
Elang mengurai pelukannya lalu menyambar bibir Syifa dengan rakus. Dengan tergesa dilepaskannya seluruh pakaian yang membungkus tubuhnya. Selain hawa panas, dorongan lain dalam dirinya begitu memaksa ingin dipuaskan. Selesai dengan pakaiannya, Elang merobek lingerie yang dikenakan Syifa lalu mendorong tubuh itu sampai terjatuh ke kasur.
“I’m yours baby,” ucap Syifa dengan nada seksi.
Tanpa menunggu lama Elang langsung menerjang tubuh itu. Lenguhan dan d*s*han Syifa terdengar ketika Elang tanpa henti menciumi dan menyesap bagian tubuhnya.
“Mas El!!!”
Azkia terbangun dari tidurnya. Keringat membasahi tubuhnya, nafasnya nampak tersengal. Dia memandang ke sekeliling, suasana kamar nampak sepi. Diusapnya peluh yang membasahi keningnya lalu tangannya mengambil gelas yang ada di atas nakas, meneguk air di dalamnya sampai tandas.
Berulang kali Azkia mengucapkan istighfar. Mimpi yang baru dialaminya tadi terasa begitu nyata. Diliriknya jam di dinding, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Azkia meraih ponselnya lalu melakukan panggilan video pada suaminya. Butuh beberapa saat sebelum Elang menjawab panggilannya. Tak lama wajah sang suami sudah memenuhi layar ponselnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Ada apa sayang?”
“Mas lagi apa?”
“Ini lagi nyusun materi buat ketemu sama Mr. Miller besok. Kenapa belum tidur sayang?”
“Aku kebangun mas, habis mimpi buruk.”
“Mimpi apa sayang?”
“Aku mimpi mas tidur bareng sama Syifa.”
Terdengar gelak tawa Elang dari sebrang sana. Azkia mengerucutkan bibirnya, sebal karena sang suami malah menertawakannya.
“Mas ih.. malah ketawa.”
“Ya terus mas harus gimana sayang? Kamu tuh terlalu banyak mikirin yang aneh-aneh makanya mimpinya juga aneh. Ngapain juga mas tidur sama Syifa. Kamu itu jauh lebih menggairahkan dari pada perempuan itu,” Elang mengedipkan matanya.
“Mas iihh..”
“Jangan mikir macem-macem sayang. Mas di sini kerja, doain aja supaya kerjaan mas cepat selesai. Sekarang tidur lagi ya.”
“Ngga bisa tidur mas.”
“Simpan ponsel kamu di dekat bantal, kamu tiduran tapi wajahmu harus bisa mas lihat ya.”
Azkia melakukan semua yang diperintahkan suaminya. Dia menaruh ponsel di bantal dengan posisi tegak, lalu merebahkan kepalanya di bantal yang lain. Wajahnya bisa terlihat jelas di layar ponsel. Tak lama kemudian terdengar suara Elang beryanyi. Azkia memandangi wajah tampan suaminya yang sedang bernyanyi untuknya. Beberapa saat kemudian dia mulai menguap.
Elang baru saja selesai menyanyikan lagu keduanya ketika melihat sang istri sudah terpejam. Dia tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ke layar ponsel. Diciumnya layar LED itu seperti sedang mencium istrinya. Setelah itu wajahnya sudah menghilang dari layar. Azkia sendiri sudah terlelap dengan wajah tersenyum.
🍁🍁🍁
Didampingi Jayden, Elang bertemu dengan Mr. Miller di vila pribadinya. Tak seperti sebelumnya yang sulit ditemui. Kini sang investor lebih mudah untuk diajak bertemu. Sebuah vila dengan pemandangan menuju laut lepas berdiri megah di atas tebing. Terlihat beberapa pengawal berjaga di sekitaran vila. Mobil yang dikendarai Elang dan Jayden memasuki pelataran halaman vila.
Seorang pengawal menyambut mereka kemudian membawanya menemui Mr. Miller yang tengah menunggu di bagian belakang vila. Suara burung camar serta deburan ombak begitu jelas terdengar. Dengan ramah Mr. Miller menyambut kedatangan mereka lalu mempersilahkan duduk.
__ADS_1
Lelaki berusia enam puluh tahunan itu membuka pembicaraan dengan menceritakan awal mula dia berbisnis. Dengan modal nekad dia menginvestasikan semua yang dimilikinya dengan membeli saham salah satu perusahaan media elektronik. Ternyata analisisnya tepat, dalam kurun tiga tahun media tersebut berkembang pesat hingga menghasilkan keuntungan baginya. Vila yang dihuninya saat ini merupakan hasil pertama dari jerih payahnya.
