
Ayunda berjalan penuh semangat memasuki gedung Gala Corp. Hari ini Firlan berjanji akan membantunya menyusun laporan magang. Sebenarnya Azkia, Elang atau Farel bisa membantunya. Tapi Ayunda lebih memilih Firlan, pikir-pikir sambil menyelam nangkap ikan. Laporan beres, Firlan juga nyantol.
Firlan melarang Ayunda mengendarai mobil. Nanti dia yang akan mengantar Ayunda pulang. Alhasil Ayunda mengendari taksi online untuk sampai ke kantor bakal calon imamnya. Beberapa karyawan yang mengenal Ayunda, menyapanya dengan ramah yang dibalas dengan senyuman manis gadis itu.
Kedekatan Ayunda dengan Firlan sudah tersiar ke seantero kantor sejak dirinya masih magang. Para karyawan pria yang naksir padanya terpaksa mundur teratur. Mereka mendadak kehilangan nyali kalau harus bersaing dengan wakil CEO.
“Yunda.”
Ayunda menoleh ketika namanya dipanggil. Di depannya sudah berdiri Salsa. Salsa memandangi Ayunda dari atas sampai bawah. Dia sudah mendengar rumor kedekatan Firlan dengan Ayunda. Tak menyangka kalau saingannya adalah adik dari Elang. Dalam hati Salsa memuji Ayunda yang tampak cantik alami.
“Bisa kita bicara?”
Ayunda hanya mengangguk, kemudian kakinya melangkah mengikuti Salsa yang berjalan di depannya. Salsa memasuki cafe yang ada di lobi Gala Corp. Kedua wanita itu duduk berhadapan dengan mata saling menatap tajam.
“Boleh aku minta sesuatu padamu Yun?”
“Apa?”
“Tinggalkan Ilan, dia adalah milikku. Jangan menjadi pengganggu di tengah-tengah hubungan kami. Dan satu yang harus kamu ingat, Ilan masih sangat mencintaiku. Perasaannya padamu hanyalah pelampiasan saja.”
“Oh ya? Tapi kenapa beda ya dengan apa yang bang Ilan katakan. Menurut bang Ilan, hubungan kalian sudah berakhir dan dia tidak ada keinginan untuk balikan sama kak Salsa. Hmm.. terus apalagi ya.. oh iya bang Ilan bilang I love you ke aku.”
Tangan Salsa mengepal di bawah meja. Ternyata gadis itu tidak mudah terintimidasi dengan kata-katanya.
“Kamu percaya dengan perkataannya? Apa kamu tahu kalau sehabis pesta beberapa hari yang lalu, kami pergi berduaan? Apa kamu tahu apa yang kami lakukan?”
“Tentu saja, bang Ilan mengantarmu ke vila kan? Karena di sana keluargamu sedang berlibur. Dengar ya kak Salsa, bang Ilan udah bilang semuanya ke aku. Tapi kalau kak Salsa ngga percaya, silahkan tanyakan sama orangnya langsung sekalian tanya siapa yang akan dipilihnya, aku atau kakak. Tuh orangnya ada di belakang kakak.”
Salsa menoleh ke belakang. Benar saja, Firlan sudah berdiri di belakangnya dengan tangan berada di saku celananya. Matanya menatap tajam ke arah Salsa, membuat gadis itu menelan ludahnya kelat. Firlan berjalan ke arah Ayunda kemudian menarik tangan Ayunda keluar dari cafe. Salsa buru-buru mengejarnya.
“Lan, aku mohon jangan seperti ini. Tolong kasih kesempatan padaku untuk yang terakhir kalinya. Aku akan menuruti semua kemauanmu.”
Firlan tak menghiraukan perkataan Salsa. Dia terus berjalan seraya menggandeng tangan Ayunda. Tapi Salsa belum menyerah. Dia terus mengikuti Firlan sampai ke depan lift.
“Lan, bagaimana kamu bisa melupakan semua yang sudah kita lalui? Apa kamu benar-benar akan mencampakkanku? Kamu tahu seluruh hati dan hidupku sudah kuberikan padamu. Bahkan aku rela melepas sesuatu yang berharga demi dirimu tetapi apa balasanmu? Apa kamu mau lepas tanggung jawab? Bagaimana kalau aku hamil?”
