Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Memilih Maju


__ADS_3

Pemberitaan Firlan dan Hanin semakin gencar. Kini Ega juga meminta bantuan Bimo untuk memproklamirkan hubungan anaknya di medsos. Tidak sampai situ, semua kolega Golden Chains Group yang dipegang oleh Tombak juga dihebohkan oleh pemberitaan putera mahkota Gala Corp. Tombak dan Adam dengan senang hati membantu. Hubungan Tombak dan Ega memang sudah membaik saat ini.


Semakin gencar pemberitaan, semakin pusing Firlan dibuatnya. Dia seperti terjebak dalam arus permainan yang dibuatnya. Lagi-lagi Ega memanggil Firlan, bahkan kali ini ada Adit dan Debby di sana. Membuat pria itu mati kutu.


“Jujur Lan, ada hubungan apa antara kamu dengan Hanin?” Adit memulai pembicaraan.


“Maaf pa. Sebenarnya antara aku dan Hanin ngga ada hubungan apa-apa. Awalnya kita iseng aja melakukan ini. Aku juga ngga tahu kenapa jadi heboh begini.”


“Terus sekarang udah kaya gini gimana? Kamu mungkin bisa dengan santai bilang ngga ada hubungan. Tapi bagaimana dengan Hanin? Hubungan kalian itu sudah terekspos, kalau ternyata semua hanya permainan, Hanin yang jadi bulan-bulanan. Hanin anak mama, dan mama ngga mau anak mama sakit hati!”


Nada bicara Debby mulai tinggi. Sungguh dia tak rela kalau anak gadisnya harus merasakan kebuasan netizen sang maha benar. Ada saja nyinyiran yang mereka lontarkan nantinya. Pastinya Hanin yang akan menjadi sasaran empuk.


“Ya sudah kalau terlanjur begini, kalian nikah aja,” usul Alea dengan entengnya.


“Mi.. jangan begitu dong. Pernikahan kan bukan buat main-main.”


“Kamu duluan yang bermain-main Lan. Sekarang kamu harus tanggung jawab. Semua kolega kita sudah tahu hubungan kamu dengan Hanin. Bukan Cuma itu, bahkan kolega Golden Chains juga sudah tahu. Mau taruh di mana muka kami kalau ternyata itu cuma permainan bodoh kamu. Apa kamu ngga memikirkan nama baik papa Adit?”


“Ya tapi antara aku dan Hanin ngga ada apa-apanya mi. Hanin juga ngga punya perasaan sama aku.”


“Oke kalau gitu kita tanya Hanin. Kalau dia ngga punya perasaan apapun, maka mami dan papi akan berusaha meluruskan pemberitaan ini. Tapi kalau ternyata Hanin mencintaimu, maka kamu harus tanggung jawab.”


“Aku ngga ngapa-ngapain Hanin mi.”


“Tapi kamu udah bikin dia baper sama sikap kamu!”


“Ngga mi, ngga.. dia ngga ada rasa sama aku.”


“Ok.. kalau begitu besok ajak Hanin ke sini. mami dan yang lain ingin mendengar langsung jawaban anak itu. Tapi ingat kalau Hanin bilang dia suka kamu dan bersedia menikah denganmu, maka kamu harus menikahinya.”


“Ok.. siapa takut. Besok aku bawa Hanin ke sini, biar kalian dengan sendiri jawabannya. Aku pergi.”


Firlan segera pergi meninggalkan keempat orang tua itu dengan kesal, bahkan tanpa mencium punggung tangan mereka. Debby beringsut mendekat pada Alea. Sejujurnya dia takut dengan permainan yang dibuat oleh Ega dan Alea.


“Al.. kamu yakin? Gimana kalau Hanin beneran ngga ada rasa sama Ilan?”


“Kakak tahu Hanin kan. Gadis itu ngga tegaan, kita tinggal kasih wajah melas penuh harapan ke dia, nanti dia bakal berubah pikiran.”


“Tapi gimana mereka menjalani pernikahan kalau ngga saling mencintai,” protes Adit.


“Percaya sama aku kang. Ilan itu udah mulai suka sama Hanin, tapi dia belum sadar aja sama perasaannya. Dia itu sama persis sama papinya. Ibaratnya dia itu seneng main di kolam tapi belum berani masuk, jadi kita ceburin aja sekalian.”


“Ok deh, aku setuju. Tapi kalau sampai Ilan nyakitin Hanin, aku ngga akan tinggal diam.”