“Maaf Sir, tujuan saya kemari untuk menanyakan mengapa anda tiba-tiba menarik investasi dari proyek yang kami kerjakan. Apa ada ketidakpuasan atas kinerja kami atau ada hal lainnya yang kurang berkenan?”
“Sejauh ini saya puas dengan kinerja kalian. Tapi sepertinya saya harus meninjau kembali apakah investasi yang saya lakukan benar-benar tepat atau tidak. Jujur saja, proyek yang sedang kalian kerjakan adalah hal baru bagi saya. Saya masih menimbang untung ruginya meneruskan proyek ini.”
Jayden mengeluarkan laptopnya. Dia membuka file yang semalam sudah disusunnya bersama Elang. Progres proyek yang mereka kerjakan, rencana kerja yang akan dijalankan, estimasi balik modal serta keuntungan finansial dan non finansial yang akan mereka peroleh sudah dikemas dalam tayangan apik. Elang berusaha membuat presentasi se-simple mungkin hingga mudah dipahami koleganya yang nota bene masih berpikir kolot.
Mr. Miller mendengarkan dengan seksama penjelasan Elang. Dalam hati dia mengagumi cara kerja pemuda di hadapannya. Jika bukan karena membalas budi pada seseorang yang pernah menolongnya, tak ada keinginan darinya untuk menarik investasi dari proyek tersebut.
“Bagaimana Sir?”
“Hmm.. saya suka dengan presentasi yang anda tunjukkan tadi. Tapi saya masih belum sepenuhnya yakin. Atau begini saja, kalau anda bersedia menerima orang yang saya percaya untuk terus mendampingi anda menyelesaikan proyek tersebut, saya akan kembali berinvestasi. Tapi dia harus terus mendampingi anda di acara formal maupun non formal, bagaimana?”
“Siapa orangnya? Apa saya mengenalnya?”
“Anda sangat mengenalnya dan dia adalah orang yang sangat saya percaya. Dia adalah temanmu, Syifa.”
Elang menghembuskan nafas panjang. Sebelumnya dia sudah bisa menebak kalau Syifa berada dibalik penarikan investasi Mr. Miller. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap pria di hadapannya dengan serius.
“Maaf Sir. Proyek ini sebenarnya memiliki banyak peminat. Sudah banyak calon investor yang kami tolak karena prinsip bisnisnya bertentangan dengan visi misi kami. Alasan kuat kenapa saya menjatuhkan pilihan pada anda karena kita memiliki pemikiran yang sama. Tapi ternyata saya salah, anda sama saja seperti yang lainnya. Mohon maaf, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda.”
“Apa anda yakin dengan keputusan anda?”
“Sangat yakin.”
“Apa kalian tidak takut dengan jumlah kerugian yang kalian alami. Saya bisa saja menarik dana saya saat ini juga.”
Elang memberi isyarat pada Jayden, sahabatnya itu bergegas membereskan peralatannya. Keduanya bermaksud untuk pergi karena sudah tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi. Sebelum pergi, Elang kembali melontarkan kalimat yang membuat Mr. Miller bimbang.
“Saya masih akan berada di sini selama dua hari. Jika dalam waktu itu anda berubah pikiran, silahkan hubungi saya. Tapi jika anda benar berniat mengakhiri perjanjian kita, pengacara kami yang akan mengurus semuanya.”
Setelah itu Elang beserta Jayden meninggalkan pria tua itu dengan sejuta pemikirannya. Mr. Miller termenung, menimbang-nimbang langkah yang akan diambilnya. Tak dapat dipungkiri, menjalin kerjasama dengan Humanity Corp akan mendatangkan keuntungan besar untuknya. Namun janjinya pada Syifa untuk membantu mendapatkan Elang membuatnya harus mengambil keputusan berat. Jika saja dia tidak berhutang nyawa pada gadis itu, tak mungkin dia melakukan hal seperti ini.
🍁🍁🍁
Elang duduk di cafetaria yang letaknya bersebrangan dengan hotel tempatnya menginap. Jayden sudah kembali ke hotel karena ada yang harus dikerjakan. Saat sedang menikmati kopi kesukaannya, Syifa datang menghampiri. Dengan penuh percaya diri dia menarik kursi di hadapan pemuda tampan ini.
“Hai El, kebetulan sekali bertemu denganmu di sini.”
Elang tak menanggapi dia asik menikmati kopi sambil mendengarkan penyanyi cafe menyanyikan sebuah lagu berbahasa Spanyol. Syifa sedikit kesal karena ucapannya tak digubris oleh Elang.
“Ada urusan apa kamu ke sini El?”
“Habis bertemu dengan Mr. Miller.”
