Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Sweet Romance


__ADS_3

Bayi cantik itu tak henti menggerakkan matanya ke kanan dan kiri mengikuti pergerakan sang mama yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Nazra Sabira Keenan, anak pasangan Rain dan Akhtar kini sudah berusia enam bulan. Akhtar yang baru selesai mandi setelah pulang bekerja langsung mengambil anaknya yang berada di kereta dorong.


“Anak papa laper ya? Ma, cepet dong, Nanaz udah ngga kuat nih,” Akhtar menirukan suara anak kecil saat berbicara pada Rain.


Tak lama Rain datang membawa mangkok kecil berisi makanan MP-ASI untuk anaknya. Baru tiga hari yang lalu, baby Naz diberikan makanan tambahan selain Asi. Akhtar membawa anaknya ke ruang tengah diikuti Rain dari belakang. Dengan lahap baby Naz menerima suapan demi suapan dari sang mama.


“Mas, rumah kita kapan selesai?”


“Kira-kira tiga bulan lagi sayang.”


“Aku udah ngga sabar lihat rumah baru kita. Kalau kita pindah, apartemen ini gimana?”


“Terserah kamu sayang. Kalau mau disewain juga boleh.”


“Disewain aja ya mas, biar ada pemasukan buat kita.”


“Gimana baiknya aja. Mas sih ngikut aja.”


Tanpa terasa makanan di mangkok tandas dimakan oleh baby Naz. Kini bibirnya mengenyot dot berisi air putih. Akhtar membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di bibir dan pipi anak perempuannya ini dengan tisu basah. Kebahagiaannya bertambah lengkap dengan kehadiran putri kecilnya.


Setelah menaruh peralatan bekas makan anaknya, Rain kembali ke ruang tengah lalu duduk di samping suaminya. Baby Naz masih senang berada di pangkuan sang papa. Sesekali terdengar tawanya saat Akhtar menampilkan wajah dengan ekspresi lucu.


“Mas, gimana perkembangan mini market?”


“Alhamdulillah baik. Omsetnya stabil, malah kalau week end naik dua kali lipat. Ide Kia nambah kursi dan wifi ternyata bagus juga. Kalau malam minggu suka dijadiin tempat nongkrong anak muda. Belum lagi kita tambah menu camilan dan kopi, jadi makin rame.”


“Apa kubilang, Kia itu anak yg pintar.”


“Iya sayang, iya kamu benar.”


Percakapan mereka terinterupsi oleh dering ponsel Rain. Akhtar mengambilnya dan langsung menggeser tombol hijau di layar. Seketika wajah Elang memenuhi layar ponsel, lelaki itu melakukan panggilan video. Akhtar mengarahkan kamera ponsel pada Rain dan juga baby Naz.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, heh sahabat durjana kemana aja lo! Anak gue udah umur enam bulan, belum nengokin juga lo!” sembur Rain begitu melihat wajah sahabatnya. Elang terkekeh mendengar omelan ibu muda itu.


“Hai baby Naz, cantik banget sih ponakan om. Nanti udah besar jangan cengeng kaya mama ya.”


“Eeeellll!”


“Bang, gue salut sama elo sabar banget ngedepin si ngengeng.”


Rain bertambah kesal, bibirnya langsung mengerucut. Akhtar tak bisa menahan tawa melihat mimik sang istri. Dia melihat ke arah layar ponsel, memperhatikan Elang yang sedang berdiri di balkon apartemennya.


“El, lo kapan pulang?”


“Kayanya pertengahan tahun depan deh. Masih beresin tesis sama ngurus restoran om Dimas. Apalagi menjelang high season pastinya sibuk banget.”


“Buruan pulang lo. Mau gue kenalin sama cewek cantik.”


“Siapa?”


“Ceu Romlah, tukang lotek yang dagang deket mini market. Dia udah janda tuh, hahaha.”


“Sue lo. Kalo janda mah tipenya bang Farel.”


Farel yang baru saja bergabung langsung menoyor kepala adiknya itu. Lalu pandangannya tertuju pada baby Naz yang ada di pangkuan Akhtar.


“Ya ampun ponakan om cantik banget. Udah kaya pinang dibelah kampak sama papanya.”


“Iya nih, gue yang hamil sembilan bulan, masa mukanya ceples mas Akhtar.”


“Itu karena elo bucin!” kompak Elang dan Farel berbicara. Akhtar kembali tergelak, kesal ditertawakan Rain mencubit lengan suaminya hingga meringis kesakitan.


“Eh udah dulu ya, kita mau ke resto dulu. Papay Nanaz, nanti om pulang om bawain oleh-oleh buat Nanaz, assaalamu’alaikum.”


"Waalaikumsalam."


