Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Ringgo vs Arini


__ADS_3

Dimas menjauhkan tubuhnya saat terdengar ketukan di pintu. Ringgo dan Sisil muncul dari baliknya. Keduanya ikut duduk di sofa. Dimas melirik pergelangan tangan Ringgo yang tampak memerah dan sedikit lecet bekas tekanan kuku Sisil. Ringgo yang menyadari arah pandangan Dimas mendengus kesal. Serta merta ditutupi bagian lengan yang merah dengan tangan sebelahnya.


“Ngga usah lihat-lihat!”


“Eh lo bawa anak gadis udah bilang belum sama emaknya?”


“Heleh sok nasehatin, lo juga bawa anak gadis ngga bilang-bilang.”


“Gue udah ijin sama kakaknya. Lo ijin sama siapa coba?”


“Ijin sama penunggu rumahnya, puas lo!” Dimas tergelak. Firly melihat jam di pergelangan tangannya.


“Om Ily pulang sekarang ya. Bentar lagi mami sama papi pulang.”


“Ya udah, om anter sampai dekat pintu masuk perumahan ya. Mana kunci mobil kamu?” Firly memberikan kunci mobil pada Dimas.


“Nggo, lo bawa mobil Firly ya. Abis anter Firly kita anter Sisil pulang.”


Ringgo hanya mengangguk saja. Keempatnya keluar dari ruangan tersebut langsung menuju basement. Lagi-lagi Ringgo mendengus kesal melihat mobil yang dikendarai Firly. Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar, dia seperti menaiki mobil kurcaci. Sisil tak bisa berhenti tertawa mendengar umpatan demi umpatan yang keluar dari bibir Ringgo.


“Dimas rese! Kenapa bukan dia aja yang bawa nih mobil!”


“Sabar om.”


“Dasar ******! Jatuh harga diri gue bawa mobil cewe kaya gini.”


“Nikmatin aja om.”


“Ini sempit banget,” Ringgo mencoba memundurkan kembali jok yang didudukinya tapi sudah mentok.


“Mau Sisil yang bawa om?”


“Ngga!! Tambah jatoh harga diri om kalau kamu yang setirin.”


“Hahahaha... ya udah jangan ngomel mulu. Tar Sisil cium nih.”


“Eh mau dong dicium,” Ringgo mendekatkan wajahnya pada Sisil yang langsung didorong oleh gadis itu.


“Jangan mesum ya om. Jalan ngga?? Nanti Sisil telpon mama nih,” ancam Sisil. Akhirnya Ringgo menstarter kendaraan imut Firly. Mobil mini tersebut melesat melintasi jalan yang sedikit basah karena terguyur rintik hujan.


Dimas menepikan kendaraannya di tempat yang agak jauh dari pintu masuk perumahan dan sepi dari lalu lalang kendaraan lainnya. Dia masih menunggu Ringgo yang masih belum tiba. Tak berapa lama mobil yang dikendarai Ringgo berhenti tepat di belakang mobilnya. Firly melepas seat beltnya.


“Ily pulang dulu ya om.”


“Iya.”


“Kapan kita ketemuan lagi?”


“Nanti om kabari. Kamu sebentar lagi masuk kuliah kan. Fokus ke sana aja dulu sayang.”


Firly mendekati Dimas kemudian menelusupkan tangannya ke belakang kepala Dimas. Bibirnya mendarat mulus di bibir yang sangat dirindukannya. Dimas menahan tengkuk Firly kemudian memperdalam ciumannya.


“Love you om.”


“Love you too sweet heart.”


“Salam buat Ara,” Dimas mengangguk lalu mengecup sekilas kening dan bibir Firly. Firly turun dari mobil kemudian berlari menuju mobilnya. Ringgo dan Sisil berpindah ke mobil Dimas. Setelah memastikan mobil yang dikendarai Firly telah memasuki perumahan, Dimas memutar kendaraannya menuju rumah Sisil.


🍁🍁🍁


Lembar demi lembar laporan keuangan cafe Millenial milik Dimas baru saja selesai dibacanya. Banyak nominal yang mencurigakan di dalamnya. Dimas menghela nafas panjang, disandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Terdengar ketukan di pintu yang disusul dengan kemunculan sahabatnya. Ringgo langsung duduk di depan meja kerja Dimas.


“Gimana Dim, lo udah baca kan laporan keuangannya?”

__ADS_1


“Hmm..”


Dimas mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Cafe Millenial miliknya yang hanya ada di kota kembang ini sudah memiliki 10 cabang. Lima dari cabangnya mengalami kerugian cukup besar dalam kurun waktu sebulan.


“Lo ngerasa ada yang aneh ngga?” ucapan Ringgo membuyarkan lamunan Dimas.


