
Elang memagut bibir Azkia. Menyesap bibir ranum itu tanpa henti. Azkia memejamkan matanya. Lidah keduanya sudah saling membelit dan menarik. Ciuman mereka bertambah dalam dan menuntut. Elang mengakhiri pertautan bibir mereka. Nafas keduanya tampak tersengal.
“Aku mau masak dulu mas.”
“Mas bantu.”
Elang mengangkat tubuhnya lalu menarik tangan Azkia. Keduanya berjalan menuju dapur. Azkia mengeluarkan bahan-bahan yang akan diolahnya. Elang membantu memotong sayuran, Azkia memasak nasi dilanjut dengan menyiapkan bumbu. Di sela-sela acara masak, Elang selalu menyempatkan mencuri ciuman dari istrinya. Terkadang kegiatan masak mereka berhenti sejenak karena terlalu asik berdecapan.
Sembilan puluh menit kemudian semua masakan sudah siap. Tumis baby kailan, udang telur asin dan perkedel jagung tertata di atas meja makan. Azkia membawa dua piring beserta gelas. Elang mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi beserta lauk. Dia memutuskan makan sepiring berdua, biar terkesan romantis. Bergantian mereka saling menyuapi sampai perut mereka kenyang.
Sore harinya Elang mengajak Azkia jalan-jalan di sekitar perkebunan. Tangan keduanya saling menaut sepajang jalan setapak yang kanan kirinya dipenuhi tanaman teh. Mereka berhenti di sebuah saung yang ada di tengah-tengah perkebunan. Saung tersebut sering digunakan para pemetik teh untuk beristirahat.
Elang duduk di belakang Azkia. Tangannya memeluk bahu sang istri, dia mendekatkan kepalanya hingga pipi mereka bersentuhan. Semilir angin sore pegunungan terasa menusuk kulit, Elang mengeratkan pelukannya. Azkia menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
“Sayang... apa ibu pernah bicara soal ayah kandungmu?”
“Ngga mas. Aku pernah tanya tapi ibu bilang ngga kenal sama ayah kandungku. Kenapa mas?”
“Bagaimana kalau suatu hari ayah kandungmu muncul? Apa yang akan kamu lakukan?”
“Ngga tahu mas. Buatku dia ada atau ngga udah ngga penting lagi. Sekarang aku sudah punya keluarga utuh. Aku punya ayah, bunda, mama Debby, papa Adit, bang Farel, bang Gara, Yunda dan Hanin, itu udah cukup. Ditambah mas di sampingku, hidupku sudah sempurna.”
Elang tak memperpanjang percakapan mereka tentang ayah kandung Azkia. Dia hanya mencium pipi sang istri mesra seraya membisikkan kata cinta di telinga. Azkia balas mencium pipi suaminya. Keduanya asik menikmati pemandangan sore hari dalam diam. Hanya bahasa tubuh mereka saja yang menyiratkan betapa pasangan ini sedang dimabuk asmara.
Perlahan matahari mulai bergulir menuju tempat peraduannya. Elang mengajak Azkia untuk pulang. Di tengah perjalanan dia menghentikan langkahnya lalu berjongkok di depan sang istri. Malu-malu Azkia naik ke punggungnya. Mereka kembali berjalan menuju vila. Elang layaknya oppa-oppa Korea yang menggendong kekasihnya seperti dalam adegan drakor. Beberapa kali Azkia membenamkan wajahnya di punggung suaminya tatkala berpapasan dengan orang di jalan.
Sehabis makan malam mereka menuju selasar yang berada di lantai dua. Elang mengajak Azkia melihat bintang dengan teropong yang ada di sana. Senyum mengembang di wajah Azkia tatkala melihat gugusan bintang di gelapnya langit malam. Elang memeluk pinggangnya dari belakang seraya memberikan kecupan-kecupan di leher dan bahu istrinya.
