Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE We Are Family


__ADS_3

Elang memasuki dojo yang terletak di bagian belakang rumah. Setiap hari Minggu, dia juga yang lainnya selalu menyempatkan diri berlatih taekwondo. Di dalam dojo, dia melihat Farel sedang berlatih pukulan dan tendangan menggunakan samsak. Tak lama Ayunda masuk, dia juga hendak berlatih. Akhir-akhir ini dia merasakan berat tubuhnya bertambah karena hobi ngemilnya.


Elang baru saja selesai memakai seragamnya. Dia kembali melirik ke arah Farel. Tubuh kakaknya itu sudah basah oleh keringat. Entah sudah berapa lama Farel berlatih. Rambutnya juga sudah basah seperti orang keramas saja. Sejenak Elang memandangi Farel, merasakan sesuatu yang tidak beres dengan kakaknya.


“Bang.. latihan dari jam berapa?”


Tak ada jawaban dari Farel. Dia terus saja melatih pukulan dan tendangannya. Elang pun berjalan menghampirinya.


“Bang, istirahat dulu. Jangan terlalu diforsir.”


Farel sama sekali tidak mendengar ucapan Elang. Pikirannya dipenuhi dengan Valen. Masa lalu Valen serta sepak terjangnya yang membuatnya muak. Tadi malam dia baru mendapat informasi tentang ibunya. Erika hamil ketika berpacaran dengan Valen. Tapi pria itu enggan bertanggung jawab karena tengah merintis kembali karirnya. Bahkan pria itu menyuruh Erika untuk menggugurkan kandungannya.


Demi untuk menyelamatkan janinnya, Erika pergi keluar Jakarta dan memilih tinggal di pedesaan kecil. Di sana juga dia melahirkan Farel, hingga akhirnya meninggal akibat pendarahan. Farel kecil diasuh oleh seorang wanita yang menampung Erika selama ini. namun ketika wanita itu meninggal, Farel dibawa ke Bandung oleh anak wanita itu kemudian dijadikan pengemis dan pengamen jalanan. Hingga akhirnya Irzal menemukannya lalu membawanya pulang serta memberinya kehidupan baru.


Dada Farel terasa sesak mengingat itu semua. Pukulan dan tendangannya semakin keras namun tak beraturan. Elang segera menarik tubuh Farel, mencoba menghentikannya. Jika diteruskan bisa jadi Farel akan terluka.


“Bang.. sadar bang..”


“Aaagggghhh..”


Elang berhasil menarik tubuh Farel. Karena kelelahan Farel pun tak bisa menghentikan Elang. Dia jatuh terduduk dengan keringat bercucuran.


“Aaaaggghhh..”


Farel kembali berteriak dengan tangan terkepal menghantam matras. Ayunda terkesiap melihat pemandangan di depannya. Baru kali ini dia melihat Farel histeris. Biasanya kakaknya itu selalu terlihat ceria.


Poppy yang sedang berada di dapur terkejut mendengar teriakan Farel. Bergegas dia menuju ke dojo. Poppy terhenyak melihat anaknya sedang duduk bersimpuh. Keadaannya sangat kacau. Di sampingnya tampak Elang dan Ayunda yang terlihat bingung. Bergegas Poppy menghampirinya.


“Farel.. ya Allah kamu kenapa nak.”


Farel mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Poppy. Tanpa dapat ditahan, airmatanya meluncur begitu saja.


“Bunda... kenapa harus dia yang menjadi ayahku, kenapa? Kenapa harus darahnya yang mengalir di tubuhku?”


Poppy tak sanggup berkata-kata, ditariknya Farel ke dalam pelukannya. Tangis Farel pecah dalam pelukan Poppy. Ini yang sejak kemarin dikhawatirkannya, Farel terpukul dengan kenyataan dirinya. Elang dan Ayunda saling berpandangan dengan tatapan penuh tanda tanya. Mereka memang belum tahu menahu soal ayah kandung Farel.


“Farel..”


Suara bariton Irzal mengejutkan semua yang ada di sana. Poppy mengurai pelukannya ketika Irzal ikut berjongkok di sampingnya. Farel masih terus menangis dengan kepala tertunduk. Dia tak berani menatap wajah ayahnya, rasanya terlalu malu berhadapan dengan pria itu.


“Lihat ayah nak.”


Perlahan Farel mengangkat kepalanya. Hati Irzal sakit melihat keadaan anaknya yang begitu terpuruk. Irzal memegang kedua bahu Farel seraya menatapnya lekat-lekat.


