Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Terkuak


__ADS_3

Dua hari berselang Jayden memberikan kabar kalau dokter Trevor sudah kembali ke rumahnya. Tanpa membuang waktu Regan dan Akhtar bergegas menuju ke rumah dokter kandungan tersebut yang berada di daerah Cihapit. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sana. kondisi rumah dokter Trevor tampak sepi. Regan menghampiri satpam yang menjaga rumah.


“Permisi saya mau bertemu dengan dokter Trevor. Apa bapaknya ada?”


“Maaf dengan siapa pak?”


“Saya Regan. Saya rekannya di rumah sakit.”


“Oh maaf pak. Mari silahkan masuk, bapak baru saja tiba pagi tadi.”


Satpam tersebut memandu Regan dan Akhtar memasuki rumah. Dia lalu menghampiri asisten rumah tangga. Memintanya untuk memanggilkan sang tuan rumah setelah itu kembali berjaga di posnya. Sepuluh menit kemudian dokter Trevor keluar dari kamarnya. Dia segera menuju ke ruang tamu.


Raut dokter Trevor menunjukkan keterkejutan melihat kedatangan Akhtar juga Regan. Dengan sedikit kikuk dia menghampiri kedua tamunya tersebut. Akhtar mengepalkan tangannya erat, rasanya sudah tak sabar memberikan bogemnya pada dokter yang sudah membuat hidupnya jungkir balik.


“Dokter Regan ada perlu apa datang kemari?”


“Apa anda tidak bertanya padaku dok? Apa anda sudah lupa pada saya?” sela Akhtar.


“Tentu saja saya ingat pak Akhtar. Bagaimana kabar anda? Ada yang ingin anda tanyakan lagi soal kondisi anda?”


“Brengsek!”


Akhtar sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Dia merangsek maju ke arah dokter Trevor, mencengkeram erat leher kemeja pria itu lalu melayangkan bogem mentahnya. Seketika tubuh dokter Trevor tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


“Apa yang anda lakukan? Saya akan melaporkan pada polisi perbuatan anda ini.”


“Silahkan saja. Saya juga akan melaporkan anda karena sudah melakukan mala praktek. Dokter telah memalsukan hasil pemeriksaan saya.”


“Jangan asal menuduh, apa anda punya buktinya?” dokter Trevor bangun lalu menghampiri Akhtar, dia menantang balik.


“Bukti dan saksi akan saya dapatkan. Dan saya akan pastikan dokter kehilangan lisensi anda untuk selamanya.”


“Dokter Trevor saya mohon kerjasamanya. Kami hanya ingin kejelasan apa alasan dokter memalsukan hasil pemeriksaan menantu saya?”


“Sekali lagi saya tanya apa kalian memiliki bukti?! Saya bisa tuntut kalian atas pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.”


“Silahkan, saya tidak takut. Kita lihat siapa yang akan mendekam di balik penjara nantinya.”


Akhtar sudah benar-benar geram pada pria di hadapannya karena terus saja menyangkal. Hanya Regan yang masih bersikap tenang. Dia mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan foto-foto juga video pada ponsel dokter Trevor. Dengan isyarat Regan menyuruh rekannya itu memeriksa ponselnya. Dokter Trevor membuka pesan yang dikirimkan Regan, matanya membulat melihat isi foto dan video tersebut.


“Sekali lagi saya minta kerjasamanya. Kalau tidak foto dan video ini akan sampai ke tangan istri dan juga mertua anda.”


“Dokter saya mohon jangan begini. Apa salah saya pada dokter?”


“Salahmu karena sudah berani mengusik kehidupan anak dan menantu saya. Sekarang pilih salah satu, bicara jujur atau kita bertemu di kantor polisi. Bersiaplah kehilangan karier dan keluarga anda, pikirkan baik-baik.”


“Baiklah, silahkan duduk dulu. Saya akan menceritakan semuanya.”


Dokter Trevor duduk di sofa, disusul oleh Regan dan Akhtar. Dia memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman.


“Sebelumnya saya minta maaf karena perbuatan saya sudah membuat masalah di keluarga kalian. Sungguh tidak ada maksud saya untuk melakukan ini. Saya terpaksa karena dia mengancam saya. Foto dan video yang dokter perlihatkan pada saya adalah kesalahan yang saya lakukan setahun yang lalu saat menghadiri seminar di Surabaya. Karena mabuk, saya tidur dengan salah satu wanita penghibur.”

__ADS_1


Dokter Trevor berhenti sejenak, terdengar helaan nafasnya dan guratan penyesalan di wajahnya.