Azkia membalikkan tubuhnya. Kepalanya mendongak menatap wajah tampan suaminya. Tinggi mereka memang terpaut jauh, Azkia hanya sebatas dadanya saja. Diusapnya dada bidang yang menjadi favoritnya bersandar. Elang menundukkan kepalanya, menautkan kening mereka kemudian menyambar bibir ranum itu.
Tangan Elang menelusup ke tengkuk Azkia, menekannya perlahan hingga ciuman mereka bertambah dalam dan menuntut. Tangan satunya masuk ke dalam piyama, menelusuri isi di dalamnya. Azkia melenguh ketika Elang meremat bukit kembarnya yang masih tertutup kain berenda.
Bibir Elang mulai menyusuri leher putih yang kerap menjadi sasaran bibirnya kemudian turun ke bahu. Lagi terdengar lenguhan Azkia ketika Elang menyesapnya sedikit keras hingga meninggalkan bercak kemerahan. Digendongnya tubuh Azkia ala bridal style kemudian kembali ke kamar mereka.
Elang membaringkan Azkia lalu tangannya mulai bergerak melepaskan semua benang yang menutupi tubuh istrinya itu. Selanjutnya pakaian di tubuhnya sudah terlepas satu per satu. Elang berbaring lalu meminta Azkia naik ke atas tubuhnya. Kini giliran Azkia yang mencumbu sang suami. Wanita itu sudah mulai berani bersikap agresif di atas ranjang. Sepertinya Poppy sudah banyak memberikan wejangan bagaimana cara memuaskan suami di atas ranjang.
__ADS_1
Sudah hampir dua jam kedua insan itu berjibaku di atas ranjang. Tapi sepertinya mereka masih belum mau mengakhiri pergulatan. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya. Entah apa yang merasukinya, Azkia bisa mengimbangi permainan Elang kali ini. Biasanya dia lebih dulu merengek minta berhenti, tapi tidak kali ini. Bisa jadi efek mimpi buruknya tentang Syifa memberinya kekuatan lebih.
Elang memompa tubuhnya lebih cepat. Sebentar lagi mereka akan sampai di puncaknya. Azkia merasakan miliknya mulai berkedut. Gerakan Elang semakin cepat hingga akhirnya gelombang hangat menghantam keduanya. Lenguhan Azkia serta erangan Elang terdengar di sela-sela pelepasan mereka.
Elang menghapus titik-titik air yang membasahi dahi istrinya kemudian mendaratkan kecupan di sana beberapa kali. Azkia tersenyum ke arah suaminya, nafasnya masih sedikit tersengal setelah aktivitas mereka. Tangannya bergerak mengusap rahang sang suami. Elang turun dari ranjang lalu membopong Azkia, membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.
🍁🍁🍁
Azkia menyenderkan kepalanya di dada Elang. Keduanya berdiri di depan jendela kamar memandangi titik-titik air yang membasahi taman yang terletak di samping kamar. Sejak shubuh hujan sudah mengguyur daerah Ciwidey dan sekitarnya. Menambah udara bertambah dingin.
Elang merapatkan selimut yang membungkus tubuh mereka yang polos. Sehabis shubuh keduanya kembali mengulang percintaan panas mereka.
Niat mengunjungi perkebunan milik Humanity Corp untuk melihat para petani memanen hasil kebun terpaksa dibatalkan karena cuaca tidak mendukung. Mengurung diri di kamar sambil bergelung di atas kasur lebih cocok di udara dingin seperti ini.
“Mas.. aku bersyukur mba Rayna tidak menyadari dan membalas perasaanmu. Hingga akhirnya aku yang mendapatkan dirimu. Lelaki terbaik yang pernah datang dalam hidupku.”
“Sepertinya Allah sengaja menutup rapat mulutku hingga tidak bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai Allah mempertemukan kita lagi dan membuatku mengatakan rasa cinta yang datang untukmu. Terima kasih sudah menungguku selama itu, di saat banyak lelaki mengejarmu.”
Azkia membalikkan tubuhnya, posisi mereka kini saling berhadapan masih dalam balutan selimut. Kepalanya mendongak ke arah suaminya. Elang menundukkan kepalanya lalu mengecup bibir Azkia.
