Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Konspirasi


__ADS_3

Iqbal segera mengajak Dirga dan Diva ke restoran Premium, Yonas mengikuti mereka dari belakang. Sesampainya di restoran bintang lima tersebut, mereka langsung menuju meja yang telah dipesan sebelumnya.


“Berapa lama kamu akan tinggal di Bandung?”


“Mungkin seminggu. Aku mau ketemu Putri, Zaki, Dinda dan Ajeng dulu. Mereka marah-marah waktu terakhir kita video call,” Dirga terkekeh mengingat para sahabatnya yang sudah lima tahun ini tak ditemuinya.


“Kamu memang harus bertemu mereka. Rasanya baru kemarin kalian bertemu, berteman dan sekarang kalian sudah punya cucu.”


“Iya bang. Tahun depan Prima udah mantap mau nikah, calonnya teman anaknya Ajeng.”


“Jodoh anak-anak kita ternyata ngga jauh.”


“Iya, kaya abang, jodohnya sekretaris sendiri.”


Keduanya tergelak mengenang masa lalu. Diva tersenyum melihat suaminya yang nampak bahagia. Di Belanda jarang sekali dia bisa melihat Dirga tertawa selepas ini. Setelah kepergian Soni dan Diandra, Diva memutuskan tinggal di Belanda, membiarkan Dirga mengurus perusahaan tante Elena.


“Apa abang sudah menemukannya?”


“Hmm..”


“Siapa namanya?”


“Azkia.”


“Apa dia sudah tahu?”


“Belum. Abang masih menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Sekarang abang mau fokus dulu pada operasi kakakmu.”


“Makasih bang sudah menjaga bang Erik sampai sekarang.”


Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan bertepatan dengan kedatangan Azkia. Bersama Elang, wanita itu memasuki restoran lalu duduk tak jauh dari meja mereka. Mata Iqbal terus melihat ke arah Azkia, membuat Dirga menolehkan kepalanya.


“Bang.. apa dia?”


“Iya, dia Azkia.”


“Ternyata dia anak yang cantik.”


“Hmm.. dia mirip sekali dengan ibunya. Yang sedang bersamanya adalah Elang, suaminya. Dia anak dari pemilik Humanity Corp.”


“Wow.. ternyata dia bisa menjadi menantu salah satu pengusaha terkenal. Apa mereka bersikap baik padanya?”


“Tentu saja, bahkan mereka yang menyelamatkan Kia dari bapak tirinya yang brengsek itu. Aku bersyukur dia dipertemukan dengan keluarga baik-baik, yang memperlakukan semua orang secara baik tanpa memandang status.”


Dirga terus memandangi Azkia, demikian juga dengan Diva. Tak lama terlihat Azkia berdiri lalu berjalan menuju toilet. Dirga ikut berdiri kemudian berjalan ke arah yang sama. Dia menunggu Azkia keluar dari kamar mandi dengan berpura-pura bertelepon dengan seseorang. Sesekali matanya melirik ke arah pintu.


Pintu toilet terbuka, Azkia berjalan kembali ke mejanya. Dirga berjalan mendekat ke arahnya lalu dengan sengaja menabrakkan diri hingga ponselnya terjatuh. Azkia berjongkok membantu mengambilkan ponsel milik Dirga lalu mengembalikan padanya.


“Terima kasih,” ucap Dirga seraya melemparkan senyum.


“Sama-sama om,” Azkia balas tersenyum.


Elang yang mengamati interaksi Azkia dengan Dirga segera berdiri lalu menghampirinya. Azkia terjengit ketika tangan Elang sudah melingkar di pinggangnya.


“Apa semua baik-baik aja?”


“Iya mas, aku cuma bantu mengambilkan ponsel bapak ini yang jatuh.”


“Terima kasih sekali lagi.”


Dirga segera berlalu meninggalkan Azkia dan Elang. Hatinya bahagia, walaupun hanya sesaat, dia bisa berkomunikasi dengan keponakannya itu. Dirga kembali ke mejanya dan melahap makannya yang belum sempat disentuhnya.


“Kapan aku bisa berkenalan dengannya bang?”


“Sabar, akan ada waktunya nanti.”


“Aku seperti lihat jelmaan kak Ri di suami Kia.”


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Posesifnya itu bang. Dia langsung nyamperin pas lihat aku sama Kia ngobrol,” Dirga tergelak.


Iqbal hanya menggelengkan kepalanya saja. Dalam hatinya berharap kecurigaannya tentang Deski salah. Dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Elang nantinya. Pertarungan sengit pasti akan terjadi, mengingatkannya akan konflik Fahri dan Erik dahulu.


