Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Ingin Melindunginya


__ADS_3

Poppy menunggu kedatangan suaminya di bandara. Tak lama sosok yang dirindukannya muncul seraya menggeret koper. Pak Tono segera menghampiri Irzal untuk mengambil kopernya. Poppy mendekat lalu memeluk suaminya. Irzal terkejut karena Poppy menangis dalam pelukannya.


“Kenapa sayang?”


“Yunda a.. Yunda kecelakaan.”


“Apa?? Bagaimana keadaannya?”


“Cederanya ngga parah, tapi dia harus dirawat di rumah sakit. Dokter bilang lambungnya bengkak.”


Irzal menghela nafas lega. Dirangkulnya Poppy kemudian membawanya masuk ke dalam mobil. Irzal meminta pak Tono langsung menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Poppy menceritakan pada Irzal apa yang terjadi pada Ayunda. Itu pun setelah Elang menceritakan semuanya begitu mendengar kecelakaan yang menimpa Ayunda.


“Aku bukan ibu yang baik. Aku tidak tahu kalau anakku sedang menderita. Bagaimana bisa dia menyembunyikan semuanya dariku.”


Poppy kembali menangis. Hatinya sakit mengetahui anak bungsunya tertekan dengan pernikahan yang akan dijalaninya. Irzal menarik Poppy dalam pelukannya kemudian mendaratkan ciuman di puncak kepala sang istri.


“Mungkin Yunda ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Anakmu sudah besar, dia hanya mencoba bersikap dewasa. Semua ini berawal dari keputusannya yang terburu-buru, dan dia ingin memperbaiki dengan caranya sendiri.”


“Tapi El bisa tahu masalahnya kenapa aku tidak?”


“Kamu tahu kan Yunda itu dekat dengan El juga Farel. Setiap ada masalah pasti kedua kakaknya dulu yang dicari sebelum menceritakannya pada kita. Dia mencari perlindungan lebih dulu pada kakak-kakaknya supaya bisa membantunya saat berhadapan dengan kita. Apa kamu lupa dengan kebiasaan anak-anakmu sendiri?”


“Tetap saja a, aku merasa gagal. Apalagi ini menyangkut masa depan dan kebahagiaan Yunda. Anak itu kenapa ngga jujur. Kalau dia lebih awal bercerita, aku akan bicara pada Ega juga Alea untuk membatalkan pernikahan mereka.”


“Sudahlah sayang, anggap saja ini proses pendewasaan untuk Yunda.”


“Aa sendiri kenapa baru pulang? Betah banget di sana, jangan-jangan kepincut perempuan di sana ya.”


Irzal tergelak, kalau tak ada pak Tono bersama mereka mungkin dia sudah membungkam sang istri dengan bibirnya. Poppy yang kesal mencubit pinggang suaminya. Irzal berbisik di telinga Poppy.


“Jangan mancing-mancing sayang. Kamu tahu kan sudah berapa hari aa puasa?”


Poppy langsung diam, tak ada cubitan lagi dari jarinya. Dia sudah paham betul maksud sang suami. Kalau salah bertindak bisa-bisa besok dia tidak akan bisa keluar dari kamar.


Mobil yang dikendarai pak Tono sudah memasuki pelataran parkir rumah sakit Ibnu Sina. Irzal turun seraya menggandeng tangan istrinya. Kemudian keduanya menuju lantai sepuluh, tempat Ayunda dirawat.


Tangisan Ayunda langsung pecah melihat kedatangan Irzal. Farel memutar bola matanya melihat sang adik yang manjanya tingkat akut. Irzal terpaksa naik ke atas bed demi menenangkan sang buah hati.


“Anak ayah kenapa nagis kejer gini? Mana yang sakit?”


Ayunda tak menjawab, dia terus saja menangis di dada sang ayah. Poppy mendekat lalu mengusap puncak kepala anaknya itu. Sepertinya Ayunda masih takut bercerita pada mereka. Beberapa saat kemudian tangis Ayunda tak terdengar lagi, rupanya dia sudah tertidur. Pelan-pelan Irzal merebahkan kepala anaknya di bantal, kemudian turun dari bed.


Pintu ruangan terbuka, Alea dengan Ega disusul Firlan masuk ke kamar. Dengan raut cemas, Alea menghampiri Ayunda. Calon menantunya itu sedang tidur.


“Yunda ngga apa-apa kan kak? Harusnya tadi aku langsung nyusul dia. Aku ngga tahu ada apa, tapi dia kaya ngejar sesuatu.”


Ega merangkul Alea, mengusap lengannya pelan untuk menenangkannya. Firlan hanya terdiam. Melihat keadaan Ayunda, dia menyesal kenapa tak melepas gadis itu lebih cepat.


“Ga, Al.. bisa kita bicara? Ilan juga bisa ikut dengan kami.”

