
Ayunda sedang membereskan kamarnya. Airmatanya sesekali mengalir, gadis itu masih sedih dengan cerita masa kecil Farel. Beberapa kali terdengar suara hidungnya ketika menarik ingusnya. Diambilnya tisu kemudian dikeluarkan cairan kental dari hidungnya. Kalau kedua kakaknya melihat sudah pasti akan terkena ledekan.
Baru saja selesai menyapu kamar, tiba-tiba ponselnya berdering. Ayunda melirik ke layar, tertera nama Firlan di sana. Dengan cepat Ayunda menggeser tombol hijau. Suara Firlan langsung terdengar dari seberang.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” suara Ayunda terdengar bindeng.
“Kamu kenapa Yun? Habis nangis atau lagi pilek?”
“Ngga apa-apa bang. Cuma lagi melow aja.”
“Melow kenapa?”
“Udah ah ngga usah nanya, tar aku nangis lagi. Abang tumben telpon, ada apa?”
“Abang lagi gabut nih, nonton yuk.”
“Berdua aja? Ngga mau ah.”
“Kita ajak Gara sama Nara. Anggap aja double date.”
“Bang Gara sama Nara lagi fitting baju.”
“Yah.. terus gimana? Ngga apa-apa lah nonton berdua, kan di bioskopnya juga banyak orang. Gimana? Mau ngga?”
Ayunda terdiam sejenak. Tapi kemudian dia teringat Reyhan. Sepertinya seru kalau nonton bertiga, Ayunda bisa membandingkan bagaimana sikap kedua pria itu padanya.
“Boleh deh bang. Dua jam lagi ya.”
“Oke.”
Firlan mengakhiri panggilannya. Ayunda bergegas menghubungi Reyhan, namun pria itu tak kunjung menjawab panggilannya. Ayunda mencoba sekali lagi tapi tetap tidak diangkat. Dengan kesal Ayunda melempar ponselnya ke kasur. Tapi kemudian diambilnya lagi, dia kembali menghubungi Reyhan.
Ayunda benar-benar dibuat kesal. Sudah sepuluh kali dia melakukan panggilan tapi tak kunjung diangkat. Ayunda menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Bibirnya sudah maju beberapa senti. Kalau Reyhan ada di hadapannya, ingin rasanya dia mencakar-cakar wajah ganteng dokter bedah itu.
Selang dua puluh menit kemudian ponsel Ayunda berdering. Buru-buru disambarnya ponsel tersebut. Matanya berbinar melihat nama Reyhan tertera di layar. Dia berdehem sebentar, entah mengapa tiba-tiba dadanya berdebar kencang.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Kak Rey kemana aja sih? Ditelponin ngga diangkat-angkat, percuma punya hp kalau ngga bisa dihubungi. Buang aja tuh hp ke empang,” sembur Ayunda begitu mendengar suara Reyhan.
“Aku lagi operasi Ay, ini baru aja beres. Jangan marah-marah dong Ay...ang.”
“Ehem!” Ayunda geer.
"Ini kan hari Minggu, kok masih ada jadwal operasi?"
"Yang namanya penyakit, kan datangnya ngga kenal libur. Emangnya ada apa?"
“Kak Rey kita nonton yuk. Tadi bang Ilan ajakin aku nonton. Kita nonton bertiga yuk. Kan aku udah janji mau kasih kesempatan sama kak Rey. Gimana mau ngga?”
“Hmm.. boleh. Mau nonton di mana?”
“Di The Ocean ajalah. Kebetulan ada film baru yang mau aku tonton. Kita ketemu di sana aja ya kak.”
“Ok Ay...ang.”
“Ish kak Rey. Udah dulu ya, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
__ADS_1
Ayunda mengakhiri panggilannya. Dia senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana cara Reyhan memanggilnya. Jujur saja, Ayunda menyukai panggilan itu.
🍁🍁🍁
Ayunda bersiap di depan rumah menunggu Firlan menjemputnya. Tak lama BMW sport milik Firlan berhenti di dekat Ayunda. Gadis itu bergegas naik ke dalam. Sejenak Ayunda tertegun melihat Firlan memakai pakaian kasual. Dia terlihat lebih muda dan ganteng juga.
