
Setelah kematian Vanya, Regan lebih banyak termenung. Kata-kata terakhir Vanya sungguh mengusiknya. Sudah dua malam ini dia selalu bermimpi buruk. Sarah dengan setia selalu menenangkannya. Melihat kondisi Regan yang seperti itu, Akhtar menahan diri untuk menanyakan keberadaan Rain.
Selama penyelidikan sampai saat ini Akhtar tinggal di kediaman Regan. Tanpa terasa hubungan di antara keduanya mulai membaik. Regan meminta Arkhan bergabung di ruang keluarga setelah makan malam. Di sana sudah ada Sarah dan Reyhan. Akhtar memilih duduk di samping Reyhan.
“Sesuai janji papa, setelah masalah ini beres papa akan memberitahukan keberadaan Rain. Sekalian kamu jemput dia pulang.”
“Rain ada di mana pa?”
“Rain saat ini berada di London. Dia tinggal bersama Diandra, anak dari om Bayu.”
Akhtar terkejut mendengarnya. Ada rasa kesal sekaligus cemburu dalam hatinya. Sudah dipastikan kalau Elang ada bersama istrinya juga. Mengetahui Rain ada di London, perasaan Akhtar menjadi gelisah. Ketakutan mulai menyergapnya, takut kalau Rain akan berpaling darinya dan memilih bersama Elang.
“Kapan kamu akan menjemputnya?” suara Regan menarik kembali kesadaran Akhtar.
“Besok pa. Aku akan berangkat besok ke London.”
“Bicaralah baik-baik dengannya. Kamu harus lebih banyak mengalah. Saat ini Rain sedang hamil muda, moodnya cepat sekali berubah. Mama harap kamu tidak terpancing emosi jika Rain tidak bersikap baik padamu,” nasehat Sarah.
“Iya ma, aku mengerti. Kalau begitu aku permisi ma, pa, Rey. Aku harus bersiap untuk besok.”
Setelah berpamitan, Akhtar beranjak pergi. Dia naik ke lantai atas menuju kamar Rain. Kamar yang selalu ditempatinya belakangan ini. Tak lama Akhtar pergi, Reyhan pun menyusul masuk ke kamarnya. Tinggalah Regan dan Sarah di sana.
“Mas, apa mas baik-baik saja? Dua malam ini mas selalu bermimpi buruk. Apa mas masih memikirkan soal Vanya?”
“Iya sayang. Mas masih belum bisa melupakan kata-kata terakhirnya. Mas yang menjadi penyebab kematiannya.”
“Bukan mas. mas tidak bertanggung jawab soal itu. Vanya memilih mengakhiri hidupnya atas pilihannya sendiri. Dia mengatakan itu hanya untuk membuat mas merasa bersalah. Jangan pikirkan dia lagi mas. Ada hal yang lebih penting sekarang, pernikahan anak kita yang diambang kehancuran dan itu semua ulah Vanya. Aku tidak mau anak kita mengalami kegagalan seperti kita dulu. Merasakan pahitnya perpisahan. Kita harus membantu mereka mas, terlebih akan hadir seorang anak di tengah-tengah mereka.”
“Kamu benar sayang. Maaf kalau akhir-akhir ini mas menjadi lemah karena masalah Vanya. Terima kasih untuk selalu berada di samping mas. I love you.”
Regan meraih Sarah dalam pelukannya lalu menghadiahi sebuah kecupan hangat di keningnya. Tangan Sarah memeluk pinggang Regan, suami yang begitu dicintainya. Regan menatap Sarah dengan lembut, perlahan bibirnya mendarat di bibir Sarah. Sebuah ciuman lembut nan mesra diberikan untuk istri tercinta.
