Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Finally Found You


__ADS_3

Sehabis sarapan Elang bergegas pergi. Ini adalah hari terakhir yang diberikan ayahnya, Elang tak ingin membuang waktu lagi. Namun langkahnya tertahan oleh suara Farel. Kakaknya itu menyusul saat dirinya akan memasuki mobil.


“El, hari ini ada pertemuan sama perwakilan Mahameru Group soal pasokan bahan ke hotel-hotel di bawah grup mereka.”


“Bagus dong, good luck bang. Moga-moga mereka ngga rewel ya.”


“Nah itu dia. Yang mewakili pertemuan sekarang tuh anaknya CEO Mahameru Group dan dia maunya elo yang ketemu langsung ama dia.”


“Ah ribet banget sih. Apa bedanya ketemu sama elo bang. Gue buru-buru nih.”


“Sebentar doang El. Paling cuma sejam doang pertemuannya. Sayang kalau kerjasamanya batal. Mahameru Group tuh salah satu perusahaan besar. Bayangin kalau kita bisa jadi supplier di semua hotelnya, mantep kan tuh. Makanya..”


“Iye.. iye.. bawel lo bang. Ayo buruan, lo bawa mobil sendiri aja.”


“Lo doang yang ketemu dia. Gue ada meeting sama ayah. Good luck bro..”


Farel menepuk pundak adiknya lalu menuju mobilnya. Tak lama kendaraan tersebut melaju meninggalkan Elang yang sedang menghubungi Virza. Beberapa saat kemudian Elang masuk ke dalam mobilnya. Pertemuan dengan pihak Mahameru Group akan berlangsung setengah jam lagi.


Elang memasuki salah satu restoran yang ada di jalan Riau. Suasana restoran masih sepi karena waktu masih jam sembilan lebih dua puluh menit. Elang segera menuju meja yang berada di sudut. Seorang pria berusia 27 tahun segera berdiri menyambut kedatangannya.


“Maaf saya terlambat.”


“It’s okay, saya juga baru datang. Deski Afrizal,” Deski mengulurkan tangannya.


“Elang Ramadhan,” Elang membalas uluran tangannya.


Keduanya kemudian duduk dan mulai membahas kerjasama yang akan dilakukan. Mereka tampak serius membahas poin-poin kesepakatan. Beberapa karyawan nampak berbisik memperhatikan mereka berdua. Mereka memuji ketampanan dua pria tersebut.


Tak butuh waktu lama bagi Elang dan Deski menyelesaikan kesepakatan. Mereka menjadwalkan pertemuan selanjutnya untuk tanda tangan kontrak. Setelah selesai, Deski pamit lebih dulu. Sedang Elang masih berdiam di sana. Sejujurnya dia bingung harus memulai dari mana pencarian hari ini.


Deski berjalan menuju mobilnya tapi kemudian langkahnya terhenti saat melihat sosok Azkia keluar dari salah satu factory outlet. Dengan cepat dihampirinya gadis tersebut.


“Hai.. ketemu lagi kita. Sepertinya kita memang jodoh ya.”


Azkia terkejut melihat kedatangan Deski yang tiba-tiba. Laki-laki ini seperti jailangkung saja, datang tanpa diundang. Azkia memilih mengabaikannya, dia meneruskan langkahnya. Deski tak mau kehilangan kesempatan. Dia pun ikut berjalan di samping gadis itu.


“You are special Kia.”


Azkia menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Deski. Matanya menuntut penjelasan dari mana lelaki itu tahu namanya. Deski mengulas senyum tipis, senang bisa menarik perhatian gadis itu.


“Kenapa? Kamu bingung kenapa aku tahu namamu? Saat ini aku memang baru tahu namamu. Tapi pertemuan tak sengaja kita sebanyak tiga kali meyakinkanku kalau kita berjodoh. Jadi mulai sekarang aku akan mencari tahu tentangmu lebih banyak dan akan mengejarmu sampai dapat.”


“Dasar gila!”


“Yess.. i’m crazy about you.”


“Sinting.”


Azkia mempercepat langkahnya. Deski berhasil memicu serangan paniknya. Dengan panik, Azkia berjalan menjauh dari Deski. Beruntung lelaki itu tak lagi mengerjarnya. Azkia bisa bernafas lega, dia duduk sebentar di kursi yang ada di trotoar untuk menenangkan diri.


Elang keluar dari restoran. Otaknya masih berpikir kemana dia harus pergi mencari Azkia. Lalu matanya menatap seorang gadis yang mirip Azkia sedang duduk di kursi. Elang langsung berjalan menghampirinya. Dadanya berdebar kencang saat jaraknya semakin dekat. Di saat yang bersamaan Azkia berdiri, ketika berbalik tubuhnya membeku. Elang berdiri tak jauh darinya sambil menatapnya.


