakit kalau udah beres kerjaannya. Dari tadi dia udah pulang.”


Ayunda mendesis kesal, berarti Reyhan hanya beralasan saja ke rumah sakit. Rupanya lelaki itu memang tak ada niatan mengantarnya pulang. Wajah Ayunda berubah kesal, hatinya komat kamit merutuki Reyhan.


“Pa, aku mau ketemu kak Rey, boleh ya.”

__ADS_1


“Naik aja Yun, dia lagi di kamarnya kok.”


Setelah mendapat ijin dari Regan, Ayunda bergegas naik ke lantai dua. Saking kesalnya dia langsung membuka pintu kamar Reyhan tanpa mengetuk lebih dulu. Saat yang bersamaan Reyhan baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya terbalut handuk sebatas pinggang saja.


“Aaaaaa!!!”


Ayunda berteriak sambil menutup matanya. Reyhan yang terkejut melihat kedatangan Ayunda yang tiba-tiba juga refleks menutup dadanya yang telanjang dengan kaos yang ada di kasur. Ayunda buru-buru keluar kamar seraya membanting pintu. Dia menyender di dinding sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.


Ish kak Rey, dasar mesum, ngapain coba keluar kamar mandi cuma pake handuk doang. Duh mata gue kan jadi ternoda. Tapi badan kak Rey bagus juga ya. Hush.. istighfar Yun.


Belum hilang debaran di dada Ayunda, pintu kamar Reyhan kembali terbuka. Kini laki-laki itu sudah berpakaian lengkap, mengenakan kaos dan celana joger. Reyhan ikut menyender di dekat Ayunda dengan kedua tangan menyilang di dadanya.


“Dasar kak Rey mesum. Keluar kamar mandi cuma pake handuk doang.”


“Loh itu kan kamar aku, bebas kan mau ngapain juga. Salah kamu masuk kamar cowok ngga ngetuk dulu. Masih untung aku pakai handuk coba kalau ngga pake apa-apa. Kan untung di kamu, aku yang rugi.”


“Kak Rey!!”


Reyhan tak bisa menahan senyumnya melihat wajah Ayunda yang memerah karena godaannya. Ayunda melihat kesal pada Reyhan, namun hidungnya mencium aroma harum tubuh pria itu, membuat perasaannya tambah tak karuan.


“Kamu pasti belum mandi ya.”


“Mandi ngga mandi aku tetap cantik kok.”


“Tapi jorok.”


“Biarin wleee,” Ayunda menjulurkan lidahnya ke arah Reyhan.


“Tumben ke sini, kangen ya?” Reyhan menaik turunkan alisnya.


“Mana ada! Aku abis nganterin kue buat mama Sarah. Sekalian aku mau marah sama kak Rey karena udah bohongin aku.”


“Kak Rey bilang tadi mau ke rumah sakit, padahal bohong. Kak Rey langsung pulang kan abis nonton. Bilang aja kalau ngga mau anterin Yunda pulang. Cih ngomong cinta cuma di mulut doang, ngga ada pembuktiannya.”


“Udah nyerocosnya?”


Ayunda hanya melengos. Reyhan menarik ujung jilbab instan Ayunda, membawa gadis itu menuju balkon kemudian memintanya duduk di sofa panjang di sana. Reyhan pun mendudukkan bokongnya di samping Ayunda dengan posisi menyamping hingga tubuhnya berhadapan dengan Ayunda.


“Emang kalau tadi aku ngga bohong, kamu mau pulang bareng aku? Terus bang Ilan kamu tinggal gitu aja, sadis.”


“Ng...”


“Aku tahu tadi kamu pasti bingung. Mau pulang bareng aku, ngga enak sama bang Ilan. Mau pulang bareng bang Ilan, ngga enak sama aku. Makanya tadi aku bohong bilang mau ke rumah sakit, karena aku ngga mau buat kamu dalam dilema. Bisa nonton bareng kamu, aku udah bahagia kok.”


Ayunda menatap Reyhan, kedua netra mereka bertemu dan saling mengunci. Masing-masing menikmati wajah di hadapannya. Tangan Reyhan bergerak ke arah kepala Ayunda, menyingkirkan daun kecil dari hijabnya. Entah sengaja atau tidak, Reyhan membelai puncak kepala Ayunda ketika mengambil daun dari hijabnya. Hati Ayunda berdesir merasakan sentuhan lembut tangan Reyhan di puncak kepalanya.


“Kak Rey jangan begini. Kalau kak Rey terus bersikap seperti ini, bisa-bisa Yunda jatuh cinta sama kak Rey.”


“Itu yang aku harapkan Ay. Aku berharap kamu membalas cintaku.”


