Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Terpergok


__ADS_3

"PRANG!!!


Kaca meja rias di kamar Chalissa berserakan di lantai setelah wanita itu melemparnya dengan vas bunga. Berita pernikahan Akhtar dan Rain membuatnya geram. Andrea buru-buru menghampirinya.


“Ya ampun Lissa, kamu kenapa?”


“Kamu bohong kan An? Akhtar ngga nikah sama Rain kan?”


“Itu bener Lis.”


Andrea mengambil ponselnya kemudian membuka lama IG L’amour, di sana terposting undangan pernikahan Rain dan Akhtar disertai doa dari para karyawan L’amour. Bahkan jumlah likenya mencapai jutaan, padahal baru saja diposting tadi pagi.


“Antar aku ke Bandung An.”


“Mau ngapain? Kamu jangan aneh-aneh deh.”


“Aku harus batalin pernikahan itu. Akhtar ngga boleh nikah sama Rain!! Akhtar itu milikku!! Milikku!!”


“Sadar Lis, pernikahan kalian sudah batal. Dan kamu tahu siapa yang membatalkannya. Kamu sendiri juga langsung setuju, kalau emang kamu mencintai Akhtar harusnya kamu memperjuangkannya.”


“Pernikahanku emang batal tapi bukan berarti Akhtar bisa menikah dengan perempuan lain. Apalagi Rain! Aku ngga rela anak ingusan itu mendapatkannya apalagi menyentuhnya. Akhtar itu milikku!!”


“Sadar Lis! Kamu mau Akhtar jomblo seumur hidup? Biarkan dia meraih kebahagiaannya.”


“Rain ngga pantas mendapatkannya! Cuma aku yang pantas untuk Akhtar!!”


“Berkacalah Lis. Apa benar kamu pantas untuknya? Lihatlah dirimu, sudah berapa kali Jordy menyentuh tubuhmu, sudah berapa kali dirimu berada di bawahnya dan mendesahkan namanya! Kalau kamu mencintai Akhtar, harusnya kamu menjaga kehormatanmu hanya untuknya. Aku memang sahabatmu Lis, tapi bukan berarti aku harus tutup mata dengan semua kelakuanmu.”


“Pergi!!! Mulai hari ini kamu aku pecat!!”


“Tanpa kamu menyuruhku, aku akan mengundurkan diri dengan senang hati. Karena aku tidak bisa bekerja dengan orang egois sepertimu.”


Andrea keluar dari kamar Lissa seraya membanting pintu. Sepeninggal Andrea, membanting semua barang-barang di kamarnya. Kanaya dan juga para asisten rumah tangga tergopoh-gopoh memasuki kamar Chalissa. Kanaya terkejut anaknya sedang terduduk di lantai dengan berurai airmata.


“Lissa, kenapa kamu nak?” Kanaya menarik Chalissa dalam pelukannya.


“Akhtar ma, dia akan menikah dengan Rain. Aku ngga rela ma. Akhtar hanya milikku, hanya aku yang akan menikah dengannya.”


“Sudahlah sayang, mungkin dia bukan jodohmu. Mama janji akan mencarikan laki-laki yang baik untukmu yang lebih segalanya dari Akhtar.”


“Aku hanya mau dia ma, aku hanya mau Akhtar.”


Kanaya mengeratkan pelukannya. Rasanya sakit melihat anak perempuan semata wayangnya terluka seperti ini. Seandainya saja suaminya tidak bertindak gegabah memutuskan rencana pernikahan mereka, hal ini tidak akan terjadi.


🍁🍁🍁


Di saat keadaan rumah masih gelap, Chalissa berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Penghuni rumah belum ada yang bangun walau waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Hanya kesibukan di dapur yang terlihat. Beberapa asisten rumah tangga sudah mulai beraktivitas.

__ADS_1


Secepat kilat Chalissa menyambar kunci mobilnya yang tergantung di dinding kemudian menyelinap ke dalam garasi. Baru saja dia akan masuk ke mobilnya, seorang security menghampirinya.


