
Berita kehamilan Firly disambut gembira oleh seluruh keluarga. Akhir pekan ini Ega sengaja menggelar acara syukuran kecil-kecilan di rumah. Hanya sahabat terdekatnya yang datang ke acara tersebut. Suasana kediamannya Minggu pagi ini mendadak ramai. Irzal, Regan, Adit, Nino, Rena, Arini dan Ringgo datang memboyong keluarga masing-masing.
Aneka makanan dan minuman tersaji di atas meja. Berkat bantuan menantu tercinta, Alea dapat menghidangkan makanan yang lezat untuk seluruh tamunya. Bincang-bincang dan gelak tawa mereka memenuhi seisi rumah. Pembicaraan sendiri terdiri dari beberapa grup. Grup bapak-bapak berada di halaman belakang. Grup ibu-ibu berkumpul di ruang makan. Grup pertengahan yang terdiri dari Dimas, Rena, Fahri, Ringgo dan Arini berkumpul di teras depan. Jack tidak bisa ikut bergabung karena ada pekerjaan mendadak ke Filipina.
Sementara para anak berkumpul di ruang tengah. Mereka masih belum percaya kalau sahabatnya yang sudah sah menyandang status sebagai nyonya Dimas sudah berbadan dua. Ara yang ikut bergabung bersama mereka tak berhenti tersenyum karena akan mendapatkan seorang adik.
“Bentar-bentar, gue sebenernya agak-agak bingung nih ama tata cara pemanggilan anak elo nantinya Ly,” seru Gara.
“Bingung gimana?”
“Ya nanti, anak lo pada manggil gue, Ilan, Ziel, Rain ama Reyhan om dan tante. Terus sisanya bakal dipanggil kakak gitu? Kaga bakalan keder anak lo? Terus manggil papi kakek tapi manggil ayah, uwa atau ayah gitu ya.”
“Yaelah Gar kenapa jadi elo yang bingung. Biarin aja kali,” sahut Firlan.
“Ya gue takut calon ponakan lo keder nantinya.”
“By the way, si El manggil lo apa Ly?” celetuk Rain.
“Ya Ily lah, emangnya gue harus manggil apa coba?” tukas Elang.
“Dasar keponakan jahanam, manggil tante sendiri pake nama doang. Biar gimana juga si Ily itu udah jadi istri om Dimas. Jadi elo harusnya manggil ate Ily,” goda Gara.
“Males!” terdengar gelak tawa mereka melihat ekspresi Elang yang jengkel.
“Eh Ly lo belum ada pengen ngidam apa gitu?”
“Belum.”
“Yee dia mah enak lakinya kan chef. Dia mau makan apa juga bakal dibikinin ama om Dimas.”
“Kak Ily gimana kalau ngidamnya lihat kak Gara ngerayu banci kayanya seru tuh,” usul Yunda.
“Weh Yunda! Lo jangan kasih masukan ngidam yang aneh-aneh ya.”
Gelak tawa kembali terdengar memenuhi seisi ruangan. Pembicaraan-pembicaraan unfaedah terus mengalir di antara mereka.
Sementara itu di halaman belakang, perbincangan antara para pria matang juga tak kalah serunya. Mulai dari pembahasan pekerjaan sampai membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi.
“Ega tuh yang paling muda di antara kita. Tapi dia juga yang punya anak paling banyak dan duluan punya cucu,” Irzal terkekeh.
“Kamu ingat ngga Zal, dulu dia ngebet banget pengen besanan sama kamu,” sambung Regan.
“Lah kan emang udah besanan dia cuma mantunya aja yang beda hahaha,” Adit puas sekali menertawakan adiknya ini.
“Bully aja terus mumpung gratis,” gerutu Ega.
Nino sedikit menjauh dari teman-temannya ketika ponselnya berdering. Tertera nama Akhtar di layar ponselnya. Tak lama kemudian dia kembali bergabung.
“Ga, Lissa mau ke sini katanya.”
“Lissa anaknya kak Tombak? Tumben dia main ke sini.”
“Iya sama Akhtar.”
“Emangnya Akhtar sama Lissa punya hubungan?”
“Kayanya sih. Mereka kan kuliah di kampus yang sama.”
“Lissa itu ngga pernah main ke sini walaupun kuliah di Bandung. Aku ngga ngerti apa yang kak Tombak bilang ke anak itu sampai dia ngga mau silaturahim sama omnya sendiri.”
