Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Maju Atau Mundur?


__ADS_3

Kabar rencana pernikahan Farel dan Ara sudah sampai ke telinga Alea. Karuan saja wanita itu tambah uring-uringan. Dia terus mendesak Ega untuk menekan Firlan segera menikahi Hanin. Tak tahan dengan rengekan sang istri, Ega akhirnya memulai rencananya. Dia memerintahkan Astra, anak buahnya yang bertugas di bagian IT untuk menyebarkan berita kedekatan Firlan dengan Hanin.


Dalam kurun waktu dua hari, dunia media sosial dibuat gempar dengan pemberitaan Firlan dan Hanin. Foto-foto mereka yang Ega dapatkan dari orang suruhannya segera beredar di media sosial. Bahkan Astra juga membuat fans pendukung Firlan dan Hanin. Mereka mengkampanyekan hubungan keduanya dengan sebutan FIRHAN, Go Two Become One.


Firlan dibuat pusing dengan pemberitaan dirinya dengan Hanin yang tak ada habisnya. Bahkan Gara mencecarnya habis-habisan. Mau tidak mau Firlan menceritakan semua kebenarannya pada Gara. Awalnya sahabatnya itu marah, tapi kemudian dia bisa menerimanya saat Firlan mengatakan Hanin juga tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.


Berbeda dengan Hanin. Gadis itu tidak terlalu suka bermain media sosial, jadi dia tidak tahu kalau banyak pemberitaan dirinya di sana. Debby yang sudah gatal ingin bertanya ditahan oleh Adit. Dia meminta istrinya itu menunggu kabar dari Gara. Melihat gerak-gerik Hanin yang biasa saja, mereka curiga kalau Hanin tidak tahu apa-apa.


Hanin duduk di sisi ranjang. Malam ini dia akan menghadiri acara gathering di kampusnya. Acara yang seharusnya dihadiri olehnya dan Firlan harus batal karena lelaki itu telah mengakhiri kontrak status palsu mereka beberapa hari lalu.


Hanin bangun lalu mengambil tas selempangnya. Dengan langkah gontai dia berjalan keluar kamar. Saat menuruni anak tangga, dia mendengar seluruh keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Hanin juga mendengar suara Gara. Tak biasanya kakaknya itu pulang lebih awal.


Semua mata langsung tertuju pada Hanin ketika gadis itu menjejakkan kakinya di ruangan tengah. Debby terkejut melihat penampilan Hanin yang biasa saja. Padahal dia akan menghadiri acara penting di kampusnya.


“Ya ampun Hanin. Kamu mau ke acara gathering apa ke mall? Masa dandanan kaya gini sih,” protes Debby.


“Terus aku harus gimana ma? Jomblo mah bebas mau dandan kaya gimana juga.”


“Ngga bisa. Ayo ikut mama.”


Debby menarik tangan Hanin kembali ke kamarnya. Debby lalu membuka pintu lemari dan memilih-milih dress yang cocok untuk anaknya. Akhirnya pilihan Debby jatuh pada dress selutut model A-Line dengan motif floral. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Hanin mau berganti pakaian. Debby juga memilihkan tas dan sepatu yang cocok dengan dressnya.


Selanjutnya Debby mulai merias Hanin. Walau dihujani protes sang anak, Debby bergeming. Kini wajah Hanin sudah dipoles make up natural dengan sentuhan lipstik berwarna bibir. Rambut Hanin yang lurus sebahu dibuat curly di bagian bawahnya. Terakhir, dia menyemprotkan parfum yang baru dibelinya kemarin.


Debby tersenyum puas melihat hasil karyanya. Berbeda dengan Hanin yang nampak cemberut. Buat apa tampil cantik, toh laki-laki yang diinginkan melihatnya tampil cantik tak bisa menemaninya malam ini. Debby mengajak Hanin keluar dari kamar. Decak kagum langsung terdengar begitu melihat penampilan Hanin.


“Ya ampun ma, kalau Hanin cantik kaya gini nanti pulang acara ada yang lamar gimana?” goda Adit.


