
Di ruangan tinggalah Dimas dan Sisil. Suasana hening sejenak tapi kemudian Dimas mulai mencairkan suasana dengan bertanya tentang pekerjaan paruh waktu Sisil. Dengan bersemangat gadis itu menceritakannya.
“Syukurlah kalau kamu senang. Tapi ingat jangan sampai mengganggu kuliah kamu.”
“Siap om.”
“Hmm.. Sil... apa.. kamu masih bertemu dengan Ily?” Dimas tampak ragu-ragu.
“Aku masih sering ketemu sama Ily om, kan kita sekampus walaupun ngga sejurusan.”
“Bagaimana kabar Ily?”
“Dari luar sih dia baik-baik aja tapi di dalamnya siapa yang tahu om. Ily udah tahu kok kebohongan yang om Dimas katakan. Sekarang coba om bayangkan gimana perasaan Ily setelah tahu kebenarannya.”
Dimas menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, tangannya memijat pelipisnya pelan. Sakit rasanya mengetahui keputusan yang dibuatnya membuat gadis yang dicintainya menderita. Bukan seperti ini yang diinginkannya. Dimas berharap Firly membencinya dan bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang dirinya.
“Selama ini Ily berpura-pura ceria dan baik-baik saja itu semua demi om Dimas. Om menginginkan Ily hidup bahagia setelah kepergian om. Itulah yang coba Ily lakukan sekarang, bahagia walaupun hanya kebahagiaan semu.”
“Tapi Sisil juga ngga bisa nyalahin om. Om melakukan itu pasti lewat pertimbangan matang. Om ngga mau hubungan di antara dua keluarga semakin runyam, ngga mau jadi jurang pemisah antara Ily dan orang tuanya. Baik Ily atau om menurut aku ngga ada yang salah. Keadaanlah yang memaksa kalian mengambil keputusan seperti itu.”
Arini merapihkan beberapa dokumen yang harus ditanda tangani Dimas. Namun saat baru sedikit membuka pintu ruangan, dia mengurungkan niatnya ketika mendengar percakapan Dimas dengan putrinya.
“Kamu sendiri gimana? Hubunganmu dengan Ringgo masih jalan di tempat?”
“Masih mending jalan di tempat om. Ini mah udah mati sebelum berkembang,” Sisil tersenyum getir.
“Pasti karena mama kamu ya? Om mengerti sebagai orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan mamamu. Kamu dan Ily, kalian berdua masih muda, jalan kalian masih panjang. Rasanya sayang saja harus terikat dengan pria tua seperti kami,” Dimas terkekeh.
“Sama seperti om, aku juga terpaksa menjauhi om Ringgo demi mama. Aku sangat menyayangi mama. Aku tahu pengorbanan mama begitu banyak untukku. Mama yang menikah di usia muda, lalu saat hamil diriku ternyata papa berselingkuh. Dan begitu aku lahir, papa menceraikannya. Pasti berat untuk mama menjalani itu semua seorang diri. Mama bertahan demi diriku, merawatku sampai aku sebesar ini. Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaan mama, walaupun harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri,” Sisil menyeka airmata di sudut matanya.
“Makanya aku tahu bagaimana perasaan om dan juga Ily. Kita mengalami kisah cinta yang rumit. Cinta terbentur restu orang tua ternyata menyakitkan dan membuat dilema,” sambungnya lagi.
Hati Arini mencelos mendengar isi hati putrinya. Selama ini dia belum pernah berbicara dari hati ke hati selayaknya seorang ibu dan anak. Dia hanya menyampaikan keinginannya, memaksa putrinya menjauhi pria yang dicintainya. Mata Arini memanas, dia menaruh kembali dokumen ke meja kerjanya kemudian berlari ke toilet.
Ringgo yang baru saja mendapat telepon dari tuan Baskara bergegas menuju ruang kerja atasannya untuk menyampaikan undangan pesta pertunangan purtinya. Matanya melirik pada dokumen yang ada di atas meja kerja Arini. Dia mengambil dokumen tersebut lalu masuk ke dalam ruangan. Melihat kedatangan Ringgo, Sisil memilih untuk pergi tanpa menoleh padanya. Ringgo melepas kepergian Sisil dengan tatapan sendu.