“Awal kerugian di cabang ini, dan mulainya enam bulan yang lalu. Dua bulan lalu cabang ini mulai stabil, uang yang hilang sudah kembali. Tapi bulan berikutnya semua nominal yang masuk hilang lagi dan bertambah jumlah hilangnya. Terus yang empat cabang lagi secara berturut-turut merugi. Total kerugian kita hampir 2 M dalam waktu satu bulan, gila!” lanjut Ringgo.


“Iya, gue curiga kerugian ini disengaja. Gue lagi minta bantuan kak Irzal buat nyeledikin.”


“Makanya gue bilang dari awal lo harus bikin tim audit sendiri, tapi lo ngeyel sih. Pikirin usulan gue deh.”


“Iya gue udah pikirin. Gue juga minta Bimo buat software yang bisa mendeteksi adanya kesalahan input data keuangan. Mudah-mudahan cepet selesai.”


“Terus sekarang rencana lo apa?”


“Gue bakal cek langsung ke lapangan. Tapi ngga dengan cara biasa. Kita nyamar jadi pelanggan aja.”


“Gimana caranya dengan nyamar kita bisa tahu biang keroknya.”


“Coba lo lihat, hanya di hari yang sama jumlah uang hilang. Tiap cabang harinya beda-beda, kita bisa dateng pas tanggal itu sebagai customer. Mereka kerjaannya rapih, tapi mereka lengah dengan melakukan ini,” Dimas menunjuk tanggal yang menunjukkan waktu uang yang hilang.”


Ringgo mengambil berkas yang kemarin siang dia berikan. Satu per satu laporan keuangan itu ditelitinya. Dan benar apa yang dikatakan Dimas, uang yang hilang selalu terjadi di hari yang sama. Dimas dan Ringgo mulai berdiskusi rencana yang akan mereka lakukan berikutnya.


Ketukan kembali terdengar, kini Arini yang masuk. Dia membawa beberapa berkas di tangannya yang memerlukan tanda tangan Dimas.


“Gimana soal cafe?”


Dimas segera menerangkan rencana yang akan dilakukannya bersama Ringgo. Arini pun berinisiatif untuk membantu. Lebih cepat masalah ini selesai akan lebih baik.


“Kayanya kita perlu tenaga tambahan buat nanti di lapangan,” usul Ringgo.


“Siapa?”


“Sisil aja, kan dia belum mulai kuliah tuh.”


“Eh lo kemaren ajak anak gue kemana hah?”


“Ngajak nonton doang. Noh gue nemenin Dimas sama Firly kencan.”


“Lo ngga macem-macem kan sama anak gue?”


“Ck.. suudzon aja lo. Yang ada nih tangan gue jadi korban anak lo,” Ringgo memperlihatkan beberapa luka di tangannya akibat ulah Sisil.


“Rin, gue lamar anak lo ya.”


“What??? Eh ngaca lo, udah tua ngga tahu malu lo ya. Inget umur woi, anak gue masih kecil mau lo nikahin. Lagian gue juga ogah punya mantu seumuran.”


“Busyet deh Rin mulut lo pedes bener. Lo ngeledek gue berarti lo ngeledek Dimas juga Pea!”


“Lah si Dimas mah beda. Orang tuanya udah kenal deket sama dia. Dia juga udah ngurusin si Firly dari kecil. Jadi ngga mungkin juga dia bakal nyakitin si Firly. Lagian si Dimas tuh tipe setia, jadi ngga akan khawatir orang tuanya.


Nah elo, gue sih ngga yakin sama elo. Jangan-jangan lo ngawinin anak gue cuma buat pelampiasan doang, buat muasin kebutuhan bawah lo doang,” Arini menunjuk ke area vital Ringgo. Mata Ringgo yang mengikuti arah telunjuk Arini sontak kesal.


“Astagfirullah, lo bener-bener ya Rin. Lo anggap gue apa hah? Penjahat kelamin? Tega lo ya. Lo udah kenal gue dari SMA. Apa pernah gue mainin cewe? Apa pernah gue ajak tidur perempuan yang bukan muhrim gue? Satu-satunya cewe yang gue ajak tidur itu Rossa, bini gue. Yang ada si Rossa yang selingkuhin gue,” balas Ringgo tak kalah sewot.


BRAK


Dimas menggebrak meja kerjanya membuat dua orang di depannya yang tengah berdebat itu mengatupkan mulutnya.


“Lo berdua kalo mau ribut jangan di sini, bikin pusing gue aja. Keluar!!”


