Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Menunggumu di Pintu Surga


__ADS_3

Rooftop di kediaman Regan sudah didatangi sanak keluarganya. Irzal, Poppy, Elang, Azkia, Aslan, bahkan pasangan pengantin yang baru menikah seminggu lalu juga datang. Ara memilih duduk di dekat Rain. Dia sudah tidak sabar ingin mengelus perut buncit ibu hamil tersebut.


“Duh makin buncit aja nih perut,” seru Ara seraya mengusap perut Rain.


“Kamu kapan nyusul?”


“Ish apaan sih kak.”


“Udah diapain aja sama bang Farel?”


Ara memalingkan wajahnya ke arah lain. Pipinya merona mendengar pertanyaan frontal Rain. Diliriknya Farel yang sedang berbicara serius dengan Akhtar dan Elang. Seminggu ini babak belur Ara dibuatnya. Semua pekerjaan rumah harus dia kerjakan. Jari dan tangannya juga sudah merasakan sayatan pisau dan cipratan minyak panas. Namun Farel nampak tak peduli.


Setelah beberapa saat menunggu, sang pemilik hajat datang juga ke rooftop. Reyhan bersama Nanaz menghampiri tamu yang sudah lebih dulu tiba. Tak berapa lama Ayunda muncul dengan kue ulang tahun di tangannya. Terdengar suara merdunya menyanyikan lagu ulang tahun untuk sang suami.


“Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday dear husband.. happy birthday to you,” Ayunda berhenti di depan Reyhan seraya menyunggingkan senyuman manis.


“Happy birthday mas.. semoga keberkahan selalu mengiringi langkahmu. Dimudahkan semua urusanmu, dikabulkan semua keinginanmu dan semakin mencintaiku.”


“Terima kasih sayang. I love you more and more each day.”


Reyhan memegang bahu Ayunda kemudian mendaratkan ciuman hangat di keningnya. Satu per satu orang di sana mengucapkan selamat ulang tahun pada Reyhan. Ayunda meletakkan kue di atas meja, lalu tangannya mengambil kotak persegi panjang kecil dari saku gamisnya. Dihampirinya Reyhan yang berdiri tak jauh darinya.


“Mas.. selamat ulang tahun. Ini kado dariku.”


Reyhan menerima kotak kecil dari Ayunda. Dengan isyarat kepala, Ayunda meminta Reyhan membuka kotak tersebut. Perlahan Reyhan membukanya, matanya membulat melihat sebuah testpack dengan tulisan YES di dalamnya.


“Ayang... kamu...”


“Iya mas, kita akan segera menjadi orang tua.”


“Makasih sayang... makasih.. ini kado terindah yang mas dapat.”


Reyhan menciumi wajah Ayunda tanpa malu. Kemudian mengangkat tubuh Ayunda lalu memutarnya pelan. Semua yang hadir penasaran dengan apa yang terjadi. Reyhan menurunkan Ayunda kemudian menatap semua orang.


“Istriku hamil! Aku akan menjadi seorang ayah!”


Seru Reyhan penuh kebahagiaan. Semua yang hadir mengucapkan hamdalah. Sarah dan Poppy menghambur ke arah Ayunda. Pelukan dan ciuman dihadiahkan kedua wanita itu. Kemudian Regan dan Irzal juga menghampiri. Irzal menarik Ayunda ke dalam pelukannya lalu mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.


“Selamat nak.. ayah sangat bahagia.”


“Makasih yah..”


“Selamat Rey,” Regan menepuk bahu sang anak.


“Kamu harus sabar menghadapi istrimu yang hamil. Moodnya mudah berubah, jangan membuatnya sedih apalagi stress.”


“Iya pa.”


Ucapan selamat terus bergulir dari yang datang. Reyhan merasakan kebahagiaan berlipat malam ini. Tangannya sedari tadi tak henti mengusap perut Ayunda yang masih rata. Perhatiannya teralihkan sejenak ketika Aslan mendekatinya. Reyhan segera meraup Aslan dalam gendongannya.


“Bang Aslan sebentar lagi mau punya adik.”


“Maca?”


“Iya. Di perut ate Yunda ada dede bayi,” Reyhan menunjuk perut Ayunda. Aslan mengangguk-angguk saja tanda mengerti.


