
Pelataran parkir kampus Tunas Mandiri sudah dipenuhi oleh tenda-tenda. Berbagai ragam barang kebutuhan tertata di sana. Selain bazar, kegiatan ini juga menjual paket sembako murah untuk masyarakat sekitar. Selain itu, mereka juga sudah mengalokasikan sejumlah dana yang masuk untuk beberapa panti asuhan yang mereka nilai layak menerima bantuan.
Azkia mengecek satu per satu stand yang ada di sana. Mahasiswa yang ingin menjual dagangannya diperbolehkan dengan aturan membagi keuntungan dengan panitia untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan. Mulai dari pakaian sampai jajanan pasar tersedia. Untuk pakaian, mereka menjual pakaian baru atau pakaian bekas yang masih layak pakai. Khusus untuk pakaian bekas, semua penghasilan akan disumbangkan.
Sudah banyak warga sekitar yang datang untuk membeli paket sembako murah. Sebelumnya dengan bantuan RT, RW dan Kelurahan panitia mendata warga yang masih kekurangan. Mereka akan diberikan kupon untuk membeli paket sembako murah. Mereka melakukan itu agar tepat sasaran dan menghindari oknum-oknum yang coba bermain curang demi kepentingan sendiri.
Azkia melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul sebelas, namun Elang belum juga datang. Beberapa kali Azkia mencoba menghubungi dengan mengirim pesan dan telepon, namun ponsel pemuda itu tak aktif. Jauh di lubuk hatinya Azkia merasa kecewa karena Elang tak bisa hadir. Dia memilih mengalihkan rasa kecewanya dengan membantu teman-temannya yang sibuk berjualan.
Sementara itu Elang yang sedang dalam perjalanan pulang berkali-kali menekan klaksonnya karena kendaraan di depannya terus menghalangi jalannya. Rencananya pulang ke Bandung sehabis shubuh harus batal karena insiden yang terjadi di lokasi proyek. Sebagai penanggung jawab utama, dia harus turun langsung mengatasi masalah yang terjadi. Alhasil baru jam sembilan pagi dia berangkat menuju Bandung.
Semakin siang acara charity yang digelar semakin banyak didatangi pengunjung. Ditambah dengan adanya hiburan berupa musik dan aksi teatrikal yang menampilkan parodi acara-acara terkenal di televisi.
Di salah satu sudut nampak seorang pria paruh baya berdiri menyender di tembok sambil matanya mengawasi satu per satu orang yang ada di area bazar. Sesekali mulutnya menghisap rokok kretek yang terselip di jarinya. Seringai terlihat di wajahnya ketika melihat Azkia berjalan keluar dari area bazar. Dibuangnya rokok yang memang sudah dihisap sampai ke ujungnya lalu menginjaknya dengan ujung sandalnya. Dengan langkah lebar dia berjalan menuju Azkia.
Tak menyadari bahaya yang mengincarnya, Azkia terus saja berjalan menuju gedung fakultasnya. Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengannya. Hampir saja gadis itu berteriak, namun urung dilakukan ketika menyadari itu adalah ulah bapaknya.
“Bapak.”
“Mana uang yang kamu janjikan?”
“Bagaimana bapak tahu aku di sini?”
“Ngga penting. Sekarang mana uang yang kamu janjikan hah?”
“A.. ada di ATM pak. Aku belum sempat ambil.”
“Ambil sekarang! Bapak butuh satu juta.”
“Ta.. tapi aku ngga punya sebanyak itu pak. Cuma ada lima ratus ribu.”
“Bapak ngga mau tau! Bapak butuh satu juta sekarang! Minta sisanya pada pacarmu itu.”
Azkia menggeleng cepat, uang yang kemarin saja belum dikembalikan. Bagaimana mungkin dia meminta lagi pada Adi. Kesal dengan penolakan anaknya, Agus menarik paksa tubuh Azkia hingga terdengar jerit kesakitan darinya. Agus terus menyeret Azkia dengan kasar, namun tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal seseorang. Agus menolehkan kepalanya, matanya menatap nyalang pada orang tersebut.
