
Sambil berlari kecil Ayunda turun dari lantai dua. Sontak saja langsung mendapat SP alias suara peringatan dari Poppy. Pasalnya Ayunda belum boleh banyak bergerak. Aktivitas yang berlebihan dapat membuat lambungnya tergesek dan terluka lagi. Tapi kadang kadang gadis itu lupa kalau kondisinya belum fit seratus persen. Mungkin saking bahagianya akan menjadi nyonya Reyhan.
“Kamu tuh dibilangin pelan-pelan kalau jalan, ini malah lari-lari sambil turun tangga lagi. Dokter ngelarang kamu turun naik tangga dulu, kenapa ngga naik lift?”
“Lupa bun, hehehe..”
“Kamu mau ke butik mami?”
“Iya bun, mau fitting baju terus nyari cincin sama mas Rey.”
“Dijemput Rey?”
“Ngga.. kita ketemu di butik aja. Mas Rey udah berangkat ke rumah sakit tadi pagi.”
“Terus kamu pergi sama siapa?”
“Dianter pak Tono.”
“Pak Tono lagi nganter ayah.”
“Ya.. terus aku sama siapa dong?”
“Assalamu’alaikum..”
Kedua wanita yang sedang berbicara itu langsung menoleh ketika ada yang mengucapkan salam sambil menjawab salam bersamaan. Terlihat Azriel masuk ke dalam rumah. Tangannya menenteng dua buah paper bag. Azriel mencium punggung tangan Poppy kemudian memberikan paper bag di tangannya.
“Ini oleh-oleh buat bunda sama ayah. Yang ini buat elo,” Azriel memberikan paper bag yang satu lagi pada Ayunda.
“Makasih ya Ziel. Selamet ya kamu juara lagi.”
“Iya bun. Ini berkat doa bunda juga. Yun, bisa ngobrol bentar?”
Ayunda hanya mengangguk saja lalu mengikuti langkah Azriel ke teras. Hati Ayunda sedikit ketar-ketir karena dia belum sempat memberitahukan tentang pernikahannya yang batal dengan Firlan. Ayunda sedikit takut dengan reaksi Azriel karena dulu dia yang selalu diminta oleh Ayunda untuk mendekatkan dirinya dengan Firlan.
Azriel menghentikan langkahnya sesampainya di teras. Hampir saja Ayunda menabrak punggungnya karena tiba-tiba berhenti. Azriel membalikkan badannya lalu menatap Ayunda dengan tajam.
“Lo bener-bener Yun. Gue ngga habis pikir sama elo.”
“Sorry Ziel.. iya gue ngaku salah. Sorry..”
“Otak lo terbuat dari apa sih? Lo tuh bego, tolol, oon atau apa sih?” Azriel yang kesal langsung mendaratkan jitakan di kepala Ayunda berkali-kali.
“Aaauuwww... sakit Ziel!”
“Makanya punya otak dipake! Kalau bang Ilan ngga batalin pernikahan, lo bakal tetap nikah sama dia kan? Gila lo, pernikahan dibuat main-main. Untung abang gue masih waras. Ampun Yunda!!!!”
Azriel mengepalkan kedua tangannya di depan wajah sahabatnya itu saking gemasnya. Ayunda hanya melongo melihat sikap Azriel.
“Lo ngga marah sama gue Ziel? Lo ngga marah gue batal nikah sama bang Ilan?”
“Gue bakalan marah kalau lo jadi nikah sama bang Ilan. Gimana sih cara pikir lo Yun. Lo cinta sama bang Rey tapi mau nikah sama bang Ilan. Gue pikir lo tuh cuma cengeng sama manja juga tapi ternyata oon juga. Denger Yun, lo sahabat gue dan bang Ilan kakak gue. Gue sayang lo berdua dan mau kalian berdua bahagia. Tapi kalau kalian jadi nikah ngga ada satu pun dari kalian yang bakal bahagia.”
“Iya Ziel... gue salah. Udah dong jangan marah-marah mulu.”
Ayunda menarik Azriel duduk di kursi yang ada di teras. Kemarahan Azriel sudah mereda. Sebenarnya dia tidak benar-benar marah, hanya kesal dengan sikap Ayunda. Jika dia ada di sana saat sahabatnya tengah galau. Pasti Azriel akan jadi orang pertama yang akan membatalkan pernikahan tersebut.
“Ziel.. lo bisa dateng kan ke nikahan gue?”
“Bisalah. Demi elo gue rela ngga ikutan French Open. Kurang baik gimana gue sama elo.”
“Hilih lo kaga ikut kompetisi itu juga posisi lo masih aman.”
“Iya juga sih hehehe..”
“Di antara kita bertiga tinggal elo yang jomblo. Kapan lo bakal nyusul?”