“Bang Aslan minta dede juga sama ayah, biar langsung dapet dua nanti,” bujuk Reyhan yang langsung mendapat pelototan dari Elang.


“Nikmatin aja dulu masa bahagia kamu Rey. Nanti kalau Yunda sudah melahirkan kamu bakal puasa empat puluh hari. Dan ngga bisa nyusu selama dua tahun.”


Balas Elang enteng, membuat Reyhan mendelik sebal ke arahnya. Azkia mendaratkan tepukan di lengan suaminya.


“Bang Aslan mau nginep di ate Yunda?” tawar Elang.


“Jangan macem-macem mas.”


Reyhan menatap tajam kakak iparnya itu. Elang terkekeh, senang rasanya mengganggu calon ayah itu. Ayunda menarik tangan Reyhan agar kembali duduk di dekatnya setelah Aslan turun dari gendongan. Dia mengarahkan tangan suaminya ke arah perut. Reyhan kembali mengusap perut Ayunda. Usapan Reyhan mampu menetralisir rasa mual setelah makan.


🍁🍁🍁


Reyhan keluar dari walk in closet. Kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam sudah melekat di tubuhnya. Ayunda yang sedang berbaring di kasur, menatap tanpa berkedip ke arah suaminya.

__ADS_1


“Mas...”


Reyhan menyunggingkan senyuman tipis begitu mendengar suara sang istri memanggilnya. Setelah mengetahui dirinya sedang mengandung, Ayunda mempunyai kebiasaan baru setiap paginya. Sebelum berangkat dia selalu mengajak Reyhan bercinta. Dan anehnya dia selalu meminta itu di saat Reyhan sudah siap dengan pakaian kerjanya. Pernah satu kali Reyhan sampai datang terlambat ke rumah sakit akibat permintaan sang istri. Untung saja pasiennya mau menunggu setengah jam lebih lama dari jadwal konsultasi.


“Kenapa Ayang?”


“Mau itu...”


Ayunda menyatukan kedua jari telunjuknya dengan malu-malu. Reyhan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Ayunda masih saja malu saat memintanya, padahal hampir tiap hari dia merengek. Reyhan melangkahkan kakinya mendekati sang istri.


Ayunda turun dari ranjang lalu membuka satu per satu kancing kemeja Reyhan. Setelah kemeja terlepas, tangan Ayunda bergerak membuka celana sang suami. Tangannya terus bergerak melucuti semua benang yang melekat di tubuh Reyhan. Senyumnya mengembang sempurna melihat tubuh polos suaminya.


“Mau kamu atau mas yang buka?”


Reyhan memegang ujung daster yang dikenakan oleh Ayunda. Karena tak ada jawaban dari sang empu, dengan sekali tarikan Reyhan melepas daster yang melekat di tubuh istrinya. Reyhan mengulum senyum melihat tubuh sang istri yang tak mengenakan da**man. Sepertinya Ayunda memang sudah bersiap untuk olahraga pagi.


Reyhan menggendong Ayunda lalu membawanya ke sofa. Dia mendudukkan diri di sana dengan Ayunda berada di pangkuannya. Bibirnya mulai menyambar bibir ranum Ayunda. Me**mat dan men**lum bibir itu tanpa henti. Sesekali mereka berhenti untuk mengambil nafas, kemudian melanjutkan kembali pertautan bibir mereka.


Cukup dengan pemanasan, Reyhan mulai menyatukan miliknya dengan Ayunda. Kali ini dia memilih melakukannya dengan berdiri. Punggung Ayunda bersandar di dinding kamar. Tangan Ayunda memeluk erat leher Reyhan, kedua kakinya melingkar di pinggang sang suami. Reyhan mulai bergerak naik turun, bibirnya tak henti memberikan lu**tan dan pagutan.


Reyhan memeluk Ayunda setelah sesi bercintanya selesai. Ayunda menyurukkan kepalanya ke dada Reyhan, sedang tangannya mengusap-usap perut suaminya.


“Mas, ngga ke rumah sakit.”


“Hari ini mas libur.”


“Terus kenapa tadi udah rapih aja kaya yang mau kerja.”


“Sengaja sayang, biar diajakin yang enak-enak sama kamu,” Reyhan tergelak, Ayunda mencubit perut suaminya dengan gemas.


