
Elang duduk di sisi ranjang memandangi wajah cantik istrinya yang masih terlelap. Dia sengaja tak membangunkan Azkia karena masih cuti dari kewajiabannya shalat. Elang berdiri lalu mengganti baju kokonya. Setelah itu kembali naik ke atas ranjang, berbaring dengan posisi miring. Dengan gerakan pelan dirapihkan anak rambut sang istri. Matanya menatap dalam pada netra Azkia yang masih setia terpejam. Rasanya masih belum percaya kalau wanita yang ada di hadapannya kini sudah menyandang status sebagai istrinya.
Perlahan kelopak mata Azkia bergerak, kemudian bola mata indah itu mulai terbuka. Wajah tampan Elang langsung menyambutnya.
“Mas,” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Hmm..”
“Sekarang jam berapa?”
“Jam lima lebih.”
“Ya ampun aku kesiangan.”
Azkia hendak bangun namun ditahan oleh Elang, kepala lelaki menggeleng kemudian merebahkan kembali tubuh sang istri di sampingnya. Elang menarik pinggang Azkia hingga tubuh mereka tak berjarak. Sebuah kecupan mendarat di kening Azkia, berlanjut ke hidung. Saat akan mencium bibir, spontan Azkia menutup dengan tangannya.
“Aku belum gosok gigi.”
Terdengar tawa Elang, kemudian dia mendekatkan hidungnya dan menggesekkannya pada hidung mancung Azkia.
“Aku mandi dulu ya mas. Mau bantuin bunda siapin sarapan.”
“Sebentar lagi sayang.”
Elang menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Azkia lalu menciumnya. Tidak hanya sekali, tapi dia melakukannya berkali-kali. Azkia menahan nafasnya, seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitiki perutnya. Tangan Elang yang tadi berada di pinggang kini mulai naik ke perut terus mengarah ke atas. Membuka kancing bagian atas piyama istrinya.
Azkia mendongakkan kepalanya saat Elang memberikan kecupan di bahu terus ke dada. Desahannya terdengar ketika Elang menyesap sedikit kencang hingga meninggalkan warna kemerahan.
“Maaasss...”
Elang membenamkan wajahnya di dada sang istri. Tangannya menelusup masuk ke dalam piyama lalu mengusap punggung mulus itu. Ada gelanyar aneh menghantam Azkia, rasanya begitu nyaman dan nikmat. Untuk beberapa saat dia terbuai dengan semua sentuhan suaminya.
“Mas, aku mandi dulu ya.”
“Hmm..”
Elang melepaskan diri. Namun sebelum Azkia turun dari ranjang, dia sempat mencuri ciuman dari bibir ranum itu. Azkia tersipu malu, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Elang kembali merebahkan tubuhnya di kasur, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Tak sabar rasanya menunggu sampai Azkia bisa dimiliki sepenuhnya.
Selesai mandi Azkia bergegas menuju lantai bawah. Di dapur terlihat Poppy dan bi Diah sedang menyiapkan sarapan. Azkia segera bergabung. Poppy cukup terkejut melihat kedatangan menantunya.
“Eh pengantin baru ngapain ke sini?”
“Mau bantuin bunda.”
“Ngga usah, kamu pasti masih cape.”
“Ngga apa-apa bunda.”
Poppy tersenyum, akhirnya dia membiarkan Azkia membantunya. Irzal dan Farel yang baru keluar dari dojo mampir sebentar ke dapur untuk mengambil minuman. Tubuh mereka tampak berkeringat setelah berlatih taekwondo bersama.
“Habis latihan yah?” tanya Azkia.
“Iya.”
“Kok mas El ngga ikutan?”
“Dia kan juga udah keringetan Kia. Jadi ngga perlu latihan lagi kaya kita,” goda Farel sambil menaik turunkan alisnya. Azkia yang tak mengerti hanya memandangnya dengan wajah bingung. Poppy segera menghalau kedua pria itu untuk segera membersihkan diri.
Sarapan sudah tersedia di meja. Semua anggota keluarga juga sudah berkumpul tak terkecuali Elang. Azkia menarik kursi di samping suaminya. Ayunda dan Farel baru saja datang ke meja makan. Mereka tidak langung duduk melainkan saling menatap seolah masing-masing mengirimkan kode yang hanya dimengerti oleh keduanya. Kemudian Ayunda mengambil dua sendok dari meja. Satu diberikan pada Farel, satu lagi ditaruh di depan mulut layaknya microphone.
__ADS_1
“Makan duren di malam hari, paling enak dengan kekasih. Dibelah bang... dibelah... enak bang... silahkan dibelah. Jangan lupa mengunci pintu, nanti ada orang yang tahu. Pelan-pelan... dibelah... enak bang.. silahkan dibelah.”
