
Farel bergegas keluar rumah untuk menemui Jayden. Sahabatnya itu memang bisa diandalkan. Kurang dari 24 jam, dia sudah mendapatkan informasi tentang Valen Anggara.
Farel memasuki cafe tempat mereka bertemu. Di akhir pekan seperti ini, cafe sudah mulai dipenuhi pengunjung. Farel segera menuju meja paling sudut. Di sana tampak Jayden sedang anteng dengan laptopnya. Farel menepuk pundak Jayden lalu menarik kursi di depan pemuda blasteran itu.
“Udah dapet?”
“Weeiisss jangan panggil gue Jayden kalau cuma info begini doang kaga bisa gue dapetin dengan cepat.”
“Mana?”
“Mau baca sendiri atau gue jelasin?”
“Jelasin aja biar cepet.”
Farel mengangkat tangannya. Seorang pelayan datang menghampiri. Dengan cepat dia mencatat pesanan Farel yang hanya memesan minuman dan kentang goreng saja. Setelah pelayan pergi, mereka melanjutkan percakapan.
“Valen Anggara, dulu dia artis terkenal. Hampir semua produk memakai jasanya sebagai bintang iklan. Sinteronnya selalu mendapat rating tertinggi. Tapi karirnya hancur setelah tersandung kasus narkoba dan pelecehan seksual.”
“Pelecehan seksual?”
“Iya.. dan kasus ini yang bikin dia terkena 3 pasal sekaligus, penculikan, percobaan pemerkosaan dan kepemilikan narkoba. Dia divonis penjara 8 tahun penjara. Karena dia punya banyak koneksi, dia cuma menjalani 3 tahun penjara. Tapi ya habis itu karirnya tenggelam. Terus namanya menghilang. Sekarang dia membangun agency artis baru.
Sampai sekarang dia belum nikah. Setelah keluar penjara, pernah ada gosip dia pacaran sampai pacarnya hamil, namanya Erika Saraswati. Tapi gosipnya hilang gitu aja, setahun kemudian Erika Saraswati meninggal dunia. Ada yang bilang over dosis, ada yang bilang pendarahan setelah melahirkan, ada juga yang bilang bunuh diri. Ngga ada info lagi soal dia.”
Farel terdiam sejenak. Kemarin Valen sempat menyebut nama Erika adalah ibunya. Lamunan Farel buyar ketika pelayan datang mengantarkan pesanan. Farel menyomot kentang goreng kemudian meneguk minumannya.
“Udah infonya itu doang?”
“Masih ada, dan gue yakin bang Farel bakal kena serangan jantung.”
“Apaan?”
“Yang laporin Valen Anggara atas tuduhan penculikan, percobaan pemerkosaan itu ayah Irzal. Dan korbannya bunda Poppy.”
Farel terkejut setengah mati, terlihat jelas dari wajahnya. Jayden terkekeh pelan, tapi kemudian dia terdiam ketika melihat wajah Farel memucat.
“Kenapa bang?”
“Bun.. bunda Poppy diperkosa Valen Anggara?”
“Hampir bang hampir. Ngga denger tadi tuduhan percobaan pemerkosaan, baru percobaan dan dipastikan gagal karena ayah Irzal keburu dateng terus ngehajar dia sampai ada bagian mukanya yang rusak parah dan dia harus operasi plastik. Kebayang ngga gimana marahnya ayah Irzal. Iihh sumpah gue yang bacanya ngeri bro. Kejadiannya waktu ayah sama bunda baru nikah. Dan ternyata bunda Poppy dijual sama bosnya sendiri. Bosnya bunda juga dilaporin ke polisi tapi sebelumnya habis dihajar sama ayah Irzal.”
Kepala Farel seakan berputar mendengar penuturan Jayden. Ternyata ayah dan dan orang tua angkatnya memiliki masa lalu yang buruk. Lalu Farel juga teringat, Irzal mengetahui orang tua Farel setahun setelah mengadopsinys.
Berarti udah sejak lama ayah sama bunda tahu gue anak dari bajingan itu. Ya Allah, terbuat dari apa hati orang tua hamba.
“Lo punya no yang bisa dihubungi?”
“Ada.”
Farel menyodorkan ponselnya, dengan cepat Jayden memasukkan nomor Valen ke ponsel Farel. Setelah mendapatkan nomor Valen, Farel bergegas untuk pergi. Jayden hanya memandang bingung kepergian Farel. Tingkah pria itu terlihat aneh dan mencurigakan.
Farel terdiam di dalam mobilnya. Tangannya mencengkeram erat kemudi. Di telinganya masih terngiang ucapan Jayden tentang kelakuan bejat sang ayah. Dengan tangan bergetar dia mengambil ponsel lalu menghubungi Valen. Cukup lama Farel menunggu sampai akhirnya panggilannya terhubung.
“Halo..”
“Halo.. ini aku, Farel. Bisa kita bertemu?”
“Tentu saja nak. Kamu mau bertemu di mana?”
“Kita bertemu di La Premiere setengah jam dari sekarang, bisa?”