“Mas, nanti anter ke butik mama Al ya. Mau ambil gaun buat resepsi nanti malem. Jasnya mas Rey juga udah beres. Tinggal ambil aja.”


“Ok sayang. Sekarang turun yuk, kita sarapan. Kamu juga belum minum susu hamil.”


“Iya mas.”


Reyhan bangun dari tidurnya kemudian mengangkat tubuh Ayunda ke kamar mandi. Mereka harus membersihkan diri dulu sebelum turun ke bawah.


🍁🍁🍁


Dari arah pintu masuk, nampak Farel dan Ara masuk ke dalam ballroom. Keduanya terlambat sedikit datang ke acara resepsi karena perdebatan mengenai gaun yang dikenakan Ara. Berulang kali Farel menyuruh Ara berganti pakaian karena pakaian yang dikenakan istrinya itu dinilai terlalu terbuka.


Keduanya langsung melangkah menuju pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Farel memeluk Hanin yang malam ini tampil cantik dengan gaun pernikahan berwarna dusty pink. Tak ada tatapan cemburu dari Firlan maun Ara. Mereka hanya melihat dengan wajah datar melihat pasangannya berpelukan.


“Ayo foto bareng dulu,” usul yang fotografer.


Farel dan Ara segera mengambil tempat di samping sang pengantin. Tak ada pelukan atau rangkulan antara Farel dan Ara, begitu pula dengan pasangan pengantin. Dengan gemas fotografer kembali mendekat untuk memberikan pengarahan. Farel dan Ara diminta berdiri di sisi kanan dan kiri pengantin.


Tanpa diminta Ara memeluk lengan Firlan, begitu pula dengan Farel yang langsung merangkul Hanin. Sang fotofrafer hanya menggeleng pusing. Kenapa kedua pasangan itu malah lebih nyaman bergaya mesra bukan dengan pasangannya sendiri. Tak ingin berlama-lama, fotografer tersebut mulai mengabadikan kedua pasangan tersebut.


Selesai berfoto, Farel dan Ara turun dari panggung pelaminan. Setelah itu keduanya berpisah, Farel memilih menghampiri para sahabatnya, Ara memilih berburu makanan di stall.


Sementara itu sang pengantin sudah bisa kembali duduk, karena belum ada tamu yang hendak memberikan ucapan selamat. Hanin menghela nafasnya melihat wajah Firlan yang tanpa ekspresi.


“Bang... aku mohon tersenyum, jangan seperti itu terus. Kalau abang ngga mau melakukannya untukku, lakukan untuk orang tua kita. Lihat mama, papa, mami dan papi ngga berhenti tersenyum. Mereka bahagia melihat kita bersanding seperti ini.”


“Abang ngga.”


“Aku tahu tapi apa salahnya membahagiakan mereka. Apa abang ngga lihat para tamu melihat aneh sama kita. Kalau abang seperti ini, mereka mengira kita menikah karena terpaksa.”


“Memang terpaksa kan.”


“Terserah abang aja. Sesulit itukah untuk tersenyum? Padahal senyum itu ibadah!”


Hanin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ingin rasanya dia menangis melihat sikap Firlan. Semenjak mengucapkan ijab kabul hingga detik ini tak ada senyum yang diperlihatkan padanya. Setiap orang yang melihat pasti akan beranggapan pria itu menikah karena terpaksa.


Hanin melirik ke arah Firlan yang sepertinya tengah asik menikmati sesuatu. Mata Hanin bergerak mengikuti arah pandang Firlan. Hatinya serasa ditusuk beribu jarum ketika menyadari sedari tadi Firlan tak melepaskan pandangannya dari Ayunda. Hanin menepuk-nepuk dadanya pelan untuk meredakan rasa sesak di dada.


Ayunda yang tak sadar menjadi perhatian pasangan pengantin terus saja meminta suaminya mengambilkan makanan. Entah sudah ke berapa kalinya Reyhan bolak-balik ke stall mengambil pesanan sang istri. Reyhan meletakkan puding di atas meja kemudian duduk di samping Ayunda.


Setelah menghabiskan siomay, Ayunda langsung menyambar puding yang tadi dibawakan suaminya. Reyhan tersenyum melihat mulut istrinya yang tak berhenti mengunyah.

__ADS_1


“Habis ini mau apalagi?”