Elang melambaikan tangannya, baby Naz ikut menggerakkan tangannya sambil mulutnya mengoceh tak jelas. Tak lama kemudian sambungan terputus. Rain kembali meletakkan ponsel ke atas meja.


“Mas, aku pengen roti bakar spicy tuna.”

__ADS_1


“Ayo, sekalian mas mau ngecek barang yang baru dateng. Nanti sebelum pulang kita mampir dulu ke rumah papa Regan dan papa Nino.”


“Ok. Ayo Nanaz sayang, kita ke rumah opa sama kakek.”


Rain mengambil Nanaz dari pangkuan Akhtar untuk berganti pakaian. Begitu pula dengan Akhtar yang ikut menyusul masuk ke kamar.


Setelah shalat maghrib, mereka meluncur menuju R&A Market yang lokasinya berada di depan kompleks Orchid Garden. Dua puluh menit kemudian mereka telah tiba. Nampak kursi pengunjung yang berada di depan mini market hampir dipenuhi anak muda. Beberapa dari mereka terlihat anteng dengan laptopnya, ditemani kopi dan camilan.


Akhtar tersenyum senang melihat mini marketnya berkembang dengan pesat. Ditambah penjualan bakery-nya juga meningkat, baik melalui penjualan langsung atau melalui online. Azkia yang baru saja mengakhiri shift middle-nya segera menyambut kedatangan Rain dan Akhtar. Baby Naz yang ada dalam gendongan Rain menjulurkan tangannya tanda ingin digendong oleh Azkia. Dengan cepat Azkia mengambil baby Naz.


“Assalamu’alaikum Nanaz, ponakan ate tambah cantik aja.”


“Waalaikumsalam ate. Nanaz kan cantik turunan dari papanya,” jawab Akhtar dengan nada bicara seperti anak kecil.


“Narsis,” desis Rain yang langsung disambut gelak tawa dari suaminya.


“Kia, barang pesanan sudah datang semua?”


“Sudah bang. Aku juga udah cek ricek tadi, ada beberapa barang yang harus diretur. Daftarnya lagi diketik sama Arul.”


Akhtar memang melarang Azkia memanggilnya dengan sebutan bapak, karena Rain sudah menganggapnya adik sendiri. Karenanya dia memanggil Akhtar dengan panggilan abang, seperti yang Reyhan lakukan.


Tak lama, sosok Arul yang baru saja dibicarakan muncul. Melihat Akhtar, dia segera menyerahkan daftar stok barang yang baru masuk. Kemudian tangannya mengambil baby Naz dari Azkia. Baby Naz memang menjadi primadona di kalangan karyawan mini market yang jumlahnya hanya delapan orang.


Melihat baby Naz anteng dalam gendongan Arul, Rain mengajak Azkia berbicara di depan mini market. Sebelumnya dia memesan roti bakar spicy tuna untuk dibawa pulang. Azkia mendudukkan diri di salah satu kursi pengunjung yang kosong.


“Gimana kuliah kamu?”


“Alhamdulillah lancar mba. Semester depan aku udah mulai magang.”


“Udah dapet tempat magangnya?”


“Belum mba. Masih nyari-nyari.”


“Gampang soal itu. Kamu bisa magang di kantor mas Akhtar, kantor ayah Irzal, papi Ega atau om Dimas. Nanti aku yang bilang.”


“Makasih mba. Aku ngga enak sering ngerepotin mba. Belum lagi mba suka ngasih biaya berobat untuk ibu.”


Azkia tertawa mendengar ucapan Rain. Sebenarnya hubungannya dengan Reyhan tak seakrab itu. Azkia kerap membatasi diri berhubungan dengan lawan jenis. Selain bukan muhrim, ada ketakutan tersendiri setiap berhadapan dengan lawan jenis. Hanya Akhtar dan rekan kerjanya, laki-laki yang cukup dekat dengannya. Itu pun tidak terjadi dalam waktu singkat.


Mereka terus berbicang, sesekali terdengar tawa mereka. Beberapa pengunjung pria yang duduk tak jauh dari mereka tampak curi-curi pandang pada keduanya. Tawa Azkia terhenti ketika melihat seorang pria mendekati area mini market. Wajahnya berubah pucat, nafasnya juga tersengal. Rain yang menyadari perubahan Azkia, mengikuti arah pandang gadis itu. Seorang pria seumuran Akhtar berjalan memasuki mini market.


“Kia, kamu kenapa?”


Azkia tak menjawab. Tangannya memegangi dada yang tiba-tiba terasa sesak. Tubuhnya juga ikut gemetar. Rain panik melihatnya. Di saat yang bersamaan Akhtar keluar sambil menggendong baby Naz.


“Mas, Kia mas.”


Akhtar melihat ke arah Azkia yang nampak seperti ketakutan. Jari jemarinya saling meremas dengan kencang, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat dan peluh mulai membasahi dahinya.