“Mama ih jangan dandanin Hanin cantik kaya gini. Tar kalau dia digodain cowok-cowok ngga bener gimana,” protes Gara.


“Makanya kamu temenin Hanin sana.”


“Ngga.. ngga mau.. Mama mau bikin Hanin tambah ngenes pergi ke gathering bareng bang Gara.”


“Loh kan acaranya juga untuk couple kan?”


“Hanin lebih baik datang sendiri. Datang sebagai jomblo lebih terhormat dari pada dateng tapi bawa pasangan kakak sendiri. Mau taruh di mana muka Hanin.”


“Emang ngga ada yang ngajak kamu jadi pasangannya de?”


“Ada bang, tiga orang malah. Tapi Hanin males ah.”


“Emangnya kenapa?”


“Yang satu playboy cap kadal bunting. Satunya lagi kapten basket yang narsis abis. Terakhir cowok paling tajir di kelas tapi sombongnya minta ampun, berasa anggota Boys Before Flowers dia.”


Semua yang mendengar tak dapat menahan tawanya. Gara bahkan sampai memegangi perutnya. Nara mencubit lengan suaminya melihat wajah Hanin yang cemberut.


“Ya udah ayo berangkat, abang antar kamu.”


“Ngga usah bang.”


“Ngga ada penolakan ya Han. Abang ngga mau kejadian Yunda terulang.”


Hanin hanya mengatupkan mulutnya. Kalau sudah berbicara tentang keselamatan, Hanin tidak bisa menolak. Gadis itu kemudian berpamitan pada Adit, Debby juga Nara. Saat Gara akan menyusul keluar, Nara menahannya. Istrinya itu membisikkan sesuatu di telinganya. Gara mengangguk tanda mengerti lalu keluar menyusul Hanin.


Sesekali Gara melirik Hanin yang duduk di sampingnya. Mulutnya sudah gatal ingin bertanya tentang hubungan Hanin dengan Firlan. Saat mobil yang dikendarainya berhenti di sebuah lampu merah, Gara memulai interview-nya.


“Han.. ada hubungan apa kamu sama Ilan?”


Hanin terkejut, spontan dia menoleh ke arah Gara. Mimik wajah kakaknya itu tampak serius. Otak Hanin berputar cepat mencari jawaban yang tepat.

__ADS_1


“Hmm.. ngga ada hubungan apa-apa.”


“Ilan udah cerita, katanya kalian sempet pura-pura jadi pasangan pas nikahannya Yunda. Bener itu?”


“Iya bang. Tapi itu cuma pura-pura aja bang, beneran deh. Lagian semuanya juga udah berakhir kok.”


“Han, jawab jujur ya. Kamu suka ngga sama Ilan?”


Gara memajukan perseneling kemudian menekan pedal gas saat lampu sudah berganti hijau. Mendengar pertanyaan kakaknya, Hanin malah tertawa.


“Dih malah ketawa. Jawab Han.”


“Abis pertanyaan abang lucu. Gimana ceritanya aku suka sama bang Ilan, lah wong kita pura-pura pacaran aja cuma hitungan sebulanan aja, ngga nyampe dua bulan.”


“Ya kali aja kamu baper. Abang cuma takut kamu main hati, sedangkan abang tahu Ilan itu tipe cowok yang susah move on. Saat ini masih ada Yunda di hatinya.”


“Ngga lah bang, aku ngga baper, suer.”


Hanin mengangkat kedua jari tangannya seraya melayangkan senyum penuh kepalsuan. Dalam hatinya meringis mendengar ucapan Gara. Harusnya dia sadar kalau Firlan masih mencintai Ayunda. Tidak mudah berpaling hati secepat itu, apalagi dirinya masih jauh jika dibandingkan adik dari Elang itu.


“Bagus deh kalau kamu ngga baper.”


Gara mengusak puncak kepala Hanin. Ingin rasanya Hanin menangis dan menumpahkan kesedihan pada sang kakak. Tapi Hanin berusaha menahan diri. Dia tak ingin ada perselisihan antara Gara dengan Firlan karena dirinya.