🍁🍁🍁
Rain duduk di balkon unit Elang. Dia selalu menunggu kepulangan Diandra di unit sahabatnya itu. Matanya memandangi langit London yang mulai menggelap. Elang datang sambil membawa gelas berisi susu hamil lalu memberikannya pada Rain. Elang duduk di kursi sebelah, mengamati sahabatnya yang sedang meneguk susu buatannya.
“El, kenapa mas Akhtar ngga coba nyari gue?”
__ADS_1
“Yakin lo, dia ngga nyari elo?”
“Buktinya dia ngga ada ngehubungi gue selama ini.”
“Emang lo ke sini bawa hp?”
Rain hanya nyengir saja menjawab pertanyaan Elang. Ponselnya sengaja ditinggal di rumah saat akan pergi ke London.
“El, kenapa sih rumah tangga gue ngga pernah bisa benar-benar bahagia? Apa salah gue sampai Allah kasih gue cobaan seperti ini.”
“Allah ngga akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan Hamba-Nya, Rain. Allah memberikan cobaan ini karena lo mampu. Bersabarlah, gue yakin ini juga ngga mudah buat bang Akhtar.”
Rain terdiam, dia menundukkan kepalanya, memandangi jarinya yang saling meremas satu sama lain. Matanya memanas mengingat suaminya, rasa marah, kecewa sekaligus rindu campur aduk dalam dirinya. Namun kerinduan yang lebih mendominasi saat ini.
“Rencana lo selanjutnya apa Rain?”
“Gue masih belum tahu. Kalau inget semua tuduhannya gue bener-bener marah dan kecewa sama dia. Rasanya gue udah ngga sanggup hidup bersamanya. Tapi kalau berpisah dengannya gue juga ngga bisa. Selain itu gue juga takut dengan status janda yang nanti bakal gue sandang. Bagaimana nasib anak gue kalau nanti pisah sama dia.”
Gue yang akan menjadi ayah anak lo Rain.
Elang mengusap wajahnya seraya mengucapkan istighfar ketika hal tersebut melintas di pikirannya. Dia terdiam untuk menetralkan perasaannya yang berkecamuk hebat saat ini. Usahanya selama beberapa bulan terakhir hancur begitu saja saat bertemu Rain kembali. Elang tak dapat membohongi perasaannya kalau cinta itu masih ada untuk Rain dan dia juga takut kalau sahabatnya itu tahu soal perasaannya.
Elang menatap Rain lekat-lekat. Dengan mudahnya kata-kata itu lolos dari bibirnya tanpa mempedulikan hatinya yang semakin bergejolak.
“Kalau hidup lo ngga mau ribet lagi, ya lo pisah aja sama bang Akhtar terus kita nikah.”
“Hahaha... ngga kebayang gue kalau nikah sama elo. Kayanya tiap hari gue bakalan dapet ceramah dari elo.”
“Lo pikir gue dai kondang,” dengus Elang.
“Lo tuh orang baik El. Gue berharap lo bertemu dengan cewe yang baik juga. Cewe yang bisa menjaga dirinya seperti elo menjaga diri lo sendiri. Ibarat kalau mobil, lo berhak dapetin mobil baru yang masih gress, baru keluar dari dealer, bukan mobil second.”
“Kalau gue sih ngga ada masalah dengan status, mau masih gress atau second selama orangnya baik dan bikin gue nyaman kenapa ngga,” Elang semakin melantur saja.
“Mas Akhtar cemburu sama elo El. Dia bahkan bilang kalau elo suka sama gue. Dia itu posesif banget sebenernya. Sampai semua orang dicemburuin sama dia. Ya ampun gue bener-bener kangen sama dia El.”
Rain mengusap sudut matanya yang berair. Dadanya sesak menahan kerinduan pada sang suami. Hati Elang pun tak kalah sesak, melihat wanita yang dicintainya merindukan laki-laki lain. Lelaki yang lebih berhak dari dirinya.
