
Selama dalam perjalanan, Akhtar terus mencoba menghubungi Chalissa namun panggilannya selalu berakhir di kotak suara. Tak putus asa, dia menghubungi Andrea. Setali tiga uang, ponsel asisten kekasihnya itu juga tidak dapat dihubungi. Tak terasa mobilnya telah sampai di kediamannya. Bergegas Akhtar turun dari mobil. Tangannya memegang erat amplop coklat pemberian Tombak.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Akhtar menghampiri mama dan papanya lalu mencium punggung tangan mereka. Nino sedikit terkejut melihat wajah Akhtar yang tak seperti biasanya. Beberapa kali tampak pria muda itu menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan yang cukup membuatnya takut.
“Pa, apa benar aku bukan anak kandung papa?”
DUARR
Nino seperti tersambar petir mendengar pertanyaan Akhtar. Hal yang ditakutinya terjadi, Akhtar mengetahui jati dirinya dari orang lain. Kalila memandang suaminya, lalu menggenggam lembut tangannya.
“Pa...”
“Iya nak, kamu memang bukan anak kandung papa.”
Akhtar memejamkan matanya, hatinya terasa sakit. Padahal selama dalam perjalanan tadi, dia terus berdoa dan berharap kalau yang didengarnya tadi adalah sebuah kebohongan. Sosok pria yang begitu menyayanginya dan menjadi panutan hidupnya ternyata bukan papa kandungnya. Matanya mulai berkaca-kaca, tenggorokannya serasa tercekat. Kenyataan ini begitu menyakitkan.
“Kamu... tahu hal ini dari siapa nak?”
“Apa penting pa dari siapa aku tahu soal itu? Bukankah lebih penting kalau aku menanyakan kenapa papa menutupinya dariku? Kenapa papa ngga jujur padaku? Rasanya sakit pa, aku mengetahuinya dari orang lain.”
Perlahan butiran bening yang menggenang di pelupuk matanya luruh juga. Akhtar mulai terisak. Kalila berpindah duduk di samping Akhtar lalu memeluk anaknya itu penuh kasih sayang. Tangisan Akhtar pecah dalam pelukan Kalila, ibu yang sangat menyayanginya.
“Maafkan papa nak. Maaf kalau papa sudah tidak jujur padamu. Sebenarnya papa takut untuk mengatakannya. Papa takut kamu akan pergi meninggalkan papa. Papa sangat menyayangimu. Semenjak dirimu ada dalam kandungan sampai sebesar ini, rasa sayang papa padamu tidak berubah sedikit pun.”
“Semua yang dikatakan papamu benar Akhtar. Maafkan kami yang tidak memberi tahu kebenarannya padamu. Tidak ada maksud apapun menyembunyikan kenyataan ini darimu. Kami hanya takut kamu kecewa dan pergi meninggalkan kami. Papamu benar-benar menyayangimu. Dia bahkan rela mengorbankan apapun demi mendapatkan hak asuhmu.”
“Maafkan papa... maaf.”
Akhtar melepaskan diri dari pelukan Kalila lalu menghambur ke arah Nino. Ayah dan anak ini berpelukan cukup lama. Tak ada kata-kata, hanya isak tangis yang terdengar dari keduanya. Bilqis dan Fikry yang sedari tadi diam-diam mendengarkan percakapan mereka, mulai berani mendekat. Nino menguraikan pelukannya, menatap anak yang begitu disayanginya itu.
“Walaupun tak ada darah papa yang mengalir dalam tubuhmu. Tapi selamanya kamu adalah anak papa. Biarpun seluruh dunia mengatakan kamu bukan anak papa, papa ngga peduli. Di hati ini, kamu tetap anak papa. Dan papa bangga memiliki anak sepertimu.”
“Kami juga bangga punya saudara seperti kak Akhtar. Selamanya kak Akhtar adalah kakak kami. Aku juga Fikri sayang sama kakak. Kakak adalah kakak terbaik yang kami punya. Tolong jangan pergi tinggalkan kami.”
“Kakak juga sayang kalian. Kakak ngga akan kemana-mana.”
Akhtar menghampiri kedua adiknya lalu memeluknya erat. Bilqis menangis dalam dekapan Akhtar. Akhtar menguraikan pelukannya lalu menghapus airmata Bilqis. Dibawa kedua adiknya duduk bersamanya di sofa.