Selesai makan siang, Iqbal menyempatkan diri menghampiri Elang yang masih berada di mejanya. Elang cukup terkejut karena pria yang tadi ditemuinya adalah adik dari Erik. Mereka berbincang sesaat dan tak lama kemudian mereka segera meninggalkan restoran. Tak lama Elang dan Azkia pun meninggalkan restoran. Keduanya kembali ke ruangan Elang di lantai 11.


Elang membuka laci meja kerjanya lalu mengambil sebuah kotak beludru dari dalamnya. Kemudian menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa. Elang menyerahkan kotak tersebut pada Azkia.


“Apa ini mas?”


“Hadiah untukmu. Sebenarnya mas sudah lama membelinya, tapi selalu lupa untuk memberikannya,” Elang terkekeh.


Azkia membuka kotak tersebut, sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk belah ketupat dan berlian di tengahnya.


“Mas, kalungnya cantik sekali.”


“Hmm... kalung ini secantik yang punya.”


Elang mengambil kalung tersebut. Azkia mengangkat hijabnya, tangan Elang menelusup masuk lalu memasangkan kalung tersebut.


“Makasih mas.”


“Sama-sama sayang. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan kalung ini.”


“Iya mas.”


Elang mengecup kening Azkia lalu membawa ke dalam pelukannya. Azkia melingkarkan tangannya di pinggang Elang seraya memejamkan matanya. Rasanya begitu nyaman berada dalam pelukan suaminya. Untuk sesaat mereka saling berpelukan. Elang mengurai pelukannya kemudian mengecup singkat bibir Azkia setelah itu kembali ke mejanya untuk menyelesaikan pekerjaan.


🍁🍁🍁


Dengan penuh percaya diri Syifa memasuki ruangan Deski. Mereka memang ada janji temu hari ini membicarakan rencana untuk memisahkan Elang dengan Azkia. Tomi, sekretaris Deski segera meninggalkan ruangan begitu Syifa datang. Deski menghampiri Syifa, keduanya duduk di sofa.


“Bagaimana dengan rencanamu itu?”


“Tenang saja, semuanya sudah siap.”


“Kapan kamu akan memulainya?”


“Apa harus selama itu? Aku sudah tidak sabar untuk bisa memiliki Kia.”


“Kamu harus bisa menahan diri. Saat ini Elang masih waspada, tunggu sampai kewaspadaannya turun, baru kamu bertindak. Jangan kacaukan rencanaku dengan bersikap bodoh.”


Deski tertawa mendengar ucapan Syifa. Harus diakui, Syifa benar-benar wanita yang pintar sekaligus licik. Dapat bekerja sama dengan wanita itu merupakan keuntungan tersendiri untuknya.


“Wah.. wah.. ternyata dibalik wajah cantikmu tersimpan kelicikan luar biasa. Kamu adalah iblis berwajah malaikat.”


“Dan kamu adalah Rahwana yang berusaha merebut Sinta dari Rama.”


“Apa yang membuatmu ingin memiliki Elang? Apa kelebihan laki-laki itu?”


“Yang pasti dia lebih baik darimu. Aku sudah menunggunya selama empat tahun. Kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Apapun akan kulakukan untuk dapat memilikinya. Kalau perlu akan kusingkirkan Kia selamanya.”


“Berani kamu menyentuhnya maka itu adalah hari terakhir kamu bernafas.”


Deski menatap tajam pada Syifa membuat gadis itu cukup tercekat. Terdengar ketukan di pintu memecah ketegangan di antara mereka. Tomi masuk ke dalam dengan seorang gadis. Syifa memperhatikan gadis di hadapannya. Usianya sepantar dengannya, wajahnya tanpa ekspresi sama sekali. Tubuhnya terbalut jeans hitam, jaket kulit berwarna senada dan rambut dengan potongan cepak kesan tomboy begitu terlihat padanya.


“Apa dia orangnya?”


“Iya pak. Namanya Meta, dia menguasai ilmu bela diri dan pernah terdaftar di perusahaan keamanan.”


“Bagus, mulai besok saya mau kamu mengawasi seseorang. Nanti Tomi yang akan mengatakan sisanya.”


“Baik pak.”


Deski menganggukkan kepalanya. Tomi segera mengajak Meta keluar dari ruangan. Syifa yang penasaran dengan gadis tadi segera bertanya pada Deski.


“Dia siapa? Apa dia bagian dari rencana kita?”


“Dia adalah pengawal yang khusus aku pekerjaan untuk mengawasi dan menjaga Kia.”

__ADS_1


“Kamu punya banyak pengawal, kenapa harus merekrut yang baru? Apa tidak terlalu riskan memakai orang luar?”


“Aku sudah menyelidiki latar belakangnya. Aku membutuhkannya untuk menjaga Kia. Karena aku tidak mengijinkan laki-laki lain menyentuh Kia-ku.”


“Termasuk Elang?”