“Semua orang.. pasti suka belah duren.. Apalagi malam pengantin.. Sampai pagi pun yo wis ben.. Yang satu ini.. durennya luar biasa.. Bisa bikin bang ngga tahan sampai-sampai ketagihan,” sambung Farel.
Wajah pengantin baru langsung memerah mendengar lagu yang dinyanyikan Farel dan Ayunda. Azkia memerah karena malu, Elang karena kesal. Irzal dan Poppy hanya mengulum senyum saja melihat tingkah anak-anak mereka. Selesai konser, Ayunda dan Farel bergabung di meja makan. Mereka duduk berhadapan dengan pengantin baru yang gagal melakukan malam pertamanya.
Saat membersihkan peralatan bekas sarapan, Ayunda tak hentinya menggoda sang kakak ipar hingga wajahnya merona. Poppy menegur Ayunda, tapi gadis itu cuek saja mencecar Azkia.
“Gimana mas El, hot ngga kak?”
“Yunda,” tegur Poppy.
“Ish bunda. Yunda kan kepo. Gimana kak?”
“Gimana apanya?”
“Itu.. belah durennya.”
“Ini anak perawan kepo banget,” Poppy menjewer telinga Ayunda lalu menariknya keluar dari dapur. Azkia hanya tersenyum melihatnya.
Sementara itu di ruang tengah, Farel masih belum berhenti menggoda Elang. Lelaki yang baru menyandang status sebagai suami itu masih setia dengan kebisuannya, membuat Farel bertambah penasaran.
“El, gimana sukses ngga jebol gawangnya?”
“Berapa ronde?”
“Pake gaya apa aja?”
“Haaaiiissshh berisik! Orang Kia-nya juga lagi palang merah.”
“What??? Huauahaha.... nasib-nasib lo El, puasa maning puasa maning.”
“Nah lo udah rapih mau kemana?”
“Kencan.”
“Kemana?”
“Mau tau aja.. dasar jomblo kepo.”
Sebuah keplakan mendarat di kepala Elang. Pelakunya tentu saja sang kakak. Interaksi keduanya terhenti ketika Azkia datang. Penampilannya juga sudah rapih. Tubuhnya terbungkus jaket kulit berwarna hitam. Hampir serupa dengan jaket yang dipakai suaminya. Elang terpana dibuatnya.
“Kia cantik kan? Bunda sengaja belikan jaket ini, siapa tahu kalian ingin kencan ala bunda sama ayah dulu. Jalan-jalan keliling Bandung naik motor.”
“Sekarang juga kita bisa kencan kaya dulu sayang,” timpal Irzal.
“Inget umur sayang,” Poppy mendelik ke arah suaminya, Irzal tergelak.
“Sayang kamu pakai niqab lagi,” titah Elang.
“Mas..” rengek Azkia.
“Ya udah ngga usah pake tapi nanti kamu nunduk aja ya jalannya. Biar ngga ada lihat wajah kamu.”
“Ya ampun El, lo niat ngajak istri jalan-jalan apa ngga sih? Kalau dia nunduk doang emang mau lihat semut pacaran, dasar PEA!”
Farel menoyor kepala adiknya dengan kesal. Tingkat kebucinan dan posesifnya Elang sudah di ambang batas normal. Tanpa mempedulikan Farel, Elang segera berpamitan dengan kedua orang tuanya disusul oleh Azkia.
__ADS_1
Elang mengeluarkan tunggangannya lalu menaikinya.
Azkia mendekat, sambil berpegangan pada bahu suaminya, dia naik ke atas motor. Tak berapa lama kuda besi tersebut melesat. Azkia melingkarkan tangannya di perut Elang, seraya membenamkan wajahnya di punggung kokoh itu.
Tak lebih dari lima belas menit mereka telah tiba di tempat tujuan. Sesuai permintaan Azkia yang ingin menikmati pemandangan alam terbuka, Elang mengajaknya berkunjung ke Taman Hutan Raya Ir. Djuanda. Letak Tahura berada di daerah dago bagian atas.
Azkia menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya hingga memenuhi rongga paru-parunya. Elang menggandeng tangan istrinya memasuki area tahura setelah membeli tiket. Sudah banyak pengunjung yang datang, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Ada yang datang berpasangan seperti mereka, bersama keluarga atau bersama komunitasnya. Setiap Minggu pagi objek wisata ini memang menjadi pilihan warga sekitar untuk jalan-jalan atau berolahraga.
Sesuai namanya, tahura ini dipenuhi oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Kondisi hutan masih terlihat asri hanya saja sudah difasilitasi oleh pemerintah setempat hingga pengunjung yang datang akan merasa lebih nyaman. Jalan setapak yang terbentang khusus diperuntukkan untuk pejalan kaki sudah dipasangi paving block. Selain toilet, di sana juga disediakan tempat duduk yang terbuat dari kayu.