“Jadi, siapa orang yang telah memberitahumu?” Nino kembali bertanya setelah melihat keadaan Akhtar sedikit tenang.
“Om Tombak.”
Nino tampak menghela nafasnya. Entah mengapa dia merasa tak tenang begitu mendengar nama Tombak terucap dari bibir anaknya. Nino tahu betul bagaimana watak Tombak. Kenapa hal ini harus terbongkar ketika pernikahan akan mereka hanya tinggal menghitung hari.
“Apa dia mengatakan hal lain?”
“Dia juga memberitahu siapa ayah kandungku.”
Akhtar menyerahkan amplop coklat yang tadi dibawanya. Nino membuka amplop tersebut, tak ada keterkejutan dari mimik wajahnya. Mengenai ayah kandung Akhtar, Nino memang telah mengetahuinya sejak lama. Irzal membantunya menyelidiki perihal ayah biologis anaknya itu.
__ADS_1
“Apa papa sudah tahu tentang dia?”
“Iya, dua tahun setelah menikah dengan mama Lila, ayah Irzal berhasil menemukan siapa ayah kandungmu dibantu papi Ega, papa Regan dan papa Adit.”
“Jadi mereka semua sudah tahu tentang aku pa?”
“Ya, ditambah om Pandu dan om Bayu.”
“Kalian memang seven magnificent guys,” cibir Akhtar yang dibalas kekehan dari pria yang sudah masuk kepala lima namun masih terlihat tampan.
“Sekarang apa rencanamu?”
“Apa boleh aku bertemu dengannya pa?”
“Temui dia nak. Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu.”
Baru saja menyelesaikan kata-katanya, mata Nino menangkap sosok Rain berdiri tak jauh dari ruang keluarga, tempat mereka berbincang. Gadis itu tampak ragu, melihat keseriusan pembicaraan mereka.
“Rain,” panggil Nino.
“Maaf pa, Rain cuma mau mengantarkan undangan,” jawab Rain masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Nino melambaikan tangannya, dengan langkah pelan Rain menghampiri. Rain meletakkan undangan di atas meja.
“Maaf kak, aku antar undangan ke sini karena kak Lissa ngga bisa dihubungi. Aku pulang dulu, pa.. ma.”
“Rain,” panggil Akhtar.
“Bisa bicara sebentar?”
“Boleh kak.”
“Kenapa mas?”
“Ngga apa-apa. Tapi aku takut, kalau masalah ini mempengaruhi pernikahan Akhtar dengan Lissa.”
“Berdoa aja mas, mudah-mudahan semuanya lancar.”
“Aamiin..”
Rain terus mengikuti langkah Akhtar sampai ke depan rumah. Lelaki itu masih diam untuk beberapa saat. Seolah-olah ada batu besar yang menghalangi kerongkongannya.
“Ada apa kak?”
“Rain... apa kamu mau menemaniku pergi ke suatu tempat?”
“Kemana?”
“Aku harus bertemu seseorang dan aku butuh teman untuk bertemu dengannya. Apa kamu mau menemaniku?”
Rain hanya mengangguk. Akhtar segera membukakan pintu untuknya kemudian tak lama dia pun masuk ke dalam mobil. Akhtar mulai melajukan kendaraannya menuju wilayah Bandung Timur. Mengejar waktu kunjungan yang tersisa untuknya menemui ayah kandungnya.
Mobil yang dikendarai Akhtar memasuki pelataran parkir lapas sukamiskin. Rain semakin dibuat penasaran tapi dia terus menutup mulutnya. Akhtar berjalan menuju petugas yang berjaga, Rain mengkuti dari belakang. Mereka harus menunggu dua orang di depannya barulah bertemu dengan petugas tersebut.
“Saya mau bertemu dengan Rano Dharmawangsa.”
__ADS_1
“Silahkan isi buku tamu ini.”
Setelah mengisi buku tamu, baik Akhtar maupun Rain menjalani pemeriksaan apakah membawa barang yang berbahaya. Kemudian mereka dipandu menuju ruang jenguk tahanan. Sebuah meja panjang dengan beberapa kursi plastik yang disusun berhadapan tertata di ruang jenguk. Nampak dua orang napi sedang menerima kunjungan.