“Az..”


“Mas El..” ucap mereka bersamaan.


“Az.. kemana aja kamu? Apa kamu baik-baik aja?”


“Mas El..”


“Ayo kita bicara.”


Walau ragu, namun akhirnya Azkia memilih mengikuti langkah Elang menuju salah satu cafe yang ada di sana. Setelah memesan minuman, Elang mulai mencecar Azkia dengan pertanyaan yang selama ini ada di benaknya.


“Kemana aja kamu selama ini Az?”


“Aku ngga kemana-mana mas. aku hanya sedang menenangkan diri saja. Kepergian ibu yang mendadak membuatku sedikit shock.”


“Maaf, aku tidak ada di sisimu saat kamu mengalami kesulitan.”


“Ngga apa-apa mas.”


Percakapan mereka terhenti ketika seorang pelayan mengantarkan minuman. Azkia segera menyambar minuman dingin tersebut untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Dia tak menyangka bisa bertemu dengan pemuda itu. Kekecewaannya pada Elang menguap begitu saja ketika berhadapan dengannya.


“Bapak, di mana dia sekarang?”


“Dia ditahan di kantor polisi.”


“Syukurlah. Terus di mana kamu dan Hanin tinggal sekarang?”


“Kami tinggal bersama keluarga yang sudah menolong kami.”


“Siapa?”


“Maaf mas, aku tidak bisa mengatakannya.”


Elang tak ingin mendesak Azkia lebih jauh walaupun dia penasaran sekali dengan orang yang telah menolong pujaan hatinya itu. Dipandanginya Azkia, tubuh gadis itu sedikit lebih kurus. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya. Sepertinya akhir-akhir ini dia tidak tidur dengan nyenyak.


“Az.. aku minta maaf. Kalau saja malam itu aku mengantarkanmu, mungkin semua hal buruk itu tidak terjadi.”


“Itu bukan salahmu mas. Semua sudah menjadi ketentuan Allah. Bagaimana keadaan mba Rayna?”

__ADS_1


“Dia baik.”


Azkia mengulas senyum tipis. Menyebut nama Rain sebenarnya cukup membuat hatinya terluka. Terlebih mengingat Elang masih mencintai wanita itu.


“Aku pergi dulu mas.”


“Az.. sebentar.”


“Ada apa mas?”


“Apa kamu mau ikut denganku?”


“Kemana mas?”


“Bertemu orang tuaku.”


“Untuk apa?”


“Aku sudah mengatakan pada mereka tentangmu dan mereka ingin bertemu denganmu.”


Azkia tergugu. Jika ditanya bagaimana perasaannya saat ini tentu saja bahagia. Tapi mengingat siapa wanita yang dicintai Elang membuat dadanya sesak. Dia tak ingin hanya menjadi pelampiasan semata. Belum lagi janjinya pada Poppy, mengharuskannya melupakan semua impian indahnya bersama Elang.


“Maaf mas aku ngga bisa.”


“Kenapa? Apa kamu masih marah soal Rain? Aku dan Rain hanya bersahabat aja ngga lebih. Kami memang dekat tapi itu karena aku dan Rain tumbuh bersama sejak kecil.”


“Tapi mas juga mencintai mba Rayna kan? Sebelum dia menikah, mas sudah jatuh cinta padanya. Iyakan?”


“Itu masa lalu Az. Lagi pula dia sudah menikah dan punya anak sekarang. Bang Akhtar itu sahabatku, mana mungkin aku mengambil Rain darinya. Apa kamu tidak percaya padaku? Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu, aku ingin menikahimu.”


Azkia menatap Elang nanar. Harusnya ini menjadi momen bahagia untuknya. Tapi hal ini justru terasa menyakitkan. Andai saja Elang mengatakannya lebih cepat, mungkin gadis itu akan dengan senang hati menerimanya. Mata Azkia memanas, perlahan buliran bening membasahi pipinya.


“Az.. ayo kita bertemu orang tuaku.”


“Maaf mas.. aku ngga bisa.”


“Kenapa?”


“Karena hatimu bukan untukku mas.”


“Az.. harus dengan apa aku membuatmu percaya? Tidak ada lagi nama Rain di hatiku,” Elang menunjuk dadanya.


“Maaf mas, aku ngga bisa.”


“Katakan apa alasannya? Apa kamu tidak menyukaiku?”


Azkia tak menjawab, dia semakin terisak. Beberapa pengunjung melihat ke arah mereka. Azkia meraih tisu lalu menghapus airmatanya. Tapi cairan bening itu masih belum mau berhenti mengalir.


“Jangan menangis lagi Az. Katakan ada apa?”


Elang seperti tersambar petir di siang bolong. Untuk beberapa saat dia terdiam, berharap apa yang didengarnya hanyalah kesalahan. Tapi melihat Azkia yang terus menangis menyadarkannya kalau itu benar adanya.


