Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Galau


__ADS_3

Bilqis menatap pantulan dirinya di cermin. Rasanya tak percaya kalau tadi pagi dia sudah sah menyandang status sebagai nyonya Zahran. Dan kini, dirinya sedang bersiap untuk acara resepsi yang akan digelar kurang dari setengah jam lagi.


Penata rias sudah selesai mendandaninya. Bahkan kebaya modern warna peach sudah melekat di tubuh langsingnya. Rambutnya hanya disanggul sederhana saja, sesuai permintaannya agar tidak terlalu ribet.


Pintu ruangan terketuk, tak lama kemudian Zahran masuk. Dia pun sudah siap dengan tuxedo hitamnya. Bilqis menatap suaminya tak berkedip. Harus Bilqis akui kalau Zahran terlihat tampan malam ini.


Zahran berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Zahran berhenti tepat di depan Bilqis. Tubuh keduanya sangat dekat.


“Hai baby.. kamu cantik banget.”


Wajah Bilqis memerah. Walaupun sudah sering mendengar gombalan receh suaminya. Namun entah mengapa, pipinya selalu saja bersemu merah saat mendengarnya. Zahran melingkarkan tangannya di pinggang Bilqis kemudian menarik tubuh istrinya hingga tak berjarak. Lalu sebuah ciuman mendarat di bibir Bilqis.


“Abang.. ih nanti lipstikku berantakan,” Bilqis mencoba mendorong tubuh Zahran, tapi lelaki itu bergeming.


“Nanti tinggal dipoles lagi, biar penata riasnya ada kerjaan.”


Zahran kembali me**mat bibir Bilqis, menyesapnya bergantian antara bibir atas dan bawahnya. Bilqis pun pasrah saja. Kalau suaminya bersikeras, dia bisa apa. Pagutan bibir mereka belum berhenti, bahkan tangan Zahran sudah menjalar kemana-mana. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dengan cepat Bilqis melepaskan diri dari suaminya.


Sambil berdecak kesal, Zahran berjalan menuju pintu kemudian membukakannya. Tampak wajah Ayunda muncul dari balik pintu. Hampir saja Ayunda tertawa melihat bibir Zahran yang terkena noda lipstik. Gadis itu sudah bisa menebak apa yang barusan terjadi di dalam sana.


“Bang Za sama kak Iqis udah ditunggu tuh.”


“Oh iya. Kamu temenin Bilqis ya.”


“Siap bang. Tapi itu bibirnya dilap dulu, masa cowok pake lisptik,” Ayunda terkikik geli lalu masuk ke dalam ruangan. Zahran bergegas menuju ruangan sebelah seraya mengusap bibir dengan punggung tangannya.


Suasana sesaat menjadi hening ketika Ayunda berhadapan dengan Bilqis. Sejak kejadian pertengkaran keduanya di rumah Fahri, Ayunda memang memilih untuk menghindar dari Bilqis. Tapi hari ini Ayunda merasa perang dingin di antara mereka harus diakhiri.


“Gimana kabar kamu Yun?” Bilqis memecah kebisuan.


“Alhamdulillah baik. Kak Iqis udah siap? Ayo, udah ditunggu yang lain.”


“Yun.. bisa bicara sebentar?” Bilqis memegang tangan Ayunda.


“Aku minta maaf... maaf karena sudah berusaha mencelakaimu. Maaf karena sudah menyalahkanmu.. maaf sudah membuat hubunganmu dengan Rey berakhir.”


“Lupain aja kak. Aku udah maafin kakak.”


“Yun, apa kamu mencintai bang Ilan?”


Ayunda terdiam, jujur dia tak tahu harus menjawab apa. Jika bilang tidak, nyatanya dia memang menginginkan menjadi pendamping hidup Firlan. Jika bilang ya, saat ini tak ada getaran di hatinya setiap berdekatan dengan calon suaminya itu.


“Apa kamu benar-benar tidak memiliki perasaan pada Rey?”


Dada Ayunda berdetak kencang ketika mendengar nama Reyhan. Namun lagi-lagi Ayunda memilih diam. Bilqis tak memaksa, mungkin gadis itu tidak nyaman bercerita padanya.


