
Sehabis shubuh Farel berangkat ke Jakarta bersama dengan Ara. Tak banyak pembicaraan selama dalam perjalanan. Farel cukup tegang menanti pertemuan dengan keluarga dari pihak mamanya. Bermacam pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Jam delapan pagi mereka sudah sampai di hotel Grand Sakura. Andra menyediakan kamar hotel gratis untuk Farel dan Ara di salah hotelnya. Setelah meletakkan barang di dalam kamar, mereka menuju restoran untuk mengisi perut lebih dulu.
Saat sedang mengambil makanan di buffet, Ara bersenggolan dengan sesorang. Dengan cepat dia meminta maaf. Namun permintaan maafnya tergantung di udara begitu tahu siapa orang yang telah disenggolnya.
“Hai.. ketemu lagi kita,” sapa orang itu yang ternyata adalah David. Ara tak menggubris perkataan pria itu, dia terus memasukkan makanan ke dalam piring.
“Sepertinya kita jodoh ya bisa bertemu kebetulan seperti ini.”
“Jodoh dari Hongkong,” gerutu Ara pelan.
David terus mengikuti Ara yang masih memilih makanan untuk sarapannya. Farel yang baru kembali dari toilet segera menghampiri sang istri.
“Pak Farel..”
“Eh pak David. Wah ngga nyangka bisa ketemu di sini.”
“Iya, kebetulan saya lagi ada kerjaan di Jakarta. Sendirian aja pak?”
“Saya dengan tunangan saya ke sini. By.. sini.. kenalin ini pak David, salah satu rekan bisnis abang.”
Ara mendekati Farel kemudian mengulurkan tangannya pada David. Untuk sesaat pria itu hanya tertegun, membiarkan tangan Ara menggantung di udara. Ara berdehem mengembalikan kesadaran pria tersebut. Dengan tergagap dia menyambut uluran tangan Ara seraya menyebutkan namanya.
“David.”
“Ara.”
“Kalau begitu saya permisi dulu pak Farel.”
Farel menggerakkan tangannya tanda mempersilahkan. David bergegas menuju meja yang agak jauh dari buffet. Dia memakan sarapannya sambil sesekali melihat ke arah Farel dan Ara. Gadis cantik yang sempat mencuri hatinya ternyata tunangan dari Farel, rekan bisnisnya. Perasaannya layu sebelum berkembang.
Farel meminjam ponsel Ara untuk memesan taksi online setelah menghabiskan sarapannya. Setelah memasukkan lokasi penjemputan dan lokasi yang dituju, Farel mengembalikan ponsel pada Ara.
“Kenapa naik taksi? Abang ngga tahu jalannya?”
“Ngga.. abang cuma mau tahu sesuatu aja.”
Ara tak melanjutkan pertanyaannya. Dia menghabiskan jus jeruk yang tinggal setengah. Sambil minum diperhatikannya penampilan Farel. Suaminya hanya mengenakan celana jeans dengan T-shirt saja. Dirinya pun dilarang memakai pakaian bermerk, cukup pakaian kasual saja. Entah apa tujuan suaminya itu.
Terdengar notif pesan di ponsel Ara. Pesan datang dari driver taxi yang mengatakan sudah tiba di lokasi penjemputan. Farel menggenggam erat tangan Ara keluar dari restoran. Taksi yang dipesannya sudah menunggu di depan lobi hotel. Keduanya memasuki kendaraan roda empat tersebut.
__ADS_1
Setelah berkendara selama kurang lebih setengah jam, akhirnya taksi yang ditumpangi Farel mulai memasuki daerah Pondok Indah. Daerah ini adalah salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan. Taksi terus melaju melewati deretan rumah besar nan mewah. Kemudian mobil tersebut berhenti di depan rumah besar bercat kuning gading.
Farel beserta Ara turun dari mobil. Sejenak Farel memandangi rumah besar di depannya. Keluarga Erika memang salah satu keluarga terpandang. Mereka mempunyai perusahaan di bidang ekspor import yang masih eksis dan terus berkembang hingga sekarang. PT. Alam Semesta adalah nama perusahaannya.
Sambil terus menggenggam Ara, Farel berjalan mendekati pagar rumah. Kedatangannya segera disambut oleh security yang berjaga.
“Mau bertemu siapa pak?”
“Saya mau bertemu dengan pak Teddy Limanbrata.”
“Sudah buat janji sebelumnya?”
“Belum. Tolong katakan saja, saya diutus oleh ibu Erika Limanbrata.”
Security yang bernama Bambang itu bergegas menghampiri seorang pria seumuran Farel. Terlihat Bambang menunjuk ke arah Farel. Pria itu memperhatikan Farel beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya. Bambang kembali ke tempatnya untuk membukakan pintu.
Pria yang tadi sedang memanaskan mobil masuk ke dalam rumah. Tak lama dia kembali dengan sepasang suami istri yang diyakini Farel sebagai tuan dan nyonya Teddy. Dengan dada berdebar Farel menghampiri satu-satunya keluarga yang dimilikinya dari pihak ibu.
“Siapa kamu? Ada hubungan apa kamu dengan Erika?”
Teddy bertanya to the point bahkan tanpa mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah. Wanita di sampingnya meneliti Farel dari atas sampai bawah. Demikian juga dengan pria yang memanggil Teddy. Sepertinya dia adalah anak dari Teddy.