Mata Firlan membulat mendengar ucapan gila Salsa. Bagaimana perempuan itu bisa hamil, sedangkan Firlan belum penah memasukkan rudalnya ke benteng Salsa. Ayunda juga cukup terkejut mendengarnya. Refleks dia melepas genggaman tangan Firlan kemudian berlari masuk ke dalam lift yang terbuka. Salsa tersenyum miring, rencana liciknya berhasil kali ini.
Firlan berusaha mengejar Ayunda, namun pintu lift lebih dulu menutup. Dengan kesal dia menghampiri Salsa yang masih berdiri dengan ekspresi tenangnya.
“Aku ngga nyangka kamu bisa serendah ini Sa. Selagi aku masih bersikap baik, tinggalkan aku. Pergilah meraih impianmu, dan bercintalah sesukamu dengan para pria di sana.”
Salsa terkejut, bagaimana Firlan bisa mengetahui kalau Salsa sudah melepas keperawanannya dengan salah satu teman kerjanya.
“Berhenti mengganggu Yunda. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika berbuat kasar padamu. Jangan menunggu kesabaranku habis, Sa. Kamu benar, kita memang sudah banyak melalui waktu bersama dan aku menyesal sudah menghabiskan banyak waktu bersamamu. Pergilah atau aku akan meminta security menyeretmu pergi.”
Firlan bergegas masuk ke dalam lift, tanpa mempedulikan Salsa lagi. Salsa tersentak dari lamunannya ketika seorang security menegurnya. Atas perintah Firlan, dia diminta mengantar wanita itu keluar dari kantor. Dengan kesal, Salsa beranjak pergi. Tapi hatinya masih belum menyerah.
__ADS_1
Sesampainya di lantai 16, Firlan bergegas menuju ruangannya. Namun ketika pintu terbuka, dia tak menemukan sosok Ayunda di sana. Firlan berbalik lalu menuju ruangan Gara. Dirinya yakin kalau Ayunda sedang berada di sana.
Dengan gerakan kasar, Firlan membuka pintu ruangan Gara. Benar saja, Ayunda sedang duduk di depan meja kerja Gara. Mulutnya berkicau menumpahkan kekesalannya pada Gara sambil memakan donat kiriman Nara.
“Lan, akhirnya lo dateng juga. Tolong bawa nih anak keluar. Pusing gue dari tadi nih anak nyerocos mulu ngga berhenti-berhenti. Mana donat kiriman yayang gue udah diabisin setengah sama dia.”
“Ish bang Gara perhitungan banget sih.”
“Ya gimana ngga perhitungan Yun. Nara ngirim setengah lusin donat dan udah dimakan tiga sama kamu.”
“Yun.. ayo ke ruangan abang. kita bicara soal yang tadi, abang akan jelasin semuanya sama kamu.”
Walau enggan, Ayunda akhirnya berdiri melihat Gara yang menatapnya dengan mata lasernya. Tapi sebelum pergi, dia kembali mencomot sebuah donat lalu ngacir keluar ruangan tanpa mempedulikan teriakan Gara.
“Yunda!”
Yunda berlari menuju ruangan Firlan, meninggalkan pria itu di belakangnya. Firlan hanya menggeleng-geleng saja melihat kelakuan Ayunda. Begitu masuk, Ayunda terlihat duduk di kursi kerjanya sambil berputar-putar.
“Ada perlu apa bapak Firlan yang terhormat?”
Sikap Ayunda sudah kembali seperti biasa. Firlan harus berterima kasih pada Gara yang sudah meluruskan berita miring yang tadi didengarnya dari Salsa. Firlan menarik kursi di depan meja kerjanya, lalu mendudukkan bokongnya di sana.
“Pak Firlan mau ketemu siapa ya?”
“Mau ketemu nyonya Firlan boleh?”
BLUSH
“Yun.. soal yang tadi Salsa bilang...”
“Iya aku udah tahu kalau dia ngehoax aja kan? Tapi cium-cium mah udah keles.”
“Iya kalau itu tapi ngga lebih.”
“Ish dasar cowok. Terus gimana rasanya? Enak? Ya pasti enaklah. Kalian pasti ngelakuinnya berkali-kali, ayo ngaku?!”