“Maafkan aku mas. Terima kasih atas semua bantuanmu selama ini. Aku harap mas bisa menemukan seseorang yang baik, yang mencintaimu dengan tulus.”


Azkia segera beranjak pergi. Tak tahan rasanya berlama-lama bersama Elang. Kebersamaannya dengan pemuda itu takut menggoyahkan hatinya. Elang masih terpaku di tempatnya. Hanya mampu memandangi kepergian Azkia dengan hati teriris. Sekali lagi dia terlambat.


🍁🍁🍁


Elang tertunduk lesu di hadapan kedua orang tuanya. Waktu yang diberikan Irzal sudah habis dan kini dia harus menerima keputusan mereka. Menikah dengan wanita yang dipilihkan Poppy untuknya.


“Mana Azkia?”


“Maaf yah, aku tidak bisa membawanya.”


“Kalau begitu kamu setuju dengan pilihan bundamu?”


“Iya yah. Aku percaya bunda pasti memilihkan wanita yang baik untukku.”


“Bagus. Besok kalian akan bertemu dan membicarakan perihal pernikahan. Sekarang istirahatlah.”


Dengan langkah gontai Elang menuju kamarnya. Poppy memandangi anaknya dengan perasaan tak menentu. Kemudian pandangannya beralih pada Irzal. Suaminya itu bersikap biasa saja. Bahkan selama berbicara tadi, sikapnya begitu dingin.


“A, apa kita tidak keterlaluan sama Elang? Aa ngga lihat bagaimana sedihnya dia.”


“Biarkan saja. Dia harus tahu bagaimana rasanya kehilangan wanita yang dicintainya supaya dia tidak bersikap bodoh seperti kemarin. Ini demi kebaikannya sayang, kamu harus kuat.”


Poppy menghela nafasnya. Ibu mana yang tahan melihat anaknya menderita. Namun apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Poppy beranjak dari duduknya. Sepertinya dia perlu berbicara dengan Elang, untuk menenangkan hatinya.


Farel menghampiri Elang yang duduk di sisi ranjang. Matanya hanya menatap ke arah lantai dengan pandangan kosong.


“Lo kenapa El?”


“Gue tadi ketemu Kia.”


Farel terkejut, dia mengubah posisi duduknya menghadap Elang. Poppy yang baru akan masuk kamar menghentikan langkahnya ketika mendengar pembicaraan kedua anaknya.


“Terus gimana? Kalian ngobrol apa aja?”


“Gue terlambat lagi bang. Dia udah ada yang ngelamar.”


“Siapa?”

__ADS_1


“Ngga tahu, dia ngga bilang dan gue juga ngga mau tahu.”


Farel menghembuskan nafas lega. Kalau sampai Azkia mengatakan yang akan menikah dengannya adalah dirinya, urusan bisa panjang.


“Sabar ya El. Tenang aja, kalau jodoh ngga akan kemana.”


“Dia udah dilamar orang bang. Sebentar lagi dia akan nikah.”


“Ya siapa tahu calonnya berubah pikiran. Mulai sekarang lo banyak-banyakin tahajud, siapa tahu bisa nikung di sepertiga malam,” Farel terkekeh.


“Gue juga udah setuju nerima calonnya bunda.”


“Bagus itu. Orangnya cantik El, gue jamin lo ngga bakalan nyesel.”


“Ck.. elo mah, Gara didandanin juga lo bilang cantik.”


“Sue lo.. dah ah ngomong sama lo bikin emosi jiwa.”


Farel beranjak pergi meninggalkan Elang. Tak lama Poppy masuk lalu duduk di sampingnya. Poppy meraih bahu Elang lalu membawanya ke dalam pelukannya. Elang balas memeluk punggung sang bunda.


“Ada apa nak? Kenapa kamu begitu sedih?”


“Aku terlambat lagi bunda. Az.. dia sudah dilamar orang lain.”


“Sabar nak. Apa kamu mencintainya?”


“Aku mencintainya bunda. Aku sangat mencintainya. Aku bodoh terlambat menyadari perasaanku dan sekarang aku kehilangannya.”


Elang mengeratkan pelukannya. Rasa sesak dan sakit menghantamnya bersamaan. Untuk kedua kali, hatinya patah. Tapi kali ini terasa begitu menyakitkan. Saling mencintai tapi tidak bisa memiliki, sungguh sangat menyakitkan. Punggung kokoh itu bergetar, tangisnya tumpah dalam pelukan sang bunda.


Di tempat lain, Azkia pun merasakan hal yang sama. Semenjak pulang dia tak keluar dari kamarnya. Gadis itu bersimpuh di atas sajadahnya. Sedari tadi airmatanya tak berhenti mengalir. Dibenamkan wajahnya di atas sajadah. Sebisa mungkin menahan isaknya agar tak terdengar oleh yang lain.