Dimas mengambil berkas yang tadi dibawa Arini dan mulai memeriksanya satu per satu. Ringgo dan Arini memilih keluar ruangan. Perdebatan di antara keduanya masih berlanjut sampai ke luar ruangan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Ega menyandarkan tubuhnya ke sofa seraya memijit pelipisnya. Dia baru saja mendapatkan laporan dari Dima kalau restoran Emerald yang biasa dijadikan tempat pertemuan klien pentingnya tidak dapat beroperasi sementara karena dapurnya mengalami kebakaran dua hari yang lalu.


Adit yang baru datang bersama dengan Dima langsung bergabung dengan Ega di sofa. Adit melirik Ega yang tampak kusut. Bagaimana tidak, seminggu ini mereka harus menjamu lima klien penting. Dan di saat bersamaan Emerald restoran tidak bisa digunakan. Kelima klien pentingnya itu termasuk orang-orang yang pemilih dalam hal makanan. Mereka hanya ingin dijamu di Emerald, Premium atau La Premiere.


“Udah cek ke Premium Dim?”


“Sudah pak. Minggu ini semua VVIP room Premium sudah dibooking. Sepertinya pak Irzal juga sedang kedatangan beberapa tamu penting. Jadi untuk Premium benar-benar tidak ada harapan.”


“Udah coba ke La Premiere?” tanya Adit. Dima hanya melirik ke arah Ega. Pasalnya Ega melarangnya untuk mengadakan jamuan di restoran itu tanpa alasan jelas.


“Sama kaya Premium,” jawab Ega asal.


“Serius?” Adit tak percaya dengan jawaban Ega. Dilihatnya Dima yang tampak gugup.


“Ok, mending gue telpon Dimas aja.”


“Ngga usah. Lo ngga percaya gue kang?”


“Bukan ngga percaya tapi cuma ingin memastikan aja. Ini klien penting loh Ga. Gue ngga mau ya urusan ini gagal cuma gara-gara makanan doang!”


“Terserah elo kang.”


Adit mengambil ponselnya untuk menghubungi Dimas namun sayang terhubung pada kotak suara. Kemudian dia menghubungi Ringgo. Setelah berbicara beberapa saat, Adit mengakhiri panggilannya lalu kembali duduk di sofa.


“Kayanya Dimas lagi sibuk, ada sedikit masalah di kantornya. Jadwal di La Premiere cukup padat minggu ini, kayanya kita harus dateng langsung buat diskusiin jadwalnya. Kalau Dimas yang turun langsung ada kemungkinan kita bisa dapet tempat di sana, gimana?”


“Ya udah, akang aja yang pergi sama Dima,” Ega masih enggan bertemu dengan Dimas pasca pembicaraan terakhir mereka.


“Gue ngga bisa. Lo lupa kalau gue harus survey ke lokasi? Lagian Mr. Chang maunya ketemu gue. Udah lo aja yang pergi sama Dima.”


“Dima aja yang pergi sendiri.”


“Lebih baik sama elo Ga. Walaupun pemilik La Premiere itu Dimas tapi hargain dialah dengan lo dateng secara langsung.”


Pembicaraan terhenti saat Dima menerima panggilan telepon dari salah satu klien yang akan dijamu mereka. Beberapa kali terlihat Dima mengangguk-anggukkan kepalanya. Dima mengakhiri panggilannya, menatap Ega sejenak kemudian mulai berbicara.


“Hmm.. tadi asistennya Mr. Lambert telpon. Katanya Mr. Lambert minta pertemuan diadakan di La Premiere dan dia minta makanannya dimasak langsung oleh chef Dimas.”


“Ya udah hubungi Ringgo,” titah Ega.


Dima menghubungi Ringgo untuk menanyakan kesediaan Dimas memenuhi keinginan klien Gala Corp. Cukup lama dia berbicara hingga akhirnya panggilan diakhiri olehnya.


“Maaf pak, pak Dimas harus pergi ke Menado selama dua hari dan itu bertepatan dengan waktu pertemuan dengan Mr. Lambert. Sepertinya bapak harus berbicara langsung dengan pak Dimas mengenai jadwalnya.”


“Kapan saya bisa bertemu?”


“Sore ini bisa pak.”


“Ya sudah.”


Mau tak mau Ega harus bertemu dengan Dimas demi kelancaran bisnisnya. Adit menangkap sesuatu yang aneh. Biasanya Ega bersemangat sekali jika diajak ke kantor Dimas. Dia akan minta dibuatkan makanan atau camilan. Tapi kali ini Ega terkesan menghindari Dimas.


🍁🍁🍁


**Ya ampun Ringgo ribut Mulu Ama calon mertua. Seneng deh kalo udah part-nya Ringgo vs Arini😂


Jangan lupa ya..


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote..


Love you😍😍**


__ADS_2