“Non Lissa mau kemana?”


“Sssstttt... pak Slamet diem aja. Anggap aja ngga lihat aku pergi. Nanti aku kasih bonus buat anak istri, ok. Cepetan buka pintu.”


Pak Slamet bergegas membukakan pintu, tak lama kemudian Lamborghini Aventador S Coupe miliknya sudah melesat meninggalkan kediaman orang tuanya. Chalissa sudah bertekad untuk menggagalkan pernikahan Akhtar. Demi apapun, wanita itu tak rela kekasihnya dimiliki orang lain.


Dengan kecepatan penuh Chalissa memacu kendaraannya membelah jalanan ibu kota yang masih lengang. Namun kepadatan menantinya saat memasuki pintu gerbang tol Cikampek. Beberapa kali terdengar rutukan dari mulutnya. Setelah melalui antrian yang cukup panjang, akhirnya mobil berlambang banteng itu bisa dengan leluasa melaju di jalan bebas hambatan tersebut.


Mobil Chalissa sudah setengah jam lamanya terparkir di dekat gedung Traum Design. Wanita itu sengaja ingin menemui kekasihnya di kantornya, karena tidak mungkin keluarganya akan mengijinkannya bertemu dengan Akhtar.


Mitsubishi Lancer milik Akhtar terlihat memasuki area basement gedung. Chalissa menghidupkan mobilnya lalu ikut masuk menuju basement. Dia sengaja memarkir kendaraannya di dekat mobil Akhtar.


Setengah berlari, dia mengikuti Akhtar yang telah berdiri di depan lift. Ketika kakinya melangkah masuk, Chalissa sampai lalu ikut masuk ke dalam. Akhtar terkejut melihat kedatangan kekasihnya itu.


“Lissa.”


Tanpa bicara, Lissa langsung memeluk Akhtar kemudian ******* bibirnya dengan rakus. Akhtar berusaha melepaskan diri dari Chalissa namun perempuan itu terus saja memagutnya hingga membuatnya terbawa suasana. Akhtar menahan tengkuk Chalissa untuk memperdalam ciuman mereka.


Akhtar mengakhiri ciuman mereka ketika terdengar dentingan menandakan mereka telah sampai di lantai 10, tempat ruangannya berada. Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan wakil direktur. Agni menundukkan kepalanya ketika melihat atasannya melintas. Kemudian dengan cepat dia mengirimkan pesan pada Halbi, asisten Nino tentang kedatangan Chalissa.


Akhtar meletakkan tas kerjanya di meja lalu duduk di kursi kebesarannya. Chalissa berdiri menyender di sisi meja.


“Sayang tolong katakan kalau pernikahanmu dengan Rain itu tidak benar.”


“Ayo kita menikah. Kita lakukan pernikahan sesuai rencana. Aku ngga rela perempuan itu memilikimu.”


“Kenapa baru sekarang Lis? Harusnya kamu berjuang bersamaku ketika papamu memutuskan pernikahan kita secara sepihak. Sekarang sudah terlambat.”


“Ngga ada kata terlambat sayang. Kita masih bisa menikah. Biarkan saja undangan yang sudah menyebar, kita langsungkan pernikahan sesuai rencana.”


Akhtar terdiam, akalnya jelas menolak ide gila kekasihnya ini. Namun hatinya sangat menginginkan Chalissa menjadi istrinya. Melihat kebimbangan Akhtar, Chalissa terus merayunya. Dia duduk di pangkuan Akhtar lalu mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Bibirnya kembali mencecap benda kenyal Akhtar yang sedikit tebal. Tak ada penolakan dari Akhtar, bahkan dia sangat menikmati pertautan bibir itu.


BRAK


“AKHTAR!!!”


