Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Wanita Penggoda


__ADS_3

Ayunda membuka matanya, pandangannya tertuju pada jendela yang sudah tersibak gordennya. Matahari nampak sudah mulai bergerak menuju 90 derajat. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sebelas. Setelah Reyhan berangkat kerja, Ayunda memang tidur kembali. Tubuhnya lelah harus kembali mengulangi aktivitas panas sehabis shubuh. Reyhan benar-benar membuatnya tak beranjak dari kasur.


Ayunda sedikit mendesis ketika merasakan perih di bagian bawahnya. Digempur habis-habisan oleh Reyhan, tentu saja membuat bagian bawahnya sedikit sakit. Dengan langkah pelan, Ayunda melangkah menuju kamar mandi.


Ayunda berpegangan pada ujung meja wastafel ketika merasakan kepalanya sedikit pening. Rasa mual juga tiba-tiba menyeruak, Ayunda sampai harus mendekatkan kepalanya ke arah wastafel, takut kalau akan muntah. Setelah menunggu beberapa saat, Ayunda keluar dari kamar mandi.


Ayunda berjalan pelan menuju meja kerja Reyhan. Diraihnya kalender duduk yang ada di atas meja. Dia membalikkan kalender ke bulan sebelumnya, mencari bulatan merah yang dia beri di salah satu tanggal. Ayunda kembali membuka kalender bulan ini. Ternyata dia sudah seminggu telat datang bulan.


Ayunda melangkah menuju walk in closet lalu membuka salah satu laci di sana. Diambilnya tiga buah testpack sekaligus. Dalam hatinya berharap, kecurigaan akan kondisinya akhir-akhir ini benar adanya.


Ayunda duduk di atas kloset. Harap-harap cemas dia menunggu hasil testpack. Ayunda mengambil nafas panjang sebelum meraih ketiga alat tes kehamilan yang digunakannya tadi. Satu alat menunjukkan dua garis biru, satu alat lagi menunjukkan tanda positif dan yang terakhir meanampilkan kata YES.


“Alhamdulillah,” seru Ayunda senang.


Ayunda bergegas keluar kamar mandi. Diraihnya ponsel yang ada di atas nakas. Namun niatnya menghubungi Reyhan segera diurungkan. Dimasukkannya ponsel ke dalam saku kaosnya kemudian dia bergegas keluar dari kamar. Dengan langkah hati-hati Ayunda menuruni tangga lalu menuju dapur.


“Ma..”


Sarah yang sedang menyiapkan makan siang menoleh ke arah Ayunda. Menantunya itu menghampiri dirinya kemudian memeluknya dari samping seraya menaruh kepalanya di bahu sang mama.


“Kenapa sayang? Laper?”


“Iya ma. Gara-gara mas Rey.”


Sarah terkekeh geli. Pasti anaknya sudah menguras tenaga menantunya ini habis-habisan.


“Sebentar lagi makanannya mateng, sabar ya.”


“Aku ngga mau makan nasi ma. Aku mau makan salad buah aja. Yoghurtnya masih ada kan ma?”


“Masih ada di kulkas. Mau mama buatin?”


“Ngga usah biar aku aja. Mama mau ngga?”


“Papa mau,” sambar Regan yang baru saja masuk ke dapur.


Ayunda mengacungkan ibu jarinya kemudian bergegas menuju kulkas. Dikeluarkan buah-buahan yang akan digunakan untuk membuat salad. Buah naga, apel, anggur, kiwi, melon, yoghurt, susu kental dan keju sudah siap di meja. Ayunda mulai meracik salad buah buatannya.


Tiga mangkok salad buah sudah tersaji di meja makan. Ayunda dan Regan sudah duduk untuk menikmatinya. Sarah menyerahkan pekerjaannya pada bi Mina kemudian bergabung dengan suami dan menantunya di meja makan.


“Ma, besok aku mau bikin birthday party buat mas Rey,” tukas Ayunda seraya menyuapkan salad ke mulutnya.


“Oh iya besok Rey ulang tahun.”


“Iya ma.. kita buat acaranya di rooftop aja ya. Aku mau masakin kesukaan mas Rey, kalau kue minta bunda aja deh yang buat. Aku belum terlalu bisa soalnya hehe..”


“Terserah kamu aja, tapi kamu jangan terlalu cape ya, nanti Rey marah.”

__ADS_1


“Iya ma, tenang aja.”


“Nanti papa telpon Rain biar mereka datang. Papa juga sudah kangen sama Nanaz.”


“Sekarang kehamilan kak Rain udah berapa bulan ma?”


“Jalan delapan bulan.”


“Wah sebentar lagi ya. Anaknya perempuan atau laki-laki ma?”


“Dari hasil USG sih perempuan.”


“Wih mantul, bang Akhtar ngga ada saingan gantengnya.”


Regan dan Sarah terkekeh. Ketiganya terus berbincang ringan sambil menikmati salad yang sudah tidak diragukan lagi rasanya. Ayunda belajar membuat salad langsung dari chef ternama alias Dimas.


“Ma, dulu waktu hamil mas Rey, ngidam yang aneh-aneh ngga?”