“Iya kang.”


🍁🍁🍁


Esoknya Firlan meminta Hanin untuk memasakkan makan siang di unit apartemennya. Dengan semangat empat lima Hanin menuju apartemen The Ocean. Walaupun Firlan tak memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi berada dekat dengan pria itu sudah cukup baginya.


Sebelum jam makan siang Firlan sudah kembali ke unit apartemennya. Dilihatnya Hanin masih berkutat di dapur. Firlan terpaku sejenak, menikmati pemandangan di depannya. Hampir dua minggu gadis itu tak memasak untuknya, jujur saja dia sedikit merindukan momen seperti ini.


Hanin yang belum menyadari kedatangan Firlan, terus menyelesaikan pekerjaannya. Dia menata semua makanan di atas meja. Mengambil dua buah piring dan gelas, dan terakhir meletakkan magic com di atas meja. Jantungnya hampir copot ketika Firlan tiba-tiba datang lalu menarik kursi di sebelahnya.


“Ya Allah bang ngagetin aja. Kebiasaan deh dateng keteyep-keteyep kaya maling.”


“Hahaha... apaan tuh keteyep-keteyep.”


“Au ah...”


Hanin memilih mengambilkan makanan untuk Firlan dari pada harus menjawab pertanyaan yang dia sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Setelah mengambilkan makanan untuk Firlan, Hanin mengambil makanan untuk dirinya kemudian mendudukkan diri di hadapan Firlan.


Firlan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia menutup mata sebentar, betapa dirinya merindukan rasa masakan ini. Lidah Firlan memang merasa cocok dengan rasa masakan Hanin.


“Han.. kamu sudah tahu pemberitaan tentang kita di medsos?”

__ADS_1


“Iya bang, heboh banget. Aku langsung tenar di kampus. Banyak banget yang kepo tapi sisi baiknya, si narsis, Mr. Arogant sama playboy cap kadal bunting ngga deketin aku lagi.”


“Siapa mereka?”


“Cowok yang deketin aku bang, spesies langka semua.”


Firlan kembali terbahak, gadis di hadapannya ini memang selalu bisa mengocok perutnya. Hanin hanya mendelik sebal ke arahnya. Firlan berdehem beberapa kali untuk menenangkan diri. Pembicaraan sesungguhnya akan dimulai sekarang.


“Kemarin abang disidang sama papi, mami, papa Adit dan mama Debby. Mereka nanya-nanya soal pemberitaan itu. Abang udah kasih jawaban jujur sama mereka tapi mereka ngga mau ngerti. Mereka minta kita menghentikan pemberitaan itu.”


“Gimana caranya bang?”


“Mereka minta kita nikah.”


Uhuk... uhuk..


Hanin terbatuk beberapa kali, Firlan sampai harus mengambilkan minuman untuknya. Hanin meneguk air putih di gelas sampai habis untuk menghilangkan rasa nyeri di tenggorokan akibat tersedak.


“Terus gimana bang?”


“Abang nolak. Untuk sekarang ini abang belum punya rencana nikah. Dan jujur abang masih belum bisa melupakan Yunda. Jadi abang belum ada minat menjalin hubungan dengan siapapun. Kamu sendiri?”


“Apalagi Hanin bang. Abang tahu sendiri, aku masih kuliah. Mana bisa aku jadi istri, ngurus diri sendiri aja suka ribet sendiri, ditambah kuliah terus ngurus suami. Iih rasanya aku belum sanggup bang.”


Sebenarnya bukan masalah bagi Hanin jika harus menikah dalam waktu dekat. Dia sudah terbiasa hidup mandiri, terbiasa mengurus almarhum ibunya, jadi menjadi seorang yang mengurus suami bukan hal sulit untuknya. Namun penuturan Firlan yang membuatnya memberikan jawaban berbeda.


“Nah itu dia Han, mereka tuh ngotot mau kita menikah. Abang udah tegas-tegas nolak, tapi mereka tetap ingin mendengar jawabanmu. Jadi, nanti malam kita ketemu mereka. Kamu bilang dari mulut kamu sendiri kalau kamu belum mau nikah.”


“Kenapa mereka pengen denger jawaban dari aku?”


“Karena mereka takut kalau kamu baper gara-gara permainan status palsu kita. Kamu ngga baper kan? Kamu ngga ada perasaan kan sama abang?”