“Karir gue masih panjang. Dan gue bukan Nara sama elo yang kecentilan, masih muda udah cinta-cintaan terus nikah muda. Lagian penggemar gue banyak, tinggal tunjuk salah satu dari mereka pasti dengan sukarela mau jadi cewek gue.”
“Cih sombong... gue sumpahin lo bucin sama cewek tapi ceweknya kaga ada rasa sama elo hahaha..”
“Kalau cewek yang gue suka kaga suka sama gue. Gue bakalan nyuruh lo sama Nara bikin tuh cewek cinta ama gue huahahaha...”
Ayunda mencebikkan bibirnya ke arah Azriel. Sahabatnya itu memang benar-benar somplak otaknya. Dia tak bisa membayangkan wanita seperti apa yang nanti bakal mendampinginya.
“Dari pada sama fans lo yang belum jelas juntrungannya mending lo sama Hanin aja, gimana?”
__ADS_1
“Ogah.. cewek somplak kaya dia. Udah cukup gue punya dua cewek somplak kaya elo and Nara. Gue ngga mau nambah cewek somplak di hidup gue.”
“Sama Khayra aja.”
“Terus gue harus manggil Nara kakak ipar gitu? Najong..”
“Hadeuh.. sama Ara?”
“Gila lu Ndro! Apa kata dunia? Gue harus manggil kak Ily ibu mertua gitu?”
Ayunda langsung tergelak, begitu juga dengan Azriel. Dia bergidik membayangkan memanggil Firly dengan sebutan ibu mertua. Walaupun Firlya hanya ibu sambung Ara namun tetap saja secara status dia akan menjadi ibu mertua jika Azriel menikahi Ara.
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam.. eh Salma.”
Ayunda bangun dari duduknya lalu menyambut gadis yang baru saja datang. Keduanya bersalaman sambil cipika-cipiki. Azriel memperhatikan gadis yang dipanggil Salma itu. Tingginya hampir sepantar dengan Ayunda, kulitnya sawo matang, bulu matanya lentik dengan mata lebar, ditambah hidung mancung semakin menambah kecantikannya. Tubuhnya tertutup gamis dan hijab panjang yang digerai sampai menutupi dadanya.
Merasa diperhatikan, Salma menolehkan wajahnya ke arah Azriel. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat, sebelum Salma memutuskan pandangan. Dada Azriel berdesir saat mereka beradu pandang tadi.
“Tante ada kak?”
“Ada kok. Masuk aja.”
Salma mengangguk kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Mata Azriel terus mengikuti punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu.
“Biasa aja tuh mata.”
“Siapa Yun?”
“Salma, anaknya om Andri.”
“Kok gue belum pernah lihat.”
“Kan dia pesantren dari SMP sampe SMA. Sekarang kuliah di kampus kita, ambil komunikasi juga.”
“Masa?”
“Huum.. lo sih keseringan bolos kuliah. Kalau lo mulai kuliah lagi pasti bakalan sekelas sama dia.”
Azriel manggut-manggut. Sepertinya dia harus kembali ke bangku kuliah secepatnya. Ayunda menepuk lengan Azriel, membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Ayo. Gue ambil mobil dulu.”
Azriel bangun lalu bergegas menuju rumahnya. Tak lama BMW sport miliknya sudah berhenti di depan rumah Ayunda. Gadis itu bergegas naik. Kendaraan roda empat itu segara melaju.
🍁🍁🍁
Reyhan memarkirkan mobilnya di depan butik Alea. Hari ini dia dan Ayunda akan fitting baju untuk akad juga resepsi. Pegawai butik segera mengantar Reyhan menuju lantai dua. Alea sudah menunggunya di sana.
Kaki Reyhan menapaki tangga terakhir ketika melihat Alea sedang berdiri menatap sebuah gaun pernikahan berwarna putih. Gaun yang sudah disiapkan saat rencana pernikahan Ayunda dengan Firlan dulu.
Reyhan mendekati Alea lalu merangkul bahu wanita itu.
“Maaf mi.. maafin aku.”
Alea terjengit lalu menoleh ke arah Reyhan. Wajahnya yang sendu langsung berganti sumringah begitu melihat Reyhan sudah ada di sampingnya.
“Maaf untuk apa?”
“Harusnya Yunda berdampingan dengan bang Ilan saat memakai gaun ini.”
“Mami memang menyiapkan gaun ini untuk Yunda. Kamu atau Ilan yang mendampinginya, sama saja. Kamu juga anak mami.”
Alea mengusap rahang Reyhan. Hati Reyhan terharu mendengar ucapan Alea, dia langsung memeluk wanita itu. Ayunda dan Azriel hanya terdiam di dekat tangga saat melihat adegan mengharukan dua orang di depannya. Alea mengurai pelukannya ketika melihat Ayunda.
“Sudah datang Yun. Ayo sini sayang.”
Ayunda mendekati Alea lalu mencium punggung tangannya. Seorang pegawai datang dan mengatakan kalau ruang ganti sudah siap. Azriel diminta untuk membantu Reyhan sedang untuk Ayunda, Alea sendiri yang akan membantunya fitting baju.