__ADS_1


Firlan langsung mengangguk, seakan tahu apa yang akan dibicarakan oleh Irzal. Kelimanya keluar dari ruangan. Irzal mengajak mereka berbicara di kedai kopi yang ada di seberang rumah sakit.


Suasana hening sejenak, mereka seperti memberikan waktu pada pelayan untuk menata minuman pesanan di meja. Irzal memandangi wajah Ega juga Alea yang terlihat bertanya-tanya dengan maksudnya.


“Begini Al, Ga...”


“Maaf yah.. boleh aku yang bicara lebih dulu?”


Firlan langsung menginterupsi ucapan Irzal, membuat pria itu menoleh padanya. Kedua lelaki berbeda generasi itu bertatapan cukup lama hingga akhirnya Irzal menganggukkan kepalanya.


“Sebelumnya aku minta maaf pada mami, papi, ayah juga bunda. Maaf karena sudah merepotkan kalian, maaf kalau aku sudah mengecewakan kalian. Tanpa menghilangkan rasa hormatku pada ayah dan bunda serta rasa sayangku pada Yunda, aku bermaksud membatalkan lamaranku. Maaf ayah, aku tidak bisa menepati janjiku menikahi Ayunda.”


“Ilan!” pekik Alea.


Ega juga Alea terkejut mendengar penuturan sang anak. Keduanya menatap tajam pada Firlan. Irzal hanya menarik nafas panjang. Poppy tak sanggup melihat ke arah pemuda itu, tahu semua ini disebabkan keputusan gegabah Ayunda.


“Ilan apa-apaan kamu ini! Jangan buat papi sama mami malu!” hardik Ega.


“Maaf pi, tapi keputusanku sudah bulat. Aku membatalkan pernikahan ini. Ini demi kebaikanku juga Ayunda.”


“Jangan bilang kalau Salsa penyebab semua ini!”


“Ini ngga ada hubungannya dengan Salsa. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Aku dan Yunda sudah membicarakan ini kemarin malam, dia pasti mengerti dengan keputusanku ini. Ayah, bunda.. sekali lagi aku minta maaf.”


“Bisa bicara sebentar dengan ayah?”


Firlan mengangguk kemudian berdiri. Irzal mengajak Firlan duduk di salah satu meja kosong yang letaknya cukup jauh dari meja mereka tadi. Lama Irzal memandangi Firlan. Walau berusaha menyembunyikannya, namun Irzal dapat menangkap kesedihan di mata Firlan.


“Bukankah maksud ayah mengajak papi dan mami bicara untuk membatalkan pernikahan ini? Baik aku atau ayah yang bicara tidak akan ada bedanya kan?”


“Ayah memang bermaksud membatalkan pernikahan ini sekaligus meminta maaf padamu. Maaf karena kecerobohan Ayunda, menyebabkan semua ini. Membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi ayah juga tidak bisa berbuat apa-apa. Demi Yunda, ayah akan lakukan apapun termasuk menerima cacian atau hujatan dari kedua orang tuamu.”


“Yunda mencintai Rey, itu kenyataannya. Kalau kami memaksakan menikah, nantinya pernikahan kami tidak akan bahagia. Baik Yunda maupun aku akan sama-sama terluka. Aku akan bicara pada mami dan papi, memberikan pengertian pada mereka. Ayah fokus saja pada Yunda, anak bodoh itu bahkan ngga tahu kalau Rey tidak jadi pergi ke Munich.”


“Ilan...”


“Jangan khawatirkan aku pa, aku baik-baik saja. Untuk terakhir kalinya aku ingin melindunginya. Semua bermula dariku dan harus berakhir dariku juga. Rasa sakitku ngga sebanding dengan penderitaan Yunda dan Rey. Mereka harus menahan perasaan demi aku dan kedua orang tuaku. Aku ngga mau bersikap egois, dengan menahan wanita yang kucintai dan membuatnya menderita.”


“Terima kasih Lan. Kamu memang anak yang baik. Ayah doakan kamu menemukan jodoh yang baik, yang bisa mencintaimu dengan tulus.”


“Terima kasih untuk doanya. Aku percaya doa orang tua akan lebih cepat sampai dan dikabulkan oleh Tuhan.”


Irzal berdiri disusul oleh Firlan. Irzal memeluk Firlan, menepuk punggungnya pelan. Dia sungguh kagum dengan kebesaran hati Firlan, merelakan wanita yang dicintainya untuk orang lain. Irzal melepas pelukannya kemudian merangkul Firlan kembali ke mejanya.


“Mas.. aku benar-benar minta maaf atas keputusan Firlan,” ucap Ega.


“Aku yang minta maaf Ga. Aku ingin menjelaskan semuanya tapi sepertinya Ilan yang akan mengatakan semuanya pada kalian. Setelah berbicara dengan Ilan, datanglah padaku kalau ada yang ingin kalian sampaikan. Dengan lapang dada aku akan menerima semua apapun itu.”


