
Perlahan Elang membuka pintu kamar. Dilihatnya Azkia masih tertidur. Dengan gerakan pelan dia naik ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Lama Elang memandangi wajah cantik istrinya. Mata Azkia masih terlihat bengkak, kulit wajahnya juga terlihat pucat. Lalu matanya tertuju pada tangan yang terbalut perban. Hatinya miris melihat kondisi sang istri.
Elang mendekatkan wajahnya lalu mulai menciumi wajah Azkia, mulai dari kening, mata, hidung dan terakhir bibir. Azkia membuka matanya ketika merasakan kecupan di bibirnya. Wajah tampan suaminya menyapa indra penglihatannya. Elang mengusap lembut pipi Azkia lalu kembali membenamkan bibirnya, memagut bibir sang istri penuh kelembutan.
“Mas..”
“Iya sayang..”
“Mas ngga apa-apakan?”
“Memang apa yang terjadi pada mas hmm..”
“Aku takut Deski melukaimu.”
“Mas baik-baik aja sayang. Apa perlu mas buka semua pakaian mas supaya kamu bisa periksa ada yang terluka atau ngga?”
Azkia menepuk pelan lengan suaminya seraya menyebikkan bibirnya. Elang terkekeh, lalu dikecupnya lagi bibir yang membuatnya gemas.
“I miss you.. miss you so much..”
“Miss you too mas..”
“Mas..”
“Hmm..”
“Aku mau mandi, badanku rasanya lengket semua.”
“Mas bantu ya. Kamu kan lagi diinfus. Kita mandi bareng aja.”
“Mandi aja kan?”
“Iya, emangnya kamu mau ngapain?”
Memerah wajah Azkia, Elang mengulum senyum melihat tingkah istrinya. Dia bangun lalu memindahkan infusan ke tiang yang memakai roda. Perlahan Azkia bangun, Elang menuntunnya menuju kamar mandi.
Elang mengambil kursi lalu meletakkannya di dekat shower. Tiang infusan diletakkan mendekat ke tembok. Setelah itu mulai membuka pakaian Azkia satu per satu. Lagi-lagi wajah Azkia merona. Walaupun pernikahan mereka sudah berjalan tiga bulan lamanya, namun dia masih merasa malu kalau bernampilan polos di depan suaminya. Elang melakukan hal yang sama pada dirinya kemudian memulai ritual mandi.
Azkia diminta mengangkat kedua tangannya, agar luka di tangannya tidak terkena air. Elang mulai mengarahkan shower ke tubuh istrinya. kemudian dilanjut dengan menyabuni seluruh tubuhnya. Sebisa mungkin Elang menahan hasratnya mengingat ucapan Dimas padanya. Selama mandi wajah Azkia tak henti merona. Dia seperti bayi saja yang sedang dimandikan.
Selesai membasuh tubuh Azkia, Elang mulai membasuh tubuhnya. Ingin rasanya Azkia membantu suaminya mandi tapi apa daya, luka di tangannya akan lama sembuh jika terus terkena air. Elang menaruh shower kembali ke tempatnya, membiarkan tetesan air membasahi kepalanya yang panas. Elang tak bisa menahan hasratnya lagi, disambarnya bibir Azkia lalu memagutnya dengan dalam. Tangannya mulai bergerak menelusuri tubuh polos istrinya.
Melihat Azkia menikmati semuanya, Elang mengangkat tubuhnya. Dia melangkahkan kakinya ke arah kloset lalu mendudukkan dirinya di sana dengan Azkia berada di pangkuannya. Akhirnya acara mandi bersama diteruskan dengan kegiatan panas nan menggairahkan. Perpisahan selama beberapa hari membuat keduanya tak bisa menahan diri. Beberapa kali terdengar lenguhan Azkia menggema di seluruh ruangan. Elang menarik pinggul Azkia membuat penyatuan mereka lebih dalam lagi. Tak lama keduanya sampai di puncaknya. Azkia terkulai lemah dengan kedua tangan memeluk erat leher sang suami.
