
Saat menuruni anak tangga, Regan melihat Sarah melintas bersama dengan bi Mina dan Tati, membereskan sisa-sisa acara tadi siang. Regan menghampiri mereka.
“Mas.. tendanya baru bisa dibongkar besok. Tadi tukangnya ada kerjaan mendadak.”
“Jangan dicopot dulu. Biarkan saja begitu untuk beberapa hari.”
“Kenapa?”
“Ngga apa-apa.”
Regan mengalihkan pandangannya pada bi Mina, asisten rumah tangga yang sudah melayaninya setelah dirinya pindah ke rumah ini. Kini Tati, anaknya juga ikut membantu di sini.
“Bi Mina.. makasih ya atas bantuannya selama ini. Saya minta maaf kalau ada kesalahan yang saya sengaja atau tidak. Bibi juga Tati tetap di sini ya temani istri, anak dan cucu saya. Bibi sudah kami anggap bagian keluarga ini.”
“Sama-sama pak. Alhamdulillah saya betah kerja di sini, bapak dan ibu baik sekali pada saya dan keluarga saya. Tati juga betah kerja di sini.”
“Sekali lagi terima kasih. Titip mereka ya bi.”
Regan beranjak ke kamarnya. Bi Mina dan Tati hanya berpandangan, tak mengerti dengan sikap sang majikan. Sarah tertegun menyaksikan interaksi suaminya barusan. Bergegas dia menyusul ke kamar.
Regan baru saja naik ke kasur ketika Sarah masuk ke kamar. Dia memanggil sang istri dengan gerakan tangannya. Sarah segera naik ke atas kasur lalu membaringkan diri di samping Regan.
“Peluk mas, sayang.”
Sarah merapatkan tubuhnya pada Regan kemudian memeluk suaminya. Keduanya tiduran dengan posisi berhadapan. Regan membelai lembut wajah sang istri dengan punggung tangannya. Walaupun usia Sarah sudah tidak lagi muda, namun jejak kecantikan masih terlihat di wajahnya.
“Sayang.. apa kamu ingat awal pertemuan kita?”
“Tentu saja mas. Mas yang mengobati bahuku saat kecelakaan motor dengan Debby. Mas juga memberikan pelayanan home care.”
Regan tersenyum membayangkan tingkahnya dulu saat mencoba mendekati Sarah. Di tengah kesibukannya sebagai dokter magang dan kesepiannya karena ketiadaan Lukman di sisinya, Sarah hadir mengisi kekosongan di hatinya.
“Itu alasan mas aja biar bisa dekat sama kamu,” Regan terkekeh.
“Terima kasih sudah hadir dan menyempurnakan kehidupan mas. Kamu adalah wanita terbaik dan terindah yang pernah mas miliki. Darimu mas memiliki tiga anak hebat. Tak ada penyesalan dalam hati ini menghabiskan waktu bersamamu hingga menua. Maafkan mas yang belum bisa menjadi suami yang sempurna. Mas akui memiliki banyak kekurangan. Terkadang mas masih sering membuatmu menangis. Tapi setiap detik yang mas habiskan bersamamu begitu indah. Dan selamanya akan terus ada di hati dan pikiran mas. Maaf kalau seandainya mas harus meninggalkanmu lebih dulu. Kamu harus kuat demi anak dan cucu kita. Ingat saja kebersamaan dan kebahagiaan kita.”
Mata Sarah berkaca-kaca. Dia sudah curiga sejak seminggu lalu, suaminya selalu bersikap tak biasanya. Dan sekarang, Regan seperti sedang mengucapkan kata perpisahan.
“Aku juga minta maaf mas. Sebagai istri aku banyak melakukan kesalahan. Terima kasih sudah menjadi suami terbaik untukku. Terima kasih untuk tetap menungguku dan memberiku kesempatan untuk kembali. Aku bahagia menghabiskan hidup bersamamu.”