__ADS_1
“Berdamailah dengan bang Akhtar. Lo juga anak lo membutuhkan dia. Ingat ada anak dalam perut elo, anak kalian berdua. Jangan bersikap egois. Gue tau lo pasti masih marah dan kecewa, tapi jangan berlarut-larut.”
“Kenapa harus selalu gue yang ngalah El? Setiap ada masalah di antara kita, selalu gue yang memulai lebih dulu, selalu gue yang berjuang. Gue cape El, cape.”
“Kali ini biarkan dia yang berjuang. Biar dia membuktikan kalau lo berarti untuknya. Lo cukup tunggu dan lihat kesungguhan hatinya.”
“Tapi apa mungkin? Sekarang aja ngga ada kabar sama sekali soal dia. Dia kayanya ngga peduli gue balik apa ngga.”
“Kalau dia cinta dan peduli sama elo, dia pasti akan menemukan di mana pun lo berada. Mungkin dia akan nyusul lo ke sini.”
“Gue harap,” gumam Rain.
Pembicaraan mereka terhenti ketika Farel dan Diandra menghampiri. Rain segera bangun dari duduknya. Melihat kedatangan Diandra, Rain ingin segera kembali ke unit Diandra dan masuk ke kamarnya. Matanya sudah mulai memberat. Kedua wanita itu segera pergi meninggalkan unit Elang. Farel duduk di samping Elang. Melihat wajah sang adik, dia sudah tahu apa yang telah terjadi.
“El, lo baik-baik aja kan?”
“Ngga tau bang. Rasanya sesak banget,” Elang menepuk dadanya pelan.
“Dia udah jadi milik orang El. Di luar hubungannya yang sedang merenggang, statusnya tetap istri orang. Gue tahu lo orang yang kuat, jangan sampai nafsu ngalahin akal sehat lo. Anggap aja semua yang terjadi adalah proses pendewasaan buat elo.”
“Gue hampir kehilangan akal sehat gue bang. Setiap hari berada dekat dengannya, mendengarkan ceritanya, melakukan apa yang diinginkannya selama hamil bener-bener buat gue gila bang. Gue ngerasa seperti suami siaga buat dia. Gue berharap dia pisah dengan suaminya. Gue bahkan minta dia nikah sama gue tadi,” Elang menertawakan dirinya sendiri.
“Istighfar El, jangan termakan hasutan setan. Gue percaya suatu saat nanti lo bakal dapet perempuan yang baik, perempuan yang bisa membuat lo ngelupain Rain, perempuan yang mencintai elo sepenuh hati, perempuan yang akan menjadi surga buat elo. Seperti kata ayah, kita hanya perlu memperbaiki diri. Jodoh yang baik akan datang dengan sendirinya.”
“Iya bang, makasih udah ingetin gue.”
“Sana shalat tobat lo, tapi sebelumnya lo mandi terus keramas biar otak lo yang oleng balik lagi ke tempatnya.”
Farel terkekeh lalu meninggalkan Elang sendiri. Tak lama Elang berdiri, dia memilih untuk mengikuti saran Farel. Elang masuk ke kamarnya, bersiap untuk mandi dan melaksanakan shalat tobat.
🍁🍁🍁
**Elang🥺🥺🤧🤧
Sini mamake peluk.. tenang aja mamake punya anak perawan 2😁
Buat Elang lovers jangan marah ya. Di sini mamake cuma mau menggambarkan sesuatu. Ngga selalu orang yg hampir sempurna akan dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Elang yang ganteng, pinter, Sholeh dan berasal dari keluarga berada ternyata ngga bisa mendapatkan perempuan yang dicintainya. Setiap orang sudah punya jodohnya masing2, jodoh kita adalah cerminan diri kita. So kalau mau mendapatkan jodoh yang baik, kita harus jadi orang baik dulu. Mohon maaf kalau tetiba mamake jadi mama Dedeh😂
__ADS_1
Jangan lupa like, comment and vote nya kalau masih ada ya sayangku😘😘😘**