“Dim, ada undangan dari tuan Baskara besok malam. Putrinya akan bertunangan dengan salah satu suplier di restoran kita,” Ringgo menyerahkah dokumen pada Dimas.
“Oh ya? Siapa?”
“Itu supplier telor kita, Imran. Dia tunangan sama anak bungsunya tuan Baskara. Beruntung banget ya si Imran, dapet calon istri tajir,” Ringgo tergelak.
“Namanya jodoh. Emangnya kaya kita.”
__ADS_1
“Iya, kita kan senasib sepenanggunangan Dim. Duda karatan yang ditolak calon mertua hahaha.”
“Elo aja kali duda karatan, gue mah ngga.”
“Sue lo! Buruan tanda tangan tuh dokumen,” Dimas tergelak senang sekali membuat sahabatnya keki. Dengan kesal Ringgo keluar dari ruangan.
🍁🍁🍁
Suasana kediaman tuan Baskara malam hari ini sudah ramai dengan tamu undangan. Dia menggelar pesta pertunangan putri bungsunya di halaman belakang rumahnya yang memang cukup luas. Hampir semua undangan yang berasal dari kolega bisnisnya, sisanya dari teman-teman anaknya dan juga calon tunangannya.
Ega beserta istri dan anaknya turut menghadiri acara tersebut. Kalau bukan demi menghormati sang empu acara yang juga salah satu koleganya, rasanya dia malas datang ke acara tersebut. Dia sengaja membawa anak-anak agar datang tidak hanya berdua dengan Alea. Dia ingin menunjukkan keseriusan ucapannya pada sang istri. Sikapnya juga sedikit dingin, membuat Alea tak nyaman.
Regan dan Sarah juga datang, tapi mereka hanya berdua saja. Begitu pula dengan Adit dan Debby. Keempatnya duduk di satu meja, tak lama Irzal dan Poppy datang bergabung bersama mereka. Ega yang berada di sisi lain hanya dapat memandang sendu ke arah mereka. Ingin bergabung, tapi dia seakan tak punya muka untuk melakukannya.
Kemudian matanya menangkap sosok gadis kecil berlari mendekati Poppy. Ega terkejut melihat kehadiran Ara di sini. Matanya langsung berkeliling mencari keberadaan Dimas. Dia yakin Ara pasti didampingi sang papa. Ara duduk di dekat Poppy.
“Ara sudah sembuh sayang?” tanya Sarah.
“Udah mama, Ara kan cuma alergi aja.”
“Tapi kamu kan sempet sesak nafas malah sampai pingsan,” sambung Debby.
“Ummm.. kalau itu tanya aja sama ayah Irzal,” Ara menampilkan cengiran khasnya. Semua mata langsung menatap pada Irzal.
“Waktu aku dengar Ara kena alergi dingin, aku dibantu Jack dan Elena juga dokter Pablo memang merencanakan soal sakitnya Ara. Jadi sebenarnya Ara ngga separah itu alergi dinginnya. Cuma karena Ara pinter aktingnya jadi papanya percaya deh,” Irzal tergelak membuka persekongkolannya dengan Ara demi membawa Dimas kembali.
“Iya. Aa kan udah janji akan bawa Dimas pulang bagaimana pun caranya. Lagian aa ngga tahan lihat kamu nangis terus.”
“Uuuhh so sweetnya suamiku. Makasih sayang.”
“Dasar bucin!!” ledek Regan dan Adit.
“Makasihnya nanti malam aja ya,” Irzal mengerling genit pada sang istri.
“Woi inget umur!” sewot Adit. Tapi Irzal cuek saja. Kalau tidak ada Ara mungkin sudah diciumnya bibir sang istri.
Dimas, Ringgo dan Arini memasuki kediaman Baskara. Mereka memang seperti tiga serangkai yang selalu menghadiri undangan para rekan bisnis secara bersama-sama. Setelah memberikan ucapan selamat kepada calon pengantin, Dimas mencari keberadaan putrinya yang masuk lebih dulu.
“Dimas.”