“Tentu saja, tunggu papa, nak.”
__ADS_1
Farel tertawa miris mendengar pria itu memanggil dirinya sendiri dengan sebutan papa. Farel menyalakan mesin mobil kemudian mulai melaju menuju restoran milik Dimas.
Suasana tenang terasa ketika Farel memasuki La Premiere. Terlihat beberapa meja sudah terisi oleh pengunjung. Farel langsung menuju private room yang telah dipesan sebelumnya.
Tak lama berselang Valen datang. Seorang pelayan memandunya menuju private. Valen berdecak kagum, restoran La Premiere adalah restoran bintang lima yang menyuguhkan menu terbaik dengan harga selangit. Farel mengajaknya bertemu di private room, yang menandakan kehidupan anaknya sukses dan berkecukupan.
Pelayan yang mengantar Valen membukakan pintu untuknya. Dengan senyum sumringah dia menghampiri Farel lalu berhadapan dengan putranya itu di sofa yang berbentuk melingkar.
“Maaf papa terlambat, sudah lama menunggu?”
“Baru saja,” jawab Farel dingin tanpa melihat ke arah Valen. Farel hanya melihat ke arah buku menu kemudian mulai memesan makanan.
Valen dibuat ternganga ketika Farel memesan menu spesial di restoran ini yang harga per porsinya mencapai dua juta rupiah. Hatinya tambah bersemangat, dia melihat Farel bak pundi uang berjalan.
“Bapak mau pesan yang lain?” pertanyaan Farel menghentikan lamunan Valen.
“Ngga, cukup.”
Farel menganggukkan kepala ke arah pelayan, kemudian pelayan tersebut meninggalkan ruangan. Valen memandangi wajah putranya itu cukup lama. Tapi kini wajah itu tampak berbeda dan terkesan dingin. Berbeda pada saat pertama bertemu, pemuda itu terlihat ramah dan hangat.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Apa bapak mengenal orang tua angatku?”
Valen terkejut dengan pertanyaan tersebut. Untuk sejenak dia berpikir, menimbang-nimbang apa yang harus dikatakannya.
“Ibumu bekerja di dealer mobil yang mengontrakku sebagai bintang iklannya waktu itu. Kami hanya bertemu sesekali dan tidak begitu akrab juga. Kalau ayahmu, jujur aku tidak kenal.”
Farel tersenyum miring mendengarnya. Perasaan benci seketika menguasai hatinya. Sungguh dia begitu muak melihat pria yang sayangnya adalah ayah kandungnya. Dadanya terasa sesak mengingat ada darah Valen mengalir dalam tubuhnya.
“Ibuku, siapa namanya? Apa bapak punya fotonya?”
“Namanya Erika Saraswati. Dia seorang model papan atas, dia meninggal setelah melahirkanmu. Ini fotonya.”
“Apa bapak bisa mengirimkan fotonya ke hp-ku?”
“Tentu saja.”
Valen segera mengirimkan foto Erika pada Farel. Tak lama ponsel Farel bergetar, foto Erika telah diterima. Pelayan masuk kemudian menata hidangan di meja. Tanpa banyak bicara Farel memulai makannya. Dengan isyarat tangan, Farel mempersilahkan Valen untuk makan.
Susah payah Farel menelan makanan yang masuk ke mulutnya, seperti sedang menelan sebongkah batu saja. Berbeda dengan Valen yang begitu menikmati momen ini. Dia terus saja membayangkan keuntungan yang diterimanya jika Farel bersedia mengakuinya sebagai bapak.
“Farel.. papa sangat senang bisa bertemu denganmu. Ini seperti impian yang menjadi kenyataan. Akhirnya setelah sekian lama, kita bisa bertemu. Ijinkan papa menjadi orang tuamu. Tinggallah bersama papa, papa kesepian nak.”
Valen menangis di hadapan Farel. Bakat aktingnya dulu sepertinya sangat berguna saat ini. Jika orang lain, mungkin akan tertipu dengan airmata buayanya. Tapi tidak dengan Farel. Dia berdecih kesal melihat tangisan palsu Valen.
“Maaf pak, keinginan saya bertemu hanya untuk menanyakan ibuku. Terima kasih masih menyimpan fotonya. Tapi maaf, aku tidak bisa tinggal bersamamu. Keluarga Ramadhan adalah keluargaku sekarang, aku sangat menyayangi mereka. Makan malam ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kita.”
“Farel.... kita mungkin terpisah lama, tapi aku tetap papa kandungmu. Ada darahku mengalir di tubuhmu. Ingatlah darah itu lebih kental dari pada air. Aku percaya, suatu saat kamu akan kembali dan mengakuiku sebagai papamu.”
“Darah memang lebih kental dari air. Tapi tanpa air yang masuk ke dalam tubuh, sirkulasi darah tidak akan lancar dan bisa menyebabkan kematian. Keluarga Ramadhan ibarat air yang menjadi sumber kehidupanku. Kalau saja bisa, aku ingin menguras habis darah dalam tubuhku dan menggantinya dengan darah yang baru. Rasanya berat sekali menampung darah ini dalam tubuhku.”