“Tentu saja. Membayangkan dia menyentuh Kia membuatku ingin meledak. Segera percepat rencanamu, aku tidak sudi melihat dia berdekatan dengan calon istriku.”


Deski mengepalkan tangannya kencang. Emosinya kembali tersulut ketika mengingat bagaimana Elang mencium Azkia saat perayaan ulang tahun ayahnya. Syifa tersenyum senang, keberhasilan merebut Elang serasa sudah di depan mata.


“Aku juga membawa seseorang. Aku yakin dia akan sangat berguna untukmu.”


Syifa melakukan panggilan dengan ponselnya. Tak lama kemudian pintu terbuka, Tomi beserta seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam. Deski mengamati lelaki yang berdiri di hadapannya. Syifa mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk.


“Kenalkan, dia pak Agus. Ayah dari Kia.”


Agus mengulurkan tangannya ke arah Agus. Deski menerima uluran tangan Agus sambil matanya tak henti memperhatikannya. Agus menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Otak liciknya mulai bekerja, bagaimana caranya mendapatkan uang dari pemuda di hadapannya.


“Kamu mencintai Kia?” Agus membuka percakapan.


“Hmm...”


“Sayang dia sudah menikah dengan Elang.”


“Aku akan merebutnya.”


Agus tersenyum menyeringai. Hatinya bersorak karena sudah menemukan pundi-pundi uang yang baru. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Deski.


“Perlu kubantu?”


“Apa benar kamu mau membantuku?”


“Tentu saja, lagi pula aku sama sekali tidak menyukai Elang. Aku lebih setuju Kia denganmu.”


Deski berdecih mendengar ucapan Agus. Dari sekali lihat, dia sudah tahu kalau Agus adalah pria yang licik. Tapi demi mendapatkan Azkia, dia akan berkolaborasi dengan siapapun selama itu dapat memuluskan rencananya.


“Buat Kia tidak mau kembali pada Elang. Caranya dengan membuatnya merasa hina untuk kembali kepada suaminya.”


Baik Deski maupun Syifa mulai tertarik dengan apa yang dikatakan Agus. Melihat kedua orang di depannya tertarik, Agus meneruskan perkataannya.


“Kamu culik Kia. Bagaimana pun caranya kamu harus bisa menidurinya.”


“Apa??!!!” Deski dan Syifa cukup terkejut.


“Hanya itu cara agar Kia tidak mau kembali pada Elang.”


“Kamu pikir mudah membuat Kia melakukan itu? Baru dipegang saja dia sudah meradang.”


“Kia itu hatinya lembut. Dia akan melakukan apa saja untuk orang yang disayanginya. Setelah menculik Kia, kamu culik Hanin, adiknya. Ancam dia menggunakan Hanin maka dengan sukarela dia akan menuruti keinginanmu.”


Deski terdiam sebentar, mencoba mencerna semua ucapan Agus. Ternyata Agus tak kalah licik dari Syifa. Agus tersenyum miring, jika Deski berhasil menjalankan rencananya, selain uang dia juga bisa puas melampiaskan kebenciannya pada Azkia selama ini.


“Apa imbalan yang kamu mau?”


“Uang pastinya. Aku tidak ingin hidup susah lagi. Dan berikan aku tempat tinggal, terus terang selama ini aku luntang lantung di jalanan. Jadi, berikan aku tempat tinggal juga uang. Aku akan membantumu sampai rencanamu berhasil. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi juga Kia.”


Deski bangun dari duduknya lalu berjalan menuju meja kerja. Dengan satu kali tekan di tombol panggilan, dia meminta Tomi masuk ke dalam ruangan. Tak butuh waktu lama bagi sekretarisnya itu untuk datang.


“Sediakan tempat tinggal untuk pak Agus dan berikan dia sejumlah uang.”


“Baik pak. Silahkan pak Agus ikut dengan saya.”


Agus berdiri lalu mengikuti Tomi keluar dari ruangan. Syifa yang sudah tidak mempunyai kepentingan lagi juga memilih pergi. Deski menyandarkan bokongnya ke meja. Tangannya mengusap layar ponsel, melihat-lihat foto Azkia yang dikirimkan orang suruhannya.


Bersabarlah Kia, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku. Aku akan memperlakukanmu seperti ratu. Aku juga akan menyingkirkan bapakmu yang bejat itu dari hidupmu. Begitu pula Elang dan Syifa. Tak ada lagi mereka di antara kita nantinya.


🍁🍁🍁


**Hai... mamake datang lagi nih dengan episode yang bikin gemes ya. Kira² rencana Deski, Syifa dan Agus berhasil ngga ya???

__ADS_1


Buat yg kangen sama gank gesrek, sudah terobati dengan kemunculan Dirga kan?


Jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan like, comment and vote**.


__ADS_2