“Boleh, kalau kamu sudah menyelesaikan kuliahmu. Kapan kamu memulai skripsimu?”
“Bulan depan aku udah boleh ajuin judul. Mas mau bantuin aku kan?”
“Hmm.. tapi ngga gratis ya.”
“Mas mau apa buat bayarannya.”
“Mau seperti yang semalam. You are so wild and hot,” bisik Elang.
Azkia mengulum senyumnya. Dengan gerakan pelan Azkia menelusuri dada Elang dengan jarinya terus ke arah perut. Elang memejamkan matanya, menikmati sentuhan sang istri yang membuat tubuh bagian bawahnya berkedut. Jari Azkia terus bergerak ke bawah, kemudian tanpa disangka meremat milik suaminya. Elang terjengit merasakan rematan di adik kecilnya.
“Sayang....” Elang menggeram.
Azkia tak mempedulikan geraman suaminya. Dia terus saja meremat batangan lunak itu sambil sesekali memainkannya. Terdengar racauan Elang membuat Azkia semakin bersemangat memainkannya. Elang menarik tengkuk Azkia lalu membenamkan bibirnya. Lu***an dan pagutan diberikannya pada bibir sang istri. Selimut yang menutupi tubuh keduanya luruh begitu saja ke lantai.
__ADS_1
Azkia memeluk leher suaminya lalu melompat naik. Tubuh Elang mundur beberapa langkah karena gerakan istrinya yang tiba-tiba. Kaki Azkia melingkar di pinggangnya.
“Kamu sekarang udah mulai nakal ya.”
“Nakal sama suami sendiri boleh kan?”
“Boleh banget sayang.”
“Ini jurus anti pelakor buat mas.”
“Curiga diajarin bunda.”
Azkia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Elang kembali menabrakkan bibirnya. Pertautan bibir keduanya semakin dalam dan menuntut. Elang membawa sang istri menuju sofa, dia ingin mencari suasana baru dengan berganti tempat bercinta.
Hujan semakin deras membasahi bumi. Udara dingin semakin terasa menusuk kulit. Tapi tidak dengan suhu di dalam ruangan. Kamar utama di vila ini terasa panas oleh percintaan dua insan di dalamnya. Udara dingin tak mampu menyurutkan keringat yang keluar dari tubuh mereka. Setelah puas bermain di sofa, mereka kembali melanjutkan pergulatan di atas ranjang. Seprai yang menutupi kasur berukuran king size itu sudah tak berbentuk lagi.
Deru nafas dan ******* saling bersahutan mengiringi pergulatan mereka. Bergantian mereka saling memuaskan. Azkia sudah berani mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Poppy dan Debby padanya. Elang dibuat terkejut oleh istrinya ini namun sangat menikmatinya. Ternyata Azkia lebih buas lagi dibanding semalam.
Azkia meremat rambut Elang kencang saat merasakan hujaman yang semakin dalam masuk ke dalam miliknya. Pergerakan Elang pun semakin kencang dan cepat. Tubuh Azkia berguncang seiring pergerakan Elang yang berada di atasnya. Nafas keduanya memburu saat akan sampai di ujungnya. Hingga akhirnya Elang menghentak cukup keras.
“Maaaassss...”
“Az.. aaaahhh..”
Tubuh Elang ambruk di atas Azkia. Sungguh pergulatan yang menguras tenaga. Elang berguling ke samping lalu menarik tubuh Azkia ke dalam pelukannya. Menghadiahi kecupan di keningnya beberapa kali.
“Makasih sayang.. love you..”
Azkia tak mampu membalas ungkapan cinta suaminya. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Dia hanya mampu memejamkan matanya. Tangannya memeluk erat punggung Elang yang lembab oleh keringat.
🍁🍁🍁
**Efek cuaca jadi mamake pengen buat adegan hareudang terooosss🙊🙈
Kemarin kan udah tegang terus jadi sekarang bagian hareudangnya🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa ya mamake tunggu selalu dukungannya. Jempolnya digoyang buat like and comment**.