“Ngga ah, udah kenyang. Kita pulang aja yuk mas.”


“Hmm.. dasar anak SMP, Sudah Makan Pulang.”


Ayunda mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan sang suami. Reyhan yang tak tahan melihat bibir sang istri segera mengecupnya.


“Mas ih, malu tahu dilihatin orang.”


“Biarin aja, udah halal ini.”


“Dasar... ayo ah pulang.”


Ayunda bangun dari duduknya yang langsung diikuti Reyhan. Tangan Reyhan langsung memeluk pinggang istrinya posesif saat menyadari beberapa pasang mata melihat ke arah Ayunda.


Reyhan membukakan pintu mobil untuk Ayunda, tak lama kemudian dia menyusul naik. Setelah memasangkan seat belt pada sang istri juga dirinya, Reyhan mulai menjalankan kendaraannya.


Mobil yang dikendarai Reyhan tak langsung menuju pulang. Dia mengarahkan kendaraan menuju daerah Dago atas. Ayunda yang mengetahui arah tujuan suaminya hanya membiarkan saja. Lima belas menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Tempat yang sama saat dirinya juga Ayunda menyatakan perasaannya.


Reyhan membantu istrinya turun dari mobil. Mereka menuju salah satu bangku yang letaknya tak jauh dari mobilnya. Ayunda mendudukkan diri di sana disusul oleh Reyhan. Untuk sesaat keduanya hanya terdiam menikmati kelap kelip lampu ditemani semilir angin malam.


Ayunda menyandarkan kepalanya di dada Reyhan lalu membawa tangan suaminya ke arah perut. Hobi barunya saat ini adalah menikmati usapan sang suami di perutnya.


“Apa mas bahagia menikah denganku?”


“Tentu saja. Kadang mas merasa ini seperti mimpi. Bertahun-tahun memendam cinta padamu, akhirnya Allah menyatukan kita dalam pernikahan. Bahkan sekarang sudah ada calon anak kita di sini,” Reyhan mengusap perut rata Ayunda.


“Terima kasih mas karena sudah mencintaiku, terima kasih untuk tidak menyerah mengejarku dan menungguku.”


“Karena kamu layak untuk dikejar dan ditunggu Ay.”


Reyhan menyatukan keningnya dengan kening Ayunda lalu mendaratkan kecupan di pipi sang istri.


“Jangan berhenti mencintaiku mas.”


“Mas tidak akan berhenti mencintaimu walau nyawa ini sudah meninggalkan raga karena mas akan menunggumu di pintu surga.”


“Aamiin..”


“I love you Ayang.”


“I love you mas Rey.”


Reyhan mendekatkan wajahnya lalu mencium mesra bibir Ayunda. Pagutan bibir basah Reyhan terasa begitu manis, lembut dan sarat akan cinta. Ayunda memejamkan matanya menikmati pagutan demi pagutan sang suami. Reyhan mengakhiri ciumannya lalu menarik Ayunda ke dalam pelukannya.


Bulan dan bintang di atas sana menjadi saksi cinta pasangan muda ini. Angin turut merayakan kebahagiaan mereka dengan sapuan lembut yang menerpa tubuh keduanya. Cinta mereka yang diawali dengan airmata akhirnya berakhir dengan senyuman indah. Happily ever after Rey and Ay. Hope your love will last forever.


-------------------------- THE END ---------------------------


**Akhirnya kisah pasangan uwu ini selesai juga ya. Mudah²an kalian suka sama endingnya. Tapi masih ada bonchapnya kok, tenang aja. Masalah bang Farel and Ilan belum beres, kisah mereka ada di bonchap😉


Pasangan uwu juga nanti nongol lagi kok di bonchap.


Kalau mamake boleh tau, dari empat kisah cinta di novel ini. Kisah siapa yang paling kalian suka?


a. Season 1 : Dimas & Ily


b. Season 2 : Rain & Akhtar


c. Season 3 : Elang & Azkia


d. Season 4 : Reyhan & Ayunda


Kasih tau mamake ya di kolom komentar.


In Syaa Allah besok kita mulai bonchapnya. Sekarang dukungannya dulu dong, like, comment and vote😘😘


Kang dokter Rey yang ganteng, ngga pernah bosen mamake lihat😍**


__ADS_1


__ADS_2