Mobil yang dikendarai Gara akhirnya sampai di gedung kampus Hanin. Sudah banyak mobil yang terparkir di sana. Lalu lalang tamu yang hadir juga sudah mulai terlihat. Acara yang digelar di aula kampus itu sudah dimulai setengah jam lalu.


Hanin turun dari mobil lalu melambaikan tangannya ketika kendaraan roda empat yang mengantarnya berlalu meninggalkannya. Gadis itu menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam aula. Hingar bingar musik langsung menyapa gendang telinganya ketika kakinya memasuki aula. Mata Hanin berkeliling mencari teman-temannya. Kemudian kakinya bergerak menuju sayap kanan gedung, tempat teman-temannya berada.


“Ya ampun Hanin, kalau tahu kamu dateng sendiri, aku bakal sewa limosin buat jemput kamu,” seru Andrew si tajir yang somse.


Hanin hanya memutar bola matanya malas. Dia memilih menuju meja yang menyediakan minuman. Datanglah Jose, si playboy cap kadal bunting. Wajahnya memang cukup tampan, wajar saja kalau dia berlaku seperti don juan. Bahkan demi menunjang wajah dan titel don juan, dia merubah namanya sendiri yang aslinya Asep Supriyatna menjadi Jose.


“Han, cantik bener malem ini. Abis dari sini kencan yuk.”


“Biarin aja, si Naomi mah. Mau ya, kita ke Cartil.”


“Ogah Asep...”


“Ssssttt... Jose Han.. Jose.. hilang ketampanan gue kalau lo panggil pake nama itu.”


“Serah lo aja dah Asep...”


Hanin segera pergi meninggalkan Jose alias Asep Supriyatna. Belum hilang kekesalannya setelah berhadapan dengan Asep. Kini si narsis alias Billy datang menghampiri. Dia berdiri tepat di samping Hanin.


“Lihat Han, kita tuh pasangan serasi. Harusnya lo terima ajakan gue, lo ngga lihat jas yang gue pake, pas banget kan di badan gue. Muka gue juga ganteng maksimal. Ya dengan penampilan lo seperti ini cocoklah bersanding sama gue.”


Hanin menggerakkan mulutnya menirukan ucapan Billy tanpa bersuara namun dengan mimik wajah meledek. Tanpa berkomentar dia langsung meninggalkan pria narsis tersebut. Baru saja beberapa langkah, sebuah lengan merangkul bahu Hanin membuat gadis itu terjengit.


“Bang Ziel...”


“Hai cantik.. sendirian aja nih. Abang temenin ya.”


“Bang Ziel kok bisa ada di sini?”


“Siapa lagi yang minta kalau bukan kakak ipar kamu. Dia khawatir kamu bakal jadi jomblo hokcay di sini makanya mohon-mohon abang buat nemenin kamu.”


“Lebay.”


Azriel hanya tergelak lalu mengajak Hanin duduk di salah satu kursi. Nara memang menghubunginya dan meminta dirinya menemani Hanin di acara gathering ini. Azriel yang butuh refreshing setelah mengikuti turnamen langsung mengiyakan saja.


“Ya ampun ini Azriel kan? Aaaaa.... ganteng banget aslinya!”

__ADS_1


Salah seorang teman Hanin terpekik melihat keberadaan Azriel, bintang bulu tangkis yang tengah meroket namanya. Azriel terkenal bukan karena prestasinya saja tapi juga karena ketampanannya. Teriakan teman Hanin kontan memicu perhatian yang hadir. Alhasil banyak gadis yang menghampiri atlit tersebut.


Hanin mendengus sebal melihat ke arah kerumunan para gadis yang tengah mengerubuti Azriel. Sedikit demi sedikit tubuhnya tergeser hingga keluar dari arena jumpa fans dadakan. Ternyata Azriel tak kalah narsis dari Billy. Dengan perasaan dongkol Hanin memilih pergi. Dia berdiri menikmati udara malam di balkon aula.