“Aku punya perasaan bang...”


DEG


“Kalau aku ngga punya perasaan berarti aku robot. Aku sayang sama bang Ilan tapi perasaan sayangku sama seperti ke bang Gara.”


Terlihat kelegaan di raut wajah Firlan, berbeda dengan Hanin yang merasa tertohok. Dia tadi sengaja menggantung ucapannya untuk melihat reaksi Firlan. Tapi ternyata pria di hadapannya ini tak memiliki perasaan apapun padanya. Dengan hati hancur Hanin harus mengakui kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.


“Syukurlah Han. Kalau gitu nanti malam kita ketemu mereka ya.”


Hanin mengangguk seraya meneruskan makannya. Nasi yang ditelannya kini terasa seperti kerikil yang melukai tenggorokannya. Ingin rasanya Hanin menangis, tapi sebisa mungkin ditahannya. Dia tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Firlan.


🍁🍁🍁


Ega, Alea, Adit dan Debby memandangi Firlan juga Hanin bergantian. Gara dan Nara yang juga berada di sana turut mengintimidasi pasangan palsu ini dengan tatapannya. Seketika udara di sekitar mereka terasa tipis. Hanin merasakan sesak di dadanya.


Ega memulai pembicaraan dengan bahasan pemberitaan kedekatan Hanin dan Firlan di media sosial. Pria itu terus saja berbicara tentang efek pemberitaan tersebut. Pikiran Hanin berkelana tak tentu arah. Telinganya mendengar namun otaknya tak dapat mencerna dengan baik.


“Jadi.. apa jawabanmu Han?”


Pertanyaan Ega menyentak kesadarannya, menarik paksa gadis itu keluar dari lamunannya. Untuk beberapa saat Hanin tergagap.


“A.. ap..a pi?”


“Apa kamu bersedia menikah dengan Ilan?”


“Ni... kah?”


Otak Hanin masih belum terkoneksi dengan baik. Dia terlihat linglung. Untuk beberapa saat dia mencoba mengumpulkan kesadarannya. Firlan melirik kesal ke arah Hanin. Ingin rasanya dia menjitak kepala gadis di sebelahnya ini.


“Han.. selama ini kan kalian bermain seolah-olah kalian memiliki hubungan, apa kamu tidak mempunyai perasaan pada Ilan? Katakan saja nak, kalau kamu mencintai Ilan, maka kami akan menikahkan kalian.”


Hanin terdiam, ingin rasanya dia langsung menjawab sesuai kesepakatannya tadi siang. Tapi ketika melihat sorot mata penuh harap milik Alea juga Debby, Hanin menjadi ragu. Melihat keraguan di mata Hanin, Alea kembali menebarkan madunya.

__ADS_1


“Mami sungguh berharap bisa melihatmu dengan Ilan menikah. Dengan begitu, ikatan keluarga kita akan semakin kuat. Kamu tahu kan kedekatan papi dan papa, begitu pula mami dan mama. Jujur saja nak, apa kamu mencintai Ilan?”


Otak Hanin berteriak tidak namun bahasa tubuhnya berkhianat. Tanpa sadar Hanin menganggukkan kepalanya. Terlihat wajah penuh kebahagiaan dari Alea juga Debby. Rencana mereka memanipulasi pikiran gadis itu berhasil. Firlan terhenyak melihat anggukan kepala Hanin.


“Apa kamu mau menikah dengan Ilan?”


“Iya mi,” jawab Hanin pelan.


“De... pikirin lagi. Kamu beneran mau nikah sama Ilan? Kamu cinta sama dia?”


“Iya bang, aku jatuh cinta sama bang Ilan dan aku mau menikah dengannya.”


Firlan seperti tersambar geledek mendengarnya. Ini tidak sesuai dengan pembicaraan dan kesepakatan mereka tadi siang. Hanin menundukkan kepalanya ketika Firlan menatapnya dengan sorot tajam. Sungguh sekali ini saja Hanin ingin menjadi egois. Dia ingin memiliki Firlan di sisinya dan membuat pria itu jatuh cinta kepadanya.


Hanin teringat apa yang dikatakan Azriel waktu itu. Pada saatnya nanti dia harus menjawab pertanyaan apakah akan maju atau mundur. Rupanya ini saat yang dimaksud oleh Azriel dan Hanin memilih untuk maju. Dia akan berjuang meluluhkan hati Firlan dan merengkuh kebahagiaannya.