Suara Nino menggelegar di seluruh ruangan. Refleks Akhtar mendorong tubuh Chalissa turun dari pangkuannya sesaat setelah melepaskan pagutannya. Dengan mata penuh amarah Nino berjalan mendekati anaknya.


“Apa begini kelakuanmu di belakang papamu!”


“Papa maaf.”


“Dan kamu!! Pergi!! Jangan pernah mengganggu Akhtar lagi. Besok dia akan menikah, hubungan kalian telah berakhir begitu papamu membatalkan pernikahan kalian. Jangan rendahkan dirimu menggoda calon suami orang lain!”


“Om, tolong om saya mencintai Akhtar.”

__ADS_1


“Kalau kamu mencintainya lepaskan dia seperti kemarin kamu melepaskannya. Pergi dengan sukarela atau dengan paksaan?”


Chalissa berlari keluar ruangan Akhtar dengan berderai airmata. Baru kali ini dia melihat Nino dengan pandangan penuh kebencian. Kini tatapan Nino beralih pada sang anak yang tertunduk karena malu ayahnya memergoki perbuatan mesumnya.


“Kenapa kamu sebodoh itu Akhtar. Kenapa begitu mudahnya kamu masuk kembali pada pelukannya setelah apa yang dia lakukan? Kamu boleh mencintainya tapi bukan berarti kamu harus bertindak bodoh! Apa tidak cukup pengorbanan Rain dan keluarganya untuk kita? Apa kamu mempermalukan keluarga kita untuk kedua kalinya?!”


“Maaf pa, aku tidak akan mengulanginya lagi.”


“Tolong jujur pada papa apa kamu sudah pernah tidur dengannya?”


“Ngga pa, aku belum pernah melakukannya.”


“Apa kamu yakin?”


Mata Nino memicing melihat pada Akhtar. Anaknya itu terlihat gugup seperti menyembunyikan sesuatu. Nino terus mendesaknya.


“Jujur Akhtar, apa kamu pernah tidur dengannya?!”


“Ngga pa. Tapi aku memang pernah membantunya making out.”


“Astaghfirullahaladziim, Akhtar!!”


Tubuh Nino terhuyung mendengar pengakuan sang anak. Dengan gerakan lemah dia menghempaskan bokongnya ke sofa. Kepalanya tertunduk, tangannya menutup wajahnya dengan siku bertumpu pada pahanya.


“Ya Allah ampunilah hamba-Mu ini yang tidak bisa mendidik anak hamba dengan benar.”


Akhtar menghambur ke arah Nino lalu bersimpuh di kakinya. Melihat papanya seperti ini begitu menampar perasaannya. Menyesal rasanya sudah mengecewakan pria yang begitu menyayanginya.


“Maafkan aku pa. Waktu itu aku khilaf pa, aku tidak bisa mengendalikan nafsuku. Tapi aku hanya melakukannya sekali pa.”


“Walau pun sekali itu tetap dosa besar. Apa yang harus papa katakan kalau keluarga calon istrimu mengetahui perbuatanmu? Bagaimana perasaan Rain mengetahui calon suaminya ternyata tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Sedangkan dirinya senantiasa menjaga diri dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrimnya.”


“Maafkan aku pa, maaf. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.”


“Papa harap janji yang kamu ucapkan dapat kamu tepati dengan baik. Sekarang lebih baik kamu pulang. Istirahatlah di rumah, besok adalah hari pernikahanmu. Pulanglah, Halbi akan mengantarmu.”


Nino bangun dari duduknya lalu berjalan keluar ruangan. Tak lama Halbi masuk. Melihat kedatangannya, Akhtar bersiap-siap untuk pulang.


🍁🍁🍁


**Masih pagi nih mamake udah up, berhubung udara masih sejuk mamake mau lari aja deh, takut dimarahin readers🏃🏃🏃🏃🏃


Like..


Comment..


Vote..

__ADS_1


Buat pecinta Elang, nanti kisahnya akan indah pada waktunya✌️**


__ADS_2