“Kia, kamu kenapa?” Rain mengguncang bahu Azkia, gadis itu memandang ke arah Rain.


“Mba... aa.. a..ku mau pu.. pulang.”


“Iya, ayo aku antar.”


Rain memapah Azkia menuju mobil diikuti Akhtar dari belakang. Setelah menutup pintu belakang mobil, Rain mengambil baby Naz dari Akhtar lalu masuk ke kursi penumpng di samping kemudi. Roda kendaraan segera berputar meninggalkan area parkir mini market. Sebelum mengantarkan Azkia pulang, Rain menitipkan baby Naz dulu pada mamanya.


Akhtar masih memarkirkan mobilnya, sedangkan Rain menuntun Azkia memasuki gang menuju tempat tinggal gadis itu. Setelah mengetuk pintu seraya mengucapkan salam, pintu rumah terbuka. Daniar, ibu dari Azkia tampak terkejut melihat keadaan putrinya. Dengan cepat dia memanggil Hanin, adik Azkia dan memintanya membawa sang kakak ke kamar. Daniar mempersilahkan Rain untuk duduk. Tak lama kemudian Akhtar menyusul masuk. Ketiganya duduk di kursi yang terbuat dari bambu.


“Maaf mba Rayna, apa yang terjadi dengan Kia?”


“Aku juga ngga tahu bu. Tadi kita ngobrol, tahu-tahu Azkia kelihatan ketakutan gitu kaya abis lihat setan.”


“Dia ketemu siapa mba?” Daniar mulai cemas, takut orang yang telah menorehkan mimpi buruk pada anaknya telah kembali.


“Aku juga ngga tahu bu. Kalau ngga salah, Kia mulai ketakutan waktu lihat laki-laki seumuran mas Akhtar masuk ke mini market.”


DEG


Jantung Daniar berdegup kencang saat Rain mulai menjelaskan ciri-ciri pria yang dilihatnya tadi. Rain dan Akhtar semakin dibuat bingung dengan reaksi Daniar. Akhtar yang penasaran segera menelpon Arul untuk mengirimkan rekaman cctv saat kejadian. Tak lama kemudian video yang dimintanya masuk ke ponselnya. Dia segera menunjukkannya pada Rain, lalu Rain menunjuk seorang pria yang memakai kaos polo berwarna hitam. Akhtar menunjukkan video tersebut pada Daniar.

__ADS_1


“Ini laki-laki yang dilihat Azkia tadi. Apa ibu mengenalnya?”


Mata Daniar membulat, raut marah, sedih dan takut tergambar jelas di wajahnya. Rain dan Akhtar semakin dibuat bingung olehnya.


“Ibu, sebenarnya ada apa? Tolong cerita, siapa tahu kami bisa membantu,” Rain memegang tangan Daniar, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


“Dia.. dia adalah laki-laki yang sudah membuat Azkia trauma. Salah satu alasan Azkia berhijab dan menutup rapat tubuhnya karena laki-laki itu. Dia juga takut untuk berdekatan atau berhubungan dengan lawan jenis juga karena laki-laki itu. Namanya Fandy, ayahnya salah satu petinggi polisi. Dia sering meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Bapak Azkia terjerat hutang dan dia meminta Azkia sebagai ganti hutangnya.”


Cerita kelam tentang Azkia pun mengalir dari bibir wanita paruh baya ini. Setelah hari kelulusan, Jamal, ayah Azkia membawa putrinya ke suatu tempat. Di sana Fandy dan teman-temannya sudah menunggu. Jamal meninggalkan Azkia begitu saja. Sadar dirinya telah dijual oleh sang ayah, Azkia melarikan diri.


Fandy beserta teman-temannya mengejar Azkia hingga berhasil menangkapnya lalu membawanya ke sebuah gudang tua. Fandy berusaha memperkosa Azkia, dengan bantuan teman-temannya yang berjaga dan memegangi gadis itu. Dia melucuti pakaian Azkia dan hanya menyisakan dalaman saja. Beruntung sebelum Fandy sempat melakukan perbuatan tak senonoh, Daniar berhasil menemukannya. Dengan bantuan para tetangganya, dia berhasil menyelamatkan Azkia.


Semenjak peristiwa itu, jiwa Azkia sempat terguncang. Dia lebih banyak mengurung diri di rumah. Rasa malu karena lekuk tubuhnya terlihat oleh orang banyak serta perbuatan Fandy meninggalkan trauma untuknya. Peristiwa yang menimpa Azkia menjadi buah bibir di lingkungan tempat tinggalnya. Akhirnya Daniar memutuskan untuk pindah dari kontrakannya dulu.