Alea dan Debby menghambur ke arah Hanin lalu memeluknya bergantian. Adit juga menghampirinya lalu memberinya pelukan, disusul oleh Ega. Gara hanya terpaku di tempatnya. Kalau bisa ingin rasanya berteriak untuk menggagalkan rencana pernikahan adiknya. Dia tahu betul kalau tak ada cinta untuk Hanin di hati Firlan.


“Ilan, sesuai kesepakatan, kamu harus menikah dengan Hanin,” seru Alea.


“Iya mi. Tapi kita tunangan dulu aja ya, Hanin juga masih kuliah.”


“No.. no.. no.. mami ngga mau kejadian dulu terulang. Ngga ada tunangan, bulan depan kalian akan langsung menikah.”


“Tapi mi..”


“Niat baik harus disegerakan Lan. Persiapkan dirimu, bulan depan kalian akan menikah. Tak ada bantahan lagi,” tegas Ega.


Firlan menghembuskan nafas kesal seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Pembicaraan tentang rencana pernikahan segera mengalir di antara para orang tua. Firlan mengajak Hanin keluar rumah untuk berbicara.


Hanin mengikuti langkah Firlan dari belakang. Lelaki di depannya itu terus melangkahkan kakinya sampai ke taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman Adit. Mereka duduk di salah satu bangku taman. Seketika keheningan menerpa, tiba-tiba saja Firlan teringat kebersamaannya dengan Ayunda di taman ini.


“Abang mau ngomong apa?”


Suara Hanin sukses membuyarkan kenangan akan Ayunda. Firlan tersadar apa tujuannya mengajak Hanin ke sini. Dia berdehem untuk mengusir bayang-bayang Ayunda lalu mulai fokus pada Hanin.


“Han, abang tahu kamu tadi terpaksa mengiyakan karena mami dan mama Debby. Tapi kamu masih punya waktu untuk membatalkannya Han.”


“Maaf aku ngga bisa bang.”


“Han.. kita tidak saling mencintai, apa jadinya pernikahan kita tanpa cinta.”


“Aku mencintai abang.”


“Ngga usah bohong Han.”


“Aku ngga bohong bang. Aku ngga tahu sejak kapan perasaan ini hadir, tapi aku benar jatuh cinta sama abang. Aku memakai hati saat bermain status palsu dengan abang. Aku minta maaf, tapi aku ngga bisa mengendalikan perasaanku.”


“Hentikan Han, kamu tahu betul siapa yang abang cintai. Abang ngga mau menyakitimu.”


“Berikan aku kesempatan bang. Aku akan membuat abang jatuh cinta padaku.”


Firlan menggeleng, saat ini dia masih enggan menjalin hubungan dengan perempuan manapun termasuk Hanin. Di hatinya masih tertera nama Ayunda dengan jelas. Dia masih ingin menikmati kenangan indah tentang wanita itu lebih lama lagi.


“Dengar Han, abang menyayangimu seperti adik sendiri. Jangan paksakan pernikahan ini demi kebaikanmu.”


“Aku tetap dengan keputusanku bang. Kita akan menikah.”


“Baiklah kalau itu kemauanmu, kita akan menikah. Tapi jangan salahkan abang kalau pada akhirnya kamu yang akan sakit. Jujur, abang kecewa padamu.”


Firlan bangkit dari duduknya lalu meninggalkan gadis itu sendirian di sana. Hanin meraba dadanya, belum menikah saja dia sudah merasakan sesak seperti ini, apalagi nantinya. Namun Hanin tak punya pilihan selain meneruskan semuanya. Baginya kebahagiaan Debby lebih penting dari kebahagiaannya. Selama ini wanita itu sudah mencurahkan seluruh kasih sayang padanya, begitu pula Adit. Tak apa menahan sedikit penderitaan demi kedua orang yang disayanginya. Hanin menengadahkan kepalanya ke arah langit.


Ibu... Hanin akan menikah. Doakan aku bu dan kuatkan aku. Pernikahanku mungkin tak seindah kak Kia. Tapi aku akan berusaha untuk bahagia.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Mamake ngga mau komen ah, biar kalian saja yang komen🤐


Season 4 akan segera tamat ya gaaaeesss.. tenang aja sebagai penutup nanti, mamake akan kasih kisah uwu Rey dan Ay. Sekarang seperti biasa, like, comment and vote dulu ya😉**


__ADS_2