Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Solo Karier


__ADS_3

Dibantu Bilqis, Ayunda menghapus sisa-sisa make up di wajahnya. Keduanya sedang berada di kamar pengantin. Gaun yang tadi dipakai saat akad sudah berganti dengan celana joger dan kaos longgar.


“Mulai sekarang kamu harus belajar make up, Yun.”


“Buat apa?”


“Ya buat suami kamulah. Inget, di luar sana banyak cewek yang masih ngarep sama Rey. Kamu sebagai istrinya jangan kalah cetar. Buat Rey ngga bisa memalingkan wajahnya dari kamu. Terus satu lagi, harus bisa muasin dia di ranjang.”


Wajah Ayunda memerah mendengar ucapan vulgar Bilqis. Sepupunya itu hanya tertawa melihat ekspresi malu-malu Ayunda.


“Ngga usah malu Yun. Buat kita, perempuan yang udah nikah, pembahasan seperti ini adalah hal yang wajar. Kita bisa sharing, berbagi ilmu juga.”


“Kalau kak Iqis sama bang Za gimana?”


“Beuuhh dia mah, ngga dikasih jatah dua hari aja udah uring-uringan. Kalau ngga marah-marah, cemberut mulu. Kamu juga siap-siap Yun. Kalau tiba-tiba Rey diemin kamu tanpa sebab, berarti dia kurang asupan kedutan hahaha..”


Kening Ayunda mengekerut, tak mengerti dengan kosa kata kedutan yang tadi Bilqis lontarkan. Bukannya menerangkan, Bilqis membiarkan saja sepupunya itu penasaran. Selesai sudah riasan di wajah Ayunda dibersihkan. Bilqis membuang semua kapas yang digunakannya tadi.


“Sekarang kamu istirahat Yun, tidur dulu. Nanti malam kamu harus siapin tenaga. Acara resepsi itu melelahkan, apalagi kamu pake acara adat juga, belum mejeng sambil senyum, terakhir perang di kasur uuppsss.”


Bilqis menutup mulutnya melihat Ayunda melotot ke arahnya. Wanita itu kemudian keluar dari kamar. Ayunda membuka ikatan rambutnya. Surai hitamnya tergerai begitu saja sampai ke bahu. Lalu dia merangkak naik ke atas kasur. Dia memang sudah mengantuk, semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak karena grogi menghadapi akad nikah. Hanya dalam hitungan menit, dia sudah terlelap.


Pintu kamar pengantin terbuka, Reyhan masuk ke dalamnya. Sesaat dia tercenung melihat Ayunda tertidur dengan damainya. Reyhan membuka sepatunya kemudian melangkah mendekati ranjang. Dengan gerakan pelan, disingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya, kemudian mencium keningnya. Ayunda yang sudah nyenyak tak terusik dengan ciuman Reyhan.


Reyhan beranjak menjauh. dia membuka jas, kemeja dan celananya lalu menggantinya dengan kaos dan celana pendek selutut. Tubuhnya juga lelah dan ingin diistirahatkan. Dia naik ke atas kasur lalu berbaring di samping Ayunda. Reyhan mengubah posisi tidurnya menyamping. Tangannya terulur memeluk pinggang sang istri. Reyhan mendekatkan tubuhnya hingga tak berjarak. Perlahan dia mencoba memejamkan mata.


Ayunda terbangun ketika merasakan sesuatu menimpa perutnya. Matanya mengarah ke perutnya lalu melihat sebuah tangan melingkar di sana. Awalnya gadis itu terkejut, tapi ketika menoleh ke belakang, dia kembali tenang. Namun kepanikannya berganti dengan rasa malu.


Ayunda mengambil nafas beberapa kali untuk menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan. Dia berusaha melepaskan pelukan tangan Reyhan. Perlahan diangkatnya tangan Reyhan tapi yang terjadi, tangan itu justru bertambah erat memeluknya.


“Tidur Ayang.”


Ayunda terjengit, ternyata Reyhan belum sepenuhnya tidur. Dengan gerakan pelan dia membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan suaminya. Mata Reyhan terbuka, pipi Ayunda yang merona adalah hal pertama yang dilihatnya. Diusapnya pipi yang berwarna kemerahan itu.


“Kenapa hmm...” Ayunda hanya menggeleng.


“Kenapa ngga tidur lagi?”


“Kaget, kirain siapa yang meluk aku.”


Reyhan tergelak, tangannya merapihkan anak rambut yang lagi-lagi menghalangi wajah cantik sang istri. Kemudian bibirnya mendarat di kening, kedua mata, hidung dan terakhir mengecup bibir Ayunda. Dada Ayunda berdesir, saat hubungan mereka telah halal semua ciuman yang diterimanya terasa lebih manis.


Tangan Reyhan menelusup ke belakang tengkuk Ayunda kemudian menabrakkan bibirnya ke bibir ranum Ayunda. Menyesapnya perlahan, membiarkan Ayunda membalasnya. Pelan-pelan Ayunda mulai membalas ciuman Reyhan, bibir mereka saling me**mat dan memagut.