__ADS_1
Sarah meraih tangan Regan kemudian mencium punggung tangannya. Airmatanya jatuh saat bibirnya menyentuh tangan yang selalu memberikan kehangatan. Jari Regan bergerak menghapus airmata di pipi istrinya.
“Jangan menangis. Mas hanya ingin melihatmu tersenyum. Kamu terlihat cantik saat tersenyum. Di saat terakhir mas ingin melihatmu tersenyum.”
Sarah menghapus airmatanya lalu tersenyum ke arah sang suami. Regan memandangi senyum Sarah, wanita itu tampak begitu cantik di matanya. Dia menarik tengkuk Sarah lalu mendaratkan ciuman di bibirnya.
“I love you Sarah, forever and always.”
“I love you too mas.”
Regan menarik Sarah dalam pelukannya kemudian memejamkan matanya. Tangan Sarah melingkar di perut Regan. Berusaha menyingkirkan segala pikirannya dan mencoba untuk tidur.
🍁🍁🍁
Sepanjang malam Sarah terus saja merebahkan kepalanya di dada sang suami. Matanya tak dapat terpejam. Dia takut Regan meninggalkannya saat tidur. Diperhatikannya wajah sang suami yang tengah teridur dengan damainya.
Sarah melihat jam di dinding, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia beranjak dari tidurnya, lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah menunaikan shalat tahajud dan witir, Sarah terpekur di atas sajadahnya. Dia terus memohon diberikan kekuatan seandainya waktu bersama suaminya akan berakhir.
Suara adzan shubuh dari masjid kompleks terdengar. Lamunan Sarah terhenti begitu mendengar panggilan shalat untuk kaum muslimin. Sarah berdiri lalu mendekat ke arah ranjang. Dibangunkannya Regan untuk shalat shubuh.
“Mas.. bangun mas.. sudah shubuh.”
Regan membuka matanya. Senyumnya mengembang melihat wajah cantik terbalut mukena di depannya. Regan bangun tidurnya lalu mengecup bibir sang istri. Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi.
Selesai shalat shubuh, anak-anak kembali ke kamarnya karena masih mengantuk. Akhtar dan Reyhan memilih berolahraga pagi dengan berlari keliling kompleks. Regan kembali ke dalam kamar diikuti Sarah.
“Mas mau istirahat ya.”
“Iya mas. Aku mau buat sarapan dulu.”
“Cium mas dulu sayang.”
Sarah mencium kening, mata, pipi, hidung dan bibir Regan. Suaminya itu pun melakukan hal sama sepertinya. Setelah itu memeluk tubuh Sarah cukup lama. Regan mengurai pelukannya lalu naik ke atas kasur. Sarah keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sarah melihat ke arah jam dinding. Jarum jam sudah menunjuk ke angka tujuh. Sarah bergegas ke kamarnya untuk membangunkan Regan. Saat memasuki kamar dia mendapati Regan tengah tertidur dengan posisi telentang dengan kedua tangan berada di atas perutnya. Wajahnya nampak menyunggingkan senyuman.
Sarah berjalan mendekat, hatinya berdebar, berharap apa yang ditakutkan tak menjadi kenyataan. Dia berjongkok di sisi ranjang lalu memegang tangan suaminya.
“Mas.. bangun.. sarapan sudah siap.”
__ADS_1
Suara Sarah terdengar bergetar. Dia masih membangunkan Regan kendati mendapati tangan suaminya sudah sedingin es. Airmatanya jatuh bergulir, mengetahui sang suami sudah berpulang ke Rahmatullah.
“Rain.. Rey..” panggil Sarah dengan suara parau.
Rain yang sedang melintas di dekat kamar langsung masuk ke kamar setelah mendengar panggilan mamanya. Dia terkejut mendapatpi Sarah tengah menangis di samping papanya. Tubuh Regan nampak sudah terbujur kaku.
“Pa... Papa!!! Papa!!!”