“Erika sudah meninggal. Saya memang mendengar kalau dia sudah melahirkan anak dari hubungan terlarangnya dengan salah seorang artis. Lalu apa tujuanmu ke sini?”
“Saya hanya ingin bertemu dengan keluarga dari mama saya.”
“Untuk apa? Erika sudah keluar dari rumah ini bertahun-tahun yang lalu. Ketika dia lebih memilih benih di dalam perutnya dari pada keluarganya sendiri. Jadi, baik orang tua saya atau pun saya sudah tidak ada hubungan lagi dengannya.”
Farel mengepalkan tangannya erat. Ternyata bukan hanya Valen yang menolak kehadirannya, tapi keluarga Erika pun melakukan hal yang sama. Hati Farel semakin tersayat membayangkan kesulitan dan perjuangan sang ibu mengandung serta melahirkannya. Ara mengusap punggung Farel untuk memberikan ketenangan pada suaminya.
“Pergilah.. kami masih ada urusan yang lebih penting,” Teddy membalikkan tubuhnya, hendak masuk ke dalam rumah. Namun Farel menahannya.
“Boleh saya minta sesuatu?”
Teddy membalikkan tubuhnya kembali. Dengan pandangan tak suka dia melihat Farel. Tampak dengan jelas dia meremehkan keponakannya ini. Dengan nada bicara mengejek, dia berkata dengan sombongnya.
“Apa yang kamu minta? Warisan? Tak ada warisan untuk anak haram sepertimu. Sejak Erika melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini, sejak itu pula dia kehilangan seluruh haknya. Tapi kalau untuk ongkos pulang dan makan saya bisa memberikannya.”
Teddy mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan lalu mengasongkannya ke arah Farel. Ara yang sudah kesal dengan sikap Teddy hendak mengeluarkan semburannya, namun Farel buru-buru menahannya. Dia menggelengkan pelan kepalanya.
“Maaf pak, saya tidak butuh uang. Saya hanya minta foto ibu saya kalau bapak masih menyimpannya.”
__ADS_1
“Kami sudah membuang semua foto atau barang yang berhubungan dengannya. Jadi pergilah!”
Rahang Farel mengeras mendengarnya, namun sebisa mungkin dia menahan kemarahannya. Sejak awal dia memang sudah menyiapkan hati untuk kemungkinan buruk yang terjadi. Tanpa berkata-kata lagi, dia menarik tangan Ara keluar dari rumah tersebut.
Ara segera memesan taksi online untuk membawanya pergi. Mereka menunggu taksi di dekat taman. Farel masih saja bungkam, entah pikirannya melanglang buana kemana. Sambil menunggu taksi, Ara mengirimkan pesan suara yang berisikan percakapan Farel dengan Teddy yang diam-diam direkamnya tadi. Sebelum pergi, Elang sudah mewanti-wanti dirinya agar menjadi mata-mata saat pertemuan berlangsung.
Taksi pesanan mereka tiba. Tanpa menunggu lama, keduanya segera masuk dan mobil pun meluncur meninggalkan perumahan elit tersebut.
“Bang..”
“Hmm..”
“Abang ngga apa-apa?”
“Abang baik-baik aja.”
Farel tersenyum ke arah Ara kemudian merengkuh bahu Ara. Farel mendekap Ara seraya mencium puncak kepalanya. Ara tahu dibalik senyumnya, Farel menyimpan sejuta luka yang tak dapat dia ungkapkan.
🍁🍁🍁
Dari rumah Teddy, Ara tak langsung membawa pulang Farel ke hotel, tapi mengajaknya dulu berkeliling mall. Mereka mencoba bermacam permainan di sana. Keputusan Ara membawa Farel bermain sepertinya tepat. Suaminya itu nampak enjoy bermain game perang, balap motor, sampai mencoba permainan 4 dimensi.
Setelah makan siang, Ara mengajak Farel bermain ice skating. Walaupun mereka berdua belum bisa melakukan luncuran tapi keduanya sangat menikmati bermain di atas lantai es. Beberapa kali Farel tergelak saat dirinya terus saja terjatuh.
Puas bermain Ara mengajak Farel berbelanja. Dia berburu barang serba couple. Mulai dari mug, sweater, kaos, batik sampai jam tangan. Farel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ara. Tapi dia pun maklum, resiko menikah dengan ABG. Usai berbelanja, mereka kembali ke hotel.
Farel merangkak ke atas ranjang lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Ara. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Ara mengusap puncak kepala suaminya.
“Ra, sekarang kamu tahu siapa abang sebenarnya. Tanpa nama besar ayah, abang bukan siapa-siapa. Bahkan sejak dalam kandungan, kehadiran abang tidak diinginkan. Orang yang mengurus abang pun membuang abang ke jalanan karena menganggap abang hanyalah beban. Bahkan papa kandung abang memanfaatkan abang demi keuntungannya sendiri. Sebelum semuanya terlambat, abang ikhlas kalau kamu mau mengakhiri hubungan kita.”
Usapan Ara di kepala Farel terhenti begitu mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya ingin sekali gadis itu memukul kepala suaminya. Tapi sebisa mungkin dia menahannya, mencoba mengerti apa yang dirasakan Farel.
“Emang abang rela ngelepas Ara?”
🍁🍁🍁
**Kira² jawaban Farel apa ya?
Mamake sedih nulis part ini🤧
Dukungannya jangan lupa ya😘**
__ADS_1