“Apa ada masalah?”
“Hmm.. dia menarik investasinya.”
__ADS_1
“Serius? Terus kamu nyerah gitu aja? Ini bukan Elang yang aku kenal.”
“Karena dia mengajukan persyaratan konyol kalau mau dia tetap berinvestasi.”
“Syarat apa?”
Elang memandangi wajah Syifa sejenak. Dia tersenyum miring melihat bagaimana munafiknya perempuan di hadapannya ini.
“Dia minta kamu menjadi pengawas sekaligus mendampingiku baik di acara formal maupun informal.”
“Ya ampun aku kira syaratnya apa. Kalau cuma itu aja kenapa ngga kamu kabulin aja. Lagian aku juga ngga keberatan kok.”
“Kalau proyek ini berjalan maka setiap bulannya mungkin aku akan berpergian mengunjungi lokasi proyek yang memang berada di lima tempat. Dua di luar negeri dan tiga di dalam negeri. Perjalanan tidak akan cukup sehari, paling cepat tiga hari. Itu sesuatu yang tidak mungkin karena kita bukan muhrim dan aku pria yang sudah menikah. Belum lagi di acara formal aku harus selalu membawamu. Bagaimana tanggapan rekan kerjaku kalau yang mendampingiku adalah kamu bukan istriku.”
“Kalau begitu jadikan aku istrimu. Aku ngga masalah harus jadi yang kedua, asalkan pernikahan kita dilegalkan. Dengan begitu kita bisa bepergian tanpa harus takut dengan gunjingan orang.”
Elang tergelak mendengarnya. Sungguh sebuah ide konyol sekaligus memuakkan yang pernah didengarnya.
“Pikirkan baik-baik El usulanku ini. Anggap saja pernikahan kita itu simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Bayangkan berapa banyak kerugian yang kamu alami kalau kamu menolak tawaran ini.”
“Aku lebih baik mengalami kerugian milyaran atau trilyunan rupiah dari pada harus menyakiti hati istriku dengan menikahi perempuan yang tidak aku cintai demi kepentingan bisnis semata. Bangunlah dari mimpimu Fa, kamu terlalu banyak menonton drama sampai kehidupanmu pun ingin dibuat seperti drama.”
“Aku tahu ada dirimu di belakang keputusan Mr. Miller. Kali ini aku melepaskanmu. Berhentilah menggangguku selama aku masih bersikap lunak padamu. Tapi kalau kamu masih menggangguku atau istriku, aku akan melupakan kalau kamu temanku dan seorang wanita. Aku akan membuatmu menyesal sudah berurusan denganku.”
Elang menghabiskan minumannya, diletakkannya beberapa lembar uang di atas meja lalu segera pergi meninggalkan Syifa. Gadis itu memandang kepergian Elang dengan wajah penuh kekesalan. Dia mengambil ponselnya lalu mulai menghubungi seseorang.
“Halo, jalankan rencana B. Blokir semua calon investor yang akan diajak bekerja sama oleh Humanity Corp. Minta Mr. Miller untuk menarik investasinya sekarang juga. Begitu pula dengan proyek Belitung, tarik kembali perijinan yang sudah diberikan, sita bangunan serta lahan mereka. Dan rencana kita kemarin, harus kita jalankan segera sebelum Elang kembali ke Indonesia.”
Syifa mengakhiri panggilannya. Kemudian dia kembali menghubungi seseorang. Terdengar suara partner in crime-nya dari seberang menjawab panggilannya.
“### Halo.”
“Halo Des, aku sudah menyelesaikan bagianku. Sekarang giliranmu, pastikan kamu melakukannya dengan benar. Apapun caranya kamu harus berhasil meniduri Kia. Kalau perlu buat dia hamil anakmu.”
Syifa mengakhiri panggilannya. Cinta telah membutakan mata dan hatinya, membuatnya rela melakukan apapun demi mendapatkan orang yang dicintainya.
Tunggu saja El, aku akan membuatmu merangkak datang padaku. Setelah Kia menjadi sampah, maka tak ada lagi penghalang di antara kita.
🍁🍁🍁
**Hiyaaa.. ternyata itu cuma mimpi neng Az aja. Buat yang kemarin udah ketar ketir maafkeun mamake😂✌️
Suara Hati Elang:
Kalian para readers bilangnya lope² sama aku tapi ngga percaya sama rasa cintaku sama Az😌😏
Tinggalin jejak dulu ah, likenya jangan lupa. Komennya ditunggu, mas El nunggu permintaan maaf kalian and vote kalau masih ada😉
Mas El cuma senyum aja liatin readers yang kena prank mamake😜**
__ADS_1