“Hmm.. apa ya? Kayanya ngga ada yang aneh deh.”


“Waktu hamil Rey, papa ngga boleh pake baju kalau tidur,” jawab Regan, membuat pipi Sarah merona.


“Wah.. masuk angin ngga pa?” Ayunda tergelak.


“Ngga lah, kan ada mama yang bisa papa peluk. Ya kan ma.”


Setelah menghubungi Poppy untuk minta dibuatkan kue ulang tahun, Ayunda kemudian mengirimkan pesan pada suaminya.


To Mas Rey :


Mas.. lagi sibuk?


From Mas Rey :


Ngga Ayang, ada apa?”


To Mas Rey :


Video call dong.


Centang abu di pesan yang dikirimkan Ayunda sudah berubah menjadi biru. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Reyhan melakukan video call. Dengan senyum sumringah Ayunda menggeser bulatan hijau. Seketika wajah tampan Reyhan memenuhi layar ponselnya.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam.. mas..”


“Kenapa sayang?”

__ADS_1


“Kangen....”


Reyhan tersenyum medengar jawaban singkat nan manja yang keluar dari bibir istrinya. Hatinya begitu bahagia menatap wajah cantik sang istri. Setiap hari rasa cintanya semakin tumbuh subur saja.


“Kangen apanya?”


“Semuanya. Kangen lihat muka gantengnya suamiku, kangen dipeluk, kangen dicium, kangen dibuat mendesah,” Ayunda terkikik, tak percaya rasanya dirinya mengeluarkan kata-kata seperti tadi.


“Yang.. jangan mancing-mancing ya. Jam pulang masih lama ini, istirahat juga belum.”


“Siapa yang mancing? Aku kan cuma ngomong apa adanya. Kalau mancing tuh begini..”


Ayunda meletakkan ponsel di atas nakas menghadap dirinya. Kemudian dengan gerakan pelan, dia membuka satu per satu kancing blouse yang dikenakannya lalu melepaskan blouse tersebut dan membuangnya ke sembarang arah. Dua bukit kembar yang tertutup kain berenda warna merah langsung terpampang di layar ponsel. Reyhan benar-benar terkejut, untung saja dia hanya sendirian di ruangan prakteknya.


“Ayang...” suara Reyhan terdengar menggeram. Istrinya ini benar-benar menguji imannya.


Ayunda tak berhenti sampai di situ. Dia terus saja menggoda suaminya. Kini tangannya bergerak ke arah punggung untuk melepas pengait bra-nya. Reyhan menelan kelat ludahnya menatap dua gunung yang mencuat begitu kain berenda tersebut terlepas.


“Ayang...” suara Reyhan semakin melemah, mencoba menahan sesuatu di bawah sana yang mulai menegang.


Melihat wajah suaminya yang memerah, Ayunda semakin ingin menggodanya. Kedua tangannya menggenggam dua bukit kembarnya kemudian merematnya pelan, tak lupa dia mengeluarkan desahannya. Reyhan semakin belingsatan dibuatnya.


“Mas... udah dulu ya mmmuuaaacchhh.”


Ayunda langsung memutuskan panggilan kemudian terkikik geli. Dikenakannya lagi bra dan blousenya lalu naik ke atas kasur dan berbaring santai. Sekarang dia serius menonton drama Korea dari ponselnya tanpa mempedulikan reaksi suaminya.


Saat sedang asik menonton, Ayunda dikejutkan dengan bunyi pintu yang terbuka dengan kerasnya. Nampak Reyhan berdiri di depan pintu seraya melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Didorong pintu hingga tertutup dengan kakinya. Kemudian dia membuka pakaiannya satu per satu sambil berjalan ke arah ranjang.


Situasi berbalik, kini Ayunda yang harus menelan kelat ludahnya. Sepertinya dia sudah salah membangunkan ular cobra. Bagian bawahnya berkedut ketika Reyhan melepaskan kain terakhir di tubuhnya. Dengan tubuh polosnya Reyhan naik ke atas ranjang. Diambilnya ponsel Ayunda lalu meletakkan asal di atas nakas. Tangannya langsung melucuti semua pakaian yang membungkus tubuh istrinya.


“Mas..” rengek Ayunda mencoba menghentikan Reyhan yang mulai menciumi tubuhnya.


“Tanggung jawab Ayang.. siapa suruh kamu mancing-mancing mas,” jawab Reyhan di sela-sela cumbuannya.


Sebuah ******* lolos saat Reyhan meremat dan men**lum bukit kembarnya. Dengan rakus Reyhan melahap bulatan yang tadi menantangnya. Sungguh Ayunda menyesal sudah bermain-main dengan suaminya. Kini dia harus kembali menghadapi terjangan sang suami.


🍁🍁🍁


**Tanggung jawab Yunda, suruh siapa bangunin kobra yg lagi tapa, cape lagi pastinya🤭


Hadeuh.. kayanya mamake masih berat pisah sama pasangan ini. Endingnya masih ketunda 1 episode lagi, ngga apa² ya😊


Dukungannya jangan lupa ya, like, comment and vote😉


Penampakan kang dokter pas lagi video call sama neng Ay**


__ADS_1


__ADS_2