Akhtar dan Rain mengambil tempat di bagian sisi, mereka duduk berdampingan. Tak lama seorang napi dengan perawakan tinggi, tubuh kurus dengan rambut sedikit gondrong mendekati mereka lalu duduk berhadapan. Akhtar memandangi pria paruh baya itu dari atas sampai bawah. Tangan kanan dan kirinya dipenuhi oleh tatto. Kulitnya nampak kusam dengan jambang dan janggut tipis menghiasi wajahnya. Lelaki itu balas menatap Akhtar dan Rain bergantian.
“Kalian siapa?”
“Apa benar bapak adalah Rano Dharmawangsa?” tanya Akhtar dengan suara sedikit bergetar.
“Ya.”
“Apa bapak mengenal perempuan bernama Adisty Purnama?”
Lelaki itu terdiam sebentar lalu mulai memperhatikan wajah Akhtar dengan seksama. Kemudian senyumnya mengembang yang kemudian berubah menjadi tawa lebar. Akhtar menggenggam tangan Rain erat. Dadanya serasa diiris sembilu mendengar tawa lelaki itu.
“Apa kamu jangan-jangan anaknya Disty? Benar?’ Hahaha.... kalau memang benar kamu anak Disty berarti kamu adalah anakku.”
Rain menolehkan kepalanya pada Akhtar. Genggaman tangan Akhtar semakin erat seakan meminta kekuatan dari gadis di sebelahnya. Rain balas menggenggam tangannya. Akhtar menautkan jarinya pada jemari Rain.
“Kenapa? Kenapa anda tidak menikahi ibu saya?”
“Apa harus? Kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Lagi pula waktu itu ibumu sudah dijodohkan dengan Nino. Dia menikahi ibumu tanpa tahu kalau ibumu sedang hamil anakku, yaitu kamu. Beruntung wajahmu mirip sekali dengan ibumu, jadi lelaki bodoh itu tidak tahu kalau kamu bukan darah dagingnya hahahaha.”
“Jangan pernah menyebut papaku bodoh!! Aku bersyukur dia tak menyadari keberadaanku ketika menikahi mama. Sehingga aku bisa mendapatkan pria yang baik, yang tulus membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Tidak seperti dirimu!”
“Lalu untuk apa kamu ke sini heh?” ada nada tidak suka dari lelaki itu ketika mendengar pujian Akhtar pada Nino.
“Aku hanya ingin tahu seperti apa ayah kandungku. Setidaknya walau hanya sekali dalam hidupku aku ingin melihat wajah pria yang sudah mengalirkan darahnya ke dalam tubuhku. Dan anda tidak usah khawatir, aku tidak akan mengusikmu lagi. Ini pertama dan terakhir kalinya aku datang menemuimu. Silahkan jalani dan nikmati hidupmu sendiri.”
Akhtar berdiri, sudah cukup baginya melihat lelaki yang konon katanya adalah ayah biologisnya. Sambil terus menggandeng Rain, dia beranjak pergi. Namun terdengar suara Rano berbicara padanya.
“Hei!! Setidaknya jangan pergi meninggalkanku dengan tangan kosong. Berilah ayahmu ini bekal. Walaupun di dalam tahanan, aku juga membutuhkan uang. Untuk pertama dan terakhir kalinya, berbaktilah kepadaku.”
Rahang Akhtar mengeras, dilepaskan genggaman tangannya kemudian mengambil dompet dari saku celananya. Dia mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah muda lalu menaruhnya di meja, tepat di hadapan Rano. Tanpa berbicara lagi, Akhtar menarik Rain meninggalkan ruang jenguk tersebut. Senyum Rano mengembang seraya menghitung uang yang diberikan anaknya.
Tubuh Akhtar limbung saat sampai di dekat mobil. Seluruh tubuhnya serasa tak bertulang lagi. sambil berpegangan pada sisi mobil dia mencoba mengumpulkan tenaganya. Rain menatap prihatin pada lelaki di dekatnya ini.
“Biar aku aja yang bawa mobilnya kak.”
Rain mengambil kunci dari tangan Akhtar, kemudian membantunya naik ke kursi penumpang. Setelah menutup pintu, Rain bergegas naik ke mobil. Tanpa menunggu lama dia mulai menjalankan kendaraan tersebut.
🍁🍁🍁
**Beruntung Akhtar diasuh sama Nino, kalau ngga....
Kenapa harus Rain yang nemenin kamu Akhtar? Harusnya kamu cari Lissa baru ketemu sama ayah kamu.
Dah gak udah 3 episode nih for today. Jangan lupa dukungannya juga buat mamake..
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Selamat bermalam Minggu😎**