Rain menghambur ke arah Regan sambil menangis tersedu. Dipeluknya tubuh kaku itu. Teriakan Rain mengejutkan semua orang. Reyhan dan yang lain bergegas masuk ke dalam kamar. Ayunda menghambur ke dekat Regan.
“Ma.. papa kenapa ma? Ma..”
Sarah tak bisa menjawab pertanyaan Ayunda, dia hanya bisa menangis tersedu. Reyhan menjatuhkan dirinya di sisi ranjang kemudian menangis tersedu. Nanaz dan Shaina yang sudah mengerti juga menangis melihat sang kakek sudah tidak bangun lagi dari tidurnya.
🍁🍁🍁
Irzal, Ega, Adit dan Nino terkejut mendengar kabar tentang Regan. Semuanya bergegas menuju kediaman Regan. Mereka tak bisa menahan tangis melihat pria yang sudah dianggap kakak tertua terbujur kaku di atas kasur. Ega yang paling terpukul dengan kepergian Regan. Setelah kepergian Alea, dia kembali ditinggal oleh orang yang sangat disayanginya.
Adit mencoba menenangkan Ega yang terus menangis. Irzal juga Nino membantu Reyhan mengurus pemakaman. Akhtar sibuk mengurus Rain yang tak sadarkan diri. Pagi ini kesibukan dan kekacauan terlihat di rumah Regan.
Setelah dimandikan dan dishalatkan, Regan segera dimakamkan di pemakaman keluarga. Irzal, Ega, Adit dan Nino membaringkan pria itu di lubang 1x2 meter yang menjadi peristirahatan terakhirnya. Irzal memang meminta ijin pada Reyhan juga Akhtar agar mereka diperkenankan mengantarkan saudara tanpa ikatan darah itu ke rumah barunya.
Sarah duduk bersimpuh di dekat gundukan tanah merah yang di atasnya bertaburan bunga. Nama Regan tertulis jelas di pusara. Airmatanya kembali mengalir. Debby dan Poppy terus berada di samping wanita itu. Ayunda masih saja terisak sambil memeluk sang ayah. Dia takut Irzal juga pergi meninggalkannya.
Selesai memakamkan Regan, Akhtar langsung membawa Rain pulang karena istrinya itu berkali-kali pingsan. Satu pe satu tetangga dan kerabat meninggalkan pemakaman. Hanya tingga Sarah dan Reyhan di sana. Reyhan merangkul sang mama yang masih menangis.
“Maafin aku mas.. maaf aku ngga bisa melepas kepergianmu dengan senyuman. Namun aku berjanji akan berusaha kuat untuk anak dan cucu kita. Terima kasih atas semua kasih sayangmu selama ini. Aku beruntung memiliki suami sepertimu. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosamu dan menerima amal perbuatanmu. Peluk cium untuk Rakan dariku mas.”
“Pa.. terima kasih untuk semua yang telah papa berikan dan lakukan untukku. Aku berjanji akan menjaga mama dan kak Rain dengan baik. Aku juga akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku, agar aku bisa berkata bahwa papa yang sudah mengajarkanku menjadi ayah yang baik. Aku menyayangi papa.”
Reyhan membantu sang mama untuk bangun. Sarah mengusap sekali lagi pusara suaminya baru kemudian berdiri. Reyhan merangkul bahu Sarah kemudian berjalan menuju mobilnya. Sarah menoleh untuk terakhir kalinya, berharap sang suami masih di sana dan bisa melihatnya.
Selamat jalan mas. In Syaa Allah aku ikhlas melepasmu. Tunggu aku datang padamu.
🍁🍁🍁
Mewek lagi kan mamake😭
Bukan maksud mamake buat kalian nangis Bombay. Tapi hanya menyadarkan diri sendiri bahwa setiap yang bernyawa pasti pulang. Dengan membuat part seperti ini, mengingatkan diri sendiri kalau pasangan kita itu berharga. Jangan sampai kita menyadarinya setelah dia tiada.
__ADS_1
Udah ah...
Like.. comment and vote nya ya.