Semilir angin malam menerpa tubuhnya. Hanin memejamkan matanya menikmati sapuan angin di tubuhnya. Saat matanya terbuka, terlihat sebuah tangan menyodorkan minuman ke arahnya. Dengan malas Hanin mengambil minuman itu lalu meneguknya. Tenggorokannya memang terasa kering.


“Udah bang jumpa fans-nya? Seneng banget kayanya foto bareng ama cewek-cewek.”


“Siapa?”


Hanin terjengit mendengar suara di sampingnya. Dengan cepat dia menolehkan kepalanya. Hanin tak percaya dengan penglihatannya, Firlan kini berdiri tepat di sampingnya.


“Bang Ilan... ngapain di sini?”


“Ya nemenin kamulah.”


“Katanya ngga bisa.”


“Bisa kok. Buktinya abang di sini.”


Tanpa sadar senyum Hanin terbit, ada rasa bahagia menyusup dalam hatinya. Perasaannya yang sempat layu beberapa hari lalu terlihat mulai segar kembali. Apakah mungkin ini pertanda gayung cintanya bersambut.


“Pak Firlan.”


Suara seorang pria membuyarkan lamunan Hanin. Firlan tersenyum ke arah pria yang tadi memanggil namanya lalu berjabat tangan.


“Wah saya ngga nyangka pak Firlan datang juga ke acara ini.”


“Saya cuma nemenin Hanin pak.”


“Oh ini calonnya pak Firlan ya. Kenalkan saya Handika, saat ini perusahaan saya menjadi salah satu suplier di hotel Gala Corp.”


Pria di depan Hanin mengulurkan tangannya. Hanin membalas uluran tangan pria tersebut. Harapan yang baru saja berkembang kini kembali hancur berantakan. Ternyata kehadiran Firlan bukan untuk dirinya tapi untuk mempertahankan status palsu yang sudah terlanjut bergulir.


Sepanjang acara Hanin lebih banyak diam. Ternyata di acara ini banyak hadir kolega Firlan. Itulah tujuan utama pria itu datang ke sini. Hanin memandang sendu ke arah Firlan yang tengah bercengkerama dengan beberapa rekannya.


“Kamu suka ya sama bang Ilan?”


Suara Azriel terdengar tepat di telinganya. Pria itu sudah selesai dengan sesi fotonya dan kini kembali ke sisi Hanin.


“Ngga kok.”


“Ngga usah bohong. Abang udah pernah lihat muka kaya gini sebelumnya.”


“Siapa?”


“Yunda. Dulu dia juga sempet jadi pemuja bang Ilan. Ck.. dasar kakak gue itu kerjanya cuma baperin cewek doang. Tapi syukur deh dia udah dapet karmanya,” Azriel terkekeh.


“Han.. abang saranin sama kamu. Maju atau mundur, jangan diem di tengah-tengah. Kalau kamu maju, berarti kamu harus berjuang bikin bang Ilan jatuh cinta sama kamu. Tenang aja, abang akan bantu kamu. Tapi kalau kamu ngga sanggup, lebih baik mundur dari sekarang sebelum perasaan kamu tambah sakit.”


“Aku ngga tahu bang.”


“Kamu ngga usah jawab sekarang. Pikirin aja dulu. Akan ada waktunya kamu jawab pertanyaan itu. Inget apapun jawabanmu, abang bakal dukung kamu.”


Hanin terdiam mencoba merenungi semua ucapan Azriel. Kalau menuruti kata hati, Hanin ingin sekali berjuang mendapatkan Firlan. Namun dia juga takut kalau kisah cinta pertamanya akan kandas di tengah jalan.


🍁🍁🍁


**Astoge dari mane ceritanya Asep Supriyatna dipanggil Jose🙈


Buat Nisaaaa, mamake pake ya julukanmu untuk pasangan ini😘😘😘

__ADS_1


Menurut kalian Hanin bakal maju or mundur? Tapi bukan maju mundur cantik kaya Syahrenong ya.


Yuk dukungannya jangan lupa, like, comment and vote😉**


__ADS_2