“Siapa kamu hah?”
“Ngga penting saya siapa. Lepaskan tangan anda!”
“Mas El,” gumam Azkia.
Elang mengencangkan cengkeramannya pada Agus, membuat pria itu melepaskan tangannya dari Azkia. Agus mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa ngilu begitu Elang melepaskan cengkeramannya.
“Siapa kamu berani ikut campur? Saya bapaknya Azkia asal kamu tahu!”
“Seorang bapak tidak seharusnya berbuat kasar pada anaknya.”
“Bukan urusanmu!”
“Itu menjadi urusan saya jika menyangkut Azkia!”
“Sudahlah saya tidak ada urusan denganmu. Mana uang yang kamu janjikan, cepat!”
“Berapa yang anda butuhkan?”
“Satu juta!”
Elang mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sejumlah uang yang diminta Agus. Elang menaruh uang tersebut ke dada Agus dengan sedikit kasar. Dengan segera pria itu mengambil uang tersebut.
__ADS_1
“Ini pertama dan terakhir kalinya saya memberikan uang itu untuk anda. Lain kali jika anda bersikap seperti ini, saya akan mengirim anda ke penjara.”
“Hahaha... silahkan, aku tidak takut dengan ancamanmu. Aku sudah pernah merasakan hidup di balik jeruji.”
“Baguslah, kalau begitu tidak masalah kalau anda tinggal selamanya di sana. Ingat, jangan pernah mengganggu Azkia lagi atau saya benar-benar akan mengirim anda ke penjara dan jangan harap bisa bebas dalam waktu dekat.”
Sambil mendengus kasar, Agus meninggalkan Azkia dan Elang. Dia memilih untuk pergi, karena Elang bukanlah sosok yang mudah terintimidasi olehnya. Bahkan Agus sedikit ketar-ketir berhadapan dengan pemuda itu.
“Kamu ngga apa-apa?”
“Iya mas, makasih. Tapi mas ngga seharusnya kasih uang itu pada bapak.”
“Sudah jangan dipikirkan.”
“Aku akan mengganti uang mas.”
“Tidak perlu.”
“Harus mas. Aku ngga mau membebanimu.”
“Az! Berhenti bicara tentang uang! Uang itu ngga seberapa dibanding keselamatan kamu. Dan aku juga ngga mau denger kamu bilang mau menggantinya.”
“Tapi mas..”
“Diam!”
Azkia langsung mengatupkan mulutnya. Nada bicara Elang yang meninggi ditambah raut wajahnya yang mengeras membuat gadis itu terdiam. Sungguh pemuda itu memiliki aura yang menakutkan saat ini. Jika Adi terbiasa mengalah pada sikap keras kepala Azkia, tidak dengan Elang. Ketegasan pemuda itu menunjukkan sikap kalau dirinya tak ingin dibantah.
“Kamu sudah makan?” suara Elang terdengar melunak.
“Belum mas.”
Azkia tak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya. Elang menarik nafas panjang beberapa kali, mencoba menanangkan dirinya.
“Ayo ikut, kita makan di cafe depan kampus.”
Azkia mengangguk lalu mengikuti langkah Elang menuju cafe yang terdapat di seberang kampus. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya menatap iri padanya. Di mana pun pesona pemuda itu selalu dapat menarik perhatian kaum hawa.
Kini keduanya sudah duduk berhadapan di dalam cafe. Elang membolak-balik buku menu, memilih menu untuk makan siang yang terlambat.
“Kamu mau makan apa?”
“Terserah mas aja.”
“Kalau aku kasih sate tikus kamu mau?”
Azkia mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Elang. Tanpa sadar Azkia tersenyum padanya. Ekspresi datar Elang berubah menjadi sebuah senyuman manis. Jantung Azkia berdegup kencang, dengan cepat dia menundukkan pandangannya kembali.
“Kamu suka tongseng?”
“Suka.”
“Mau itu?”
“Hmm.. boleh mas.”
“Sapi atau kambing?”
__ADS_1
“Bebas.”