Ayunda terjengit ketika tangan Reyhan masuk ke balik bajunya, mengusap-usap kulit punggungnya. Seketika bulu di tubuh Ayunda meremang. Sementara bibirnya masih belum lepas dari pagutan Reyhan. Kini lidah Reyhan sudah masuk ke dalam rongga mulut Ayunda dan bermain-main di dalamnya. Ayunda yang tidak siap mulai kehabisan nafas. Reyhan pun mengakhiri ciumannya.


“Mas...”

__ADS_1


“Tidur Ay. Nanti malam kita akan menerima banyak tamu. Jangan sampai kamu kecapean.”


“Mas juga tidur jangan ciumin aku mulu,” Reyhan tergelak.


“Abis kamu gemesin. Bibir kamu tuh kaya manggil aku terus buat cium kamu.”


“Dasar mesum,” Ayunda menutup bibir dengan kedua tangannya.


Reyhan menarik Ayunda ke dalam pelukannya kemudian mengusap punggungnya pelan. Kepala Ayunda menyuruk ke dada Reyhan. Aroma maskulin menguar di indra penciumannya, terasa begitu nyaman. Tak butuh waktu lama, dia kembali tertidur.


Berbeda dengan Reyhan, pria itu malah tak bisa memejamkan matanya. Berdekatan dengan Ayunda membuat sesuatu dalam dirinya bangkit. Apalagi tadi mereka baru saja melakukan hot kisses. Namun tak mungkin juga dia menerkam sang istri saat ini juga. Bisa-bisa Ayunda tidak dapat duduk di pelaminan.


Reyhan berdiam diri beberapa saat. Setelah merasa Ayunda telah tertidur lelap, perlahan dilepaskan pelukannya. Dia memilih tidur di kamar lain saja. Reyhan menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika keluar. Kamar mana yang akan dia tuju untuk mengistirahatkan tubuhnya. Akhirnya dia memilih ke kamar Rain. Di saat yang bersamaan, Rain beserta Akhtar dan Nanaz keluar.


“Mau kemana lo, bukannya istirahat.”


“Lo sendiri mau kemana?”


“Gue lagi pengen makan sate kelinci.”


“Bagus deh, gue numpang tidur di kamar lo ya.”


“Dih kenapa ngga tidur di kamar lo sih. Yunda mana?”


“Udah tidur di kamar. Gue ngga bisa tidur deket dia.”


“Nanaz mau ikut mama sama papa? Ngga mau nemenin om Rey?”


Nanaz hanya menggeleng. Rain memberikan key card kamarnya pada Reyhan. Akhtar mengambil Nanaz dari gendongan Reyhan.


“Bahaya kalau Nanaz sama elo. Bisa-bisa anak gue digerayangin disangka Yunda.”


“Gila lo!!!” sewot Reyhan.


Lagi-lagi Rain hanya tertawa. Sambil menjulurkan lidah, dia beranjak pergi. Reyhan segera masuk ke dalam kamar. Dia benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya. Reyhan menghempaskan tubuhnya di kasur. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, dia belum bisa tidur. Di kepalanya terus terbayang wajah Ayunda, kulit mulusnya dan ciuman panas mereka tadi. Setengah frustrasi Reyhan bangun kemudian masuk ke kamar mandi.


Satu jam kemudian Reyhan keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Diambilnya handuk kecil dari dalam lemari, kemudian mengeringkan rambutnya. Sungguh tak bisa dipercaya, menjelang resepsi pernikahan, dia harus bersolo karir lebih dulu. Ternyata pesona Ayunda begitu menggoda imannya. Sedangkan orang yang membuatnya kelabakan tengah tertidur nyenyak.


Reyhan kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Diambilnya ponsel, jarinya mencari-cari file tentang ilmu bisnis kemudian membacanya. Hal ini dilakukan untuk mengalihkan pikirannya dari sosok sang istri. Kalau tidak bisa-bisa dirinya akan berakhir lagi di kamar mandi. Ternyata membaca teori tentang pengantar bisnis benar-benar sukses membuatnya mengantuk. Baru lima menit membaca, dia sudah tertidur.


🍁🍁🍁


**Ampun mas Rey.. masih siang jangan belah duren, nanti judulnya bukan malam pertama tapi siang pertama🤣


Siap² resepsi nanti malam ya jangan lupa ditunggu kehadirannya. Kalau sekarang ditunggu like, comment and vote-nya😉


Oh iya ada yg nanya visual Akhtar dan Rain, sebenarnya udah ada ya di season 2. Nih mamake kasih lagi visual mereka. Plus Ara n Hanin.

__ADS_1


Om Dimas**



Ily



Rain



Akhtar



Elang



Azkia



Ayunda



Reyhan



Ilan



Hanin



Farel



Ara


__ADS_1


__ADS_2