Tanpa mempedulikan Valen, Farel bergegas ruangan. Dia terlalu muak untuk berlama-lama dengan lelaki itu. Valen mengepalkan tangannya. Hatinya gusar, ternyata Farel tidak termakan sandiwaranya.
Farel mengendarakan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin secepatnya kembali ke rumah. Dikarenakan kondisi jalanan yang macet, butuh waktu lebih lama untuk sampai ke rumahnya. Farel segera memasukkan kendaraan ke dalam garasi. Kemudian masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah nampak Poppy dan Irzal sedang duduk menonton televisi. Poppy bersender pada dada Irzal. Sesekali terdengar tawa mereka. Farel tersenyum melihat kedua orang tua angkatnya. Dia pun mengakhiri lalu mencium punggung tangan mereka.
“Dari mana Rel?”
“Abis ketemu temen bun.”
__ADS_1
“Sudah makan?”
“Sudah. Aku ke kamar dulu ya bun, yah.”
Irzal hanya menganggukkan kepalanya. Poppy tersenyum ke arah Farel. Sebelum ke kamarnya, Farel menyempatkan diri ke lantai tiga untuk melihat keponakannya. Aslan masih belum tidur. Anak itu masih senang membuat pusing kedua orang tuanya. Farel tertawa melihat Elang yang pusing menjawab pertanyaan Aslan yang bertubi-tubi dengan bahasanya yang tidak sepenuhnya dimengerti.
“Ooom...”
Aslan berlari ke arah Farel ketika melihat kedatangannya. Farel segera menggendong keponakannya itu seraya mencium pipi gembulnya.
“Abis dari mana bang? Kencan ya?”
“Mana ada. Cuma ketemu temen doang.”
“Temen apa temen?” goda Azkia.
“Hadeuh... udah jadi ibu kamu tambah kepo.”
“Bang, mau ya aku kenalin sama temen kampusku. Cantik loh bang, solehah lagi.”
“Tar ah pikir-pikir dulu.”
“Ngga usah kelamaan mikir deh, keburu tua entar.”
“Eh justru sekarang yang lebih menarik itu pria matang, lebih menggoda.”
“Cih.. kelamaan mateng busuk jadinya.”
Elang tergelak, begitu pula Azkia. Farel tak mempedulikan ledekan adiknya itu. Dia sibuk bercengkrama dengan Aslan yang gaya bicaranya persis makhluk planet saturnus.
Puas bermain dengan Aslan, Farel turun ke lantai dua. Kini dia menuju kamar Ayunda. Diketuknya pintu kamar, tak lama kemudian masuk ke dalam setelah mendengar suara Ayunda dari dalam. Farel duduk di sisi ranjang memperhatikan Ayunda yang sedang menyelesaikan laporannya.
“Beres dek?”
”Dikit lagi bang. Lumayan dari kemarin dibantuin bang Ilan, jadi cepet selesai.”
“Hmm.. jadi siapa nih?”
“Apaan?”
“Kamu pilih Ilan apa Rey?”
Ayunda menoleh ke arah Farel kemudian menghampirinya. Dia duduk menyamping dengan wajah menatap lurus ke arah kakaknya itu.
“Bang Farel tau dari mana?”
“Ya gimana ngga tau, jelas banget tuh cowok lagi pada tebar pesona sama kamu. Ngga biasanya Rey sering dateng ke rumah. Udah gitu ada aja yang dibawanya. Terus si Ilan, setiap latihan band usulinnya lagu orang jatuh cinta mulu. Terus kamu juga tumbenan rajin ikut kita latihan band. Jadi siapa yang kamu pilih? Dokter apa esmud nih?”
“Lagi dipertimbangkan baik buruknya dan untung ruginya.”
“Jangan kelamaan mikirnya, tar keburu disalip orang.”
“Ish abang malah ngedoain yang jelek-jelek.”
“Bukan ngedoain, tapi ngga baik kalau terlalu lama menggantung perasaan seseorang. Kamu harus cepat ambil keputusan. Dua-duanya lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Siapa pun pilihanmu, abang akan dukung.”
“Curiga nih, abang nyuruh Yunda cepet-cepet ambil keputusan, jangan-jangan abang udah punya calon ya? Udah bang Farel aja yang duluan nikah, jangan jadi anggota ****** alias golongan karunghal hahaha..”
Farel hanya tersenyum tipis. Setelah mengetahui masa lalunya, tak ada kepercayaan dirinya hilang untuk mengejar gadis yang diam-diam dicintainya. Farel cukup tahu diri dengan statusnya yang hanya anak angkat. Dia mengusap puncak kepala Ayunda kemudian keluar dari kamar. Ayunda memandangi sang kakak, seperti ada yang aneh dengan dirinya.
🍁🍁🍁
**Kira² Farel naksir siapa ya🤔
__ADS_1
Ada yang bisa nebak?
Ngga bosen² mamake minta dukungannya sama kalian semua. Like, comment and vote, jangan lupa ya😉**