Masih dengan tubuh terbalut handuk, Elang memakaikan baju istrinya lalu menyisiri rambutnya. Hati Azkia menghangat menerima semua perlakuan manis suaminya. Selesai mendandani istrinya barulah Elang memakai pakaiannya. Kemudian menuntun Azkia ke ranjang. Istrinya itu masih harus banyak beristirahat, apalagi mereka baru saja melakukan aktivitas yang cukup melelahkan tadi.
Azkia duduk menyender pada headboard ranjang. Elang menarik kursi ke dekat ranjang lalu mulai mengganti perban Azkia yang basah terkena air saat mandi. Reyhan memang sudah memberikan kursus kilat bagaimana cara mengganti perban padanya. Usai mengganti perban, dia naik ke atas ranjang. Direbahkan kepala Azkia di dadanya. Diraihnya tangan Azkia lalu mendaratkan kecupan-kecupan di bagian yang terluka.
“Jangan pernah melakukan hal yang berbahaya lagi sayang. Kalau terjadi sesuatu padamu, bagaimana dengan mas?”
“Maaf mas, maafkan aku.”
__ADS_1
“Sudahlah, semua sudah berlalu. Mas janji tidak akan membiarkan hal seperti kemarin terjadi lagi.”
Azkia menarik tangan Elang lalu mencium punggung tangannya. Kedua tangan Elang melingkar di perut Azkia. Beberapa kali kecupan mendarat di puncak kepalanya.
“Besok kita jalan-jalan, kamu mau kemana? Apa mau menginap di vila?”
“Boleh mas, aku suka di sana.”
“Kita berangkat pagi. Ada yang harus kita temui dulu sebelum berangkat ke vila.”
“Siapa mas?”
“Nanti kamu tahu sendiri. Sekarang tidur ya.”
“Peluk mas.”
“Sini sayang.”
Elang membaringkan tubuhnya, tak lama Azkia ikut berbaring, kepalanya menelusup ke dada bidang suaminya. Hati-hati Elang menarik tubuh Azkia lebih rapat padanya. Tak butuh waktu lama untuk Azkia masuk ke alam mimpi. Selama disekap dia tak dapat tidur nyenyak, berbeda dengan malam ini. Berada dalam dekapan suaminya sungguh membuatnya aman dan nyaman. Elang mencium kening Azkia kemudian menyusul tidur.
🍁🍁🍁
Paginya Elang dan Azkia berangkat menuju vila di daerah Ciwidey. Sebelumnya mereka mampir dulu di rumah singgah yang diperuntukkan untuk anak jalanan. Setelah bertemu dengan Farel, Irzal terinspirasi membangun tempat ini di bawah pengawasan yayasannya. Meta sudah menunggu di sana ditemani oleh Jayden.
“Selamat datang pak Elang, bu Azkia,” sapa Meta.
Azkia tersenyum ke arah Meta. Dihampirinya wanita itu lalu memeluknya, dengan suara pelan Azkia mengucapkan terima kasih. Bagaimana pun juga Meta yang menjaga dirinya selama dalam penyekapan Deski.
“Gue dikasih cuti sehari sama big boss, mau apa lo?”
Elang hanya berdecih, Jayden menyunggingkan cengiran khasnya. Tak lama muncul dua orang anak berusia 12 dan 8 tahun. Mereka yang telah membantu Meta saat penculikan terjadi. Salah satu anak menyerahkan kalung milik Azkia pada Elang.
“Terima kasih ya, siapa namamu?”
“Sita kak, ini adikku Romi.”
“Sita sama Romi suka tinggal di sini?”
“Suka kak. Boleh ngga kalau Sita sama Romi tinggal selamanya di sini?”
“Boleh. Sita sama Romi juga akan sekolah lagi. Semuanya akan diurus oleh kak Meta.”
“Makasih kak.. makasih.”
Sita dan Romi bersorak gembira, sudah setahun ini mereka putus sekolah setelah ibunya meninggal dunia dan ayahnya pergi meninggalkan mereka. Azkia mendekati keduanya lalu memeluknya. Melihat mereka, mengingatkan akan dirinya dan Hanin.
“Meta, kepengurusan rumah singgah ini saya percayakan sama kamu. Karena pengurus sebelumnya sudah pensiun.”