Sepuluh menit berselang, Ayunda dan Reyhan keluar dari kamar ganti. Mereka mencoba pakaian untuk akad nikah.
__ADS_1
Kemudian mereka kembali masuk ke dalam ruang ganti. Tak berselang lama mereka keluar sudah mengenakan pakaian untuk resepsi.
Reyhan memandangi Ayunda yang terlihat cantik menggunakan gaun putih menjuntai yang tadi dilihatnya. Sedang Reyhan menggunakan tuxedo berwarna putih.
Mata Ayunda tak lepas memandang wajah tampa Reyhan.
“Bagian pinggangnya harus dikecilin sedikit lagi,” ucap Alea pada salah satu pegawainya.
“Kalau Rey sudah pas kayanya.”
Reyhan hanya mengangguk. Setelah Alea selesai memerikas semuanya, mereka kembali ke kamar ganti. Ale duduk di sofa sambil menunggu pasangan itu berganti pakaian. Azriel duduk di samping Alea kemudian memeluknya dari samping.
“Mami ngga apa-apa?”
“Ngga sayang. Mami baik-baik aja. Mami percaya, kakakmu akan menemukan jodoh yang baik juga. Kamu sendiri gimana?”
“Ck.. aku masih muda mi.”
“Mumpung masih muda cepat cari pasangan. Kalau keburu tua ngga akan ada yang mau nanti.”
“Ih mami.. doain yang baik-baik napa sama anaknya.”
Alea hanya tertawa saja. Reyhan dan Ayunda keluar dari kamar ganti. Mereka ikut duduk di sofa. Kemudian menikmati minuman dan camilan yang disediakan.
“Habis ini kalian mau kemana?”
“Mau cari cincin pernikahan.”
“Perlu mami temani?”
“Ngga usah mi. Kita berdua aja.”
“Jiaaaah mami mau jadi obat nyamuk ngga berasap ikut mereka berdua. Mending kencan ama Ziel aja.”
“Kasihan banget yang jomblo. Ngajak kencan maminya sendiri,” ejek Ayunda.
“Berisik!”
Dikarenakan Reyhan masih ada pekerjaan di rumah sakit, dia dan Ayunda memutuskan untuk segera pergi. dokter bedah itu hanya punya waktu dua jam tersisa sebelum kembali ke rumah sakit.
Mereka segera menuju toko perhiasan yang direkomendasikan Sarah. Lokasinya tidak terlalu jauh dari butik Alea. Kedatangan mereka langsung disambut oleh pegawai yang sudah diberitahu perihal kedatangan calon pengantin itu.
Keduanya dibawa ke sebuah ruangan kemudian pegawai tadi segera mengeluarkan beberapa koleksi cincin pernikahan mereka. Ayunda melihat-lihat semua cincin yang tertata di meja. Pilihannya jatuh pada sebuah cincin putih polos bermatakan berlian yang cukup besar. Sedang untuk Reyhan, akan dibuatkan cincin dari bahan titanium.
Selesai membeli cincin, Reyhan mengajak Ayunda makan siang. Setelah itu mengantarkan Ayunda pulang. Gadis itu masih belum turun dari mobil walaupun sudah sampai di depan rumahnya. Sejak lamaran, ini kali pertama dia bertemu dengan calon suaminya.
“Mas Rey sibuk banget ya.”
“Iya.. kenapa?”
“Aku ngerti kalau mas Rey ngga mau ketemu sebelum pernikahan tapi masa buat kirim pesan atau telepon aja ngga bisa? Berapa kali aku kirim pesan cuma diread aja.”
“Maaf Ay.. aku benar-benar sibuk.”
“Mas tuh berubah tau semenjak acara lamaran.”
“Berubah gimana?”
“Mas kaya yang cuek sama aku. Udah ngga peduli sama aku kayanya.”
“Ngga gitu Ayang. Aku benar-benar sibuk.”
“Iya.. iya.. aku tahu mas sibuk.”
Ayunda membuka tali seat belt-nya kemudian bergegas turun. Baru saja Reyhan akan menyusul ketika ponselnya berdering. Suster Ria mengabarkan kalau operasi salah satu pasiennya akan dimulai empat puluh menit lagi. Terpaksa Reyhan langsung melajukan kendaraannya.
Ayunda kesal melihat Reyhan yang langsung pergi tanpa ada keinginan untuk menyusul atau membujuknya. Dengan langkah kaki setengah menghentak gadis itu masuk ke dalam rumah.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Hmmm.. sepertinya drama pertengkaran menjelang pernikahan udah mulai muncul nih. Awas jangan sampai batal ya pernikahannya.
Hari ini tuh sebenarnya mamake mager banget. Tapi demi kalian, mamake up 3x juga. Ditunggu like, comment and vote-nya**.