Elang dan Azkia berjalan menyusuri jalan setapak. Jemari mereka saling bertautan sepanjang perjalanan. Walaupun lahir dan tinggal di Bandung, Azkia belum pernah menjejakkan kakinya di tempatnya ini. Kesibukannya bekerja, membuatnya tak punya waktu untuk dirinya sendiri.
Elang mengajak sang istri mengunjungi dua tempat yang sangat terkenal di tempat ini. Salah satunya pernah dijadikan lokasi uji nyali oleh salah satu program televisi swasta.
Pertama-tama dia mengajak Azkia mengunjungi Goa Belanda. Gua yang dibangun saat penjajahan Belanda ini masih berdiri kokoh hingga sekarang. Awalnya gua ini digunakan sebagai penyadapan air sungai Cikapundung tapi kemudian dipakai juga sebagai fasilitas militer. Gua ini terdiri atas beberapa koridor. Di salah satu koridor terdapat rel yang difungsikan untuk mengangkut peralatan militer.
Elang dan Azkia mendengarkan dengan seksama penjelasan yang diberikan oleh guide dadakan yang ada di sana. Keadaan gua tidaklah terlalu gelap, ada penerangan di beberapa sudut walaupun dengan cahaya minim.
Selesai dengan gua Belanda, mereka melanjutkan perjalanan menuju Gua Jepang.
Keadaan gua Jepang lebih lembab dan gelap dibanding gua Belanda. Lantainya pun masih berupa tanah padat. Di dalam gua terdapat sejumlah terowongan kecil, penjara, rel kereta hingga rantai-rantai besar yang dulunya digunakan oleh rakyat saat era kerja paksa romusha.
Azkia mengeratkan pelukannya di lengan Elang begitu menelusuri lorong yang tampak gelap. Cahaya dari senter yang mereka pegang tak cukup untuk penerangan. Azkia semakin merapatkan tubuhnya begitu masuk lebih jauh ke dalam gua. Sang guide terus menerangkan fungsi-fungsi dari ruangan yang mereka lewati.
Bulu kuduk Azkia meremang ketika menatap sebuah lorong yang konon katanya digunakan sebagai penjara warga pribumi. Membayangkan ruang sempit itu dihuni oleh banyak orang membuat Azkia bergidik. Dia menarik-narik jaket Elang, meminta suaminya itu untuk mengakhiri penjelajahannya.
Azkia menghembuskan nafas lega begitu keluar dari gua Jepang. Elang terkekeh melihat wajah sang istri yang sedikit pucat. Gua Jepang memang terkenal angker, tak heran banyak yang takut memasuki gua tersebut.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan lalu mampir di sebuah cafe untuk beristirahat. Salah seorang pelayan menawarkan Azkia untuk mencoba kostum khas negeri Belanda yang tersedia di sana namun dia menolaknya.
Puas mengelilingi tahura, mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini Elang mengajak Azkia ke daerah Lembang. Mereka mengambil jalan pintas untuk menuju ke sana. Menjelang jam makan siang, mereka tiba di sana. Elang mampir ke salah satu kedai yang menjual aneka makanan untuk mengisi perut mereka.
Senyum tak pernah hilang dari wajah cantik Azkia. Elang memandangi wajah cantik itu tanpa berkedip. Perlahan dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir istrinya. Suasana sepi di lantai atas kedai itu dimanfaatkan Elang untuk bermesraan dengan sang istri. Azkia menatap pemandangan di sekitar kedai, di belakangnya Elang memeluk tubuhnya dengan erat. Sesekali kecupan mendarat di puncak kepala juga pipinya.
Elang melepaskan pelukannya begitu pelayan datang mengantarkan pesanan. Azkia menyeruput jeruk panasnya, mulutnya terbuka ketika Elang menyuapkan potongan pisang keju. Tak mau kalah, Azkia pun menyuapkan potongan roti bakar pada suaminya. Di tengah kemesraan mereka terdengar suara ponsel Elang. Dengan malas Elang mengangkat panggilan dari Farel. Setelah berbicara sebentar dia mengakhiri panggilan.
“Kenapa mas?”
“Disuruh pulang sama ayah. Biasa mau bahas soal kerjaan. Kencannya lanjut besok aja.”
“Iya mas.”
Setelah menyelesaikan makannya, mereka bergegas pulang. Walaupun acara kencan tak berlangsung lama namun Azkia begitu menikmati momen kebersamaan bersama sang suami. Dia memeluk erat Elang sepanjang perjalanan. Sesekali Elang memegang tangan sang istri yang melingkar di perutnya.
🍁🍁🍁
**Buat yg nunggu MP mas El & neng Azkia sabar ya, ngga lama lagi kok😁
Ayo jangan pelit² kasih dukungan buat mamake ya karena mamake juga ngga pelit up buat kalian 2x sehari.
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote**..