“Kenapa? Ada yang ketinggalan?”
“Ngga.. ternyata bang Ilan kalau pakai baju kaya gini ganteng juga ya.”
“Emang biasanya ngga?”
“Ganteng juga tapi keliatan tua hehehe... piss,” Ayunda mengacungkan kedua jarinya.
“Hahaha... mumpung abang lagi bergaya anak muda, puas-puasin deh lihat wajah ganteng abang.”
“Narsis,” desis Ayunda membuat Firlan kembali tergelak.
Firlan melajukan kendaraannya menuju mall The Ocean. Sepanjang jalan mereka banyak mengobrol. Firlan sengaja tak menanyakan apa yang membuat gadis itu bersedih, takut mengganggu acara kencan mereka.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke tujuan. Setelah memarkirkan mobil, mereka segera menuju bioskop. Tanpa berpikir, Ayunda langsung memilih film yang akan ditontonnya, sebuah film dari negeri ginseng bergenre drama. Firlan hanya menurut saja. Yang penting bukan filmya tapi kebersamaannya dengan gadis itu.
“Bang beli tiketnya tiga ya.”
“Tiga? Emangnya ada yang ikut nonton bareng kita?”
“Iya ada.”
“Siapa?”
“Tuyul hahaha.”
“Serius Yun.”
Firlan terkekeh, dia memesan tiga tiket sesuai permintaan Ayunda. Kemudian mereka menuju stand popcorn. Ayunda juga memesan tiga buah minuman. Selesai membeli perbekalan, mereka duduk di kursi tunggu. Mata Ayunda mencari sosok Reyhan yang tak kunjung datang.
Baru saja Ayunda mengambil ponselnya untuk menghubungi Reyhan. Orang yang ditunggunya telah datang. Ayunda melambaikan tangannya ke arah Reyhan yang celingukan di dekat pintu masuk.
“Lama banget sih! Filmnya udah mau mulai,” sembur Ayunda.
“Tadi ngecek pasien dulu Ay. Hei bang, sehat?”
“Alhamdulillah. Jadi tuyulnya Rey?” tanya Firlan pada Ayunda.
“Huum.”
“Tuyul?”
“Ngga usah dibahas, ayo masuk,” ajak Ayunda.
“Kalian duluan.”
Firlan dan Ayunda masuk ke dalam studio. Sedang Reyhan menuju stand penjual makanan. Dia membeli dua potong brownies dan tiga potong sandwich. Setelah membayar pesanan, dia menyusul masuk ke dalam studio.
Lampu studio sudah mulai meredup ketika Reyhan masuk ke dalamnya. Dia menuju kursi di barisan ketiga dari atas kemudian mendudukkan diri di samping Ayunda. Gadis itu sengaja mengambil tempat di antara Firlan juga Reyhan.
“Ngapain dulu kak?”
“Beli ini buat kamu.”
Reyhan menyerahkan bungkusan di tangannya. senyumnya mengembang melihat sandwich dan brownies di dalamnya. Setengah berbisik Ayunda mengucapkan terima kasih di telinga Reyhan. Dada Reyhan berdebar kencang berbeda dengan Firlan yang dilanda cemburu melihat kedekatan Reyhan dengan Ayunda.
__ADS_1
Ayunda serius menonton adegan demi adegan yang terpampang di layar besar. Dua bucket popcorn ditaruh di sisi kanan dan kirinya. Kedua tangannya bergantian mencomot popcorn dari dalamnya.
Saat sedang mengambil popcorn, tanpa sengaja tangan Reyhan juga sedang mengambilnya hingga jari mereka mereka bersentuhan. Keduanya berpandangan sejenak, Ayunda lebih dulu memutus pandangan karena wajahnya sudah panas melihat wajah tampan Reyhan.
“Yun...”
“Hmm..”