“Sesudah Akhtar melakukan pemeriksaan, tiba-tiba seorang pria datang dan meminta saya untuk memberikan hasil pemeriksaan palsu. Dia mengancam akan memberikan foto dan video saya dengan wanita malam itu pada istri saya kalau saya tidak mau menurutinya. Oleh karena itu saya meminta suster Nia membantu saya menjalankan rencana itu.”


“Apa dokter punya bukti?”


“Tentu saja, saya bukan orang bodoh. Saya merekam percakapan kami dan juga meminta rekaman cctv sebagai bukti kedatangan pria itu.”


Dokter Trevor masuk ke dalam kamarnya. Tak lama dia kembali dengan membawa laptop. Regan dan Akhtar duduk mendekat padanya ketika laptop mulai menyala. Dokter Trevor memperdengarkan rekaman suaranya dengan pria misterius tersebut. Kemudian memperlihatkan cctv yang merekam wajah pria tersebut.


Mata Akhtar memicing melihat sosok pria dalam rekaman cctv. Wajahnya terlihat tak asing, dia seperti pernah melihat pria tersebut. Akhtar terus memperhatikan pria tersebut, otaknya berusaha keras mengingat di mana mereka pernah bertemu. Sesaat kemudian dia berhasil mengingatnya.


“Pria ini...”


“Kamu kenal dia?”


“Ngga pa, tapi kami pernah bertemu. Kami bertemu saat bulan madu ke puncak, ketika kita makan siang di salah satu restoran. Dia yang menyarankan aku untuk melakukan tes kesuburan.”


“Berarti mereka sudah merencanakan ini dengan matang. Mereka bahkan mengikuti kalian. Apa dokter Trevor tahu siapa dalang dibalik ini semua?”


“Saya tidak tahu. Setelah pria itu menemui saya, saya meminta salah satu mahasiswa saya untuk mengikutinya. Pria itu menuju panti rehabilitasi untuk orang yang terkena gangguan mental. Tapi saya tidak tahu siapa yang ditemuinya.”


Tubuh Regan menegang mendengar informasi yang disampaikan oleh dokter Trevor. Pikirannya langsung melayang pada sosok di masa lalunya. Orang yang telah memberikan banyak luka padanya juga Sarah. Akhtar menangkap perubahan sikap mertuanya, membuatnya beratanya-tanya.


“Di mana panti itu?”


“Di daerah Lembang. Sebentar saya kirimkan alamatnya.”


Ponsel Regan bergetar setelah dokter Trevor mengirimkan alamat panti rehabilitasi yang dimaksud. Tanpa ingin membuang waktu, Regan segera pamit. Semua masalah ini harus diselesaikan hari ini juga. Akhtar yang masih bingung hanya mengikutinya saja.


Suasana panti rehabilitasi tidak terlalu ramai. Gedung berlantai sepuluh ini merupakan panti yang khusus mengurus orang-orang yang mengalami gangguan mental. Pemerintah setempat selalu mengirimkan penderita gangguan jiwa yang berkeliaran di jalan ke tempat ini. Panti Sumber Waras ini merupakan proyek kerjasama pemerintah provinsi dengan NGO dari Jepang.


Regan berjalan menuju meja resepsionis. Seorang wanita berusia dua puluhan segera menyambutnya dengan senyuman ramah. Akhtar mengikuti Regan tanpa berani bertanya apapun padanya.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu pak?”


“Selamat siang. Saya mau bertanya apa di panti ini ada pasien yang bernama Vanya Renilda?”


“Dokter Vanya? Iya, dokter Vanya memang tinggal di sini. Dia sering membantu kami menangani pasien yang terluka atau yang mencoba bunuh diri.”


“Apa dia sudah sembuh?”


“Maaf, bapak siapanya bu Vanya?”


“Saya rekan kerjanya dulu di rumah sakit. Nama saya Regan Vaughan, ibu bisa mengecek saya ke rumah sakit Ibnu Sina. Dulu dokter Vanya bekerja bersama saya di sana.”


“Dokter Vanya pernah bercerita tentang itu. Kalau ingin menanyakan tentang dokter Vanya, lebih baik bapak bertemu dengan dokter Rais, beliau yang menangani dokter Vanya.”


“Bisa saya bertemu dengan dokter Rais?”


“Silahkan pak. Beliau ada di lantai tiga. Cari saja ruangan dengan nama beliau.”

__ADS_1


“Baik, terima kasih.”