__ADS_1
“Ya mudah-mudahan kedekatannya dengan Akhtar bisa mendekatkan kalian,” ucap Nino tulus.
“Mas, kalau Rain udah punya calon belum?”
“Emangnya kenapa? Setahuku dia dekat sama anak-anak kalian aja.”
“Zal, kamu ngga ada niatan jodohin Rain sama Elang kan? Aku lihat mereka berdua lumayan dekat. Terakhir aku lihat mereka pulang dari makam berdua.”
“Setahuku Elang sama Rain ngga ada hubungan apa-apa. Emangnya kenapa?”
“Ini Gara. Ya ampun tuh anak. Kemarin dia ngerengek minta lamarin Rain buat dia,” Adit menepuk keningnya yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Gara emang dari dulu udah seneng sama Rain. Elang sering cerita kalau Gara suka cari kesempatan buat dekat sama Rain,” komen Irzal.
Regan senyum-senyum saja mendengar curhatan Adit. Dia terkenang saat Rain kecil yang selalu bermain dengan Elang dan Gara. Elang yang tenang dan Gara yang selalu mencari perhatian Rain. Tapi sayangnya Rain lebih senang bermain dengan Elang ketimbang dengan Gara membuat anak itu sering menangis.
“Papa,” lamunan Regan buyar ketika mendengar suara anak yang baru saja dipikirkan. Rain mendekati Regan lalu menggelayut manja di lengannya.
“Kenapa sayang?”
“Pa, aku boleh ngga nyambi kerja di L’amour? Barusan aku dapet telepon dari calon klien L’amour, mereka mau makai jasa WO kita asal Rain yang handle acaranya.”
“Asal tidak mengganggu kuliahmu, papa setuju aja.”
“Bener pa? Makasih ya,” Rain mencium pipi papanya.
“Rain, kamu mau ya jadi mantu papa Adit,” celetuk Adit.
“Jadi mantu papa Adit berarti nikah sama Gara dong. Ogah!”
Ega tergelak puas mendengar jawaban Rain. Dengan kesal Adit menoyor kepala Ega. Tapi tetap tak menyurutkan tawa pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek.
“Terus kalau jadi mantunya ayah Irzal mau?” cecar Adit lagi.
“Terus calon suami idaman kamu yang kaya siapa?”
“Assalamu’alaikum,” kekepoan Adit terhenti begitu mendengar dua orang megucapkan salam.
“Waalaikumsalam.”
Tubuh Rain seketika membeku ketika melihat Akhtar juga Lissa memasuki halaman belakang. Akhtar langsung mencium punggung tangan semua yang ada di sana. Sedang Lissa hanya diam mematung saja. Ega menghembuskan nafas kesal, keponakannya itu tidak tahu cara bersikap sopan kepada orang tua.
“Tumben main ke sini Lis,” sindir Ega.
“Eh iya om, diajak Akhtar.”
“Oh kalau ngga diajak Akhtar berarti ngga mau ke sini ya.”
“Ehem!!”
Regan berdehem memberi kode pada Ega agar tak meneruskan perkataannya. Chalissa hanya menundukkan kepalanya saja. Tombak memang tidak pernah mengijinkan anak-anaknya terlalu dekat dengan Ega juga Adit. Akhtar menggenggam tangan Chalissa, mencoba menenangkan hati gadis tersebut. Rain tersenyum getir melihat begitu pedulinya Akhtar pada Lissa.
“Papa, ayah, papi, Rain permisi dulu ya.”
Rain bergegas meninggalkan halaman belakang. Dia menyambar tasnya yang tergeletak di sofa, bermaksud untuk pergi. Namun Elang menghalanginya.
“Stay, Rain. Lo harus tetap di sini. Kalau lo terus menghindar kapan lo bisa mengambil keputusan soal perasaan lo ke bang Akhtar.”
“Gue ngga kuat El. Ini terlalu menyakitkan.”
__ADS_1
“Jadikan rasa sakit itu kekuatan buat elo Rain. Ingat, lo bukan gadis yang lemah. Lo pasti bisa, ada gue dan yang lain yang akan selalu mendukung lo.”
Rain meletakkan kembali tasnya. Dia memutuskan mengikuti nasehat sahabatnya itu. Tanpa mereka sadari, Regan mengawasi interaksi keduanya.