Ayunda menoleh ke arah Firlan, lalu tangan Firlan menyuapi popcorn ke mulut Ayunda. Gadis itu terkesiap namun tetap membuka mulutnya, masuklah suapan popcorn dari tangan Firlan. Reyhan melihat adegan itu dari sudut matanya, dadanya berdesir menahan cemburu.
Ayunda mengusap pipinya yang basah oleh airmata. Dia terbawa suasana adegan yang ditontonnya. Film tersebut menceritakan kisah tentang cinta segitiga antara seorang perempuan dengan dua orang laki-laki. Satu adalah sahabatnya sejak kecil, satu lagi kakak angkatnya yang ternyata memendam perasaan padanya selama bertahun-tahun.
Ayunda terharu melihat pengorbanan sang kakak merelakan adiknya menikah dengan sahabatnya. Bahkan sang kakak bersedia mendonorkan ginjalnya untuk adik yang dicintainya walau bukan dirinya yang dipilih menjadi pendamping hidupnya.
“Jangan nangis Yun.. itu kan cuma film.”
“Tapi sedih bang.”
Firlan menggenggam tangan kiri Ayunda, Tangan gadis itu terasa dingin karena air conditioner di dalam studio. Ayunda masih menangis karena terus disuguhi adegan yang menguras emosi. Reyhan menyusut airmata Ayunda dengan jarinya, membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
“Aku ngga kuat lihat kamu nangis Ay,” bisik Reyhan pelan.
Ayunda mengusap airmatanya kemudian kembali lanjut menonton. Gadis itu tidak menyadari kalau dirinya pun sedang mengalami hal serupa seperti di dalam film. Terjebak dalam ikatan cinta segitiga.
Film berdurasi 95 menit itu akhirnya usai sudah. Lampu studio sudah kembali menyala. Para penonton bersiap keluar dari studio, tak terkecuali Firlan, Ayunda dan Reyhan. Ternyata bukan hanya Ayunda yang terbawa suasana ketika menonton. Banyak penonton wanita yang matanya memerah karena habis menangis.
Situasi di pintu keluar bioskop cukup padat, karena ada tiga studio yang keluar secara bersamaan. Mereka berdesakan di dekat pintu keluar. Firlan menggandeng tangan Ayunda, sedang Reyhan berdiri di belakang Ayunda, menghalangi Ayunda terkena dorongan penonton lain dengan tubuhnya.
“Mau makan dulu ngga Yun?” tanya Firlan ketika mereka sudah keluar dari bioskop.
“Ngga ah kenyang.”
“Gimana ngga kenyang, dua sandwich sama dua brownies diembat sama kamu,” sambar Reyhan yang dibalas dengan cebikan bibir Ayunda. Firlan terkekeh dibuatnya.
“Kamu mau pulang sama siapa Yun? Sama abang apa Rey?”
“Hmm...”
Ayunda berpikir sejenak. Dia ingin pulang bersama Reyhan tapi tidak enak pada Firlan. Jika pulang bersama Firlan, dia juga tidak enak pada Reyhan. Mengetahui kebingungan Ayunda, Reyhan lebih dulu memberikan jawaban.
“Kamu pulang sama bang Ilan aja. Aku harus ke rumah sakit lagi.”
“Oh gitu. Ya udah deh, bye kak Rey. Makasih loh udah mau jadi tuyul,” Ayunda tergelak.
“Sama-sama neng kunti.”
Ayunda memanyunkan bibirnya, Reyhan selalu saja bisa membalas ucapannya. Reyhan tersenyum melihat tingkah Ayunda. Sebelum berpisah dia mengusap puncak kepala gadis itu kemudian bergegas menuju parkiran di mana motor bututnya berada.
🍁🍁🍁
**Siapa yg paling bikin baper di episode ini, Ilan apa Rey?
Jangan lupa dukungannya ya ke mamake, like, comment and vote.
Neng Ay.. jangan terlalu lama gantungin perasaan dua Cogan ya**
Bang Ilan keliatan macho deh klo gayanya kaya gini
__ADS_1
Dokter Rey ternyata bukan cuma jago bedah tapi jago gombal juga