🍁🍁🍁


Firly mengoleskan gel di kelopak mata Azkia untuk mengurangi bengkak di matanya. Hari ini akan ada pertemuan keluarga untuk membahas pernikahan Azkia. Firly ingin gadis itu tampil secantik mungkin. Pakaian untuk Azkia juga sudah disiapkan. Ibu dua anak itu mulai menunjukkan keterampilannya merias.


Hanin dan Ara berdecak kagum melihat hasil karya Firly. Bengkak di mata Azkia dapat tersamarkan berkat kepiawaiannya. Wajah Azkia yang memang sudah cantik terlihat semakin mempesona.


“Selesai. Kamu cantik banget Kia.”


“Makasih kak.”


“Tapi ada yang kurang.”


“Apa?”


“Senyum,” terdengar suara Dimas dari arah pintu. Dimas masuk ke dalam kamar dengan baby Gavin dalam gendongannya.


“Masa mau ketemu calon suami mukanya ditekuk seperti itu. Keponakan om tuh ganteng loh, dia juga laki-laki yang baik. Om yakin dia bisa membahagiakanmu, jadi kamu harus tersenyum Kia.”


“Iya om.”


Azkia mengulas senyum tipis. Hanin segera mengajak semuanya pergi. Dia sudah tidak sabar melihat momen pertemuan kakaknya dengan Elang.


Sementara itu di kediaman Irzal, semua persiapan sudah selesai. Poppy menelpon Dimas untuk segera mengantar calon menantunya. Dia mencari keberadaan anaknya untuk mengabarkan kalau sebentar lagi calon istrinya akan datang.


Elang berdiri di halaman belakang menatap kosong ke arah depan. Sejak semalam dia terus meyakinkan dirinya kalau ini sudah menjadi ketentuan hidupnya. Berusaha untuk ikhlas menerima takdir yang sudah ditentukan untuknya. Sentuhan lembut Poppy di bahu menyadarkannya.


“Sebentar lagi calonmu datang. Ayo.”


Poppy memeluk lengan Elang, membawanya menuju ruang keluarga, tempat di mana akan diadakan pertemuan untuk membahas pernikahan. Elang memilih duduk di samping sang ayah. Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Poppy bergegas keluar untuk menyambut kedatangan Azkia.


“Itu calon istrimu sudah datang.”


Tak lama Hanin muncul. Gadis itu segera menghampiri Irzal lalu mencium punggung tangannya. Dia mengambil tempat duduk berhadapan dengan kedua lelaki tampan itu. Hanin menatap Elang tanpa berkedip, sambil melemparkan senyuman ke arahnya.


Ya Allah sungguh sempurna ciptaan-Mu. Kak Elang ganteng bingit. Masih ada ngga ya stok kaya dia hihihi...


Elang bergidik melihat Hanin yang senyum-senyum sendiri, lalu melihat ke arah Irzal.


“Yah.. yang bener aja masa itu calonku? Dia masih muda, seumuran Ara kayanya.”


PLETAK


Irzal menyentil kening anaknya. Elang mengusap keningnya. Hanin terkikik geli melihat pemandangan di depannya. Namun tawanya hilang begitu melihat tatapan dingin Elang. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat.


“Itu adiknya,” tukas Irzal.


Elang bernafas lega, ternyata gadis kecil yang gayanya aneh bin tengil itu bukan calon istrinya. Lalu terdengar langkah kaki memasuki ruang keluarga. Dimas dan Firly muncul beserta Ara dan Gemma. Ara langsung duduk di samping Hanin. Di belakang mereka Poppy muncul dengan menggandeng seorang gadis. Elang masih menundukkan kepalanya namun tepukan Irzal membuatnya mengangkat kepala.


Elang menatap sang bunda lalu pandangannya beralih pada gadis di samping Poppy. Mata Elang membulat melihatnya. Begitu pula dengan Azkia. Jantung gadis itu serasa lepas dari tempatnya melihat Elang ada di sini. Tiba-tiba lututnya terasa lemas. Hampir saja dia terjatuh kalau Poppy tak segera membantunya.


🍁🍁🍁


**Jeng.. jeng... jeng....


Apa yang terjadi selanjutnya??? sabar..😁


Mamake antara sedih dan pengen ngakak nulis part ini. Mereka ngga tau aja klo lagi dikerjain ayah Irzal😂


Yang penasaran adegan selanjutnya, like dulu dong, comment yang banyak sama vote nya kalau masih ada. Kalau banyak yg komen, mungkin aja mamake up lagi nanti malam😘

__ADS_1


Mas El lagi frustrasi neng Az ada yg ngelamar**



__ADS_2