“Aku cuma mau bilang Yun. Pikirkan baik-baik apa benar kamu ingin menikah dengan bang Ilan. Jangan sampai kamu menyesal. Sebelum semuanya terlambat, pikirkan lagi, siapa orang yang benar-benar kamu cintai. Apakah bang Ilan atau Rey.”


Ayunda hanya tersenyum tipis kemudian mengajak Bilqis menuju tempat resepsi. Karena acara resepsi akan dimulai sebentar lagi. Ayunda mengantarkan Bilqis sampai ke pelaminan, setelah itu dia turun. Bergabung dengan yang lainnya.

__ADS_1


Satu jam berlalu, tamu undangan semakin banyak berdatangan. Terdengar suara merdu Elang menyanyikan lagu bersama teman-temannya. Ayunda memilih menikmati pertunjukkan di meja yang ada di sudut. Sesekali senyumnya mengembang ketika melihat Firlan beraksi dengan gitarnya.


Sedang asik menikmati lagu, tiba-tiba Ayunda merasakan ada yang menarik-narik ujung hijabnya. Ayunda menoleh, terlihat Nanaz sudah berdiri di sampingnya.


“Ate..”


“Eh Nanaz. Mama mana?”


Anak itu hanya menggeleng lalu menarik tangan Ayunda menuju stand es krim. Tahu keinginan anak itu, Ayunda pun mengambilkan satu cup ek krim untuknya. Terdengar teriakan bahagianya.


“Nanaz.. kenapa makan es krim lagi?”


Jantung Ayunda berdegup kencang ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Suara yang dirindukannya akhir-akhir ini. Perlahan Ayunda membalikkan tubuhnya. Baik Ayunda dan Reyhan sama-sama terpaku.


Lamunan keduanya buyar ketika Nanaz menarik tangan mereka menuju stand puding. Ayunda mengambilkan puding untuk Nanaz. Kemudian gadis kecil itu kembali menarik tangan tante dan om-nya ke stand dimsum. Reyhan mengambilkan dimsum untuk keponakannya itu. Terakhir, Nanaz menarik mereka menuju meja yang tadi ditempati oleh Ayunda.


“Cini om cama ate..”


Nanaz menepuk kursi kosong di kanan kirinya. Ayunda dan Reyhan menuruti saja keinginan Nanaz. Ayunda menyuapi Nanaz dimsum, setelah itu puding. Setelah perutnya kenyang, anak itu pergi meninggalkan Ayunda dan Reyhan.


“Gimana kabarmu Ay?”


“Alhamdulillah baik kak. Kak Rey sendiri gimana?”


“Alhamdulillah. Lucu ya Ay, kita tetanggaan tapi jarang ketemu.”


“Hmm.. kamu juga. Sibuk ngurusin pernikahan.”


Suasana kembali hening. Entah mengapa Ayunda tak suka Reyhan mengatakan hal itu. Mengingat sebentar lagi dirinya akan menyusul Bilqis duduk di pelaminan, mendadak membuatnya gelisah.


“Kak Rey..”


“Ay..”


Keduanya berbicara bersamaan namun tak melanjutkan ucapannya. Hanya mata mereka saja yang saling memandang dan mengunci. Tatapan Reyhan yang sarat akan kerinduan dan pandangan Ayunda yang tak dapat diartikan.


“Kak Rey mau bilang apa?”


“Hmm.. selamat untuk kamu. Kamu menang Ay.. kamu berhasil membuat bang Ilan jatuh cinta padamu. Sebentar lagi keinginanmu akan terwujud, menjadi nyonya Firlan.”


Ayunda memanyunkan bibirnya, Reyhan terkekeh melihatnya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya pria itu menangis.


“Kamu sendiri mau bilang apa?”


“Maaf...”


“Untuk?”


“Untuk semuanya. Maaf kalau aku sudah menyakiti kak Rey, maaf karena sudah memberi harapan palsu, maaf karena aku menyalahkan kak Rey atas sikap kak Iqis waktu itu.”

__ADS_1


“Lupakan soal Bilqis. Kamu ngga lihat dia bahagia banget di atas sana. Dari tadi ngga berhenti tersenyum. Aku yakin, giginya pasti kering.”