Regan dan Akhtar bergegas menuju lantai tiga. Setelah keluar dari lift, mereka mencari ruangan dokter Rais. Ruangan dokter ahli jiwa itu ternyata ada di bagian paling ujung. Setelah mengetuk pintu, Regan dan Akhtar masuk ke dalam ruangan. Dokter Rais cukup terkejut melihat kedatangan Regan. Dia segera mempersilahkan tamunya untuk duduk.


“Anda pasti dokter Regan.”


Regan terkejut, sebelum memperkenalkan diri ternyata dokter Rais sudah mengetahuinya. Dokter berkacamata itu hanya tersenyum melihat keterkejutan Regan.


“Dokter Vanya banyak bercerita tentang anda. Dia juga masih menyimpan foto anda dengan baik. Terkadang emosinya juga meledak ketika mengingat anda. Sepertinya kenangan tentang anda begitu melekat dalam ingatan dan hatinya.”


“Apa keluarganya masih mengunjunginya?”


“Setelah kedua orang tuanya meninggal, tidak ada lagi yang mengunjunginya.”


“Bagaimana keadaannya saat ini dok?”


“Sudah lebih baik tapi belum sepenuhnya pulih. Kematian orang tuanya sempat membuat kondisinya memburuk. Tapi sekarang kondisinya sudah lebih tenang. Dia bahkan sudah bisa bersosialisasi dengan baik. Akhir-akhir ini dia senang mengikuti perkembangan melalui media sosial. Ada berita yang membuatnya tertarik akhir-akhir ini. Hmm.. soal cinta segitiga.”


Dokter Rais tertawa pelan mengingat bagaimana Vanya selalu mengikuti perkembangan gossip tentang pasangan yang terlibat cinta segitiga. Lalu pandangannya tertuju pada Akhtar. Keningnya berkerut saat menatap Akhtar. Dia membuka ponselnya, mencari berita yang sering diikuti oleh Vanya.


“Kamu... Akhtar, yang terlibat cinta segitiga dengan Chalissa juga Rayna?”


Akhtar berdehem mendengar pertanyaan dokter Rais. Tubuh Regan semakin menegang. Vanya mengikuti pemberitaan tentang anak dan menantunya.


“Dia menantu saya dok, dan Rayna adalah anak saya. Maaf sebelumnya apa akhir-akhir ini ada yang sering menemui Vanya?”


“Ya, sepasang suami istri. Sudah hampir tiga bulan mereka rutin datang ke sini.”


“Pa... apa dia...” Akhtar tak meneruskan kalimatnya ketika melihat anggukan papa mertuanya.


“Sebenarnya ada masalah apa?”


“Apa dokter bisa membantu kami?”


“Katakan. Apa ini berhubungan dengan Vanya?”


Regan mengangguk. Setelah mengambil nafas panjang Regan mulai menceritakan maksud dan tujuan mereka datang ke sini. Kecurigaannya pada Vanya sebagai dalang yang mencoba merusak rumah tangga anaknya. Dokter Rais menghela nafas panjang. Sebelumnya dia sudah bisa menduga kalau Vanya akan berbuat nekad mengingat kebencian sekaligus rasa cintanya pada Regan.


“Saya ingin bertemu dengannya dok. Sepertinya urusan kami di masa lalu masih belum selesai. Saya harus menyelesaikannya hari ini juga. Saya tidak ingin dia terus menerus mengganggu ketentaraman keluarga saya.”


“Baiklah, saya akan menemani. Saya khawatir dia akan histeris dan berbuat nekad.”


Ketiganya berdiri kemudian keluar dari ruangan. Dokter Rais meminta dua orang perawat pria untuk mengikutinya lengkap dengan membawa suntikan yang berisi obat bius. Takut jika Vanya mengamuk. Ketiganya menuju lantai lima, tempat para pasien berkumpul untuk bersantai.


Vanya baru saja keluar dari toilet ketika menangkap sosok Regan memasuki ruangan tempat pasien menonton televisi. Saat yang bersamaan Regan pun melihat ke arahnya. Menyadari Regan telah melihatnya, Vanya berlari menghindar.


“Vanya!”


🍁🍁🍁


**Siapa yang masih inget Vanya?🙋 Teryata si ulet keket Vanya masih belum kapok juga ya.

__ADS_1


Maafkeun mamake, pagi2 mau up ternyata file nya masih di laptop🤦 Baru siang bisa buka laptop.


Jangan lupa habis baca buat like, comment n vote ya😉**


__ADS_2