Dimas memutar tubuhnya ketika ada suara yang memanggilnya dari arah belakang. Nampak Ega berdiri di hadapannya. Suasana menjadi sedikit canggung, namun kemudian Ega mencairkannya dengan mengajak Dimas berbicara di tempat yang cukup jauh dari keramaian.
“Bagaimana kabamu Dim?”
__ADS_1
“Alhmadulillah baik bang. Abang sendiri?”
“Alhamdulillah aku dan yang lainnya sehat. Selama ini kamu di mana?”
“Aku di Milan bang, mengurus restoran baruku. Tapi ternyata Ara tidak cocok tinggal di sana. Jadi aku memutuskan untuk kembali.”
Percakapan mereka terjeda ketika seorang pelayan mengantarkan minuman untuk mereka. Dari kejauhan Ega melihat Firly berjalan ke arahnya.
“Dim, aku minta maaf atas semua yang Alea lakukan pada perusahaanmu. Dan juga sikap dan kata-kata kami yang menyinggung perasaanmu. Maaf karena memikirkan Ily, kami melakukan hal yang tak pantas padamu.”
“Yang lalu biarlah berlalu bang. Aku juga minta maaf sudah lancang mendekati Ily. Aku sadar bang, hubungan kami tidak sepantasnya terjalin. Maaf sudah merusak kepercayaanmu. Tapi abang tenang saja, aku akan menepati janjiku pada abang juga kak Al. Abang benar, Ily berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.”
Ega terdiam seribu bahasa mendengar penuturan Dimas. Tanpa mereka sadari Firly yang telah sampai mendengar semua ucapan Dimas.
“Aku permisi bang, Ara sedang menungguku.”
Dimas berbalik, namun seketika tubuhnya membeku melihat Firly berada tak jauh darinya. Untuk beberapa saat keduanya saling menatap. Kalau saja suasana di sana sepi, mungkin saja degup jantung dua orang tersebut dapat terdengar dengan jelas. Mata keduanya terus memandang satu sama lain. Ada cinta dan kerinduan yang terpendam di sana.
Ingin rasanya Firly menabrakkan dirinya pada Dimas, memeluknya erat dan mengatakan betapa dia sangat merindukan lelaki itu. Dimas menghampiri Firly. Dada gadis itu semakin berdebar begitu jarak mereka semakin dekat. Ega yang akan kembali ke tempatnya ikut terpaku melihat pertemuan kedua orang tersebut.
“Ily bagaimana kabarmu?” Dimas berusaha menekan suaranya agar terdengar biasa.
“Alhamdulillah baik. Om dan Ara gimana?”
“Alhamdulillah kami baik. Bagaimana dengan kuliahmu?”
“Lancar om,” keduanya kembali membisu, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ily sayang, seandainya bisa om ingin memelukmu walau itu akan menjadi pelukan terakhir untuk kita.
Om, kenapa takdir begitu kejam pada kita. Kini kita dipertemukan kembali namun tetap tidak bisa saling memiliki. Apakah tidak ada keajaiban untuk kita om.
“Om pergi dulu ya.”
Suara Dimas menarik kembali kesadaran Firly. Dimas berjalan melewatinya. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala gadis itu, menghasilkan getaran pada hati keduanya. Saat Dimas menurunkan tangannya, tak sengaja bersentuhan dengan tangan Firly. Refleks Firly memegang ujung jari Dimas, menahan pria itu di dekatnya untuk beberapa detik. Dimas balas menggenggam jari Firly kemudian menatap wajah gadis itu.
“Jaga dirimu sayang,” lirihnya. Kemudian Dimas melepaskan genggamannya dan berlalu pergi. Firly tak kuasa menahan airmatanya. Cairan bening itu luruh membasahi pipinya.
“Ily,” mendengar suara Ega, Ily buru-buru menghapus airmatanya.
“Ily mau pulang pa,” Firly bergegas pergi menuju pintu keluar. Ega merasa hatinya terhantam godam besar. Ribuan penyesalan memenuhi hatinya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Huuaaaa sedih ada di depan tapi ngga bisa digapai🤧
Like, comment and vote dulu yah biar mamake ngga sedih lagi and lanjutin kisah mereka**.