“Hmm... bebas. Ngga ada tuh, pilihannya cuma sapi atau kambing, kalau bebas ngga ada.”
“Mas...”
Elang terkekeh melihat wajah cemberut Azkia. Dia melambaikan tangan pada pelayan lalu memesan dua porsi tongseng kambing, dua piring nasi dan dua iced lemon tea. Sambil menunggu pesanan mereka berbincang. Dengan antusias Azkia menceritakan tentang kegiatan charity yang cukup sukses. Elang mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mencuri pandang pada gadis itu. Saat berbicara keduanya memang tidak saling bertatap mata. Menghindari ***** syahwat yang mungkin datang dari mata.
Selesai makan, keduanya kembali ke kampus. Acara charity masih belum usai. Adi yang sedari tadi mencari Azkia mengurungkan niatnya begitu melihat gadis itu sedang asik berbincang dengan Elang di salah satu stand. Ada perasaan cemburu menyusup dalam hatinya. Melihat Azkia begitu nyaman dan tertawa bebas saat di dekat Elang membuat hatinya tercubit. Belum pernah Azkia tertawa sebahagia itu saat bersamanya.
“Mau pulang sekarang?” tawar Elang.
“Iya kak. Tapi aku mau pamit dulu ke yang lain.”
Elang mengangguk. Matanya tak lepas menatap Azkia yang tengah berpamitan dengan panitia yang lain, tak terkecuali pada Adi. Pemuda itu nampak kecewa karena Azkia harus pulang lebih cepat. Tapi dia sama sekali tidak berdaya menahan kepulangan wanita tercintanya.
Setelah berpamitan, Azkia kembali menghampiri Elang. Mereka berjalan menuju mobil Elang. Sekilas Azkia menangkap gurat kelelahan di wajah pemuda itu.
“Kamu mau bawa apa buat ibu?”
“Maksudnya?”
“Kamu ngga mau bawain ibu oleh-oleh? Ibu suka makan apa? Kita beli dulu.”
Beberapa hari yang lalu Daniar pernah mengatakan ingin memakan buah-buahan serta triple chocolate cake dari More & Most Coffie karena salah satu tetangganya pernah mengirim kue tersebut. Namun tenggorokan Azkia seperti tercekat. Dia terlalu malu untuk mengatakannya.
“Az.. ibu mau dibawain apa?”
“Ng.. ngga usah mas.”
“Ck.. masa pulang ngga bawa oleh-olah buat ibu. Coba telepon adik kamu.”
Azkia melihat pada Elang. Dengan matanya pemuda itu mengisyaratkan Azkia mengikuti perintahnya. Dengan ragu Azkia menelpon Hanin. Elang meminta Azkia menekan tombol loud speak saat berbicara. Azkia bersyukur karena Hanin tak juga menjawab panggilannya. Namun di saat-saat terkahir terdengar suara Hanin dari seberang.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam, kamu lagi di mana Han?”
“Di rumah kak.”
“Hmm.. kakak lagi di jalan mau pulang. Kira-kira ibu mau dibawain apa ya?”
“Kan kakak tau kalau dari kemarin ibu pengen makan anggur hijau sama triple chocolate cake yang dari More & Most Coffie itu. Tumben banget ya kak, ibu pengen makan yang mahal-mahal. Lidahnya keset kali makan jajanan warung yang seribuan,” Hanin terkekeh. Azkia berdehem untuk mengusir rasa malunya. Rasanya ini sekali dia melakban mulut adiknya yang tanpa filter.
“Ya udah ini kakak lagi di jalan.”
“Eh kak, aku ijin mau ke rumah Dinda ya.”
“Jangan lama-lama.”
“Iya, sebelum isya udah pulang kok. Dah kakak, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Azkia mengakhiri panggilannya. Sudut matanya melirik ke arah Elang yang terus saja menatap lurus ke depan.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Mas El ngga mau bawain mamake oleh² juga?
Kalau dari readers oleh²nya cukup like, comment and vote. Kalau ada yg mau kasih gift mamake juga ngga keberatan kok. Tak tunggu selalu feedback dari kalian semua😘😘😘**