Ayunda terkikik geli. Reyhan memang selalu bisa membuatnya tertawa, kadang juga membuatnya salah tingkah bahkan tak jarang membuat hatinya berbunga-bunga. Ayunda tersentak, mengapa kini hanya Reyhan yang ada dalam pikirannya.


“Kak Rey ngga marah sama aku?”


“Marah kenapa? Aku yang berterima kasih sama kamu Ay. Kamu udah kasih aku kesempatan berjuang untuk meluluhkan hati kamu. Tapi kalau ternyata kamu lebih memilih bang Ilan, aku ikhlas. Seperti yang aku pernah bilang, melihatmu bahagia adalah prioritasku. Jika kamu bahagia bersama bang Ilan, aku juga bahagia.”


Kata-kata Reyhan yang bijak dibalut dengan nada suaranya yang lembut serta diiringi senyuman manisnya, sukses menohok batin Ayunda. Hatinya serasa ditusuk sembilu tajam, meninggalkan luka yang dalam. Tiba-tiba saja matanya memanas. Tanpa berpamitan, Ayunda pergi menuju toilet.


Ayunda duduk di atas kloset. Airmatanya sudah terjun bebas membasahi pipinya. Kenapa hatinya terasa begitu sakit. Reyhan yang menerima penolakannya tetapi mengapa seperti dia yang patah hati. Ayunda terus saja menangis, menumpahkan kesedihan dalam hatinya.


Setelah setengah jam berdiam diri di toilet, Ayunda keluar. Matanya sedikit bengkak. Bergegas dia keluar dari tempat resepsi. Di lobi hotel, Ayunda berpapasan dengan Farel. Pria itu terkejut melihat adiknya yang seperti habis menangis.


“Kamu kenapa dek?”


“Bang.. anterin Yunda pulang ya.”


Farel hanya mengangguk. Dia merangkul Ayunda berjalan menuju tempat parkir. Setelah membukakan pintu mobil untuk adiknya, Farel menyusul masuk. Tak lama kendaraannya mulai melaju. Ayunda kembali menangis. Walau penasaran, Farel tak ingin bertanya. Dia membiarkan sang adik menumpahkan semua kesedihannya lewat airmata.


Mobil yang dikendarai Farel sudah sampai di depan rumah. Ayunda sendiri sudah berhenti menangis. Saat gadis itu akan membuka pintu, Farel memanggilnya.


“Dek...”


Ayunda menunda untuk membuka pintu, dia melihat ke arah Farel. Dari tatapan matanya, Ayunda tahu kalau kakaknya ingin membicarakan sesuatu.


“Apa karena Rey kamu nangis?”


Diam, tak ada jawaban dari Ayunda yang berarti tebakan Farel benar adanya. Farel membuka seat belt-nya lalu menyandarkan punggungnya ke jok. Diliriknya Ayunda seraya menyugar rambutnya ke belakang.


“Siapa sebenarnya yang kamu cintai, Ilan atau Rey?”


“Aku ngga tahu bang.”


“Abang tahu kamu menginginkan suami seperti ayah atau El. Dan kamu melihat gambaran itu pada diri Ilan. Abang cuma takut kamu salah memahami perasaanmu sendiri. Terkadang tanpa sadar pikiran mendistorsi perasaan. Kamu melihat Ilan seperti gambaran sosok pujaanmu dan menyangka kalau itu adalah cinta. Abang minta, pikirkan lagi siapa yang ada di hatimu, Ilan atau Rey, sebelum semuanya terlambat.”


Ayunda diam merenungi ucapan sang kakak. Kemudian tangannya bergerak membuka pintu mobil. Sebelum turun, dia menoleh pada Farel.


“Abang juga, jangan terlalu lama memendam perasaan. Jangan sampai dia diambil orang.”


“Ck.. dasar adek nyebelin. Dinasehatin malah balik nasehatin,” gerutu Farel.


🍁🍁🍁


**Neng Ay gaslau.. gimana dong, kan udah Nerima lamaran bang Ilan.


Masih penisirin sama cewek yang disuka bang Farel nih..


Like, comment and vote nya ya😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2