Ayunda menatap Reyhan sejenak kemudian menundukkan pandangannya. Pancaran mata Reyhan seperti menembus relung hatinya, menghadirkan gelanyar aneh dalam hatinya.


“Ay.. kamu mau menikah denganku?”


Ayunda mengangkat kepalanya, sekali lagi ditatapnya Reyhan. Wajah lelaki itu nampak serius dengan ucapannya. Ayunda pun tak bisa membohongi kalau sudut hatinya bahagia mendengar pertanyaan tadi. Tapi lidahnya masih terasa kelu untuk memberikan jawaban. Suasana hening menguasai mereka selama beberapa detik sebelum dering ponsel Ayunda mencairkan kebekuan.


“Iya bunda.”

__ADS_1


“...”


“Iya, Yunda pulang sekarang.”


Ayunda berdiri dari duduknya. Telepon barusan berasal dari Poppy yang menyuruhnya cepat pulang karena sebentar lagi akan masuk waktu maghrib. Reyhan ikut berdiri kemudian mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya.


Keduanya berjalan keluar rumah kemudian menuju kediaman Ayunda. Jarak rumah mereka yang hanya beberapa meter saja, membuat mereka tak membutuhkan waktu lama untuk sampai. Sebelum masuk ke dalam rumah, Reyhan menahan Ayunda.


“Ay.. malam ini kita makan di luar yuk.”


“Makan di mana kak?”


“Hmm.. gimana kalau di jalan Riau. Di sana baru dibuka street food, menunya banyak.”


“Boleh deh kak. Jam setengah tujuh aja ya.”


“Iya, kamu mandi dulu biar di sana ngga banyak lalat kalau kamu dateng.”


“Kak Rey nyebelin!”


Ayunda memanyunkan bibirnya kemudian masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan kakinya. Reyhan hanya mengulum senyum tipis, kemudian dia kembali ke rumahnya.


🍁🍁🍁


Suasana street food di daerah Riau sudah ramai oleh pengunjung. Rata-rata yang datang adalah kawula muda. Street food ini dibuat konsep seperti food court yang memakai satu kasir untuk semua pembayaran. Tempat makannya ada yang menggunakan meja lipat dan kursi, ada juga yang bentuknya lesehan.


Setelah memarkirkan motornya, Reyhan mengajak Ayunda duduk di tempat lesehan yang masih tersisa. Seorang pelayan datang memberikan daftar menu. Ayunda melihat satu per satu lembaran menu yang ada di meja. Lalu pilihannya jatuh pada bebek kremes dan segelas orange juice. Reyhan memesan nasi bakar komplit juga orange juice.


Ayunda memandang berkeliling, suasana Riau street food ini benar-benar ramai. Selain menjajakan aneka hidangan khas nusantara, di sini juga dilengkapi dengan hiburan berupa live performance dari pengamen jalanan.


“Ay.. tumben kamu pengen naik motor.”


“Lagi pengen aja. Aku paling suka lihat mas El sama kak Kia boncengan naik motor. Kayanya mesra banget.”


“Makanya kamu terima lamaran aku. Biar kita bisa boncengan tiap hari.”


“Ish ngga mau ah kalau naik si butut. Kalau tiba-tiba mogok gimana.”


“Kalau kamu mau nikah sama aku, aku bakalan ganti motor deh.”


“Ish kak Rey..”


Ayunda menutupi wajahnya dengan lembaran menu yang ada di meja. Reyhan semakin dibuat gemas oleh tingkahnya. Dia menumpukkan kedua tangannya di meja lalu meletakkan dagunya di atasnya dengan mata terus menatap ke arah Ayunda. Membuat gadis itu semakin salah tingkah.


“Ay..”


“Hmm..” Ayunda mengintip dari balik kertas yang dipegangnya.


“Love you.”


Ayunda kembali menyembunyikan wajahnya dibalik kertas. Senyum Reyhan mengembang. Sebenarnya dia juga tak mengerti kenapa bisa selebay ini, tapi menggoda gadis itu begitu menyenangkan dan menjadi hobi barunya.


Tanpa mereka sadari sepasang mata terus saja menatap ke arahnya. Mata yang menyiratkan amarah juga cemburu. Pemilik mata itu bergegas pergi karena tak tahan dengan pemandangan di depannya. Dia menyesal kenapa harus datang ke tempat ini dan disuguhkan pemandangan yang menyakitkan hati.


**🍁🍁🍁


Kak Rey bisa aja bikin hati dek Ay cenat cenut. Eh tapi kira² siapa yang liatin mereka?

__ADS_1


Udah weekend aja nih. Selamat malam mingguan ya, selamat berkumpul bersama keluarga atau pacar atau temen²nya.


Jangan lupa dukungannya buat mamake, oceh😉**


__ADS_2