Ega yang masih bingung hanya mengangguk saja. Irzal meraih tangan Poppy kemudian beranjak pergi. Firlan duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Suasana menjadi sedikit tegang. Firlan berusaha menetralisir dengan menyesap minumannya dulu.

__ADS_1


“Jelaskan Ilan! Kenapa kamu membatalkan pernikanan ini!” tukas Alea dengan tidak sabar.


“Apa papi dan mami menyayangi Yunda?” tanya Firlan dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin.


“Tentu saja mami dan papi menyayanginya. Kami sudah menganggap Yunda sebagai anak sendiri. Apa sebenarnya maksudmu?”


“Kalau mami dan papi benar menyayangi Yunda, maka kalian akan menyetujui keputusanku ini dengan ikhlas.”


“Apa maksudmu Ilan? Jangan berbelit-belit.”


“Yunda tidak mencintaiku mi. Dia mencintai Rey. Aku yang terlalu percaya diri langsung melamarnya. Dan dengan bodohnya gadis itu langsung menerima tanpa menyadari perasaannya.”


Alea dan Ega terkesiap, keduanya menatap Firlan tanpa berkedip. Alea berdiri kemudian berjalan mondar-mandir sambil memegangi kepalanya. Dia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan anaknya.


“Maksudmu Yunda diam-diam menjalin hubungan dengan Rey di belakangmu?”


“Ngga mi. Sebelum aku melamarnya sepertinya Yunda sudah jatuh cinta pada Rey. Mami ingat kan kasus Bilqis, saat itu Yunda menjauhi Rey demi Bilqis. Dan saat aku melamarnya, dia malah menerimanya. Mungkin dia masih berpikir kalau aku adalah laki-laki yang dicintainya tanpa sadar kalau perasaannya sudah berubah.”


“Lalu Rey?”


“Rey juga mencintainya pi. Jauh sebelum aku masuk dalam kehidupan Yunda, dia sudah jatuh cinta pada Yunda. Dan dia memilih pergi agar aku dan Yunda bisa menikah.”


“Ck.. anak itu,” gerutu Ega.


“Aku tahu mami dan papi kecewa, tapi aku benar-benar tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini. Bukan hanya Yunda yang akan sakit, tapi aku juga. Apa mami sadar kalau sekarang Ayunda jauh lebih kurus? Apa mami sadar kalau sekarang dia jarang tersenyum? Dia bertahan dengan rencana pernikahan ini karena tak ingin menyakitiku, tak ingin mengecewakan mami dan ingin mewujudkan impian papi berbesan dengan ayah. Apa aku salah kalau membatalkan pernikahan ini?”


Ega berdiri kemudian menghampiri Firlan lalu duduk di sampingnya. Ega merangkul bahu sang anak kemudian menepuknya pelan.


“Papi bangga sama kamu. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Yunda ngga mungkin membatalkan pernikahan ini. Ayah Irzal mungkin akan melakukannya tapi lebih baik jika kamu yang berbesar hati membatalkannya. Kamu menikah atau tidak dengan Yunda, hubungan papi dengan ayah Irzal akan tetap baik. Karena kami sudah terikat sejak dulu, sebelum kalian hadir ke dunia. Mamimu juga jadi saksi, ikatan apa yang ada antara papi dengan ayah. Jadi, kamu ngga usah khawatir.”


“Makasih pi. Bagaimana dengan mami? Aku harap mami ngga membenci Yunda.”


“Membenci Yunda? Dia itu terlalu manis dan gemesin buat mami benci. Dulu, sekarang dan selamanya mami akan selalu sayang dia. Biar dia ngga jadi mantu mami, tapi dia tetap anak mami. Sini sayang.”


Firlan berdiri menghampiri Alea kemudian memeluknya erat. Lega perasaannya, jika tahu seperti ini reaksi mami dan papinya, mungkin Firlan sudah melepas Ayunda lebih cepat.


“Ayo kita jenguk si putri tidur. Siapa tahu sekarang dia sudah bangun.”


“Iya mi.”


Firlan merangkul Alea kemudian berjalan kembali ke rumah sakit, disusul Ega di belakangnya. Ega hanya geleng-geleng saja melihat Firlan merangkul pinggang Alea dengan mesra. Sepertinya anaknya itu mencoba membuatnya cemburu.


🍁🍁🍁


**Lega ya, semua menerima dengan lapang dada. Siap² kak Rey ngelamar neng Ay eaa.. eaa..💃💃💃


Kira² jodoh buat bang Ilan siapa ya?🤔


Ada yang mau kasih ide?

__ADS_1


Sambil mikir kasih dulu dong dukungannya buat mamake, like, comment, vote😉**


__ADS_2