Kondisi Azkia mulai membaik ketika dirinya diterima kuliah di salah satu universitas swasta terbesar dan terkenal di Bandung lewat jalur beasiswa. Sejak saat itu dia memutuskan untuk berhijab dan rajin mengikuti kajian keagamaan di kampusnya. Banyak senior di organisasi yang membimbing dan membantunya, hingga sedikit demi sedikit rasa traumanya menghilang.


Rain menghela nafas panjang, prihatin dengan kejadian yang menimpa Azkia. Kini dia mengerti mengapa gadis itu menghilang tiba-tiba. Daniar mengusap sudut matanya yang membasah.


“Ibu ngga usah khawatir, saya akan memperketat keamaan mini market. In Syaa Allah, Kia akan baik-baik aja bu.”


“Iya nak Akhtar terima kasih atas perhatian kalian.”


“Sama-sama bu.”


Hanin keluar dari kamar dan mengatakan kalau Azkia sudah tidur. Setelah memastikan kondisi Azkia baik-baik saja, Rain dan Akhtar pamit pulang.


🍁🍁🍁


Rain berdiri di balkon kamarnya, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi di waktu malam. Baby Naz sudah tertidur nyenyak di dalam boksnya. Akhtar datang lalu melingkarkan tangannya di bahu sang istri. Dikecupnya tengkuk dan bahu Rain beberapa kali.


“Mikirin apa sayang?”


“Aku masih keinget cerita bu Daniar tadi. Ngga nyangka aja Kia ngalamin kisah tragis seperti itu.”


“Mas juga. Tapi dia gadis yang kuat, dan dia memilih cara yang baik untuk menghilangkan ketakutannya. Oh ya, kamu kapan mau berhijab sayang?”


“Hmm... kapan ya? Mas mau aku berhijab?”


“Semua wanita wajib menutup auratnya. Dan sebagai suami, mas memiliki kewajiban untuk mengingatkan istri untuk melakukan itu.”


Rain membalikkan tubuhnya menghadap Akhtar. Dilingkarkan tangannya ke leher kokoh suaminya. Matanya menatap dalam ke netra Akhtar. Semenjak kelahiran baby Naz, Akhtar sudah banyak berubah. Menjadi lebih sabar, semakin taat beribadah, semakin bekerja keras, menjadi suami dan ayah siaga.


“Kalau suamiku menginginkan aku berhijab besok, aku akan melakukannya.”


“Bagaimana kalau Lusa? Besok kita beli dulu pakaian dan hijab untukmu.”


“Iya mas.”


Senyum Akhtar terbit, ditariknya pinggang Rain hingga tubuh mereka tak berjarak. Wajah keduanya begitu dekat, mereka dapat merasakan sapuan nafas masing-masing. Perlahan Akhtar mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. Beberapa kali dipagutnya bibir merah merekah yang sangat disukainya. Rain membalas ciuman sang suami hingga pagutan keduanya semakin dalam.


Akhtar mengangkat tubuh Rain, kaki jenjang Rain melingkar di pinggangnya. Tanpa melepas pagutannya, mereka masuk ke dalam kamar. Akhtar menutup pintu menuju balkon dengan kakinya lalu mendudukkan diri di sisi ranjang. Dia melepaskan pagutannya kemudian menyatukan kening mereka.


“I love you Rain.”


“I love you too mas.”


“Thank you for being my wife.”


“I’m so lucky to be your wife.”


Bibir keduanya kembali bertemu. Akhtar menahan tengkuk Rain untuk memperdalam ciuman mereka. Perlahan dibaringkannya tubuh Rain di atas kasur. Malam semakin larut dan keduanya semakin terhanyut dalam gelora yang membara. Dibalik selimut mereka berbagi kehangatan, saling memuaskan hasrat dan mengekspresikan rasa cinta lewat sentuhan demi sentuhan yang membawa mereka menuju nirwana. Aktivitas keduanya baru berhenti lewat tengah malam.


Akhtar menarik tubuh Rain ke dalam pelukannya, memberikan kecupan bertubi pada kepala dan wajahnya. Di sela-sela nafasnya yang tersengal Rain tersenyum bahagia. Airmata dan penderitaannya di awal pernikahan kini berganti dengan kebahagiaan tak terhingga. Kesabarannya berbuah manis, hati Akhtar kini tercurah hanya untuknya. Bersama, mereka siap menoreh kenangan manis yang kelak akan mereka bagikan pada anak dan cucu nantinya.


🍁🍁🍁


**Kisah Rain dan Akhtar akhirnya happy ending ya gaesss.


Mohon maaf sebelumnya, berhubung Corona masih merajalela dan ppkm masih berlangsung, mas El ngga jadi pulang sekarang. Mas El pulangnya nanti di season 3.


Kalau sekarang mamake minta dukungannya dulu nih. Like, comment n vote nya yang banyak ya biar mamake tetap semangat lanjutin kisah ini.

__ADS_1


Selamat bermalam Minggu😘😘**


__ADS_2