“Kamu anak ayah. Apapun yang terjadi, darah siapapun yang mengalir dalam tubuhmu, kamu tetap anak ayah. Dia adalah bundamu, Elang dan Yunda adalah adikmu. Kenyataan ini tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Pria itu mungkin ayah biologismu, tapi kami keluargamu. Kami menyayangimu, sangat menyayangimu, jangan pernah berpikir apapun. Bagi ayah, kamu tetap salah satu kebangggaan ayah. Kamu dan Elang yang nanti akan menjaga bunda dan Yunda kalau ayah sudah tidak ada. Apa kamu tidak menyayangi kami?”


“Aku menyayangi kalian... tapi aku malu.. laki-laki itu bahkan sudah melakukan hal buruk pada bunda. Bagaimana ayah dan bunda tetap mengurus dan menyayangiku setelah mengetahui aku anak bajingan itu.”


Farel kembali terisak. Poppy menutup mulut dengan kedua tangannya. Rahasia yang selama ini mereka pendam akhirnya terbongkar juga. Irzal memeluk Farel, menepuk-nepuk punggung anaknya itu pelan.

__ADS_1


“Apa yang pria itu lakukan tidak ada hubungannya denganmu. Kamu tidak perlu merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan. Jalani hidupmu dengan baik, jadilah pribadi yang baik, perlihatkan pada dunia kalaupun darah kalian sama, tapi kamu lebih baik darinya.”


Irzal menguraikan pelukannya, mendongakkan kepala sang anak yang terus tertunduk. Kemudian memandang lekat ke arahnya.


“Kamu anak ayah. Sampai kapanpun aku adalah ayahmu. Sekarang katakan dengan jelas, siapa ayahmu? Aku atau pria itu?”


“Ay..ah..” jawab Farel sambil menangis.


“Berhentilah menangis, lelaki seperti itu tidak pantas kamu tangisi. Kembalilah menjadi Farel yang ceria, yang selalu meramaikan dan menghangatkan rumah ini. Mengerti?”


Farel mengangguk pelan. Irzal menepuk-nepuk pelan wajah Farel. Poppy mengusap lembut puncak kepala Farel. Elang merangkulnya, Yunda memeluk leher Farel dari belakang.


“Bang Farel jangan nangis lagi ya. Kasihan kan muka udah pas-pasan tambah jelek jadinya. Terus mandi gih, bau tau..” ledek Ayunda.


“Yunda!!!” teriak Farel.


Semua tergelak mendengar pertengkaran Ayunda dan Farel. Namun kemudian Farel ikut tertawa. Dia menjewer telinga Yunda membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Suasana melow kini berubah menjadi ceria. Apalagi ketika Azkia datang dengan membawa Aslan. Kehadiran bocah itu menambah semarak suasana.


🍁🍁🍁


Elang dan Ayunda mendengarkan dengan seksama cerita Farel tentang Valen. Walaupun berat dan malu, tapi adiknya itu harus tahu siapa dia sebenarnya. Berulang kali Farel menarik nafas panjang saat menceritakannya. Seakan sedang melepaskan beban berat di tubuhnya.


Ayunda duduk di samping Farel seraya menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. Sesekali dia menyusut airmatanya yang mengalir ketika mendengar cerita tentang Erika. Kemudian saat Farel bercerita tentang masa kecilnya yang harus luntang-lantung di jalanan sebelum menjadi bagian keluarganya yang sekarang.


Irzal memang tidak pernah menceritakan perhilal masa lalu Farel pada kedua anaknya, demi menjaga perasaan Farel.


Elang yang terkesan dingin dan cuek juga meneteskan airmatanya mendengar kisah pilu sang kakak. Dalam hatinya bersyukur dilahirkan di tengah keluarga yang penuh kasih sayang. Elang merangkul bahu Farel erat.


“Kenapa harus malu? Yunda bangga punya kakak kaya bang Farel. Bang Farel orang yang baik. Bang Farel juga kuat, kalau Yunda yang ada di posisi bang Farel belum tentu Yunda kuat.”


“Abang itu kakak terbaik yang aku punya. Tolong jangan pernah bicara seperti itu. Siapapun ayah kandung abang. Kita saudara selamanya bang. Ingat di belakang nama kakak sudah melekat nama Ramadhan, yang artinya kakak sudah menjadi bagian kita, selamanya.”


“Makasih ya El, Yun. Kalian emang adik abang yang paling baik.”


Farel merangkul kedua adiknya. Hatinya menjadi lebih tenang sekarang. Tak ada lagi rasa malu, minder atau cemas dalam hatinya. Dirinya yakin keluarga ini benar-benar menerima dan menyayanginya sepenuh hati.


TOK


TOK


TOK


Ketiganya kompak melihat ke arah pintu ketika mendengar suara ketukan. Terlihat Irzal berdiri di depan pintu, kemudian melangkah masuk. Elang dan Ayunda memilih keluar kamar. Sepertinya ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh sang ayah. Sekilas Elang melirik amplop coklat yang ada di tangan Irzal.