Ayunda merutuki mulut comelnya yang harus melontarkan pertanyaan seperti tadi. Mendengar Firlan dan Salsa pernah berciuman saja, membuatnya dongkol apalagi kalau Firlan mengakui kalau mereka melakukannya berkali-kali.
“Kamu mau tahu rasanya Yun? Sini abang tunjukkin.”
Ayunda sontak menutup mulut dengan kedua tangannya. Firlan hampir saja tergelak melihat spontanitas gadis itu, tapi ditahannya kuat-kuat. Menggoda Ayunda merupakan kesenangan tersendiri buatnya.
“Coba aja kalau berani. Aku jamin bakal langsung kena bogem mas El.”
“Tenang aja Yun, abang ngga akan ngelakuin itu. Bukan karena takut sama El. Tapi abang sangat menghargaimu sebagai seorang wanita. Dan abang ingin menjagamu tetap utuh sampai kamu menikah nanti. Dengan siapa pun itu.”
“Uuuh co cweet.”
__ADS_1
Ayunda berusaha tetap tenang ketika membalas ucapan Firlan. Walaupun sebenarnya hatinya dag dig dug juga.
“Cukup bicaranya, sekarang mulai kerjain laporan kamu.”
“Tapi aku lupa bawa laptop.”
“Pakai laptop abang aja. Abang juga udah siapin semua bahan yang kamu butuhin. Cari di folder cantik.”
“Cantik?”
“Iya, sebutan abang buat kamu.”
BLUSH
Pipi Ayunda kembali merona. Buru-buru dibukanya laptop Firlan. Ayunda sedikit menunduk agar wajahnya tertutup oleh laptop. Lagi-lagi Firlan menyunggingkan senyumannya. Firlan mengambil tumpukan berkas di mejanya kemudian berjalan menuju sofa. Keduanya mulai tenggelam dengan pekerjaannya masing-masing.
Satu jam berlalu, Ayunda hampir menyelesaikan bab 1 dalam laporannya. Dia melihat ke arah Firlan yang masih serius mempelajari dokumen-dokumen kerjanya.
“Bang Ilan.”
“Hmm... kenapa? kamu laper?” tanya Firlan tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya.
“Ish.. bukan... ke sini sebentar deh.”
Firlan meletakkan dokumennya lalu berjalan menghampiri Ayunda. Dia berdiri di belakang kursi. Matanya memandang ke arah laptop.
“Buat permasalahannya, ngga apa-apa kalau aku angkat ini?”
Kedua tangan Firlan bertumpu pada meja dengan Ayunda berada di tengah-tengahnya. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke arah laptop. Membaca dengan seksama apa yang tertera di sana. Dada Ayunda berdedup kencang berada di posisi sedekat ini dengan Firlan. Aroma maskulin menguar di sekitar Ayunda. Bahkan gadis itu dapat merasakan hembusan hangat nafas Firlan di dekat pipinya.
Tubuh Ayunda tampak tegang. Dia tak berani begerak sedikit pun. Jika kepalanya menoleh, bisa dipastikan kedua pipi mereka beradu.
“Itu juga bagus. Tapi nanti di pembahasannya harus diperdalam lagi ya.”
Firlan melepaskan tangannya dari meja. Ayunda menghembuskan nafas lega. Firlan kembali ke tempatnya semula seraya mengusap puncak kepala Ayunda. Dia mendudukkan diri di sofa kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sebisa mungkin Firlan bersikap tenang, padahal jantungnya hampir meloncat keluar ketika tanpa sadar dia berada begitu dekat dengan Ayunda. Firlan benar-benar sudah jatuh cinta dengan gadis imut nan cantik itu.
🍁🍁🍁
**Aduh gimana nih, bang Ilan udah beneran jatuh cintrong. Terus nasibnya kak Rey gimana?
Kira² Ayunda kuat ngga nahan gempuran pdkt dari dua Cogan itu😁
Tinggalin jejaknya yuk. Seperti biasa, like, comment and vote nya😉
Hai.. Hai.. Hai.. buat pecinta Wild Romance, kelanjutan kisah dokter Arkhan dan Sena udah up ya di sebelah. Ikutin kisah mereka yang semakin seru aja nih**.
__ADS_1