Acara kumpul-kumpul masih belum berakhir tapi calon ibu muda pamit mundur karena tubuhnya sudah lelah. Kehamilannya yang baru memasuki usia tiga minggu memang mengharuskannya untuk banyak beristirahat. Dimas juga pamit karena harus menemani sang istri di kamar.
Dimas merangkak naik ke atas kasur menyusul istrinya yang sudah lebih dulu berbaring. Dipeluknya tubuh wanita yang sebentar lagi akan memberinya anak kedua dengan erat. Bibirnya menciumi bahu Firly yang terbuka.
“Mas..”
“Iya sayang, kamu mau sesuatu?”
Firly menggeleng lalu membalikkan tubuhnya menghadap Dimas. Tangannya mengusap rahang tegas suaminya lalu ibu jarinya mengusap bibir yang selalu memberi kehangatan lewat ciumannya.
“Mas, aku mau mas cerita gimana waktu tante Sissy hamil Ara dulu.”
“Kenapa kamu mau tau itu sayang?”
“Ngga apa-apa, pengen tau aja.”
Dimas terdiam sebentar, mencoba mengumpulkan kembali kenangan ketika Sissy mengandung Ara. Firly menunggu suaminya bercerita dengan sabar.
“Setelah empat tahun menunggu, akhirnya Allah memberi kami kesempatan untuk memiliki anak. Sissy dinyatakan hamil. Seperti ibu hamil lainnya, Sissy mengalami morning sick di trimester pertama. Dia yang sangat suka makanan pedas, tiba-tiba tidak kuat makan pedas, bahkan menghindarinya. Dia juga jadi lebih cerewet dan mudah sekali marah, mungkin karena perubahan hormonnya.
Pernah suatu hari dia ingin makan Japanese cheese cake jam dua pagi. Mas bingung harus cari kemana di jam segitu. Akhirnya lewat bantuan papi, mas bisa mendapatkannya. Tapi tahu apa yang bikin kesel? Dia ngga makan kue itu, dia cuma foto kue itu buat di upload ke akun IG-nya.”
Dimas terkekeh mengingat itu semua, Firly pun ikut tertawa. Firly memeluk pinggang Dimas lalu menyurukkan kepalanya ke dada bidang itu. Dimas mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali.
“Eh tapi bukannya mas bisa bikin kue ya,” Firly mendongakkan kepalanya ke arah suaminya.
“Dulu mas belum bisa karena pastry bukan bidang mas. Tapi semenjak Sissy ngidam cake, mas mulai belajar pastry. Jaga-jaga kalau dia ngidam minta dibuatkan kue lagi tengah malam.”
“Mas..”
“Hmm..”
“Kayanya enak ya makan Japanese cheese cake. Lihat di youtube tuh kue bisa goyang kalo disentuh, menul-menul gitu,” Firly meneguk ludahnya membayangkan kue yang sangat populer itu.
“Kamu mau sayang?”
“Iya mas, aku mau. Mas ngga keberatan kan bikinin itu untuk aku?”
“Ya ngga dong sayang."
"Walaupun cuma aku foto terus di upload ke akun IG?” Dimas tergelak mendengarnya.
“Ngga sayang.”
“Bikinin ya mas. Aku beneran mau makan itu tapi sambil disuapin sama Elang. Terus dia juga harus manggil aku tante. Kira-kira dia mau ngga?”
“Harus mau, kalau ngga mas pecat jadi ponakan nanti.”
Firly tersenyum senang. Setelah mendengar cerita Dimas tentang kehamilan Sissy, tiba-tiba dia juga tertarik mencicipi kue asal negeri sakura itu. Dan soal Elang, entahlah hanya ingin saja disuapi dan dipanggil tante oleh sahabatnya itu. Dimas tak henti tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Elang nanti.
🍁🍁🍁
**Ily ngidamnya luar biasa. Dulu waktu hamil Elang, Ega yang selalu jadi korban Poppy. Kayanya cucunya Ega bales dendam nih sama Elang😂
Hayo kira2 gimana reaksi Elang denger permintaan Ily?
__ADS_1
Readers kecehku jangan lupa ya mainkan jempol kalian buat like, comment and vote kalau masih ada.
Bye.. bye..😘😘😘**