“Iya pak. Terima kasih atas kepercayaannya.”
“Jay, tolong ambilin barang-barang di mobil,” Elang melempar kunci mobilnya pada Jayden. Dengan cepat pemuda itu menuju mobil dan mengambil dua buah plastik berukuran besar.
__ADS_1
“Itu ada makanan untuk anak-anak juga perlatan mandi. Besok pak Sandi akan mengirimkan keperluan kalian. Tolong dicatat apa saja yang dibutuhkan. Dan tolong di data anak-anak yang akan meneruskan sekolah. Sebelum masuk tahun ajaran baru, mereka akan mengikuti home schooling dulu biar tidak terlalu ketinggalan pelajaran.”
“Tenang aja Met, gue bantu,” celetuk Jayden.
“Modus,” desis Elang.
Selesai urusan di rumah singgah, Elang melanjutkan perjalanan menuju vila. Sebelum sampai di vila, mereka mampir di supermarket untuk membeli bahan makanan. Dua jam kemudian mereka sampai di vila. Ini kali kedua Azkia menginjakkan kakinya di vila ini. Dulu Poppy yang menemaninya, kini sang suami yang datang bersamanya.
Azkia membereskan barang belanjaan, memasukkannya ke dalam lemari juga kulkas. Sedang Elang menemui pak Tatang, security yang bertugas menjaga vila. Selama berada di vila, Elang tak mengijinkan siapapun berada di vila, termasuk pak Tatang. Dia memberikan sejumlah uang pada pak Tatang beserta rekannya. Pak Tatang tentu dengan senang hati menerimanya. Sudah diberi libur, diberi bonus uang pula. Dengan wajah sumringah dia meninggalkan vila.
“Bi Titin tumben ngga ke sini? Emang ngga tahu ya kalau kita mau datang?”
“Mas sengaja kasih mereka libur. Selama kita di sini, mereka ngga perlu datang ke vila, termasuk pak Tatang dan pak Dinu.”
“Loh kenapa?”
“Karena mas ngga mau kebersamaan kita terganggu sama mereka. Dan supaya kamu bisa bebas melepas hijabmu. Katanya kamu juga mau belajar renang.”
“Tapi tanganku gimana?”
“Gampang, dibungkus aja pake keresek.”
“Enak aja, emangnya ikan asin.”
Elang tergelak lalu mengangkat Azkia masuk ke kamar utama. Dibaringkannya tubuh istrinya di atas kasur. Azkia melingkarkan tangannya ke leher Elang.
“Kita cicil bulan madu di sini ya,” Elang mengecup bibir Azkia.
“Nyicil?”
“Iya, nanti kita bulan madu sebenarnya keliling Eropa. Fitria lagi urus passport dan visa-mu. Kamu mau kemana?”
“Kemana aja asal bersama mas. I love you.”
“I love you more and more.”
Elang memagut bibir Azkia. Menyesap bibir ranum itu tanpa henti. Azkia memejamkan matanya. Lidah keduanya sudah saling membelit dan menarik. Ciuman mereka bertambah dalam dan menuntut. Elang mengakhiri pertautan bibir mereka. Nafas keduanya tampak tersengal.
“Aku mau masak dulu mas.”
“Mas bantu.”
Elang mengangkat tubuhnya lalu menarik tangan Azkia. Keduanya berjalan menuju dapur. Azkia mengeluarkan bahan-bahan yang akan diolahnya. Elang membantu memotong sayuran, Azkia memasak nasi dilanjut dengan menyiapkan bumbu. Di sela-sela acara masak, Elang selalu menyempatkan mencuri ciuman dari istrinya. Terkadang kegiatan masak mereka berhenti sejenak karena terlalu asik berdecapan.
🍁🍁🍁
**Ya ampun mas El, kan tadi udah dibilangin om Dimas, grepe² aja dulu eh ini malah diterjang juga🤭
Mamake ngga kasih adegan yg terlalu hareudang ya takut ngga lulus sensor dan bikin kalian traveling pagi²🤭
Kasih dukungan terus ya buat mamake. Next episode masih adegan uwu mas El and neng Az. Like and comment nya ya😉**
__ADS_1