Sepeninggal Elang dan Ayunda, Irzal duduk di samping Farel. Mereka duduk di lantai dengan punggung bersandar ke ranjang. Irzal merangkul bahu anaknya.


“Bagaimana perasaanmu sekarang?”


“Sudah lebih baik yah. Terima kasih yah untuk semuanya.”

__ADS_1


“Tidak usah berterima kasih. Sudah kewajiban ayah melakukan itu karena kamu anak ayah.”


Irzal melihat amplop coklat di tangannya sejenak. Kemudian dia memberikannya pada Farel. Pemuda itu tak langsung mengambilnya. Ditatapnya Irzal lekat-lekat seakan meminta penjelasan lebih.


“Ayah tidak akan menutupi apa-apa lagi darimu. Ini adalah informasi tentang keluarga ibumu. Setelah mengetahui ayah kandungmu, ayah juga mencari tahu soal ibumu. Maaf kalau ayah terlambat memberikannya padamu.”


Farel mengambil amplop tersebut, tangannya sedikit bergetar. Batinnya berkecamuk, apakah dia harus membukanya atau tidak. Melihat reaksi Valen padanya, dia takut kalau keluarga mendiang ibunya juga akan bersikap sama. Menerimanya karena melihat Irzal dan semua yang dimilikinya bukan karena ketulusan.


“Terima kasih yah. Tapi sepertinya aku masih butuh waktu untuk menemui mereka.”


“Ayah tidak akan memaksa. Semua ayah serahkan padamu. Ayah juga tidak melarang kalau mereka memintamu atau kamu ingin bersama mereka. Semua keputusan ada di tanganmu.”


“Mungkin aku akan mengunjungi mereka. Tapi bagiku, Inilah keluargaku, rumahku. Aku akan pergi dari sini kalau ayah yang memintanya langsung.”


“Suatu saat kamu memang harus pergi dari rumah ini.”


Farel menoleh ke arah Irzal, cukup terkejut mendengar ucapannya barusan. Melihat kebingungan di wajah sang anak, Irzal mengulum senyum tipis.


“Ayah dengar kamu sudah membeli rumah. Jadi, suatu saat kamu akan pergi dari sini dengan istri kamu, benar?”


Farel tersenyum lega. Tapi kemudian senyumnya memudar lalu memandang curiga pada sang ayah.


“Ayah sama bunda ngga nyuruh aku cepet-cepet nikah kan? Atau ada rencana jodohin aku.”


Irzal terbahak, Farel semakin bertambah curiga. Untuk beberapa saat pria paruh baya itu masih tertawa.


“Ayah sama bunda sudah memutuskan memberikan kebebasan untuk kalian memilih pasangan masing-masing. Ayah cuma khawatir kalau kamu ngga normal.”


“Astaga ayah tega bener. Aku masih normal yah. Masih suka lihat cewek seksi, masih suka lihat cewek cantik dan yang pasti aku juga sudah punya perempuan yang aku suka.”


“Oh ya? Siapa? Apa ayah mengenalnya?”


Farel langsung terdiam. Dalam hati merutuki kebodohannya yang kelepasan bicara gara-gara disangka menyimpang. Irzal menelisik wajah anaknya. Farel terlihat salah tingkah, beberapa kali dia mengusap tengkuknya, menyembunyikan kegugupannya.


“Jadi benar kalau kamu sudah punya pilihan? Siapa dia?”


“Nanti aja yah. Saat ini aku belum yakin soal perasaannya. Sepertinya dia menyukai laki-laki lain. Mau taruh di mana mukaku kalau ternyata dia menolakku.”


“Coba cari tahu, jangan diam saja. Jangan kalah sebelum bertanding. Dan kalau kamu sudah siap, katakan pada ayah. Ayah akan melamarnya untukmu.”


Farel tersenyum tipis, sedikit ragu dengan perasaannya. Apa mungkin perempuan yang setahun belakangan ini mencuri hatinya, mengganggu waktu tidurnya juga merasakan hal yang sama.


Seandainya saja ayah tahu siapa dia, apakah ayah akan merestuiku dengannya? Dengan latar belakang diriku, anak hasil dari hubungan haram.


🍁🍁🍁


**Hayo kira² siapa ya cewek yang disuka Farel? Mamake rada nyesek bikin part Farel🤧


Sabar ya Farel, mamake sudah siapkan jodoh yang baik untukmu, tapi readers masih harus sabar dan coba tebak siapa dia😁

__ADS_1


Dukungannya please my honey honey readers... Kalau sempat mamake akan up 2 bab hari ini.


Oh iya ada yg nanya soal visual Rain dan Akhtar, itu udah mamake kasih di season dua, mamake lupa di bab berapa tapi cari aja ya. Visual adanya di bab sesudah Rain nikah sama Akhtar😘**


__ADS_2